
Keadaan berbeda di rasakan oleh orang misterius itu,saat itu ia tengah duduk di sebuah kursi yang biasanya di tempati oleh Andi.
Orang itu terlihat duduk dengan kaki kiri di atas paha kaki kanan dengan kedua tangan berada di samping kursi dan tangan kanannya membawa sebuah palu yang ia gunakan untuk membunuh Toni dan Bu Laras.
Setelah itu ia mengayunkan tangan kanannya yang membawa palu dengan perlahan namun tiba tiba preman kedua muncul dengan marah marah kepada orang itu.
Preman Kedua marah karena ia merasa orang itu tidak layak duduk di kursi yang biasanya Andi duduki saat menjadi pembunuh.Orang itu pun hanya diam mendengarkan ocehan preman kedua.Melihat orang itu tidak menjawab dirinya dan hanya diam membisu preman kedua pun merasa orang itu berani dengan dirinya,ia pun terlihat sangat marah dengan tindakan orang itu yang menyepelekan dirinya.
Kemarahannya pun semakin memuncak,ia langsung menarik kerah orang itu hingga membuat orang yang duduk langsung terbangun dari duduk nya.
"Dengakan aku baik baik,kamu itu tidak pantas duduk di kursi ini orang yang pantas duduk di tempat ini adalah aku! Karena aku adalah Bos disini dan kamu itu hanyalah seorang anak buah!"ucap Preman Kedua dengan nada serius namun tanpa di sadari oleh preman kedua tangan kanan orang itu langsung mencengkram erat palu yang ada di dekatanya.
Pruuaaakkk...
Suara orang memukul terdengar, ternyata orang itu memukul kepala bagian belakang preman kedua.Sesaat keadaan preman kedua mematung namun tak berselang lama tangannya perlahan lahan melepaskan kerah orang itu lalu ia memeriksa kepalanya dengan tangan kirinya setelah itu ia menarik tangannya dan ia sangat terkejut karena melihat darah di tangannya.
"Da.... Darah?!"ucap preman kedua dengan lirih dan terbata bata.
Setelah itu secara perlahan tubuh preman itu melayang dan jatuh ke tanah dengan kepala yang terus mengeluarkan darah.Preman itu terlihat sangat kesakitan keadaan tubuhnya sangat lemas,ia berusaha meminta tolong namun suaranya tidak bisa keluar dengan lantang dan keras.
Orang itu terlihat pergi meninggalkan preman itu dalam keadaan yang berlumur darah,namun beberapa saat kemudian ia membawa sebuah jerigen yang berisi bensin.Ia kemudian meneruh jerigen itu di samping preman itu,preman itu terus meminta bantuan kepada orang itu namun sia sia karena orang itu tidak membantu preman kedua dan hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
"A... Aku mo... Mohon bantuan ka.... Kamu,"ucap Preman itu dengan terbata bata.
Mendengar hal itu orang itu pun menghentikan tindakan nya dan mendekati orang itu lalu orang itu terlihat membisikkan sesuatu kepada preman itu hingga membuat preman itu terkejut. Orang itu membisikkan suatu kalimat ke telinga preman itu,ia kembali berdiri menjauhi preman itu lalu melanjutkan kegiatannya.
"Aku minta ma... Maaf,tolong jangan lakukan ini ke... Ke aku,"ucap preman itu masih dengan terbata bata namun orang itu tidak mendengarkan permohonan maaf yang di ucapkan oleh preman itu.
Orang itu kemudian menuangkan bensin yang ada di jerigen itu mengelilingi tubuh Preman itu,preman itu pun hanya diam tak bisa melakukan apapun untuk melawan orang itu.Ia hanya terlihat pasrah atas apa yang terjadi selanjutnya dengan dirinya,setelah ia orang itu terlihat mengambil sebuah korek api ia kemudian menghidupkan korek itu.
Keadaan saat itu sangat mencekam,ketakutan sangat terlihat di wajah preman itu namun ia tidak bisa mengataknnya mulutnya terasa sulit untuk di buka.Namun saat Preman itu berpikir kalau dia akan mati di bakar orang itu pun mematikan korek api itu, orang itu kemudian kembali duduk di kursi itu dengan palu di tangan kirinya dan korek api di tangan kanannya.
Melihat orang itu tidak jadi membakar dirinya ia pun berusaha membuka mulutnya untuk mengatakan permintaan maaf lagi kepada orang itu.
"Aku sekali lagi mi... Minta maaf kamu, aaaggghh,"ucap preman itu dengan terbata bata dan sesekali ia mengerang kesakitan
Mendengar permohonan maaf yang terus menerus berulang kali di ucapkan preman itu,orang misterius itu pun kembali bangun dari duduk nya.Ia menaruh korek api itu di atas meja namun ia masih memegangi palu di tangan kirinya setelah ia menaruh korek api itu di atas meja ia memindahkan palunya ke tangan kanannya lalu secara perlahan lahan ia mendekati preman itu.
Saat preman itu sudah berdiri di dekat preman, ia menarik pistol yang ia ikat di kakinya lalu orang itu mengarahkan pistol itu ke arah paha kanan preman itu.
