
Setelah kepergian baekhyun. yerim membuka matanya dia menangis sejadi jadinya..
Dia tak menyangka baekhyun tetap tidak ingin mengakuinya..
Yerim akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar .
Walau kondiso tubuhnya belum benar benar baik.
Dia ingin menenangkan hatinya.
Dia akhirnya memilih taman.
Melihat ke sekelilingnya banyak sekali anak kecil tertawa dengan riang bersama ayah dan ibunya.
"Andai itu aku." gumamnya
"Yerim.." yerim seketika menoleh ke arah suara itu.
"Kau disini??" ucap orang itu lagi.
"Jihoon kau??" yerim terkejut mendapati jihoon berada disana.
Padahal hari ini dia ijin sakit. Tapi ketauan ada di taman.
"Bodoh" umpatnya dalam hati.
" Kau bilang kau sedang sakit??Tapi kenapa kau ada disini ha?? Lihatlah wajahmu sangat pucat." jihoon cemas dan memegang kening yerim.
"Bahkan suhu tubuhmu masih panas." lanjutnya.
Yerim hanya tersenyum .
"Aku tak apa jihoon. aku hanya lelah . dan aku kesini karna aku bosan dirumah." yerim membela diri.
"Kau bisa kerumahku dan istirahat disana. Kakakku ada dirumah." saran jihoon.
"Aku tak ingin merepotkanmu." yerim menolah halus.
"Kau itu selalu seperti itu." gerutu jihoon.
Yerim hanya terkikik pelan.
"Jihoon kenapa kau ada disini??" tanya yerim kemudian.
Matanya masih fokus pada keluarga kecil yang mengadakan piknik musim dingin disana.
"Aku bosan di cafe ." singkat jihoon memandang yerim.
"Tumben. Ada apa??" yerim kemudian meliriknya.
"Kau tak ada disana." lirih jihoon yang masih didengar oleh yerim.
"Apa??" yerim sontak terkejut.
Dia menolehkan kepalanya ke arah jihoon.
__ADS_1
Jihoon yang merasa keceplosan lalu mengalihkan pembicaraan.
"Ahaha kau percaya?? aku kan hanya bercanda." jihoon beralsasan.
"Ish kau ini." yerim mencubit jihoon.
"Baiklah aku akan pulang dulu." pamit yerim kemudian
"Kau mau ku antar.??" tawar jihoon.
yerim menggeleng
"tidak usah. aku bisa sendiri." ucapnya lalu pergi. sebelumnya dia menampilakn seulas senyum manisnya.
Jihoon membalas tersenyum diapun meninggalkan kursi taman.
Namun belum sampai jauh sudah terdengar suara.
Brukk.
"Hey nona bangun. tolong." suara pria meminta tolong.
Jihoon langsung menoleh ke arah pria tersebut.
"Yerim" gumamnya lalu berlali menghampiri yerim
"Yerim bangunlah jeball.
Kau kenapa hey??" cemas jihoon.
Di kantor.
"Huft kapan rapat ini akan selesai??" batin baekhyun.
"Kenapa aku sangat mencemaskan yerim. oh harusnya aku tak boleh meninggalkannya tadi." batinnya.
"Tuan??"
"Tuan baekhyun??" ucap sekertaris nya jimin
"Oh ya ada apa??" baekhyun tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana apa tuan setuju dengan tawaran kami." tanya klien
"Sebentar aku baca berkasnya dulu."
ujarnya.
Dia membaca dengan fikiran yang tidak fokus sama sekali.
"Oh baiklah kita akan mulai kerja samanya. Saya setuju." kemudia mereka bersalaman.
Selesai rapat baekhyun mencoba menghubungi yerim.
Namun yerim tak menjawabnya.
__ADS_1
"Apa yerim tidur??" Baekhyun berusaha berfikir positive.
"Tapi jika dia tertidur dia pasti mendengar bunyi hpnya dan akan bangun." pikir baekhyun lagi.
"Oh ya tuhan kumohon bantu aku." baekhyun menengadahkan kepalanya ke langit.
Dirumah sakit.
Jihoon sibuk mondar mandir didepan ruang ICU .
"Tuhan kumohon lindungi dia." jihoon berharap berkali kali.
Hingga pintu ruang ICU terbuka.
"Dokter bagaimana kondisi yerim??" spontan jihoon bertanya.
"Kondisinya sedikit kurang baik. Tubuhnya kelelahan dan ada alergi yang membuatnya sakit. Tapi sebenetar lagi dia akan siuman." ujar sang dokter
Jihoon menarik nafas lega.
"Tapi tuan saya mohon anda rawat istri anda baik baik.
Istri anda sedang hamil usianya baru 4 dan itu sangat rentan.." jelas dokter membuat jihoon kaget dan meluruh di lantai.
"Hamil??" gumamnya.
"Iya tuan apa tuan tidak apa apa?? Nona yerim istri anda kan??" ujar dokter itu hendak menolong jihoon berdiri.
Jihoon menepis tangannya.
"Boleh aku masuk??" tanya jihoon.
"Ahhh silahkan.." ujar dokter itu.
"Jihoon.." ujar yerim lemas.
"Siapa ayahnya yerim??". sinis jihoon
Deg
.
.
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1