
Sesampainya di luar rumah sakit, Juli menyusuri jalan dengan langkah tertatih. Dia menahan rasa sakit di kepalanya.
Tangisan dan kesedihan mengiringi setiap langkah Juli. Tak berselang lama, ia berhenti di tengah sebuah perempatan. Dia linglung tak tau arah.
Ia melihat ke sekeliling dengan penuh harapan. Namun, tiba-tiba Juli di tabrak mobil dari belakang hingga membuat tubuhnya terpental dan terjatuh dengan tengkurap dan kepalanya membentur ke aspal jalan hingga berdarah.
Melihat hal itu, keluarga Adi yang kala itu berada di belakang Juli dan berjarak lumayan jauh. Mereka terkejut, mereka tak bisa berkata kata. Mulut terbuka lebar dan seketika mereka seolah kehilangan harapan. Mereka merasa sudah kehilangan Juli yang sudah dianggap keluarga.
"Andiiiiii!!"teriak Bu Ratna setelah melihat Juli mengalami kecelakaan.
Mereka bergegas menghampiri Juli yang kala itu sudah tidak berdaya.
Ketika keluarga Adi menghampiri Juli, mobil yang menabrak Juli pergi tanpa bertanggung jawab kepada Juli.
Melihat hal itu, Adi mencoba menghentikan mobil itu namun semua itu gagal. Karena mobil itu melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Saat mobil sudah pergi, Juli membuka mata secara perlahan setelah melihat Bu Ratna dan suaminya. Dengan di bantu oleh Bu Ratna dan suaminya, Juli membetulkan tubuhnya dan berbaring.
Dia masih berusaha untuk bangun dari jatuhnya, walaupun dirinya sudah tidak kuasa menopang tubuhnya.
"Aaaghh,"rintih Juli secara lirih setelah dia berhasil bangun dengan di bantu Inspektur Adi dan keluarganya.
Melihat Juli masih bisa terbangun, dan bernafas keluarga Adi sangat bersyukur, namun mereka juga sedih dengan keadaan Juli.
"Syukurlah kamu sadar Juli, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Inspektur Adi.
Mendengar hal itu, Juli mendorong Inspektur Adi, hingga terdorong beberapa langkah dari dekat Juli. Ketika Juli sudah lepas dia pergi.
Ayah Adi dan Bu Ratna terus menerus berusaha menghentikan Juli dan Juli tak memperdulikan teriakan dari orang tua Adi yang silih berganti memanggil nama Juli.
"Juli,Ibu mohon sama kamu tolong jangan siksa diri kamu dengan semua ini.Kami tau kalau kami salah tapi saya mohon tolong Maafkan kami,"ucap Bu Ratna dengan sedih dan ia terus mengikuti Juli.
Juli pun langsung menghentikan langkah kakinya.
"Mengatakan kata maaf i... Itu tidak mudah,apa lagi maaf untuk kalian yang sudah membohongi aku dengan kejahatan seperti ini!."
"Saya tau kalau kamu akan kesulitan memaafkan saya,tapi saya mohon tolong maafkan kami untuk saat ini saja tolong maafkan kami,"ucap Inspektur Adi dengan sedih lalu Juli berbalik melihat ke arah keluarga Adi.
Setelah berbalik Inspektur Adi terkejut karena ia melihat wajah Juli berlumuran darah,melihat darah kembali keluar dari kepala Juli Bu Ratna terlihat sangat terkejut dan khawatir.
"Juli kepala kamu berdarah,kita harus kembali ke rumah sakit!.Kita hentikan dulu pendarahan ini kalau tidak kita hentikan siapa? Siapa yang akan mengungkap pelaku pembunuhan Ayah kamu?"
Mendengar ucapan itu Juli langsung terdiam dan tak berkata dengan mata yang mengeriyip seperti akan tertutup namun ia berusaha membuka matanya.
Dia melangkah kaki ke arah Ayah Adi yang berdiri di depan dirinya karena ia sadar dengan yang di ucapkan oleh Ayah Adi benar dan tidak salah,setelah ia berada di depan Ayah Adi Juli langsung berkata dengan lirih.
"Terima... Terima kasih sudah mengucapkan hal itu Pak, saya sangat berterima kasih karena Bapak sudah membuat aku sadar.Aaagghh," Juli pun merintih kesakitan.
