
Waktu berlalu begitu cepat,malam pun tiba keadaan saat itu masih sunyi semua orang tengah terlelap tidur di dalam kamar rawat inap yang di pakai oleh Bu Laras untuk tidur saat itu Toni dan Inspektur Adi yang menunggu di dalam kamar sedangkan Andi menunggu di luar kamar.
Tiba tiba keadaan langsung berubah secara drastis di mana awalnya suasana sunyi kini berubah kepanikan saat tiba tiba terdengar sebuah teriakan dari luar kamar Bu Laras.
Teriakan itu terus menerus meminta tolong kepada semua orang,mendengar hal itu Toni dan Inspektur Adi serta Juli terbangun namun saat mereka sudah terbangun dan iakeluar dari kamar yang di tempati Bu Laras Toni dan Inspektur Adi melihat seorang wanita tengah di tarik paksa oleh seorang pria yang bertubuh kekar.
Melihat hal itu semua orang pun mulai keluar dari kamar mereka masing masing namun mereka semua tidak ada yang berani mendekat karena laki laki yang tengah menarik paksa wanita itu adalah suaminya sendiri.
Wanita itu terus berteriak minta tolong kepada orang yang keluar kamar mereka namun permintaan nya tidak di dengar oleh mereka,mereka hanya melihat kejadian itu.
Melihat hal itu Andi pun tak tinggal diam ia langsung menarik pisau yang ada di pinggangnya,setelah pisau keluar dari pinggangnya dan ia pegang Andi langsung berlari sekuat tenaga.
Setelah dirinya sudah hampir dekat dengan laki laki itu Andi menendang orang itu hingga membuat orang itu mental beberapa meter dari tempat kejadian dan menghantam sebuah kursi yang cukup jauh dari tempat kejadian.
Wajah Andi un berubah menjadi kesal dan sangat marah terhadap orang itu,setelah itu Andi kembali berlari saat ia berlari ia melihat kursi yang berada tidak jauh dari dirinya.
Ia kemudian naik ke kursi itu dan memantulkan tubuhnya ke udara lalu ia memutar tubuhnya di udara dan saat ia mendarat tubuhnya pas berada di samping orang itu dengan posisi kaki pisau berada di area jantung dan saat Andi ingin menusuk orang itu dengan pisau nya wanita yang disiksa tadi menghentikan dia.
"Tunggu,"ucap wanita yang di tarik paksa oleh laki laki itu umah sakit.
Mendengar hal itu Andi pun menghentika tindakanya dan menjawab dengan tatapan mata tajam dan penuh dengan amarah ke arah wanita itu. Sedangkan si laki laki itu ia hanya diam dengan raut muka ketakutan dan kesakitan akibat tendangan dari Andi.
"Saya mohon tolong jangan bunuh dia, dia adalah suami saya,"ucap lanjutan dari wanita itu lalu laki laki itu menyahut ucapan wanita itu dengan gugup dan terbata bata."Iya saya suaminya,tolong jangan bunuh saya saya mohon.Saya minta maaf atas kesalahan saya,saya benar benar minta maaf kepada Anda!!!."
"Kamu seharusnya tidak minta maaf ke saya,seharusnya kamu minta maaf kepada istri kamu.Cium tangannya, peluk dengan kasih sayang dan beri dia kebahagiaan kalau aku masih melihat kamu menyiksa istri kamu lagi pisau ini bisa saja merobek mulut mu, mengerti!!!."
Mendengar ancaman dari Andi laki laki itu terlihat ketakutan dan sangat panik ia kemudian menjawab anggukan kepada Andi,melihat hal itu Andi pun menyingkirkan pisau nya dari hadapan orang itu lalu ia bangun dan berdiri tegak.
Ia kemudian membantu orang itu berdiri,saat Andi mengulurkan tangannya laki laki itu telihat ketakutan dan panik dan akhirnya ia memutuskan untuk bangun sendiri tanpa bantuan Andi.
Ia pun langsung pergi dengan terbirit birit saat ia sudah pergi menjauh dari Andi laki laki itu langsung meminta maaf dan memohon ampun kepada Istrinya melihat hal itu Istrinya pun tersenyum dan bahagia.Ia Kemudian memaafkan suaminya dan tak berselang lama wanita itu mendekati Andi.
"Terima kasih sudah membantu saya."
"Ini sudah tanggung jawab saya untuk membantu Anda,"lalu Andi secara perlahan lahan mendekati suaminya.
