Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
10. Rencana Pembunuhan Juli


__ADS_3

    Di rumah, sebuah kursi menghadap ke arah televisi. Kursi itu diduduki oleh seseorang laki laki yang tidak di ketahui wajahnya. Selain itu, terlihat  para preman yang membunuh Shela berdiri di belakang kursi itu dengan wajah ketakutan dan menundukkan.


"Bos, apa yang kita lakukan sekarang?" tanya salah satu preman.


Laki laki di kursi itu mematikan tv dan menghidupkan monitor. Setelah monitor hidup kedua preman itu melihat sebuah tulisan yang memerintahkan mereka harus membunuh Juli. Membaca tulisan itu, para preman menjawab anggukan, setelah itu orang yang duduk di kursi memberi aba aba dengan tangannya. Preman itu pergi meninggalkan orang yang duduk di kursi itu.


Tak berselang lama, para preman sampai di rumah sakit. Mereka langsung mencari kamar Juli, ketika mereka sudah mengetahui keberadaan Juli, kedua preman itu menghampiri kamar. Saat para preman itu sampai di dekat Juli, salah satu preman melihat Inspektur Adi dan ayahnya dan beberapa orang lainnya. Preman yang melihat Inspektur Adi, dia langsung menarik dan menghentikan preman yang tidak mengetahui keberadaan Inspektur Adi.


Preman yang di tarik itu pun seketika melihat Inspektur Adi. Dia ikut bersembunyi. Inspektur Adi keluar dari kamar Juli dengan memakai tongkat untuk membantu dirinya berjalan, selain Inspektur Adi ada Ayah Inspektur dan Toni.


Mereka berjalan bersama keluar dari kamar Juli, mereka berdua akan pulang ke rumah karena ia melihat keadaan Juli semakin membaik dari komanya. Ayah Adi dan Inspektur Adi meminta izin untuk menengok keadaan Juli.


Toni mengizinkan Inspektur Adi. Setelah mendapatkan izin Inspektur Adi dan Ayahnya untuk pergi melihat Juli dan berpamitan.


Beberapa saat kemudian, Ayah Toni dan Bu Laras juga pulang, meninggalkan Toni dan Juli di ruangan.Semua orang pulang, Toni menutup pintu ruangan. Toni masuk ke ruangan Juli. Saat Toni berjalan menuju kursi disamping tempat tidur Juli, perutnya mulas, karena sudah tak kuat lagi. Akhirnya, Toni memanggil seorang suster dan seorang suster datang. Toni langsung pergi ke toilet setelah melihat suster datang. Merasa keadaan terkendali, preman itu mulai pergi ke kamar Juli.


Mereka sampai di depan kamar Juli, preman itu masuk dan mengunci pintu. Dia tidak mengetahui kalau ada Suster yang menjaga Juli.


Melihat seseorang tidak di kenal masuk ke dalam ruangan Juli, suster itu terkejut karena kedua orang itu masuk kedalam ruangan Juli. Suster itu, berusaha menghentikan kedua orang itu, namun kedua orang itu mengancam suster itu. Suster itu sangat ketakutan dengan kedua preman itu. Dia gemetar dan ketakutan.


Dia berusaha teriak namun kedua preman itu tidak menggubris dan mengancam suster itu hingga membuat suster itu hanya diam dengan ketakutan dan menangis.


Preman itu mengambil tali dan lakban, mereka mengikat tangan dan kaki suster itu. Suster itu tidak berani melawan para preman itu, karena para preman itu membawa benda tajam. Setelah suster di ikat, salah satu preman memasangkan lakban ke mulut suster. Beberapa detik kemudian, preman itu menarik alat yang di pakai.Setelah semua alat terputus, para preman membawa Juli keluar kamar. Sesampainya diluar kamar, salah satu preman membuka pintu lalu mereka membawa Juli pergi.


Mereka berpura-pura menjadi seorang dokter.


Toni keluar dari kamar mandi. Dia merapikan diri lalu pergi ke kamar Juli. Namun saat ia membuka pintu kamar, Toni sangat terkejut. Dia melihat kamar Juli kosong.


Dia berhenti sesaat di depan kamar dengan melihat suster terbaring dengan tangan terikat begitu pula kakinya. Dia melihat alat yang digunakan untuk mengontrol grafik detak jantung Juli terputus. Dia bergegas berlari menghampiri suster itu. Wajahnya panik  dan ia membuka lakban yang menempel di bibir si suster.


"Apa yang terjadi Sus? Dimana Juli?" tanya Toni dengan panik dan khawatir.


"Nanti saya ceritakan, yang terpenting cari terlebih dahulu pasiennya karena saya merasa Pak Juli dalam bahaya. Jangan pedulikan saya!" jawab suster itu.