Dia memegangi kepalanya yang masih mengeluarkan darah dengan tangan yang memegangi kepalanya gemetar dan nafas yang terlihat menahan sakit yang luar biasa.
Tak berselang lama Juli langsung terjatuh pingsan ke pelukan Ayahnya Adi,seketika Ayahnya Adi pun memeluk Juli hingga membuat bajunya yang ia pakai meninggalkan noda darah.
__ADS_1
Ayah Adi kemudian membawa Juli kembali ke rumah sakit, terlihat Bu Laras dan Inspektur terlihat sangat bahagia.Mereka membawa Juli melewati sebuah jembatan yang di bawahnya adalah sebuah sungai yang sangat deras,saat Ayah Adi dan yang lainnya membawa Juli ke rumah sakit dan terlihat di belakang sebuah mobil mengikuti mereka secara perlahan lahan.
Di dalam mobil terlihat orang yang sama,yaitu pelaku yang sebenarnya yang menjadi pembunuh Kania dan si pembantu.
Ia kemudian menghidupkan mobilnya dan melajukan mobil yang ia pakai,pada awalnya mobil yang ia lajukan pelan namun lama kelamaan ia menambah kecepatan mobilnya dan akan menabrak Juli serta Ayahnya Inspektur Adi yang berjalan di samping jalan.
Juli yang tengah pingsan di pelukan Ayah Adi langsung mulai membuka mata secara perlahan lahan karena ia mulai menyadari mendengar sebuah mobil yang semakin terdengar keras dan cepat.
Beberapa detik kemudian Juli melihat cahaya dari lampu sebuah mobil menyala menyinari mereka,melihat hal itu Juli langsung mendorong Ayah Adi dan beberapa detik kemudian mobil itu menabrak Juli hingga Juli dan mobil itu menabrak pembatas jalan hingga terjun bebas ke sungai yang deras itu.
Melihat hal itu Ayah Adi,Inspektur Adi dan Bu Ratna langsung terkejut,terdiam dan mematung di tempat.
Tak berselang lama Bu Ratna langsung lemas dan jatuh bersendekul dengan tatapan yang kosong,begitu pula Inspektur Adi ia langsung lemas dan tak berselang lama air matanya menetes di mata Inspektur Adi.
Sedangkan Ayah Adi yang melihat Juli terjatuh dari jembatan bersama dengan mobil yang menabraknya Ayah Adi langsung terbangun dan berusaha mengapai tangan Juli namun gagal,Juli sudah terjun bebas bersama dengan mobil yang menabraknya.
Saat Juli terjatuh dari jembatan ia hanya melihat Ayah Adi dengan tangan seolah berusaha ingin mengapai,namun tak bisa.Mata nya berkaca kaca dan ia juga tersenyum kecil kepada Ayah Adi seolah ia sudah menerima Ayah Adi sebagai Ayahnya
Byuuuurrr....
Terdengar suara orang terjatuh ke sungai dengan beberapa detik kemudian Juli sudah tak terlihat lagi.Melihat hal itu Ayah Adi langsung lemas tak berdaya.
"Anak ku,"ucap Ayah Adi dengan lirih dan mata yang berkaca kaca,selain itu raut mukanya juga terlihat sangat sedih.
Tak hanya Ayah Adi,Inspektur Adi yang ikut sedih pun langsung punya pemikiran untuk mengikuti Juli terjun ke sunga.Ia pun melakukannya terlihat ia menjatuhkan tongkatnya yang di gunakan untuk berjalan.
Tak berselang lama Ia berlari dan meninggalkan rasa lukanya yang berada di pahanya.
Setelah beberapa langkah berlari Inspektur Adi langsung terjun ke sungai untuk mencari Juli, saat Inspektur Adi sudah berada di sungai ia terlihat tiba tiba menghilang seperti di telan bumi namun tiba tiba Inspektur Adi ke luar dari sungai dan memberi tau kepada orang tuanya tentang jasad Juli yang tak di ketemukan di dalam sungai.
Beberapa menit kemudian tim sar pun datang bersama an dengan polisi,mereka semua berusaha mencari Jenazah Juli lagi namun apalah daya semua usaha yang di lakukan mereka tidak membuahkan hasil.
Mereka sangat terlihat kelelahan mencari namun mereka tetap tidak berusaha mencari tapi karena keadaan saat itu gelap akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan pencariannya.