Dia berada dekat di samping laki laki itu Andi kembali menodongkan pisau nya ke arah leher laki laki itu sambil berkata dan melihat ke arah orang itu dengan tatapan mata yang serius.
"Kalau kamu sampai melakukannya lagi mau itu di tempat umum atau pun tempat sepi pisau ini tidak akan segan segan menusuk leher kamu!!! Agar kamu tidak bisa bicara lagi,ingat itu!."
Suaminya pun tak menjawab apa pun ia hanya menelan ludah dengan raut muka ketakutan setelah itu Adi menjauhkan pisaunya dari leher laki laki itu lalu pergi meninggalkan mereka.
Ia pun pergi ke arah Adi dan Toni tanpa berkata kata dan tak berselang lama kedua sepasang suami istri itu pergi dan di susul oleh Toni dan Di yang masuk ke dalam kamar.
Beberapa menit kemudian keadaan berubah mencekam saat lampu rumah sakit tiba tiba mati,kepanikan pun langsung terjadi Toni dan Adi pun keluar namun saat keluarnya mereka dari kamar itu seseorang yang memakai pakaian serba hitam masuk ke dalam kamar melalui jendela setelah itu ia berjalan perlahan lahan dengan mengendap endap ke dekat pintu kamar untuk memastikan Adi dan Toni sudah pergi dari depan kamar atau masih berada di depan kamar namun ternyata saat itu mereka masih berada di depan kamar dan berbinjang dengan Adi tak berselang lama Andi pun menyahut mereka berdua.
Setelah mereka pergi orang itu mengunci pintu secara perlahan lahan dari dalam kamar,setelah itu kembali ke tempat awal dan membuat suara suara kecil untuk membangunkan Bu Laras.
Tak berselang lama Bu Laras pun terbangun mendengar suara suara itu, ia mengira kalau suara itu di buat oleh Toni.Pada awalnya Bu Laras mengira kalau ia berada di rumah,ia sempat heran karena keadaan saat itu sepi dan hanya terdengar suara suara aneh.
__ADS_1
"Ada apa ya? Kenapa keadaan rumah gelap?Ton Toni apa kamu disini?"ucap Bu Laras sambil tangannya meraba raba untuk mencari jalan keluar.
Saat Bu Laras tengah mencari jalan keluar di belakang Bu Laras terlihat berjalan perlahan lahan orang itu dengan membawa sebuah palu di tangan kananya.
Tak berselang lama secara perlahan lahan tangan kiri orang itu mendekati bahu bagian kanan Bu Laras.Merasa ada yang memegangi bahunya Bu Laras langsung berputar perlahan lahan ia mengira kalau orang yang memegangi bahunya adalah Toni atau Adi.
"Toni kenapa kamu tidak menjawab Ibu kalau kamu ada di sini?"ucap Bu Laras setelah berbalik.
Namun orang yang di anggap Toni oleh Bu Laras tidak menjawab sepatah kata pun dan yang ia lakukan adalah melayangkan sebuah pukulan dengan palu ke kepala Bu Laras hingga membuat mata kiri Bu Laras tidak bisa berfungsi dengan benar.
Saat setelah ia menerima pukulan itu Bu Laras langsung terjatuh ke lantai dengan tak berkata sepatah katapun,lalu mata yang tak bisa berkedip dan mulut yang ingin berbicara namun ia tidak bisa mengatakannya.
Melihat hal itu orang itu bediti di atas tubuh Bu Laras dengan nafas yang terengah engah seperti banteng yang akan menyeruduk sesuatu.
Dia mengangkat palu itu dan ia dengan penuh dendam serta penuh amarah dengan garang nya ia,ia memukul kepala kiri Bu Laras dengan kuat lalu melanjutkan memukul kepala bagian kanan Bu Laras,ia melakukannya secara berulang kali dan selain itu sesekali ia memukul dahi Bu Laras.
Bu Laras pun hanya diam tak berkata kata lalu orang itu memeriksa keadaan Bu Laras dengan memegang nadinya namun nadinya sudah berhenti melihat hal itu pun berdiri di sampung mayat itu lalu dengan brutal nya orang itu ia menginjak injak perut serta menendang perut orang itu dengan penuh amarah dan dendam.
Ia kemudian kembali beberapa kali memukul kepala Bu Laras yang sudah meninggal dengan ganasnya ia,tak berselang lama ia kembali mendekati mayat Bu Laras ia kemudian memegang kepala Bu Laras dan mengangkat kepala Bu Laras perlahan lahan lalu dengan sekuat tenaga membanting kepala Bu Laras.
