Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
31. Ketakutan.


__ADS_3

Sesampainya di dalam ruangan, perasaan dari kembaran Juli masih belum tenang namun kepanikannya sudah berkurang,ia kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Inspektur Adi dan keluarganya untuk Keluarga Toni.


Tak berselang lama acara pun di mulai dengan penyembutan penyambutan,lagu lagu dan acara acara yang lainnya namun saat pertengahan acara kembaran Juli kembali meliht sesosok Juli yang asli berada di balik sebuah tiang yang di hias dengan sebuah slendang dan lampu lampu kecil,sesosok itu melihat ke arah kembaran Juli dengan membawa sebilah pisau yang berlumuran darah dengan di sertai sayatan di tangan sesosok itu.


Ketakutan pun kembali muncul di dalam diri kembaran Juli,ia sangat gemetar,tangannya berkeringat dan tubuhnya kembali panas dingin.Saat itu ia tengah duduk di samping Inspektur Adi dan pada awalnya Inspektur Adi tidak menyadari tentang ketakutan yang di rasakan oleh Juli namun ia lama kelamaan menyadarinya.


"Ada apa Jul kenapa Anda terlihat seperti ketakutan? Apa Anda melihat hantu?" ucap Inspektur Adi dengan sedikit mengoda kembaran Juli namun semua itu tidak di jawab oleh kembaran Juli karena ia hanya melihat kearah tiang pojok yang di tempati oleh sesosok itu.


Merasa ada yang aneh dengan kembaran Juli akhirnya Inspektur Adi pun melihat ke arah yang di lihat oleh kembaran Juli namun ia tidak melihat siapa pun yang ia lihat hanya hiasan serta lampu lampu kecil yang di pasang oleh Inspektur untuk hiasan.


Inspektur Adi kemudian kembali melihat ke arah kembaran Juli dan ang ketakutan melihat tiang yang berada di pojok.


"Ada apa Juli? Kenapa Anda ketakutan? Apa yang membuat Anda takut? Apa Anda melihat hantu?" tanya Inspektur Adi dengan sedikit bercanda mendengar hal itu kembaran Juli pun berusaha tenang di hadapan Inspektur Adi namun ketenangan itu berubah lagi saat ia melihat kembali sesosok mirip Juli berjalan dari tiang satu ke tiang yang lain.


Ketakutan nya pun semkin menjadi,tubuhnya gemetar,ia tak bisa berkata kata dan berbuat apa pun karena yang ia lakukan hanya menelan ludah dengan nafas terengah engah.Merasa ada yang aneh dengan Juli Inspektur Adi pun kembali bertanya kepada Juli.


"Apa Anda baik baik saja Juli?" Tanya Inspektur Adi.


"Iya saya baik baik saja,daya hanya kedinginan," jawab kembaran Juli dengan tangan gemetar dan wajahnya terlihat ketakutan.


"Tapi aku merasa panas di sini,mana mungkin Anda merasakan hawa dingin di tempat yang sama dengan yanv aku tempati," jawab Inspektur Adi untuk memastikan perasaan nya.


Mendengar jawaban itu kembaran Juli pun langsung menjawab Inspektur Adi dengan nada gugup.


"Inspektur taukan kalau saya sedang sakit makanya saya merasa seperti ini!."


"Benar juga Anda,"jawab Inspektur Adi lalu tiba tiba dengan terburu buru kembaran Juli berdiri dari tempat duduknya dan ia akan pergi namun saat kembaran Juli baru melangkahkan kakinya satu langkah Inspektur Adi menghentikan kembaran Juli yang akan pergi.


" Mau kemana kamu?"ucap Inspektur Adi dengan nada serius dan sedikit membentak kembaran Juli yang akan pergi meninggalkan tempat duduk.


Mendengar bentakan itu kembaran Juli pun menghentikan langkah nya dan ia berbalik ke arah Inspektur Adi


"Maaf kan Saya karena saya sudah membentak Anda,maksud saya hanya ingin menghentikan Anda saja," ucap Inspektur Adi dengan nada rendah.


"Iya tidak papa,saya hanya mau pergi keluar dari sini untuk mencari udara segar," jawab kembaran Juli.


"Baiklah silakan Anda pergi mencari udara segar," jawab Inspektur Adi dengan santai.


Mendengar jawaban dari Inspektur Adi kembaran Juli pun pergi dari tempat itu dan keluar halaman,saat kembaran Juli keluar dari ruangan itu Inspektur Adi terlihat tersenyum kecil di bibirnya.