Toni berdiri dan berlari mengejar para preman itu. Dia berusaha tanya kepada setiap orang yang di temui, tapi semua itu sia sia karena tidak ada yang melihat Juli. Dia sangat panik lalu ia pergi ke ruang cctv. Sesampainya di ruangan cctv, dia meminta satpam mencari keberadaan Juli dan para preman itu.


Beberapa saat mencari, satpam dan Toni melihat keberadaan Juli dan para preman itu.


Mereka membawa Juli ke lantai paling atas. Dia pergi dari ruangan cctv, mengejar para preman itu.


Tak berselang lama, para preman itu sampai di lantai paling atas. Keadaan Juli memburuk ia kejang kejang, tubuhnya gemetar dan ia mengigil seperti kedinginan.

__ADS_1


Melihat keadaan Juli kembali memburuk, para preman itu heran dengan tingkah Juli yang kejang-kejang. Mereka tidak mempedulikan keadaan Juli dan tetap membiarkan Juli dengan keadaan seperti itu.


Para preman itu akan mendorong ranjang Juli, tiba tiba tindakan para preman terhenti ketika Toni datang dan menghentikannya.


"Tunggu! Aku mohon jangan sakiti Juli," ucap Toni dengan baik.


Merasa nyawa mereka terancam, salah satu preman itu mendorong ranjang yang ditempati Juli, setelah itu para preman kabur dari hadapan Toni. Merasa nyawa Juli dalam bahaya karena dorongan dari salah satu preman itu. Toni memilih tidak mempedulikan para preman dan lebih memilih menyelamatkan Juli.


Secara bersamaan satpam datang dan mengejar preman yang ingin kabur.


Toni berusaha mengapai ranjang yang di tempati Juli, setelah beberapa saat mengejar dan bisa mengapai ranjang itu. Dia sangat bersyukur karena ia berhasil meraih ranjang yang di tempati Juli.


Dia sangat panik melihat keadaan Juli kembali kejang kejang dan gemetar. Ia berusaha menenangkan Juli namun ia tak bisa menenangkan Juli. Dia mendorong ranjang yang di tempati Juli dan membawa Juli turun ke lantai bawah untuk penanganan ulang.


       Beberapa menit kemudian, Toni berada di lantai bawah. Ia membawa masuk ke ruangan yang di tempati di awal. Sesampainya di ruangan, Toni berteriak memanggil dokter.


Beberapa detik kemudian, dokter dan beberapa suster menghampiri Toni yang tengah panik dengan keadaan Juli. Dokter itu pun memeriksa keadaan Juli. Sedangkan beberapa suster, memasang alat pendeteksi detak jantungnya.


Tak berselang lama salah satu suster menghampiri Toni dan meminta Toni keluar ruangan.


pada awalnya ia menolak, namun lama kelamaan ia menerima walau pun ia berat hati meninggalkan Juli. Ia melangkahkan kaki dengan berat wajahnya juga tak bisa meninggalkan Juli. Dia terlihat melangkah kan kaki lalu menoleh ke arah Juli yang dipakaikan alat bantu pernafasan dan alat lainnya.


Beberapa menit kemudian, suster yang menjaga Juli menghampiri Toni. Saat itu Toni tengah menangis, namun suster yang menjaga Juli datang.


Dia menghapus air matanya. Suster itu meminta maaf kepada Toni karena ia tak bisa menjaga Juli. Toni pun memaafkan suster dan menyalahkan dirinya sendiri.


Setelah percakapan itu, Toni bertanya tentang kejadian yang sebenarnya sebelum Juli di bawa ke lantai atas rumah sakit. Suster itu menceritakan semuanya yang terjadi di dalam ruangan. Dia menceritakan dari awal saat Toni ke toilet. Lalu, para preman itu datang dan mulai mengacam suster itu.Toni pun hanya mendengarkan penjelasan yang di lakukan oleh suster.


"Suster, apakah Suster tau tujuan para preman itu?" tanya Toni.


Suster itu menjawab gelengan. Beberapa detik kemudian, dokter yang memeriksa Juli langsung pun keluar dari kamar Juli. Ia langsung disambut Toni dengan pertanyaan tentang keadaan Juli.


"Keadaan Juli baik baik saja, tapi kalau tadi lebih lama lagi ia tidak menggunakan tabung oksigen. Maka dia akan kehilangan nyawanya."


"Baik Dokter, apakah saya bisa menengoknya?" tanya Toni kepada dokter dan dokter pun menjawab anggukan.


Melihat jawaban Dokter Toni pun meninggalkan dokter dan suster. Toni masuk ke dalam ruangan dan melihat Juli kembali terbaring, tak berdaya di tempat tidur.


Dia menangis di setiap langkah yang ia lalui, matanya hanya berfokus kepada Juli dengan berlinang air mata. Toni duduk di kursi yang berada di samping Juli, dia memegang tangan Juli dan meminta maaf dengan penuh penyesalan.