Ia mengambil sebuah pisau,amarahnya seakan selalu membisikkan kata dendam,dendam,dan dendam di dalam hatinya hingga membuat di melakukan hal yang keji ia menusuk tubuh Bu Laras berulang kali hingga tanpa sengaja membuat tangan kirinya menerima tusukan dari pisau yang di gunakan untuk menusuk Bu Laras.
"Aaaaggghhhh,"teriak orang itu, setelah terkena tusukan dari tangannya sendiri setelah itu ia menjatuhkan pisau yang ia gunakan dan mengambil sebuah pistol saat itu darah dari orang itu terlihat sangat bercucuran di mana mana.
Dia juga terlihat kesakitan di tangan nya namun ia menahan rasa sakit itu mengambil sebuah pistol yang ia letakkan di pinggangnya.Ia kemudian mengisi pistol itu dengan sebuah peluru dan mengarahkan ke kepala Bu Laras secara perlahan lahan.
Keadaan yang berbeda di rasakan oleh Toni dan Adi,mereka terlihat kebingungan dengan apa yang dilihat nya karena saat mereka menemukan penyebab lampu rumah sakit mati semua adalah ada nya seseorang yang memutus kabel listrik.
"Kenapa aku curinga kalau ini memang di rencanakan oleh seseorang,tapi apa? Apa tujuan orang itu melakukan ini?"
"Mungkin disini ada orang yang ingin melakukan hal jahat kepada seseorang,"sahut Andi.
Tak berselang lama Toni pun menjawab dengan nada yang kurang enak di dengar.
"Iya kamu benar kalau akan ada perbuatan jahat saat lampu rumah sakit mati keseluruhan,karena kamu pernah melakukannyakan.Melakukan hal ini saat Juli baru sadar dari komanya!!!."
Di situ Andi pun hanya bisa diam tertundduk malau dengan ucapan Toni namun tak berselang lama Andi menjawab dengan menegakkan kepalanya.
"Iya kamu benar Toni,aku memang pernah melakukan ini tapi untuk aku tidak akan melakukannya lagi!!!."
Toni pun hanya menjawab senyuman yang menyepelekan,melihat Toni dan Andi adu mulut Adi pun spontan meminta Andi dan Toni diam.
"Stop! Jangan bicara lagi kalian berdua biarkan tukang listrik fokus membetulkan lampu rumah sakit agar lampu rumah sakit dapat di betulkan," bentak Inspektur Adi lalu semua orang pun diam.
Suasana mencekam dan mengeri kan pun terlihat di dalam kamar yang di tempati oleh Bu Laras.
Saat itu terlihat orang itu tengah meneteskan darah yang mengalir di tangannya ke wajah mayat Bu Laras dengan ia masih mengarahkan pistol yang masih di arahkan ke kepala Bu Laras.Darah dari tangan nya terus menerus mengalir dan terdengar beberapa kali ia mengerang kesakitan.
Door.......
__ADS_1
Suara tembakan pun terdengar hingga ke telinga Toni dan yang lainya.Ia seketika langsung punya perasaan tidak enak kepada Ibunya,saat setelah mendengar suara tembakan orang orang di luar kamar Bu Laras langsung panik dan ketakutan.
Melihat tindakannya di rasakan oleh seseorang orang itu pun langsung pergi dengan memegangi tangan nya yang terluka dan terburu buru hingga membuat ia lupa pisau yang ia gunakan untuk membunuh Bu Laras itu tertinggal di dalam ruangan itu.
Setelah orang itu pergi salah satu orang yang mendengar tembakan dari dalam kamar Bu Laras langsung pergi mencari Toni,setelah ia tau keberadaan Toni orang itu menceritakan kalau ia mendengar suara tembakan dari dalam kamar Bu Laras.
Mendengar cerita itu Toni pun langsung berlari sekuat tenaga hingga ia beberapa kali menabrak kursi yang ada ia lewati hal itu karena waktu itu tidak ada penerangan di dalam cahaya ruangan itu.
Setelah Toni berlari Inspektur Adi pun berlari mengejar Toni namun tidak dengan Andi ia terlihat menghilang dari tempat itu sesaat sebelum penembakan terjadi.
