SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 14


__ADS_3

Jessy tersenyum hambar. "apakah aku terlihat tidak baik-baik saja? atau, sebaiknya kita pergi saja ke pantai dan berekreasi? sehingga kita bisa berpura-pura hari ini tak pernah ada?"



fera tersenyum getir. kemarahannya pada Alfin kembali tersulut. disisi lain, Jessy juga sangar benar, semua sudah terlanjur terjadi. lagi pula, di undangan jelas tercantum Alfin melangsungkan pada pagi hari, pada jam ini. jadi, sampai disana, tersisa acara resepsi. tak ada pilihan lain bagi jessy selain menerima kenyataan dan terus melanjutkan hidup, meskipun berat. hanya keajaiban yang mungkin bisa mengubah jalan takdir.



fera menghela napas berat. kalau tau begini, dulu ia tak bersedia mengenalkan jessy pada Alfin yang tengah mabuk asmara. akan tetapi, lumayanlah, kobaran api di dadanya sedikit bisa toleransi untuk sedikit pukulan yang telah mendarat pada rahang Alfin rasanya cukup membuat orang itu mengingat rasa sakit.



" kau akan menyesali keputusan mu hari ini! ingat kata-kata ku!" murka fera melancarkan kutukan.


__ADS_1


fera menolak permintaan untuk membantu memasak dan menerima tamu di rumah Alfin.



ia lebih memilih menemani jessy dalam kesepian dan kesedihannya yang harus di tanggungnya, meskipun sebetulnya jarak rumahnya dengan Alfin jauh lebih dekat.


...----------------...


hotel berbintang empat, nyali Jessy menciut. pasti Stephanie ini bukan gadis biasa. hanya orang kelas atas yang akan menyewa hotel ternama untuk *wedding party*. beberapa karangan bunga yang bertuliskan selamat *wedding party* terpasang di beberapa tempat. namun bagaimana pun juga, Jessy sudah bertetapan hati menghadap hari yang di bencinya seumur hidup. maka, ia tetap berjalan dengan kepala tegak di antara orang-orang berpenampilan mewah dan meriah di sekitarnya. sekilas di tatap nya sepasang janur kuning melengkung dihalaman *hall*. rasa perih kembali menyiksa nya.




tanpa di sadari jessy, fera berkali-kali menoleh kepadanya, meyakinkan diri akan keadaan teman sejak SMP itu. ia mendesah lega, Jessy terlihat baik-baik saja. dalam hati, fera bertanya-tanya tentang apa yang tengah berkecamuk di benak Jessy.

__ADS_1



aula hotel cukup luas untuk menampung ratusan tamu yang datang. sementara, di panggung, kedua mempelai duduk anggun dengan latar gebyok modern berwarna putih. bunga-bunga aneka warna menjuntai disana membentuk tirai yang cantik. di pusat gebyok, tepat dimana pengantin duduk seperti raja dan ratu dalam dongeng di atas singgasana, rangkaian mewah di pasang. kedua pengantin sendiri tampil dengan riasan modern. mempelai wanita terbalut gaun putih panjang sampai ke mata kaki. sebuah Tiara berkilat-kilat di atas kepala sang mempelai Saat memantulkan cahaya lampu kristal dari langit-langit aula, sedang tangannya memegang rangkaian bunga Lily berwarna putih..



"jadi, ialah Stephanie itu" pikir jessy. "*beautiful in white*". ia tersenyum sinis mengingat impian Alfin. impian yang ternyata di persembahkan untuk orang lain!..



phani tampil anggun dan cantik luar biasa. tak henti Niken menatapnya kagum sekaligus cemburu yang teramat deras membanjirinya. pertahanannys jebol. ia menghela napas berat, menahan air mata yang mulai mengembang. ia benci mengakui fakta dirinya benar-benar tak sebanding dengan phani.



"pantas lah Alfin memilihnya, bukannya memperjuangkan aku" pikirnya lagi sambil mengalihkan pandangan pada Alfin. mantan kekasihnya tampak berwibawa dalam balutan jas hitam berdasi biru. tepat sekali pada saat yang sama, pandangan Alfin pun tengah menyapu para tamu dan menemukan jessy berada di antaranya. punggung Alfin menegak begitu dua pasang mata itu bertemu. jessy segera membuang muka, Alfin sendiri di senggol tamu yang hendak bersalaman dan minta foto bersama.

__ADS_1


__ADS_2