
Di dalam kamar terlihat Bu Laras sudah memakai pakaian yang rapi dan bersih,ia terlihat keluar dari kamarnya dengan tergesa gesa.Ia akan pergi ke suatu tempat tanpa meminta izin kepada Toni dan Ayah Toni ia langsung pergi,saat Bu Laras pergi Ayah Toni melihat di dalik jendela ia terlihat sangat heran karena ia melihat Bu Laras pergi dengan terburu buru.
Tak berselang lama ia sanpai di sebuah toko smartphone,sesampainya di toko smartphone itu ia langsung membeli ponsel baru berserta nomor baru agar orang orang itu tidak mengganggunya lagi.
Beberapa saat kemudian ia memasukkan nomor barunya ke ponsel baru,setelah semua itu berhasil ia membayar kartu dan ponsel barunya.
Ia kemudian kembali ke rumah namun saat di pertengahan jalan ponsel yang di taruh di dalam tas berbunyi,mendengar ponsel barunya berbunyi ia langsung melihat siapa yang menelepon dirinya namun nomer itu tak ia kenal.
Akhirnya ia mematikan telepon itu namun nomor itu tetap menelepon berulang kali namun karena ia merasa terganggu dengan nomor itu akhirnya ia menerima telepon itu dengan kesal.
"Halo,siapa ini? Jangan ganggua aku kalau tidak penting!" ucap Bu Laras dengan nada marah.
"Ini kami Bu Laras!" jawab preman pertama dan kedua.
Setelah ia mendengar suara penelepon dan ternyata penelepon itu adalah para preman itu lagi,Bu Laras terlihat sangat terheran heran karena para preman itu menelepon dirinya di nomor yang baru.
"Kalian?.Dapat dari mana nomor baru ku?" ucap Bu Laras dengan heran.
"Itulah keahlian kami,jadi jangan pernah macam macam dengan kami!" ucap si preman pertama.
"Aku sudah mengatakan aku tidak akan menuruti apa yang kalian inginkan,sampai kapan pun!!!."
Jawab Bu Laras dengan tegas lalu ia mematikan panggilannya dengan kesal lalu pergi.
Di dalam kantor polisi terlihat Inspektur Adi tengah kebingungan,ia menaruh semua barang bukti di atas meja kayu.Ia menaruh sapu tangan berjajar dengan yang lain.
Terlihat sapu tangan yang terdapat gambar lingkaran berada di awal lalu di susul sapu tangan yang bertuliskan huruf AM dan S dan selain itu di bawah beberapa pisau yang menjadi barang bukti pun di taruh secara berdampingan.
Inspektur Adi terlihat tengah berpikir sambil memandangi bukti bukti itu,saat itu di dalam ruangan juga ada Toni,Juli dan yang lain.
Saat itu semua orang diam tidak ada yang berbicara dari Juli,Toni atau pun Inspektur Adi karena merasa kurang nyaman dengan semua itu akhirnya Juli memutuskan mengawali perbincangan.
"Sekarang apa?" mendengar ucapan Juli Inspektur Adi, Toni dan beberapa anak buah.
"Maksudnya?" jawab Inspektur Adi dengan kebingungan.
"Inspektur masih tanya maksud nya?" ucap Juli lalu ia mempalingkan wajahnya dengan kesal dan ia melanjutkan berkata dengan lirih.
"Astaga!." Juli berjalan dengan pincang menghampiri Inspektur Adi, sesampainya di depan Inspektur Adi Juli langsung menaruh tongkat yang ia pakai dan berdiri dengan tegap di hadapan Inspektur Adi.
"Apakah Inspektur Adi ingin ada korban lagi? Lihat semua bukti ini,semua ini mengarah kepada satu orang!. Pembunuhan Shela,pembunuh Kania dan pembunuh si pembantu itu adalah orang yang sama,dan Inspektur harus segera mencari pelaku yang sebenarnya tidak hanya memandagi barang bukti!.Itu tidak akan menghasilkan apapun,tidak akan!" ucap Juli dengan kesal,tegas bercampur dengan serius dan marah kepada Inspektur Adi.