Sesampainya di dalam kamar Toni masih belum dapat melihat keadaan Ibunya namun ia berusaha memanggil manggil Ibunya tapi sayang ibunya tidak menjawab sepatah kata pun kepada Toni namun tiba tiba saat Toni berjalan tanpa di sengaja ia tersandung mayat Bu Laras dan tangannya menyentuh cairan yang aneh.
"Carian apa ini? Dan apa yang tergeletak di lantai?"ucap Toni dengan heran sambil sesekali mencium cairan yang tersentuh oleh tangan nya.
Ia sangat terkejut setelah ia mencium cairan itu,ia terkejut karena cairan yang ia cium adalah darah.
"Darah?!!"ucap Toni setelah ia mengetahui kalau cairan yang berceceran di lantai adalah darah.
Ia kemudian mencoba meraba perlahan lahan namun secara bersamaan Inspektur Adi sampai dengan membawa cahaya dari senter ponselnya,ia dan Toni pun langsung terkejut saat senter ponsel itu mengarah ke mayat Bu Laras.
Toni pun hanya bisa diam mematung setelah melihat ibunya juga sudah menggalkan dirinya,tubuhnya lemas dan ia hanya bisa memandangi ibunya yang terbaring di lantai dengan berlumur darah.
Beberapa menit kemudian lampu pun hidup dan di situ terlihat Bu Laras terbaring di lantai dengan berlumur darah,tak berselang lama saat Toni tengah memandangi Bu Laras Toni melihat sebuah pisau tergeletak di dekat Bu Laras.
Ia kemudian mendekati pisau itu dan mengambil pisau itu dengan tangan nya secara langsung,pada awalnya Toni tidak menyadari bahwa pisau yang di gunakan untuk membunuh Bu Laras mirip dengan pisau yang di pakai oleh Andi.
Akhirnya Toni pun lama kelamaan menyadari kalau pisau yang di gunakan pelaku untuk membunuh ibunya sama dengan pisau yang di gunakan Andi.
Melihat hal itu Toni langsung marah dan di saat bersamaan Andi datang dengan khawatir dan bertanya tanya tentang apa yang terjadi.Ia kemudian melihat ke dalam dan saat ia berada di dalam kamar ia sangat terkejut karena melihat Bu Laras tergeletak di lantai,ia pun perlahan lahan mendekati mayat itu merasa Andi mendekati Bu Laras Toni pun perlahan lahan menyembunyikan pisau yang di pakai untuk membunuh Bu Laras.
Andi pun menangis saat melihat Bu Laras hanya terbaring bersimpah darah di lantai,ia kemudian berhenti di samping Bu Laras dan berusaha duduk di samping Bu Laras.Suasana haru dan sedih pun menyelimuti ruangan itu,air mata di mana mana namun suasana itu berubah menegangkan saat tiba tiba Toni menghentikan Andi duduk di samping Bu Laras.
"Ada apa Toni?"ucap Andi saat Andi ingin duduk di samping Bu Laras namun oleh Toni di hentikan secara tiba tiba wajah Toni berubah kesal dan marah.
Ia bangun dari duduknya dengan tangan kanannya ia sembunyikan di balik tubuhnya.
"Inspektur Adi benar,apa yang dia ucapkan tidak salah,"ucap Toni setelah bangun dari duduknya
Mendengar namanya di sebut oleh Toni Inspektur Adi pun mendekat ke arah Toni dan Andi
"Ada apa Toni? Tolong keadaan saat ini kita sedang berduka,jangan kamu membuat masalah,"jawab Inspektur Adi.
"Membuat masalah?"jawab Toni dengan memegang erat pisau yang ia sembunyikan dan wajahnya terlihat sedih dan matanya berkaca kaca.
Tak berselang lama Toni pun menyerang Andi dengan pisau itu di depan banyak orang,Andi pun langsung teriak kesakitan setelah ia menerima serangan yang tiba tiba dari Toni.
Melihat hal itu Adi pun langsung memegangi Andi namun tiba tiba Toni meraih salah satu tangan Andi dan meletak kan pisau yang mirip dengan pisau yang ia gunakan di tangan itu.
Di saat itu Inspektur Adi langsung melepas Andi karena ia melihat pisau yang digunakan Andi mirip dengan pisau yang di gunakan si pembunuh itu.Melihat pisau dari si pelaku mirip dengan pisau yang ia punya,ia pun terkejut ia merasa seperti tersambar petir saat itu.
__ADS_1
Dirinya hanya ternganga dengan mata terbuka lebar dan tak mampu berkata kata sepatah kata pun.
Berlanjut ke Part berikutnya........