
"Apa yang kamu mau dari ku? Kenapa kamu ingin menghabisi aku?" bentak seorang laki laki dengan wajah kotor berkeringat dan nafas yang terengah-engah.
Laki laki itu berbicara dengan orang misterius dengan pakaian serba hitam bahkan menutupi wajahnya di atas loteng gedung.
Pria misterius itu tidak menjawab sepatah katapun apa yang di pertanyakan oleh laki laki berkeringat itu.
Door...
Suara tembakan terdengar bergema, waktu terasa berhenti bagi laki laki berkeringat itu. Perlahan tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai dengan darah mengucur dari dadanya.
Sesaat orang misterius itu berdiri melihat laki laki yang berada di hadapannya mati.
Keesokan harinya, Isak tangis dan jeritan kehilangan terdengar di kediaman Rey.
Rey adalah laki laki yang berdiri di atas loteng dengan wajah kotor dan berkeringat malam itu.
"Baiklah permisi, kali ini saya sedang berada di kediaman dari Rey Wijaya, seorang korban pembunuhan di atas loteng. Saat ini kami sedang bersama dengan Ibu Endang Wijaya selaku ibu kandung dari Rey Wijaya. Bu, bisakah Ibu jelaskan bagaimana kronologi penemuan mayat dari Mas Rey?" tanya wartawan itu kepada seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan.
Wanita itu adalah Bu Endang, ibu kandung dari Rey. Dia terlihat sangat sedih atas kepergian Rey yang sangat tragis dan sangat mendadak.
"Apa yang harus saya ceritakan Mbak? Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya selalu sedih ketika bercerita tentang Rey, dia anak yang baik buat saya." Jawab Bu Endang dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.
"Baik Bu makasih, satu pertanyaan dari saya. Apakah selama ini, Mas Rey punya masalah dengan seseorang?" tanya wartawan lagi.
"Setahuku, anakku itu sangat baik. Dia tidak pernah punya masalah dengan orang lain," jawab Bu Endang.
Setalah beberapa saat melakukan wawancara, Bu Endang masuk ke dalam rumah. Saat berada di dalam rumah, seseorang memegang tangan Bu Endang dan menghentikan langkah Bu Endang.
"Pandai juga ibu bersandiwara, berpura pura nangis di hadapan wartawan, mengatakan Rey adalah anakku, anakku. Dulu ketika Rey masih hidup, apa ibu menganggap Rey ada? Kalau menganggap Rey ada, lalu ibu dimana? " tanya seorang laki laki tampan dengan wajah serius di hadapan Bu Endang.
__ADS_1
Dia adalah Tama, saudara kandung dari Rey. Tama adalah kakak pertama Rey, yang dikenal akrab dengan Rey.
"Tama... Kenapa kamu bicara seperti itu? Ibu tahu kalau Ibu tidak pernah punya waktu untuk kamu dan Rey, tapi ibu selalu menyayangi kalian berdua!. Ibu tahu, Ibu minta maaf menelantarkan kalian," jawab Bu Endang.
Mendengar jawaban itu, Tama melepaskan tangan ibunya dengan kasar. Dia menatap ibunya dengan tatapan mata tajam.
"Maaf?! Untuk siapa Bu? Rey udah mati, apa jangan-jangan ibu yang membunuh Rey?" jawab Tama.
"Tama!!!."
Plak....
Seketika ekspresi muka Bu Endang berubah. Dia menampar Tama dengan mata di penuhi air mata.
Menerima tamparan keras dari ibunya, Tama hanya diam. Dia hanya memegangi pipinya yang di tampar ibunya.
"Kamu keterlaluan Tama, Ibu itu ibu kandung dari Rey. Ibu tidak mungkin bisa sekejam itu sampai membunuh Rey. Kalaupun ibu memang membunuh Rey, apa tujuan ibu membunuh anak ibu sendiri?" jawab Ibu Endang dengan air mata terus mengalir membasahi matanya.
Beberapa saat kemudian, beberapa polisi datang. Melihat hal itu raut muka Ibu Endang terlihat sangat terkejut, dirinya semakin terkejut ketika salah satu polisi itu mencari dirinya.