Beberapa menit kemudian kembaran Juli pun sampai di halaman rumah dengan perasaan takut,panik dan gugup bercampur afuk menjadi satu di dalam pikirannya.Saat itu terlihat ia tengah mundar mandir kesana kemari dengan ketakutan.


"Gak mungkin! Gak mungkin! Gak mungkin! Ini gaka mungkin!.Gak mungkin Juli yang jatuh dari jembatan setinggi itu masih bernafas dan hidup," ucap kembaran Juli dengan nada kesal, marah dan ketakutan. "Ini pasti hanya khayalan ku saja,ini gak nyata."


Kembaran Juli merasa tak percaya kalau Juli yang selama ini ia kira mati ternyata masih hidup dan masih bergerak.Ia kemudian kembali mundar mandir kesana kemari dengan raut muka ketakutan.


Ketakutan nya kembali tak terbendung lagi saat secara tiba tiba muncul suara Juli namun ia tak tampak di mana keberadaan nya.


"Ini bukan khyalan kamu Andi,ini adalah kenyataan aku memang sudah kembali dan kembali nya aku,aku akan buat hidup kamu menderita bahkan untuk hidup pun kamu tidak akan mau lagi," ucap Juli namun ia tidak menampakkan diri nya.


Kembaran Juli pun langsung sepontan panik mrncari cari suara itu berasal,ia juga teriak teriak memanggil manggil orang itu dan menyuruh keluar dari persembunyian.


"Keluar kamu!" bentak kembaran Juli dengan nada tinggi dan marah.

__ADS_1


Dia menengok ke arah kiri dan kanannya lalu ia melanjutkan memutar tubuhnya kebelakang untuk melihat keadaan di belakang nya namun ia tak melihat siapa pun.Saat ia melihat kebelakang nya ia berkata dengan nada membentak.


"Jangan hanya berani dengan sembunyi kamu!,hadapi aku!."


"Mendengar suaraku saja kamu sudah ketakutan bagaiman jika aku keluar dari persembunyian ku," jawab Juli lalu kembaran Juli itu berbalik lagi. "Siapa kamu? dan dan darimana asal kamu? Aku tidak peduli itu.Disini Juli hanya ada satu,hanya aku!!! Tidak ada yang lain,jadi jangan pernah kamu macam macam dengan ku.Kalau kamu sampai macam macam dengan aku atau bermain main dengan ku aku tidak akan segan segan memberi kamu ganjaran yang berat bahkan lebih berat dari Neraka,ingat itu!!!."


Setelah itu suara Juli pun hilang namun kembaran Juli atau Andi yang asli merasa ada seseorang perlahan lahan mendekati dirinya.


Merasa ada orang yang mendekati dirinya kembaran Juli pun terlihat ketakutan dan terlihat sesekali ia menelan ludah nya sendiri,selain itu terdengar pula nafasnya terengah engah.Secara bersamaan tangannya perlahan lahan mendekat ke pinggangnya untuk meraih pistol ia letakkan di pinggang nya.


Orang yang berada di belakang pun semakin mendekat,merasa orang itu sudah sangat dekat dengan dirinya ia langsung menarik pistol itu dan langsung mengarahkan ke orang itu.


Door!


Suara tembakan pun terdengar dan saat melihat ke arah orang yang di tembak adalah Bu Laras. Tembakan itu pun mengenai lengan kirinya hingga mengeluarkan darah yang bercucuran,Bu Laras pun hanya terdiam setelah ia di tembak oleh kembaran Juli.


"Bu Laras maafkan saya,saya tidak sengaja menembak Ibu.Ibu tidak papa kan?"ucap kembaran Juli lalu ia mendekati Bu Laras dan membantu Bu Laras bangun.


Tiba tiba orang orang pun datang dan mengerumuni Bu Laras lalu tak berselang lama Inspektur Adi dan Toni pun ikut keluar dari ruangan dan menuju ke tempat kejadian.


Beberapa detik kemudian Toni dan Inspektur Adi membawa Bu Laras pergi ke rumah sakit dan meninggalkan acara itu begitu pula kembaran Juli yang terlihat sedih di raut mukanya.Ia terlihat sangat sedih karena ia menembak Bu Laras sedangkan Bu Laras turus saja merintih kesakitan di sepanjang perjalanannya.


Beberapa menit kemudian mereka semua sampai di rumah sakit,saat berada di rumah sakit mereka langsung meminta bantuan kepada para suster untuk menyiapkan tempat tidur atau kursi roda dan tak berselang lama suster pun datang dengan membawa tempat tidur yang memiliki roda.


