
"kamu memang menawan Alfin," bisik hati Jessy sambil tersenyum simpul. ruang dalam hatinya seketika meluas dan terang-benderang demi menatap lelaki berahang tegas dan nyaris persegi itu.
Alfin menurunkan resleting jaket dan membiarkan nya terbuka. ia tidak melepasnya. bentuk rahang yang tegas membuatnya tampak menarik, setelan kemeja putih bergaris halus kombinasi putih dan biru serta celana jeans biru gelap dikenakannya.
"lama ya? " tanya Alfin sembari berjalan ke arah Jessy. lalu, ia duduk di atas kursi panjang di sebelah gadisnya.
"nggak juga sih". Jessy berusaha terdengar semantap mungkin dan tersenyum manis. mungkin itu di lakukanya untuk menghindari rasa bersalah yang pasti akan menghinggapi Alfin.
"maaf ya, ada sesuatu yang harus ku kerjakan. tak ku sangka akan selama itu".
"tak apa." Jessy tak tampak tersinggung. "mau minum?".
__ADS_1
Alfin menggeleng. " di resepsi Wulan, kita bakal dapat makan dan minum yang enak serta gratis" katanya tanpa bermaksud bercanda.
Jessy terkekeh "kamu benar".
segera di sambarnya helm yang tadi di letakkan di samping. mereka berjalan beriringan. entah mengapa Jessy merasakan sesuatu yang tak biasa dan terkesan janggal pada diri Alfin.
...----------------...
"aku suka dekorasi pernikahan Wulan, nuansa jawanya kental banget gebyoknya besar dan full ukiran. tambah pakai basaban gitu. anggun banget. gk nyangka deh Wulan dirias jadi kayak putri keraton." Jessy nyerocos terkagum-kagum menilai penampilan Wulan di pelaminan.
Alfin tersenyum tipis mendengarkan Jessy terus berceloteh saat mereka berjalan meninggalkan gedung serba guna, lokasi resepsi pernikahan Wulan. Jessy terus menceritakan kesan-kesannya pada ritual pernikahan yang baru saja mereka datangi. bagi Alfin itu sudah sangat biasa, tersebab Jessy selalu melakukannya setiap kali kondangan. Alfin bukan tidak tahu, Jessy ingin menikah muda. namun, untuk banyak alasan ia masih menahan diri untuk melamar Jessy dalam waktu dekat. maka, mendengar cerita-cerita Jessy Alfin hanya bisa mengerjap penuh penyesalan pada gadis yang di cintainya ini.
__ADS_1
setelahnya, mereka meluncur menuju pasar batik Setono, pasar pusat penjualan batik Pekalongan los-los pasar grosir Setono tidak pernah sepi dari pengunjung. semua motif batik Pekalongan ada disini. bentuk -bentuknya dari kain hingga pakaikan jadi, dari anak-anak sampai dewasa, model untuk laki-laki dan perempuan, dari kain tenun sampai mori,dari batik tulis ,cap sampai printing, dari mahal sampai yang paling murah ada disini.
Jessy terus berkeliling mencari model dan harga yang cocok. Alfin hanya mengikutinya dari belakang. tiba-tiba, beberapa langkah di depan salah satu kios, ia seperti membeku. matanya menuju mengamati papan nama batik kinanthi serta dengan gelisah ia memandang kondisi didalam kios. dari luar, Alfin memerhatikan Jessy yang akhirnya membeli salah satu kemeja lengan panjang.
"kenapa kamu terlihat tegang begitu?" Jessy memicingkan mata dengan heran mendapati Alfin belum beranjak dari posisi awal.
" ehm..tidak apa-apa". Alfin tersenyum meskipun masih terlihat kaku. "ayo pergi" di tariknya lengan Jessy sambil melirik sekilas ke arah kios seolah takut ada yang sempat melihatnya dari sana.
usai dari pasar Setono, Alfin membawa Jessy ke warung soto. tak perlu waktu lama untuk membuat Jessy makan dengan lahapnya. ia sangat kelaparan usai keliling pasar batik. ia bahkan tak sempat memerhatikan Alfin yang terus-terusan menatapnya tanpa berkedip. hanya lelaki itu yang bisa menjelaskan arti tatapan nya. sampai saat ini, Jessy hanya mengeluhkan cuaca menyengat. hari memang sangat cerah. langit biru dengan selapis awan tipis menggantung di langit. awan *cirrus* itu bergerak perlahan tertiup angin dari laut.
__ADS_1