"Pak, apa yang di katakan Adik Bapak itu benar?" sahut anak buah Inspektur Adi.
"Jangan pernah kamu mengatakan itu lagi,aku bukan adik Inspektur Adi!," jawab Juli dengan kesal dan ia terlihat menunjuk anak buah Inspektur Adi setiap dirinya berbicara mendengar ucapan Juli akhirnya anak buah Inspektur Adi menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan.
"Stop,udah jangan ada debat lagi! Oke aku akan pergi mencari pelaku yang sebenarnya! " bentak Inspektur Adi lalu dengan terlihat marah ia pergi keluar dari kantor polisi namun saat ia berada di halaman Bu Laras langsung menghampiri dirinya.
Inspektur Adi yang akan keluar dari kantor polisi langsung terkejut setelah melihat Bu Laras berada di kantor polisi.
"Bu Laras ada apa? Oh yeah pasti mau lihat Juli,Juli dia ada di dalam!" ucap Inspektur Adi.
__ADS_1
"Tidak! Aku kesini tidak untuk menemui Juli!.Aku ke sini mau menyerah kan diri karena aku yang membunuh Shela,Kania dan Si Pembantu itu," jawab Bu Laras dengan nada dan raut muka sedih.
"Apa?!!" jawab Inspektur Adi dengan mulut ternganga dan tak merasa percaya.
"Bu Laras saya mohon jangan main main ini kasus bukan kasus biasa ini kasus pembunuhan jadi jangan pernah main main," ucap Inspektur Adi dengan menjelaskan kepada Bu Laras dengan perasaan tidak percaya dengan yang di ucapan oleh Bu Laras.
Inspektur Adi berusaha pergi dengan menaiki mobil namun tindakan nya terhenti ketika Bu Laras kalau dia tidak bohong bahkan dia bersumpah kepada Inspektur Adi.
"Saya tidak bohong Inspektur, saya bersumpah," ucap Bu Laras dengan lqntang tanpa takut atau apapun itu. Mendengar ucapan Bu Laras Inspektur Adi langsung berbalik.
"Kenapa Bu Laras melakukan nya?" tanya Inspektur Adi dengan serius lalu Bu Laras menjawab dengan kebingungan.
"Karena sa...,"ucap Bu Laras namun di potong oleh Inspektur Adi.
" Tunggu!." Inspektur Adi kemudian mengajak Bu Laras masuk ke dalam kantor Inspektur.
Saat ia sudah di dalam ruangan Juli dan Toni langsung terkejut dengan kedatangan Bu Laras dan Inspektur Adi yang bersamaan. Juli kemudian mendekati Bu Laras dengan berjalan pincang.
"Mama ngapain di sini?" tanya Juli lalu memeluk dirinya namun saat Juli tengah memeluk Bu Laras Juli di dorong oleh Bu Laras hingga terjatuh.
"Maa,Mama kenapa sih? Mama gak lihat keadaan Juli.Apa kesalahan Kakak hingga membuat Mama mendorong Kakak?" tanya Toni dengan nada kesal dan marah.
Ia juga terlihat membantu Juli dari terjatuhnya dan di saat bersamaan Bu Laras mengatakan "Mama melakukan itu karena Mama tidak mau kalau anak anak Mama memeluk seorang pembunuh!."
Mendengar ucapan Bu Laras Toni dan Juli langsung terkejut,ia tak percaya denhan yang di ucapkan Bu Laras.
"Maa,aku mohon jangan bercanda ini bukan permainan,ini adalah kasus pembunuhan.Aku mohon jangan mengaku ngaku kalau Mama adalah pelaku nya karena aku tau Mama tidak akan melakukan nya!" ucap Juli berusaha mendekati Bu Laras namun tetap Bu Laras menjauh dari Juli.
"Kata siapa aku bukan pelakunya?hah. Periksa kalau kalian tidak percaya,di salah satu pisau yang ada di atas meja ada sidik jari ku ada di sana!!" ucap Bu Laras dengan serius.