__ADS_1
Door....
suara tembakan terdengar. Preman itu pun hanya bisa menagis menahan sakit yang ia rasakan akibat tembakan di paha kanan nya dan pukulan di kepala bagian belakang.Melihat preman itu sangat kesakitan orang itu pun meletak kan palunya di atas luka bekas tembakan itu dan di situ preman itu pun hanya bisa mengerang kesakitan merasakan penyiksaan yang di lakukan oleh orang itu.
Ia terus menerus meminta maaf kepada orang
itu namun orang itu tidak mempeduli kan preman itu dan menekan lebih kuat,jeritan preman itu pun menjadi lebih keras.
Suasan berbeda di rasakan oleh Inspektur Adi dan Andi,ia terlihat sangat khawatir dan panik.Ia mundar mandir kesana kemari dengan membawa surat ancaman itu,Andi terus menerus berulang kali menanyakan siapa orang itu kepda dirinya sendiri karena ia yakin kalau orang yang mengancam dirinya adalah musuhnya.Namun tiba tiba ia berhenti dari mundar mandir dan terbayang bayang dengan sesosok orang dan sesosok orang itu adalah preman kedua.
"Aku ingat!"ucap Andi langsung membuat Adi terkejut dan langsung menghampiri Andi.
"Kamu ingat apa Andi?" Jawab Adi.
"Aku yakin dia adalah pelakunya...."
"Siapa?"ucap Inspektur Adi namun Andi tak menjawab tetapi ia langsung pergi dari rumah.
Suasana di rumah preman saat itu masih sangat tegang,jeritan preman itu terdengar di seluruh rumah,gema jerit sakit menjadi musik terindah bagi orang itu namun setelah ia melakukan penyiksaan dengan menekan luka bekas tembakan yang di lakukan oleh orang itu.
Ia pun akhirnya menghentikannya dan menjauhkan palunya dari paha preman itu,preman itu pun terlihat sedikit tenang karena orang itu tidak menekan paha itu lagi namun ia tidak menyangka ketenangannya menjadi hari terakhirnya di dunia.Ia kemudian mengangkat palunya untuk memukul kepala preman itu namun saat palu itu masih di atas preman itu memohon lagi kepada orang itu.
Dengan sekuat tenaga ia pun melayang kan palu itu ke kepala bagian kirinya lalu ia memukul lagi kepala bagian kanan preman itu,ia terus melakukannya hingga membuat wajah preman itu penuh dengan darah dan ia pun langsung meninggal di tempat.Setelah itu orang itu pun pergi dari ruangan itu meninggalkan preman itu.
Suasana resah menyelimuti Andi saat perjalanannya menuju ke markas tempat ia singgah dulu,ia terlihat tak tenang ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi dengan anak buahnya.Ia terus meminta Inspektur Adi mengebut dan terus menerus menambah gas mobilnya,akhirnya Inspektur Adi menambah gas mobilnya.
Di dalam markas itu,terlihat orang kembali lagi dengan Membawa jerigen berisi bensin,ia kemudian menaruh jerigen itu di samping mayat itu.Ia kemudian mengambil pisau yang ia ikatkan di pingangnya dan ia kemudian mendekatkan tubuhnya ke tubuh mayat preman itu lalu ia menusuk preman itu dengan dengan penuh dendam dan amarah di area jantung preman itu.
Ia melakukan nya berulang kali setelah itu ia kembali berdiri dan ia membuka tangan kirinya lalu dengan pisau yang sama tanpa ada suara menjerit atau pun kesakitan orang itu kemudian meneteskan darah nya di sekujur tubuh preman itu.
Orang itu merobek sebuah gorden dan ia melilitkan robekan gerden itu ke luka yang ia buat sendiri,saat setelah ia selesai meliliti tangannya dengan kain itu ia menyiramkan bensin yang ada di jerigen itu ke tubuh preman itu dan ke barang barang dan jendela jendela rumah.
Tak berselang lama ia mengambil korek api itu dan menghidupkannya,setelah itu ia melemparkan korek api itu ke jenasah itu. Tak membuatkan waktu lama mayat itu di lalap oleh si jago merah itu tak hanya mayat itu rumah pun di lalap api yang lama ke lamaan semakin membesar.
Orang itu perlahan lahan melambaikan tangannya ke arah mayat itu dan ia juga perlahan lahan berjalan mundur meninggalkan mayat itu terbakar.
Beberapa menit kemudian Andi dan Adi sampai di markas yang ia singgahi dulu namun sesampainya di sana ia sangat terkejut karena rumah itu terbakar.
Melihat Andi sangat panik dan berusaha menghentikan kebakaran itu,Adi mencoba menenegkan Andi dan meminta penjelasan tentang apa yang ada di dalam rumah itu.
__ADS_1
Pada awalnya ia tidak bisa terkendali namun lama kelamaan ia bisa tenang dan menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang ada di dalam rumah itu.Ia menjelaskan kalau ia yakin pelakunya adalah anak buahnya dulu yang membantu dia membunuh orang orang ,mendengar penjelasan Andi Inspektur Adi sangat terkejut.
