SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 16


__ADS_3

maka, meluncurlah keduanya menembus alas Roban untuk sampai ke pantai celong. hutan hati yang remang agak menakutkan fera. belum lagi jalanan sunyi dari lalu lalang kendaraan membuat jantungnya menambah kecepatan pacu satu kali lebih cepat. terngiang-ngiang kisah-kisah suram yang mewarnai hutan ini meskipun sudah tinggal cerita di bibir orang-orang tua, perampok, garong, atau apapun sebutan yang lebih tepat. semoga cerita itu tinggal hanya cerita saja, harap-harap cemas fera meneruskan perjalanannya.



hanya setengah jam perjalanan dari pantura, sampailah mereka di hadapan bentangan air maha luas. terdengar ombak bergemuruh menggempur pasir di tepian. pantai ini tidak terlalu ramai. tempat yang cocok untuk jessy yang pasti tak akan senang bergabung dengan terlalu banyak orang dalam suasana hati yang seperti ini.



seperti yang diduga fera, jessy langsung menghambur ke riak-riak ombak, dan bermain air seperti anak kecil. lalu, ia berteriak-teriak pada laut lepas berwarna biru. tak lupa ia juga melempari air dengan batu dan berteriak gembira ketika batu terlempar jauh. sedang, fera hanya menatapnya sedih. seharusnya, ia ikut bergembira dengan tawa jessy hari ini. perlahan, air mata jatuh kepipinya yang *chubby*, sebelum akhirnya berlari menyusul sahabatnya ke laut yang sudah sedari tadi memanggil-manggil. tak lama, mereka sudah basah kuyup karena saling mencriprati air satu sama lain.

__ADS_1


...----------------...


jessy duduk memeluk lutut di atas kasurnya yang dingin dan kusam. siang tadi, di hadapan laut, ia sudah berjanji tak akan lagi menyesali kepergian Alfin. seperti halnya kesadaran yang menghampiri bahwa waktu telah tertinggal dan tak akan kembali lagi. ia telah berusaha dengan keras meskipun pada akhirnya semua itu luruh dalam ingatan akan tatapan mata Alfin di pelaminan. sementara, di luar sana, hujan turun begitu derasnya. lelaki dari masa lalu itu pasti tengah bergeriap dalam pesta nan meriah itu, bersama Stephanie atau entah siapa namanya. sementara, jessy telah tersisih di persimpangan jauh tertinggal di belakang. disesalinya, mengapa mesti hadir dipesta itu, membuat dirinya makin kecil dan tak berarti lagi dalam kehidupan Alfin.



jessy bangkit, seperti sebuah kekuatan mulai menyelinap diantara rinai-rinai yang memenuhi khayalannya. tali-tali yang kemarin-kemarin membelenggu kewarasan jiwanya terlepas. jessy menyalakan lampu kamar, membiarkan cahayanya membanjir, membuat matanya menyipit beberapa detik, setelah beberapa lama menenggelamkan dirinya dalam remang.


__ADS_1



"aku akan hidup, Alfin! kau akan melihat ku hidup dan baik-baik saja! kau akan lihat suatu saat nanti. saat itu tiba, jangan pernah menanyakan ku lagi".



kini, bisa dilihatnya, esok pagi akan berubah. ia harus terus berjalan dan bertahan tanpa tawa dan senyum Alfin dalam kisah-kisah nya yang akan datang. merindukan Alfin sejak saat ini menjadi sesuatu yang terlarang baginya. suara lembut dalam lagu dan senandung Alfin untuknya sekarang hanyalah endapan dalam masa lalu. meskipun sepenuhnya menyadari, jessy tak terlalu yakin dapat melepasnya begitu saja. perpisahan mendadak masih menyakitkan baginya. .


__ADS_1


berkali-kali jessy menghela napas berat, berusaha agar matanya tak merambang lagi. *sudah cukup! pergi dan kelak jangan panggil aku lagi*!


__ADS_2