
Keesokan harinya garis polisi pun sudah terpasang di tempat kejadian, banyak orang berkerumun melihat mayat yang tergeletak di tengah jalan dengan mengenaskan.
Inspektur Adi pun datang dengan membawa beberapa anak buahnya ke tempat kejadian.Ia kemudian melihat ke wajah mayat itu dan ia tak kuat dengan bau darah yang ia cium ia pun kembali menutup wajahnya dengan penutup wajah.
"Nanti kalian bawa ke rumah sakit ya untuk outopsi," ucap Inspektur Adi lalu ia keluar dari garis polisi setelah ia melihat mayat itu dan menyuruh anak buahnya membawa ke rumah sakit.
Saat ia sudah keluar dari garis polisi ia langsung di sambut oleh beberapa wartawan dengan beberapa pertanyaan.
"Inspektur Adi apa komentar Anda mengenai semua ini," tanya wartawan itu.
"Komentar saya mengenai semua ini adalah saya mengira semua ini kasus pembunuhan selama beberapa hari ini pelakunya adalah orang yang sama yaitu pembunuhan Shela, Kania,Si pembantu,dan yang lain lainnya ," terang Inspektur Adi kepada media dengan nada sedikit tenang.
"Lalu siapa menurut Inspektur Adi pelaku yang sebenarnya?" tanya wartawan itu.
"Kami masih belum mengetahui siapa pelakunya namun saya melihat mayat kali ini mirip dengan salah satu pelaku pembunuh Shela!. " Jawab Inspektur Adi, kemudian pergi meninggalkan wartawan itu.
Di tempat lain seorang yang masih tidak terlihat wajahnya duduk di sebuah kursi yang mahal dan indah sambil menonton tv acara wawancara Inspektur Adi.
Ia kemudian mematikan tv itu dan ia terlihat menjatuhkan sebuah kertas di samping tempat duduk yang ia duduki tadi dan di kertas itu bertuliskan kalimat " Aku Kembali!!!" dengan tulisan berwarna hitam dan tebal lalu orang itu pergi meninggalkan kursi serta kertas itu.
Tak berselang lama Inspektur Adi pun sampai di rumah sakit begitu pula mayat itu.Dokter dan suster itu pun membawa mayat preman pertama ke dalam ruangan outopsi sedangkan Inspektur Adi dan anak buahnya pergi dari rumah sakit dan menyelidiki kasus kematian si preman pertama dan yang lainnya.
Saat mereka melakukan penyelidikan Inspektur Adi menemukan sapu tangan yang bertuliskan kata BA di tengah tengah sapu tangan itu.
"Ini sapu tangan yang sama seperti yang aku temukan di kasus kematian yang sebelum sebelumnya,apa benar pelakunya adalah..." ucap Inspektur Adi dan melanjutkan berkata dengan memikirkan masa lalu.
Ia pun akhirnya teringat dengan Adiknya Andi,saat itu Andi dan Inspektur Adi masih duduk di bangku menengah atas,waktu itu Inspektur Adi tengah berada di dalam ruang kelas sendirian.
Melihat Kakak nya duduk sendiri dan makan makanan sendiri ia akhirnya menghampiri Adi makan dan ia duduk di depan Adi.
"Kak aku bolehkan bergabung dengan Kakak makan disini?" tanya Andi adik dari Inspektur Adi.
"Tentu,Kakak sangat bahagia karena Kakak tidak akan sendirian lagi," jawab Inspektur Adi.
Setelah itu Andi mengeluarkan sebuah sapu tangan dari tasnya dan ia kemudian melanjutkan meletakkan sapu tangan itu di atas meja,beberapa saat kemudian ia mengambil sebuah kotak makan dari tasnya.
Tiba tiba keadaan kembali ke masa kini dan Inspektur Adi pun berbicara di dalam hatinya dengan perasaan curiga.