"Gini saja untuk membuktikan yang sebenarnya kita check satu persatu pisau kalau ada sidik jari dari Bu Laras berarti memang dia pelaku yang sebenarnya!."
"Enggak! Aku yakin Mama tidak akan melakukannya pasti Mama di paksa siapa yang maksa Mama berkata seperti ini,siapa? Siapa Maa?" ucap Juli dengan nada sedih dan raut muka sedih.
"Mama tidak ada yang memaksa Juli, tidak yang memaksa Juli, tidak ada!" ucap Bu Laras dengan nada serius dan memaksa berkata bohong.
Akhirnya mau tidak mau Inspektur Adi memasukkan Bu Laras ke dalam penjara dan Inspektur Adi kemudian memeriksa satu persatu pisau dan tak berselang lama Inspektur Adi menemukan pisau yang menjadi barang bukti dan terdapat sidik jari dari Bu Laras.
"Benar pak di pisau ini ada sidik jari Bu Laras," ucap anak buah Inspektur Adi.
Mendengar ucapan anak buah Inspektur Adi Juli langsung terkejut dan tiba tiba ia terjatuh dan teriak teriak kesakitan,ia memegangi kepala dengan menggeliat liat kesakitan.
"Aaaaagghh sakiiit!!!" teriak Juli dengan sekut tenaga dan ia juga terlihat memukul mukul lantai dengan tangan kanannya karena sakit yang ia rasakan di kepalanya sangat menyakiti dirinya.
Melihat keadaan Juli kembali drop Toni,Bu Laras dan Inspektur Adi langsung panik dan membawa Juli ke rumah sakit.
Ia terlihat sangat kesakitan darah kembali mengalir dari kepalanya dan di bantu dengan anak buah Inspektur Adi Toni membawa Juli ke rumah sakit dengan Keadaan yang sangat tersiksa.
Ia hanya teriak teriak kesakitan di saat perjalanannya ke rumah sakit, beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit lalu beberapa saat kemudian beberapa suster menghampiri Toni dan membantu Toni mengeluarkan Juli dari mobil.
Setelah Toni dan suster berhasil mengeluarkan Juli ia langsung membawa Juli ke kamar gawat darurat dan sesampainya di ruang UGD, Juli kembali di rawat oleh dokter yang sama.
__ADS_1
Dokter itu mulai memeriksa keadaan Juli lalu ia membersihkan darah yang keluar dari kepala Juli sedangkan di luar kamar Toni terliht terkejut dan sedih karena mendengar ucapan Bu Laras yang menyebut dirinya sebagai pelaku pembunuhan ketiga korban.
Ia hanya duduk dengan tatapan yang kosong tak berselang lama Inspektur Adi datang dengan Ayahnya dan Ibunya berserta Ayah Toni.
Mereka datang dengan terburu buru dan tergesa gesa hingga sampai di depan kamar UGD, Ayah Toni kemudian melihat Toni termenung sedih dan kecewa.
Melihat Toni seperti itu akhirnya ia Ayah Toni menghampiri Toni dan duduk di samping Toni, ia kemudian melanjutkan memeluk Toni.
Merasa ia di peluk seseorang ia terlihat terkejut dan diam nya saat ia sendiri langsung terpecah,ia langsung melihat ke arah Ayah Toni dan saat ia melihat ke arah Ayahnya matanya berkaca kaca dan ia langsung memeluk Ayahnya dengan berderai air mata.
"Paa,Kakak... Kakak sakit lagi," ucap Toni dengan sedih dan menangis.
"Enggak kok,Kakak kamu enggak sakit lagi dia akan baik baik saja," jawab Ayah Toni dengan berusaha menenangkan Toni yang terus menerus meneteskan air mata.
"Pah,Mama yang melakukan nya Pah Juli seperti ini karena Mama," ucap Toni dengan sedih.
"Papa tau Inspektur Adi sudah menceritakan semuanya saat di jalan, tapi kamu harus percaya kalau Ibu kamu tidak melakukannya," ucap Ayah Toni untuk menenangkan Toni.