Setelah itu Andi pun langsung menangis histeris karena ia tidak bisa menyelamatkan preman kedua,ia berpikir kalau preman kedua melakukan bunuh diri dan di situ sesosok kakak muncul dalam diri Inspektur Adi.
Ia berusaha menenagkan adiknya Andi yang menyesal akibat ia gagal membawa pelakunya ke hadapan kakaknya dan polisi.
Beberapa jam kemudian kebakaran pun berhasil di padamkan dan mayat preman itu di bawa masuk kedalam mobil ambulance,selain itu mata Andi terlihat berkaca kaca melihat rumah yang beberapa ini ia jadikan tempat tinggal hangus tak tersisa.
Andi terlihat memandangi rumah itu beberapa detik lalu Inspektur Adi mengajak Andi pulang ke rumah,sesampainya Andi dan Inspektur Adi di dalam rumah.
Mereka langsung di sambut oleh Bu Ratna namun saat mereka baru duduk di ruang tamu,pintu rumah kembali di ketuk.Mendengar pintu kembali di ketuk ayah Andi pun membuka pintu namun saat ia sudah membuka pintu ia sangat terkejut ia hanya terdiam dengan mulut ternganga lebar dan mata yang terbuka lebar juga.
Melihat ada yang aneh dengan ayahnya, Adi pun mendekati ayahnya.
"Ada apa?" Tanya Adi, namun Ayah Andi tidak menjawab.
Dia pergi berjalan memeriksa keadaan ayahnya, saat ia memegangi ayahnya ia terkejut karena melihat foto semua orang berjajar dengan noda darah dan sebuah tulisan dengan warna merah seperti darah.Tulisan itu berbunyi, "Kalian Semua Harus Mati!!!."
Melihat ancaman dan teror seperti itu akhirnya Adi pun keluar dari rumah melihat kesana kemari namun ia tidak siapa pun.
Inspektur Adi kemudian mengambil foto itu namun saat ia mengambil foto itu ternyata sebuah foto lain jatuh dan foto itu adalah foto preman kedua yang terdapat tulisan yang berbunyi"Aku Membunuh Dia!!!."
Melihat foto itu Adi pun terkejut lalu ia menghampiri Andi dan menunjukkan foto itu ke Andi,setelah melihat foto itu Andi pun langsung terkejut dan bertanya tanya tentang siapa pembunuh yang sebenarnya kalau bukan preman kedua.
Beberapa saat kemudian, ayahnya Andi pergi dari ruangan itu dan masuk kedalam kamar,ia terlihat sedih dan menagis namun tidak di ketahui apa penyebab Ia menangis.Ia kemudian mulai mengeluarkan kalung yang sama dengan yang di bawa oleh Inspektur Adi setelah itu ia mencium liontin kalung itu dan kembali memasukkan kalung itu ke dalam bajunya,beberapa saat kemudian ia menenangkan dirinya dengan menghapus air matanya lalu ia keluar kamar lagi dengan seolah olah masih tegar.
Pemakaman pun berjalan dengan hikmat,kesedihan sangat tergambar jelas di raut muka Andi namun Andi tidak bisa mengatakan dengan kata.
Ia harus menerima kenyataan kalau ke hilangan satu persatu orang yang ia sayangi akibat tindakannya sendiri.
Dia terlihat menyesali apa yang ia sudah lakukan kepada orang orang kini apa yang ia lakukan di masa lalu menjadi ancaman bagi keluarganya.
Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah ia terus menerus terbayang bayang dengan penyiksaan yang ia lakukan dengan orang orang,tiba tiba terdengar suara petir setelah mendengar suara itu Andi langsung jatuh dengan sendekul di tanah menyesali apa yang ia lakukan.
"Andi kita pulang Nak sebentar lagi akan hujan,"ucap Bu Ratna dengan berusaha membangunkan Andi namun Andi tidak bangun ia hanya terdiam.
Tak berselang lama hujan pun turun membasahi tubuh Andi seakan hujan itu menjadi air matanya karena secara bersamaan air mata Andi keluar hujan juga ikut turun.Melihat hal itu Adi pun Bu Ratna dan Andi pun membangunkan Andi lalu membawa Andi pergi dari tempat itu,saat Andi dan yang lain pergi Ayahnya Andi dan Inspektur berhenti sesaat ia juga menangis di bawah derasnya hujan turun.
Ia kemudiaan pergi meninggalkan tempat itu namun tanpa di sadari oleh Andi dan yang lainya seseorang berpakaian serba hitam keluar dari persembunyiannya dengan membawa pisau di tangan kanannya lalu secara perlahan lahan orang itu mengikuti keluarga Adi namun saat Ayahnya Andi menoleh ke belekang karena merasa ada yang mengikuti namun ia tak melihat siapa pun di belakang nya.
__ADS_1
Setelah itu keluarga Adi pun masuk ke dalam mobil dan saat mobil itu sudah pergi meninggalkan makam,orang itu kembali keluar dari persembunyiannya lagi dengan membawa pisau yang sama yang di gunakan untuk membunuh orang orang.