"Apa ini semua perbuatan Andi? Tapi itu gak mungkin karena Andi sudah meninggal di kecelakan waktu itu!Aku harus segera cari tau siapa pelaku yang sebenarnya kalau tidak nanti akan ada banyak jatuh korban lagi."
Inspektur Adi kemudian pergi dari rumah sakit dan menujuk ke rumah Toni.
Sesampainya di rumh Toni Inspektur Adi langsung di sambut Toni yang tengah menyirami tanaman yang tak jauh dari dirinya.
"Ada apa Inspektur?" tanya Toni lalu ia mematikan keran yang tak jauh dari dirinya.
"Aku mau berbicara sesuatu ini tentang mayat yang di ketemukan tadi," jawab Inspektur Adi dengan nada rendah.
"Kenapa dengan mayat itu? Apa ada hubungannya dengan kematian Ayah ku?" ucap Toni dengan nada mulai ber ubah serius.
"Ada! Ada hubungannya! Tadi saat aku menyelidiki aku menemukan sebuah sapu tangan,"terang Inspektur Adi dengan nada serius.
"Sapu tangan? Maksud Inspektur sapu tangan apa?"jawab Toni dengan kebingungan. "Apa yang Inspektur maksudkan adalah sapu tangan yang Insprktur temukan hari ini mirip dengan sapu tangan yang Inspektur temukan saat Ayahku meninggal." Lanjut Toni perlahan mulai mengerti.
"Iya,itu maksudku.Lihat!." Inspektur Adi menunjukan sapu tangan yang berada di dalam sebuah kantung plastik dan menjadi barang bukti.
Toni mengambil kantung plastik itu dan tak berselang lama ia mengingat sapu tangan yang mereka temukan saat kematian Ayah nya Toni.
__ADS_1
"Iya Inspektur Anda benar sapu tangan ini memang mirip sapu tangan yang kita temukan saat kematian Ayah.Apa menurut inspektur, pelakunya orang yang sama?"ucap Toni dengan penuh pertanyaan di dalam benaknya.
"Iya,saya pikir pelakunya orang yang sama maka dari itu kita cari siapa pelaku yang sebenarnya?!" jawab Inspektur Adi."Oh iya aku mau lihat Juli bolehkan?"
"Tentu,mari saya antar."
Toni pun mengantar Inspektur Adi ke kamar yang di tempati oleh orang itu.
Sesampainya di dalam kamar Insprktur Adi melihat orang itu masih terlihat tertidur pulas di atas tempat tidur dan tanpa Inspektur Adi dan Toni sadari di atas meja yang berada tidak jauh dari orang itu.
"Dia masih tertidur kalau begitu lebih baik pergi saja,kasian dia kalau dia di ganggu,"ucap Inspektur Adi.
"Tidak papa Inspektur,lagiankan Inspektur hanya ingin menengok saja tidak ingin membangunkan dirinya," jawab Toni dengan baik.
"Tidak perlu lebih baik aku pergi saja," jawab Inspektur Adi lalu ia berbalik lalu di susul oleh Toni dan mereka pun pergi meninggalkan orang itu di dalam kamar sendiri.
Beberapa menit kemudian Toni kembali melihat ke kamar yang di tempati orang itu namun setibanya Toni di dalam kamar sapu tangan yang berada awalnya di atas meja kini tidak ada sapu tangan apapun.
Saat itu Toni masih belum merasakan ada keganjalan yang terjadi ia hanya melihat orang itu lalu pergi lagi.Beberapa menit kemudian Toni pun membawa makanan untuk orang itu sesampainya di dalam kamar Toni pun langsung perlahan lahan membangunkan orang itu dan tak berselang lama orang itu pun bangun dari tempat tidurnya.
"Kenapa kamu repot repot sekali mem bawakan makanan ke kamar saya?" ucap orang itu dengan nada tidak enak.
"Tidak papa Kak,aku tidak repot kok," jawab Toni dengan santai.