Di situ semua orang terlihat sangat sedih tak terkecuali Ayah dari Inspektur Adi,ia hanya bisa terdiam dengan tatapan mata yang kosong dan ia terlihat putus asa.Ia melihat ke arah sungai dengan mata berkaca kaca tak berselang lama Toni dan Bu Ratna sampai di lokasi kejadian.
"Bagaimana? Apakah sudah di temukan mayat Juli?"tanya Toni dengan sedih lalu Inspektur Adi pun langsung menjawab anggukan kepada Toni.
Melihat jawaban itu Toni pun langsung terlihat sedih dan meneteskan air mata,begitu pula Bu Laras ia terlihat langsung lemas tak berdaya setelah mendengar jawaban itu.
Tak berselang lama Toni menghapus tetesan air matanya dan ia kemudian menghampiri Inspektur Adi.
"Kenapa Inspektur? Kenapa kamu melakukan ini?Aku mempercayakan Kakak ku kepada mu tapi apa? Apa yang Inspektur lakukan? Inspektur Adi membiarkan Kakak saya jatuh ke sungai,"ia langsung menarik pistol yang di ikatkan ke pinggang Inspektur Adi lalu tak berselang lama Toni mengarahkan pistol itu ke arah kepala Inspektur Adi.
"Apakah ini yang dinamakan keluarga? Iya,tidak!.Ini bukan keluarga kamu adalah pembunuh.Dia berusaha menerima kalian sebagai keluarganya tapi apa? Apa kalian bisa menjadi keluarganya? Tidak! Kalian tidak bisa menjadi keluarganya.Kalian hanya bisa menjadi masalah bagi Juli,"ucap Toni dengan nada tinggi dan marah.
"Toni kami minta maaf sama kamu tolong maafkan kami,"ucap Inspektur Adi dengan menyesal dan sedih.
"Maaf! Maaf Inspektur?Apakah Inspektur layak di maafkan setelah kejadian ini, hah? Tidak Inspektur Adi, tindakan Inspektur Adi dan keluarga tidak layak di maafkan,"jawab Toni masih dengan nada marah dan kesal kepada Inspektur Adi.
"Kamu harus menangung atas rasa kehilangan ku Inspektur.Kamu harus mati di tangan ku harus!."
__ADS_1
Door! Door! Door!
Suara tembakan terdengar,semua orang terdiam,terpaku dan melihat ke arah Toni yang mengarahkan pistol ke arah kepala Inspektur Adi.
Setelah semua orang melihat ke arah Toni,ia menjatuhkan pistol yang ia pegang.Inspektur Adi pun terlihat hanya memejamkan mata nya saat terdengar suara tembakan ,ia merasa dirinya memang sudah layak di hukum atas kesalahannya. Namun ia salah karena ia tak di tembak oleh Toni ia memplesetkan tembakannya melewati telinga Inspektur Adi,lalu Ia Inspektur Adi perlahan lahan membuka matanya.
"Apakah sakit Inspektur?"tanya Toni dengan nada sinis lalu ia melanjutkan berkata dengan nada serius dan marah. "Bagaimana bisa sakit? Peluru yang aku tembakkan pun tidak layak menembus tubuh Anda,Anda itu tidak layak mati dengan sebuah peluru Anda hanya pantas mati dengan orang orang yang Anda sayangi selain itu Anda juga tidak layak menjadi seorang Inspektur polisi Anda hanya pantas menjadi pengecut karena Anda tidak bisa mencari tau siapa pelaku yang melakukan semua ini?Lebih baik Anda mengundurkan diri dari jabatan Anda!."
Tak berselang lama atasan dari Inspektur Adi datang ,ia datang dengan beberapa anak buahnya
"Ada apa ini?"tanya atasan Inspektur Adi,melihat atasan Inspektur Adi Toni hanya terdiam dengan raut muka marah dan kesal.
Suasana itu tiba tiba berubah saat Bu Ratna pingsan dan ter jatuh di tanah.
"Maa,Mama kenapa? Apa yang terjadi Maa?"ucap Adi dengan khawatir dan panik.
Bu Ratna sama sekali tidak merespon ucapan Insektur Adi,ia hanya tak sadarkan diri dengan memanggil manggil nama Andi secara lirih.