Mereka pun langsung menempatkan Bu Laras di atas tempat tidur itu,setelah itu mereka secara terburu buru membawa Bu Laras ke dalam ruang operasi dan sesampainya di ruang operasi mereka semua menunggu Bu Laras dengan raut muka yang khawatir.


"Maafkan saya,saya tidak sengaja menembak Bu karena saya kira Bu adalah penjahat yang ingin menyakiti saya,"ucap kembaran Juli dengan nada sedih dan untuk memecah perasaan khawatir yang dirasakan oleh Toni dan Inspektur Adi.


"Siapa kamu sebenarnya? Juli yang aku tau tidak pernah membawa pistol kemana.Siapa kamu sebenarnya?"


Dia kemudian melanjutkan kembali menghantam kan kembaran Juli ke tembok dengan keras dan secara bersamaan Inspektur Adi berusaha memisahkan Toni dari kembaran Juli.


"Sudah Toni!,"bentak Inspektur Adi.


"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berkelahi,lagian Juli sudah mengatakan kalau dia tidak sengaja menembak Bu Laras!."


Mendengar ucapan itu Toni ia langsung melepaskan tangan nya dan mulai marah dengan Inspektur Adi


"Stop Inspektur! Stop memanggil dia Juli,dia itu bukan Juli!.Juli tidak pernah menyakiti seseorang yang tidak bersalah,"ucap Toni dengan nada tinggi,marah.


Ia juga sesekali menunjuk kembaran Juli yang berdiri di depan nya.Ia kemudian melanjutkan berkata dengan nada yang masih marah.


"Dia bukan Juli ku,Juli ku sudah meninggal karena kecelakaan itu!."


"Tapi,"jawab kembaran Juli dengan nada sedih namun kembaran Juli di bentak oleh Toni.


"Stoppp! Jangan lagi kamu mengatakan sepatah katapun di hadapan aku,lebih baik kamu pergi dari sini jangan pernah kembali jika aku tidak meminta mu kembali kemari!."


Perintah Toni pun di turuti oleh kembaran Juli,ia pun pergi meninggalkan Toni dan Inspektur Adi, setelah kepergian kembaran Juli dari tempat itu Toni berusaha menenangkan dirinya dengan duduk di kursi tunggu di depan kamar.


Tak berselang lama kembaran Juli pun sampai di Lobi rumah sakit,saat ia berada di lobi ia hanya memikirkan pengganggu yang menganggu dirinya saat berada di rumah Inspektur Adi.


"Saya yang menakut nakuti aku,apa kah memang benar kalau Juli masih hidup? Tapi itu gak mungkin seorang manusia jatuh dari jembatan setinggi itu bisa selamat apa lagi ia juga di tabrak sebuah mobil juga!.Itu gak akan mungkin,"ucap kembaran Juli dengan sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa ketakutan seperti ini? Apa yng membuat aku takut?"


Saat kembaran Juli tengah memikirkan ucapannya namun secara tiba tiba seseorang memegang bahunya hal itu langsung membuat kembaran Juli terkejut dan ketakutan.Ia kemudian berbalik dan melihat orang yang memegangi bahunya namun tiba tiba saat ia berbalik ia melihat sesosok Juli berdiri di belakang orang yang memegangi bahunya sontak secara langsung Ia kembali berbalik dari hadapan orang yang memegangi bahunya dan ia terlihat sangat ketakutan.


Melihat hal itu orang yang memegangi bahunya langsung berusaha bertanya dan menenangkan kembaran Juli.


"Mas,ada apa ? Apa Anda baik baim saja?"ucap orang yang memegangi bahunya sambil tangan yang masih berada di bahu kembaran Juli.


"Iya saya tidak papa,"jawab Juli dengan gugup dan terbata bata.


Ia kemudian memberanikan diri untuk berbalik lagi dan melihat ke arah orang itu namun saat ia sudah berbalik,ia ternyata tidak melihat sesosok itu lagi di belakangnya ia melihat sesosok itu masuk kedalam ruangan dengan membawa sebuah palu besar yang ia seret dari luar rumah sakit menuju kedalam rumah sakit.


Saat itu terlihat orang lalu lalang kesana kemari namun orang orang iti tidak tau kalau ada seseorang membawa sebuah palu di tangannya, ketakutannya pun semakin menjadi


setelah ia melihat hal itu karena ia tau bahwa sesosok Juli itu datang untuk balas dendam kepada dirinya.