Orang itu kemudian mengambil makanan itu namun tiba tiba saat Toni akan memberikan makanan itu kepada orang itu Toni melihat sesosok bayangan melewati jendela hal itu membuat Toni terkejut dan tanpa sengaja menumpahkan makanan itu ke pakaian orang itu.
"Gimana sih?" ucap orang itu dengan nada kesal lalu dengan penuh penyesalan Toni meminta maaf kepada orang itu lalu ia menghampiri jendela dan saat ia sudah memeriksa jendela namun di jendela tidak ada seorang pun.
Dia terlihat sangat kebingungan dan heran dengan bayangan yang ia lihat tadi,lalu Toni kembali menghampiri orang itu dan saat Toni sudah berada di dekat orang itu Toni masih tak menyadari kalau orang itu membersih kan pakaiannya dengan sebuah sapu tangan yang bahannya mirip dengan sapu tangan yang di temukan bersamaan dengan penemuan mayat mayat korban pembunuhan.
"Iya gak papa,"jawab orang itu dengan membersihkan pakaian yang ia sedang kenakan.
"Kalau gitu aku akan ambilkan dulu baju ganti Kakak,"ucap Toni dengan baik lalu Toni pergi namun saat Toni berada di dekat pintu Toni pun langsung menyadari kalau orang itu membersihkan pakaiannya dengan sebuah sapu tangan.
"Kakak?"ucap Toni dengan nada mulai curiga lalu ia kembali menengok ke arah orang itu dan betapa terkejutnya ia karena ia melihat orang itu memang membersihkan pakaiannya dengan sebuah sapu tangan.
Melihat hal itu Toni pun langsung membuat perasaan curiganya semakin kuat.
"Bukan Juli pelaku nya,kalau pun Juli pelakunya, lalu apa tujuannya?"ucap Toni dalam hatinya.
Orang itu kemudian melihat Toni yang berdiri di dekat pintu sambil memandangi dirinya.
"Ada apa? Apa ada yang salah?"ucap orang itu setelah melihat Toni memandangi dirinya.
"Tidak,tidak ada yang salah kok.Aku hanya bahagia karena aku masih bisa melihat Kakak,"jawab Toni dengan nada sedikit grogi. "Aku permisi dulu,aku akan ambilkan baju Kakak dulu!."
"Iya,"jawab orang itu lalu Toni keluar kamar dan sesampainya Toni berada di luar kamar ia berbicara sendiri.
"Apa benar Kakak yang melakukanya? Tapi buat apa?Apa keutungan Kakak melakukan itu semua?"ucap Toni dengan memendam banyak pertanyaan di benaknya lalu ia kembali pergi dengan raut muka penuh dengan kebungungan.
Beberapa menit kemudian Toni pun kembali ke kamar yang di tempati orang itu dengan membawa beberapa pakaian.
"Kak ini pakaian buat Kak,Kakak pilih sendiri,"ucap Toni lalu memberikan beberapa pakaian itu kepada orang itu.
"Iya,"jawab orang itu lalu bangun dari tempat tidur dan beberapa saat kemudian tanpa di sadari oleh orang itu sapu tangan yang ia gunakan untuk membersihkan pakaiannya jatuh ke lantai.
Saat itu hanya Toni yang menyadari kalau sapu tangan yang di miliki oleh orang itu terjatuh ke lantai, melihat hal itu Toni berusaha mengambil sapu tangan itu dan ia berhasil memegang dan mengambil sapu tangan itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saat orang itu sudah sadar kalau sapu tangannya di pegang oleh Toni ia langsung menyahut sapu tangannya dan ia kemudian berkata dengan nada serius.
"Jangan pernah menyentuh sapu tangan ku lagi!.Ingat itu!."
"Maafkan aku,"ucap Toni dengan penuh penyesalan.
"Pergi sekarang!"ucap dengan nada serius dan orang itu terlihat sangat marah kepada Toni.
"Maafkan aku sekali lagi Kak,"ucap Toni lalu ia pergi dengan wajah menunduk karena ia merasa bersalah lalu ia memegang gagang pintu dan meninggalkan orang itu di dalam kamar.