Melihat hal itu Insepktur Adi langsung membawa Bu Ratna ke rumah sakit sedangkan Toni dan yang lainnya terus menerus mencari namun mereka tak menemukan hasil apapun.
Kepolisian pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pencarian jasad Juli esok hari,semua orang pun pergi kecuali Ayah Adi yang masih terduduk di atas jembatan dengan memandangi air sungai yang melewati bawah jembatan.
Ia hanya menangis dengan tatapan mata kosong,ia menangis hingga sesenggukan.
"Maafkan Ayah,Ayah tidak bisa menjaga diri mu.Ayah memang bodoh seharusnya Ayah memberi tau kamu sejak awal mungkin kejadiannya tidak seperti ini,maafkan Ayah!" ucap Ayah Adi dengan menangis hingga sesenggukan.
Di tempat orang misterius ia terlihat berdiri di depan sebuah papan tulis yang berisi foto foto orang orang terdekat Juli.Ia terlihat tengah memegang pisau di tangan kananya lalu ia melayangkan pisau itu ke arah sebuah foto dan foto itu adalah foto dari Juli.
Pisau itu pun langsung menanjap ke foto Juli.Ia pun terlihat terdiam beberapa saat lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu dan terlihat foto foto orang yang sudah meninggalkan seperti Kania,Shela dan yang lain lainnya namun masih terlihat foto yang belum tertanjap pisau foto itu adalah foto Toni,Bu Laras dan keluarga Adi.
Beberapa hari kemudian pencarian di hentikan karena hanya di temukan mayat si pengemudi serta bangkai mobil yang sudah di bawa ke tempat ronsokan.Sedangkan jasad Juli tak di temukan mereka mengira kalau Juli sudah tiada karena mayatnya tak di temukan di sungai,mereka mengira jasad Juli sudah di makan oleh ikan ikan di sungai itu.
Terlihat di rumah Toni suasana duka masih menyelimuti tangis histeris dari Bu Ratna masih terdengar,sedangkan Bu Laras hanya terdiam melamun di dalam kamar dengan melihat foto Juli,Shela dan Ayah Toni yang di letakkan secara sejajar di atas sebuah meja di dekat tempat tidur.Ia memandangi foto foto itu dengan sedih,tatapan mata yang kosong dan mematung.
Wajahnya terlihat sangat memelas lalu tak berselang lama Toni nenghampiri Bu Laras dengan menbawa sebuah nampan yang berisi makanan kedalam kamar Bu Laras.
"Maa,makan ya. Mama dari kemarin belum makan apapun,"ucap Toni untuk membujuk dengan tangan kanannya menegang sebuah sendok yang berisi makanan dan tangan lainnya membawa sebuah piring yang berisi sebuah makanan.
Namun jawaban Bu Laras ia mengelengkan kepalanya menandakan kalau ia tidak ingin makan,namun karena Toni terus membujuk Bu Laras akhirnya ia marah dan langsung mendorong piring serta sendok yang di bawa oleh Toni.
"Kamu itu ngerti apa enggak sih? Kalau ibu menggelengkan kepala tandanya Ibu gak mau mengerti kamu!"ucap Bu Laras dengan marah kepada Toni.
"Tapi Ma,tolong perhatikan keadaan Mama juga jangan terus menerus ber sedih karen tidak baik buat Mama," ucap Toni dengan baik.
"Berhenti menyuruh Mama makan, Mama hanya akan makan kalau Juli ,Ayah kamu dan Shela sudah kembali kesini! Sekarang kamu pergi dan jangan lagi membawa makanan ke kamar lagi,"jawab Bu Laras dengan nada serius dan marah.
Mendengar hal itu akhirnya Toni pun pergi dari kamar dengan wajah sedih dan menundukkan kepala.
Sesampainya Toni di Luar kamar ia kemudian meminta pembantu membersihkan kamar Ibunya,ia kemudian menghampiri foto Juli yang terletak di meja.Ia kemudian mengambil foto itu.
"Kenapa? Kenapa Kakak meninggalkan kami?.Sekarang aku sendiri tanpa Kakak!."
__ADS_1
Tak berselang lama ia kemudian mencium foto itu lalu kembali meletakkan kembali foto itu di atas meja.Ia kemudian pergi dari tempat itu dan meninggalkan tempat itu berserta foto itu.