"Bu Endang? Mari ikut saya," ucap seorang polisi dengan tubuh gagah dan wajah yang terlihat seram.
Dia bernama Ferry, seorang pemimpin polisi yang terkenal tegas, garang dan kejam.
"Ada apa ini Pak? Apa yang saya lakukan hingga Pak Polisi mencari saya ?" jawab Bu Endang dengan sangat kebingungan.
"Kami mendapatkan laporan dari salah satu orang di rumah ini, dia mengatakan kalau ibulah yang membunuh Rey. Maka dari itu, untuk memastikan kebenaran itu, kami ingin ibu ikut kami ke kantor," jawab Ferry.
Mendengar apa yang dikatakan oleh si polisi, Bu Endang terdiam. Dia sangat terkejut, namun berbeda dengan Tama. Dia terlihat tenang dengan wajah menunduk seolah dia tahu ini akan terjadi.
__ADS_1
Bu Endang menunduk sesaat, air matanya mengalir membasahi matanya. Setalah itu, dia melihat ke arah Tama yang tampak tersenyum melihat ibunya di tangkap oleh polisi.
Menyadari hal itu, Bu Endang menatap tajam Tama. Dia berjalan perlahan mendekati Tama. Tama yang menyadari hal itu, dia membalas tatapan mata ibunya.
"Jangan bilang kalau kamu yang melaporkan Mama ke kantor polisi, " ucap Bu Endang dengan mata tajam dan dipenuhi air mata.
"Kalau iya, kenapa Ma? Apa Mama takut di penjara?" jawab Tama dengan serius kepada ibunya.
Mendengar jawaban dari Tama, Bu Endang terdiam. Dia melangkah menjauhi Tama dengan sangat kecewa karena anaknya lah yang melaporkan dirinya ke kantor polisi.
"Huh, baik Pak. Saya siap ke kantor polisi," jawab Bu Endang.
Bu Endang pun di gelandang ke kantor polisi, tangannya di borgol dan dia di dampingi beberapa polisi. Bu Endang masuk ke mobil polisi itu dengan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya tidak percaya karena anaknya bisa melakukan hal yang sangat kejam.
Ketika Bu Endang sudah pergi ke kantor polisi, Tama keluar dari rumah dengan melambaikan tangannya ke arah ibunya. Tidak hanya itu, dia juga tersenyum dengan bahagia melihat ibunya di bawa oleh polisi ke kantor polisi.
Melihat hal itu, tiba-tiba seorang laki laki misterius keluar dari balik pohon. Dia berdiri dari kejauhan mengawasi Tana.
Beberapa saat kemudian, Tama masuk ke dalam rumah. Di waktu yang sama, orang misterius itu pergi dari tempat persembunyiannya.
Tak berselang lama, Bu Endang sampai di rumah. Dia di masukkan ke dalam ruangan interogasi. Dia di dudukkan, di kursi kayu dan lampu tepat di atas mereka.
"Apa Bu Endang baik baik saja?" tanya Polisi Ferry dengan mengambil air di galon. Melihat hal itu, Bu Endang mengira kalau air itu untuk dirinya, namun saat gelas yang di isi air dia letakkan di atas meja dan Bu Endang ingin meraihnya, Ferry bergegas menyahut gelas itu dan meminum air itu.
"Ini bukan untuk ibu, ini untuk saya!" jawab Ferry dengan santai.
Setalah itu dia duduk di bangku yang berada di hadapan Bu Endang. Kala itu Bu Endang terlihat sangat kehausan.
"Apa Bu Endang kehausan?" tanya Ferry.
__ADS_1
"Enggak," jawab Bu Endang dengan tegang.
"Kenapa Ibu tegang ? Tanang saja, Saya tidak akan melakukan apapun ke ibu," jawab Ferry dengan santai, namun tatap matanya terlihat tajam ke arah Bu Endang. Bu Endang yang menyadari hak itu, dia hanya diam dan menundukkan kepalanya.