Setelah ia berada di luar kamar ia menutup pintu secara perlahan lahan dan saat pintu sudah tertutup dirinya berbicara dengan dirinya sendiri.
"Sapu tangan itu mirip sekali dengan sapu tangan yang di temukan saat penemuan mayat Shela dan yang lainnya.Apa memang benar Kakak yang melakukannya? Tapi untuk apa?Untuk apa Kakak melakukannya?" ucap Toni dengan banyak pertanyaan di dalam benaknya dan ia terlihat berbicara sendiri.
Waktupun berlalu begitu cepat,hari berubah siang saat itu orang itu berada di dalam kamar dan Toni berusaha mencoba mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh orang itu.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu.
"Kak apa aku boleh masuk?" tanya Toni.
"Tentu silakan masuk,"jawab orang itu lalu Toni pun masuk ke dalam kamar itu dengan wajah sedih.
"Maafkan aku Kakak karena aku sudah buat Kakak marah,"ucap Toni setelah ia berdiri di hadapan orang itu,ia terlihat sedih.
"Tidak apa apa Toni,seharusnya aku yang minta maaf kepada kamu karena tadi aku membentak kamu,"jawab orang itu dengan nada sedih.
Saat Toni dan orang itu tengah saling berbicara seseorang yang misterius melemparkan sebuah batu ke arah jendela kamar yang di dalamnya terdapat Toni dan orang itu.
Batu itu terlihat terbungkus oleh selembar kertas,batu itu langsung memecah kaca jendela rumah.Melihat hal itu Toni dan orang itu langsung terkejut dan mereka pergi melihat ke arah jendela rumah,namun saat mereka sudah membuka jendela mereka tak melihat siapapun di luar rumah.
"Siapa yang melakukannya? Kurang ajar!"ucap Toni dengan kesal lalu ia kembali dan mengambil batu yang di lemparkan itu.
Saat ia sudah mengambil batu itu,ia membuka kertas yang membungkus batu itu dan saat ia sudah membuka kertas itu betapa terkejutnya ia karena ia melihat sebuah tulisan yang berwarna seperti darah.
Di dalam kertas itu tertulis sebuah kalimat yang menyebutkan diri nya dan keluarga yang lainnya dalam bahaya,Toni pun hanya terdiam melihat tulisan itu.
"Apa maksud dari semua ini? Siapa pengirim surat ini?."
"Ada apa Toni? Dan apa tulisan di dalam kertas itu?"ucap orang itu untuk memecah diamnya Toni.
Toni pun langsung menunjukkan kertas itu setelah fokus Toni terpecah,melihat tulisan di kertas itu orang itu pun langsung terkejut dan dia juga terlihat marah.
"Kurang ajar! Siapa yang melakukannya kalau aku sampai tau pelakunya yang sebenarnya aku akan buat dia membayar mahal semua ini," ucap orang itu dengan nada kesal dan serius.
"Tidak papa Kak,aku akan laporkan ini ke Inspektur Adi,"jawab Toni lalu ia pergi meninggalkan orang itu.
Beberapa menit kemudian ia sampai di kantor polisi namun saat ia baru sampai di halaman kantor polisi Toni melihat sesosok yang mirip dengan Juli keluar dari kantor polisi.
"Itu Kakak,tapi gak mungkin ada Juli di dua tempat yang berbeda sekaligus. Apa maksud dari semua ini?"ucap Toni.
Dia kelur dari mobil dan ia mengikuti orang yang mirip dengan Juli namun saat Toni mengikuti orang itu secara tiba tiba orang itu menghilang dari pandangan Toni seakan di telan oleh bumi.
"Kemana perginya orang yang mirip dengan Juli tadi? Padahal aku sudah mengikuti dia,"ucap Toni dengan penuh kebingungan dan heran lalu ia kembali berbalik dan pergi ke kantor polisi.
Saat Toni pergi terlihat sebuah tangan berada di belakang sebuah tembok.
__ADS_1