Saat itu ia hanya bisa berdiam diri dengan mata terbuka lebar menyaksikan setiap langkah yang di ambil oleh sesosok itu di dalam rumah sakit. Setelah beberapa saat ia berdiam diri ia pun langsung mengambil tindakan ia mendorong orang yang berada di depannya dan ia kemudian berlari dengan sekuat tenaga mengejar sesosok itu dengan perasaan yang takut dan resah ia mencari cari orang itu namun ia tak menemukan.


Beberapa saat kemudian ia melihat sesosok itu berjalan Pelayan lahan dengan menyeret palu besar itu mendekati Toni dan Inspektur Adi,ia pun langsung berlari dengan sekuat tenaga untuk mencegah sesosok itu namun saat ia sudah berada di belakang sesosok itu secara tak di sadari oleh kembaran Juli sesosok itu hilang secara tiba tiba saat kembaran Juli berusaha meraih dirinya.


Ia sangat terkejut atas hilangnya sesosok itu secara tiba tiba,mulutnya hanya bisa ternganga dan matanya pun juga hanya bisa membuka lebar.Ia terlihat tak bisa berkata kata,wajahnya sangat kebingungan dengan apa yang ia lihat beberapa waktu lalu.


Saat itu Toni dan Inspektur Adi masih tak menyadari kalau ada kembaran Juli di dekat mereka,beberapa menit kemudian Toni pun menyadari kalau ada kembaran Juli berdiri dengan kebingungan di dekat mereka.Melihat hal itu Toni pun langsung terlihat marah dan ia kemudian berdiri dari duduknya lalu di ikuti oleh Inspektur Adi.Ia kemudian menghampiri kembaran Juli dengan penuh amarah.


"Ngapain kamu kemari, Hah? Bukan nya aku sudah meminta kamu untuk pergi dari sini lalu kenapa? Kenapa kamu kemari lagi? Apa kamu ingin membunuh Ibu ku sekarang?"


Ucap Toni dengan penuh kemarahan dan emosi


"Tidak Toni,tadi aku melihat orang jahat ingin menyakiti kalian,maka dari itu aku kemari karena aku ingin melindungi kamu dari orang jahat itu," jawab Kembaran Juli dengan nada sedih dan raut muka yang sedih.


Mendengar hal itu Toni pun secara langsung melayangkan pukulan ke tembok yang tidak jauh dari tempat berdirinya kembaran Juli dengan penuh amarah dan membentak kembaran Juli.


"Aaagghhh,aku tidak peduli dengan semua itu.Sesosok! Sesosok! Dan sesosok!,apa maksud kamu? Sesosok apa yang kamu maksudkan?" Jawab Toni.


"Tadi memang aku melihat sesosok yang mirip dengan aku,dia berjalan mendekati kalian dengan membawa sebuah palu,sesosok itu ingin menyakiti kalian.Tolong percaya dengan ku,"jawab kembaran Juli dengan Sedih dan raut mukanya memelas.


Tiba tiba saat ia sudah selesai menjelaskan apa yang ia lihat ssaat itu Toni langsung melayangkan sebuah tamparan di pipi kembaran Juli.


Dia pun langsung terdiam dengan salah satu tangannya memegangi pipi yang di tampar Toni.Melihat hal itu Inspektur Adi pun marah kepada Toni ia membela kembaran Juli dan ia terlihat kesel dengan tindakan yang di lakukan Toni.


"Toni Anda ini kenapa? Kenapa Anda bisa melayangkan tamparan kepada Juli? Juli itu kakak Anda!.Seharunya Anda tidak melakukan itu kepada Juli tapi Anda malah menyakiti Juli,kamu itu Adik macam apa?"ucap Inspektur Adi dengan penuh emosi.


"Juli! Juli! Juli!.Aku tegaskan Insektur Kakak ku Juli sudah mati!.Mati saat kecelakaan itu!,sedang kan dia,dia bukan siapapun di hidup ku!"ucap Toni dengan nada tinggi dan sangat marah.


"Kenapa kamu bicara seperti ini? Dia itu Kakak kamu,"jawab Inspektur Adi lebih kesal.


"Stop menyebut dia Kakak ku Inspektur!"bentak Toni kepada Inspektur Adi.


Tak berselang lama suster yang melewati tempat itu pun berusaha menghentikan perkelahian antara Inspektur Adi dan Toni.


"Permisi Tuan,saya mohon jangan bertengkar di sini ini rumah sakit kalau kalian ingin bertengkar lebih baik kalian keluar meninggalkan rumah sakit,"ucap suster itu lalu pergi.


Mendengar ucapan suster itu Toni pun berusaha menenangkan diri,setelah keadaan mulai tenang suster itu pergi meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2