"Bagaiman aku bisa seperti itu Paa? Kalu Mama sendiri yang mengatakan,Mama pelakunya."
Itulah kalinat yang di ucapkan Toni setelah mempercayai bahwa Bu Laras adalah pelaku yang sebenarnya.
Melihat Toni sangat terpukul dengan pengakuan ibunya Ayah Toni hanya berusaha menenangkan Toni dari sedihnya.
Di dalam penjara Bu Laras terlihat sangat khawatir ia mundar mandir kesana kemari,ia mengkhawatirkan keadaan Juli.
"Maafkan Mama Juli ,Mama melakukan ini karena ada suatu alasan ini demi melindungi kalian. Maafkan Mama," ucap Bu Laras dengan sedih lalu tak berselang lama ia kembali mengingat sebelum kejadian ini.
Saat itu ia tengah berjalan menuju ke rumah namun saat di pertengahan jalan ia menerima lagi telepon dari nomor yang sama.
"Halo,apa lagi sih yang kalian inginkan? Apa?.Apa kalian akan mengancam saya dengan Juli atau Toni? iya,aku gak peduli karena fakta yang sebenarnya Toni dan Juli bukan itu anak anak ku!."
"Kami tau kalau Toni dan Juli itu bukan anak kandung kamu,maka dari itu aku akan menggunakan anak kandung kamu," jawab preman pertama di telepon lalu dengan wajah terkejut ia menjawab"Apa maksud kamu?"
"Kami tau anak kandung kamu yang sebenarnya adalah Shela dan....," ucap preman pertama namun saat preman pertama akan menyebut nama anak ke dua dari Bu Laras Bu Laras menghentikan nya.
"Tunggu! Jangan pernah kamu menyakiti dia kalau kamu sampai meyakiti dia,aku tidak akan segan segan melaporkan kalian semua ke kantor polisi!!!" ancam Bu Laras kepada para preman itu.
"Kalau kamu tidak mau anak kamu yang satunya lagi bernasib seperti Shela maka turuti kami dan lakukan perintah kami!" ucap preman pertama dengan serius.
"Oke aku akan mengaku kalau aku pembunuh Shela, Kania dan si pembantu itu tapi kamu jangan pernah menyentuh anak saya," jawab Bu Laras dengan tegas dan serius.
Keadaan kembali seperti sediakala di saat Bu Laras berada di dalam penjara namun tiba tiba saat ia tengah khawatir atas keadaan Juli salah satu anak buah Inspektur Adi datang menghampiri Bu Laras dengan membawa telepon di tangan nya telepon itu berasal dari para preman itu.
Anak buah Inspektur Adi terlihat celingukan melihat kesana kemari untuk nemastikan keadaan sudah aman namun saat ia merasa keadaan sudah aman anak buah Inspektur Adi memberikan telepon itu kepada Bu Laras.
"Ini ada telepon buat kamu," ucap anak buah Inspektur Adi dengan memberikan telepon gengamnya kepada Bu Laras. Bu Laras pun menerima telepon itu sedangkan anak buah Inspektur Adi itu mengawasi keadaan.
"Halo,apa lagi yang kalian inginkan?hah.Apa kurang puas kalian? Aku sudah mengaku kalau aku pembunuhan Shela dan yang lainnya. Sekarang apa lagi yang kalian mau dari ku?" ucap Bu Laras dengan nada marah dan kesal.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu memang di dalam penjara," ucap preman itu dengan santai.
__ADS_1
"Aku sudah di penjara dan gara gara kalian Juli drop lagi.Dia berada di rumah sakit sekarang," ucap Bu Laras lalu preman pertama itu memberi tau Bos nya bahwa Juli berada di rumah sakit.Bos dari preman itu langsung memberi aba aba untuk mematikan telepon nya,setelah melihat aba aba itu ia langsung pergi mematikan ponsel nya.
"Halo halo," ucap Bu Laras setelah panggilan itu mati lalu ia melanjutkan memberikan telepon genggam itu kembali ke anak buah Inspektur Adi.Ia kemudian pergi meninggalkan Bu Laras sendiri di dalam penjara.