     Di rumah, terlihat kedua para preman itu tengah berdiri di belakang kursi yang di tempati bos mereka. Para preman itu hanya bisa menunduk dengan menyesal karena dia gagal membunuh Juli.

__ADS_1


"Maaf Bos, kami gagal membunuh Juli," ucap salah satu preman dengan ketakutan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh si preman, orang misterius itu pun langsung mengirimi pesan ke salah satu preman.


Secara bersamaan handphone mereka berbunyi. Mereka membuka ponsel nya. Setelah membuka ponsel, tertuliskan sebuah pesan yang di dapat dari orang misterius itu.


"Dasar kalian bodoh, membunuh orang tak berdaya saja gak pecus, percuma aku membayar mahal kalian kalau kalian tidak ada gunanya!."


"Maaf Bos," jawab para preman itu secara bersamaan.


Tak berselang lama orang misterius itu membalas mereka berdua.


"Biar aku saja yang melakukannya, kalian sekarang pergi!."


Para preman pergi meninggalkan orang misterius itu. Setelah itu orang misterius itu kembali menyalakan tv dan ia menonton adegan dalam sebuah film yang menjatuhkan seorang pasien dari lantai teratas.


     Beberapa detik kemudian, orang misterius itu datang kerumah sakit. Dia datang dengan memakai sebuah jaket dan menutupi kepala nya dengan jaket itu. Orang itu melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keadaan aman.


Terlihat dia mengintip Juli dan Toni di luar pintu ruangan. Dia mengintip melalui kaca kecil di area tengah pintu. Setelah beberapa saat memantau keadaan Juli, orang misterius itu pergi dari depan kamar Juli dengan terburu buru.


     Waktu pun berlalu begitu cepat, saat itu waktu menunjukkan pukul 06:00 pagi terlihat Toni terbangun dari tidurnya dan ia melihat Juli yang masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Toni mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja, yang berada di dekat Juli.Dia mengetik sebuah nomer dan menelepon nomer yang ia ketik tadi.


"Halo Ma, nanti Mama kesini ya gantian jagain Juli soalnya aku nanti ada pekerjaan," ucap Toni dengan meletakkan ponsel nya di telinganya.


        Di tempat Inspektur Adi terlihat ia tengah menerima telepon dari anak buahnya.Anak buah Inspektur Adi tidak menemukan keberadaan Kania. Dia seperti hilang di telan bumi. Mereka sudah mencari Kania kerumahnya namun di rumahnya hanyalah si pembantu. Pembantu itu juga tak mengetahui keberadaan Kania, karena semenjak ada kabar kalau Kania melarikan diri dari kantor polisi.


Mendengar ucapan anak buahnya anak buah Inspektur Adi. Dia bergegas mematikan ponsel nya dan pergi ke kantor polisi dengan keadaan kaki yang terluka. Saat itu Ayah Adi tengah berusaha menghentikan Inspektur Adi, namun inspektur Adi tetap memaksa pergi dengan keadaan nya yang harus berjalan pincang dan di bantu dengan tongkat.


      Beberapa saat kemudian, Inspektur Adi sampai di kantor polisi. Dia berniat untuk memastikan kebenaran Kania. Namun, sesampainya di kantor polisi Inspektur Adi benar benar tidak melihat Kania di sel.


Dia sangat kebingungan dengan apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian, Inspektur Adi menerima panggilan dari Toni. Dia menceritakan kepada Inspektur Adi tentang apa yang terjadi kemarin.


Setalah mendengar cerita dari Toni, Inspektur Adi yang kala itu menyelidiki hilangnya Kania, dia memilih untuk pergi ke rumah sakit dan menyelidiki orang yang berniat membunuh Juli.


Tak berselang lama, Inspektur Adi sampai di kamar yang di tempati Juli. Dia masuk kedalam kamar itu dan melihat keadaan Juli.


Dia juga bertanya tentang keadaan Juli, saat itu Toni menjawab Juli baik baik saja.


Setalah mendengar jawaban itu, Toni pun menceritakan kejadian yang terjadi kemarin.Ia menceritakan segalanya. Di pertengahan cerita, wajah Inspektur Adi berubah terkejut dan panik.


Ketika cerita berakhir, Inspektur Adi sangat bingung dengan sesosok yang memerintahkan para preman itu. Inspektur Adi pergi ke ruang cctv untuk mengumpulkan bukti dan setelah ia melihat cctv itu betapa terkejutnya ia melihat kedua preman yang berusaha membunuh Juli sama dengan kedua preman yang membunuh Shela. Inspektur Adi memanggil anak buahnya dengan telepon genggam. Inspektur Adi meminta anak buahnya untuk melacak kedua preman itu dan menghentikan pencarian tentang Kania.

__ADS_1


__ADS_2