
Jessy membawa undangan masuk kamar. pelan di bukanya pita merah jambu bersimpuh cantik yang mengikat undangan yang tebal dan juga lebar itu. aroma harum segera menyapa hidungnya. tak ada foto pengantin di bagian depan. hanya inisal A&S.
AS sungguh serasi, umpat jessy. agak mengherankan, Alfin selalu membahas prewedding. kenapa tidak ada foto apapun disini? namun, itu cukup membuatnya bersyukur. setidaknya, ia tak perlu memandang wajah perempuan mana pun "S" itu, apalagi sampai membanding-bandingkan dirinya.
sengaja Jessy berlama-lama membaca undangan di tangannya seperti mengeja huruf satu persatu hingga menjadi untaian kata yang menyusun kalimat demi kalimat. semua di lakukan nya agar tak lekas tampak nama yang ingin ia lihat, tentu saja, tak perlu lebih dari lima menit yang di perlukan matanya untuk sampai pada sederet nama. jantung nya lagi-lagi seperti di remas-remas. jessy mencoba menguatkan diri agar detak jantung yang berhari-hari ini sering menahan nyeri tak lagi mengguncang nya. ia juga berdoa agar tubuhnya masih cukup seimbang untuk kembali nama yang kini terukir dengan huruf bertipe Vivaldi.
*Alfin dermawan*
mata jessy menangis.
dengan.......
__ADS_1
*Stephanie putri*
tak sanggup lagi di ejanya waktu pelaksanaan dan resepsi pernikahan. jemari lentik jessy sudah tak lagi erat menggenggam undangan. benda itu jatuh ke lantai di iringi air mata yang pecah. di tutup nya wajah dengan kedua telapak tangan. ia baru saja menghianati janjinya untuk kuat dan bertahan.
"ini tak adil,Fin! sungguh tak adil! kau hidup dengan orang lain yang...."
...----------------...
jessy sudah tampil rapi dengan pakaian terbaik koleksinya. kebaya terbaru berwarna Salem yang di belinya saat bersama Alfin tempo hari di grosir. ia menggigit bibir saat menatap bayangannya sendiri dalam cermin. sebuah lingkaran kelabu mengelilingi mata sipit disana, berkali ia mengoleskan *concealer*, bedak kasar, bedak tabur dan bedak padat, di tambah *eye shadow* tetapi bayangan itu masih tampak.
jessy mendesah. di hapusnya lagi riasan otodidak itu membiarkan penampilan nya pagi ini natural. ia tak mau terlihat cantik di depan Alfin atau orang lain. di sapukannya bedak berwarna *ivory* ke permukaan wajah, serta di oleskannya lipstik warna coklat muda di bibir. gadis itu mengejek bayangannya sendiri. barangkali, itu adalah riasan terjelek di seluruh dunia.
__ADS_1
"biarkan Alfin tahu aku tidak baik-baik saja melepas kepergiannya. mungkin, ia akan mengingat nya seumur hidup bahwa ia telah menyakitiku" erangnya pada cermin.
selesai berdandan, jessy keluar kamar, menemui fera yang sudah satu jam menunggu. sekilas di pandangi nya sebuah foto wisuda beberapa bulan lalu yang lurus di menghadap pintu. tak di temukannya Alfin disana.
"belum perlu" kata ibu waktu itu. dan, sekarang jessy menyetujui ibu yang dulu sempat di sesalinya. jika ada foto lelaki itu, ia akan terpaksa membuangnya. foto-foto Alfin yang sempat terpampang di album juga di guntingnya seperti ia juga akan menggunting lelaki itu dari hidup nya, *apakah waktu itu tahu bahwa kami memang tidak di takdirkan bersama*?
mengabaikan rasa nyeri yang kembali menusuk, jessy menghampiri fera.
"kamu Yakin baik-baik saja?" tanya fera cemas. penampilan jessy benar-benar menyedihkan sekarang. tonjolan-tonjolan tulang pipi terlihat lebih jelas sekarang. padahal, sebelumnya jessy sudah cukup kurus setelah proses skripsi nya yang panjang di ujung kuliah.
__ADS_1