
Saat itu keadaan Bu Laras sangat sedih karena harus menerima kebenaran bahwa orang yang selama ini di anggap Juli adalah seorang pembunuh yang membunuh anak serta suaminya.
Saat itu ia terlihat hanya diam duduk di kursi yang berada di depan rumah dengan melihat ke arah taman dan raut muka juga sedih selain itu tatapan mata pun terus menerus berkaca kaca dan meneteskan air mata.
Tak berselang lama Toni pun datang dengan raut muka yang ikut sedih saat melihat Ibu- nya seperti ini.
"Maa,"panggil Toni dengan nada lirih dan ia perlahan memegangi bahu ibu - Nya.
Hal itu membuat Bu Laras terkejut dan ia terlihat hanya menoleh ke arah Toni beberapa saat kemudian ia kembali melamun.
Melihat hal itu Toni berganti tempat ia duduk di depan Bu Laras sambil memegangi tangannya lalu ia melanjutkan berkata dengan sedih dan mata yang berkaca kaca.
"Maa aku mohon sama Mama jangan seperti ini,Mama harus ikhlas kalau Kakak sudah meninggal dan orang yang selama ini kita anggap Juli adalah orang lain.Mama harus terima itu!."
Setelah mendengar semua itu Bu Laras hanya diam tak berkata sepatah katapun kepada Toni dan yang ia lakukan adalah melepaskan tangan nya dari tangan Toni lalu kembali melamun.
"Maa...,"ucap Toni saat ia melihat Ibunya melepas tangan nya dari tangan Toni,setelah itu Bu Laras masuk kedalam rumah dan ke kamar.
Toni pun hanya terlihat kesal dan sedih setelah apa yang di lakukan oleh adiknya Inspektur Adi,Toni pun akhirnya memilih pergi dari rumah untuk menemui Andi karena ia tau kalau pengobat dari ibunya hanya Andi karena Andi adalah orang yang mirip dengan Juli kakaknya.
Tak berselang lama Bu Laras sampai di dalam kamar lalu ia naik ke tempat tidur dan tidur namun saat ia baru akan memejamkan mata terdengar sebuah benda yang pecah hal itu langsung membuat Bu Laras terkejut dan langsung bangun dari tempat tidur dan mencari tahu diman suara itu berasal.
Ia kemudian keluar kamar dan sesampainya di luar kamar ia memanggil manggil Toni namun ia tidak ada jawaban sama sekali atas panggilannya.Ia pun akhirnya pergi ke luar untuk melihat ke keadaan di luar rumah namun saat ia akan membuka pintu ia melihat salah satu kaca pecah dan ia melihat sebuah batu yang di bungkus oleh sebuah kertas putih,ia kemudian mendekati batu itu dan ia mengambil batu itu setelah itu ia memisahkan batu dan kertas itu.
Ia meletakkan batunya kembali ketanah dan ia mengengam kertas itu,tak berselang lama ia membaca kertas itu dan saat ia melihat tulisan di kertas itu ia langsung terkejut karena tulisan yang berada di dalam kertas itu berwarna merah seperti darah.Ia langsung membuang kertas itu dan tidak membacanya,ia terlihat ketakutan namun ia berani malawan ketakutannya dan kembali mengambil surat itu dan membacanya.
Saat ia membaca surat itu ia terlihat sangat terkejut karen tulisan dalam kalimat itu.
"Kamu harus mati!!!."
Ia menjatuhkan kertas itu dan ia terlihat sedih serta ketakutan dengan surat itu.Ia kemudian kembali masuk kedalam kamar dengan ketakutan namun perginya ia ke dalam kamar adalah menjadi titik awal peneroran orang yang ingin balas dendam kepada keluarganya.
Sesampainya di kamar Bu Laras langsung naik ke atas ranjang tempat tidur dan menutupi sebagian tubuhnya sambil memikirkan kejadian yang menimpa dirinya.Ia terlihat ketakutan namun saat ia tengah terbaring untuk menidurkan tubuhnya tiba tiba sebuah bayangan hitam terlihat berdiri di dekat jendela, melihat bayangan itu Bu Laras kembali terbangun dan mendekati bayangan itu.
"Siapa disitu?"tanya Bu Laras dengan sedikit ketakutan dan kesakitan di tangannya namun bayangan itu tidak menjawab sepatah kata pun.
Melihat bayangan itu tidak menjawab dirinya akhirnya Bu Laras memutuskan untuk mendekati jendela yang terlihat bayangan itu sambil sesekali bertanya kepada bayangan itu.
Setelah Bu Laras berada di dekat jendela ia perlahan lahan dengan menggunakan tangan kanannya membuka kain berwarna putih yang menutupi jendela itu.
Jantung nya berdetak dengan kencang, ketakutan di dalam dirinya menguasai tubuhnya pada saat ia berada di detik detik membuka gorden yang menutupi jendela itu.
__ADS_1
Tubuhnya gemetar dengan kencang dan sesekali ia menelan ludah,beberapa detik kemudian ia langsung membuka gorden itu dengan secepat kilat namun saat Bu Laras membuka gorden itu ia tidak melihat bayangan itu yang ia lihat adalah sebuah tulisan yang di tulis dengan darah di jendela kamar Bu Laras.
Hal itu langsung membuat Bu Laras terkejut dan jatuh ke lantai akibat tersandung dengan kakinya sindiri dan saat ia terjatuh tubuhnya menimpa tangan kiri yang di tembak oleh Andi.
Hal itu membuat Bu Laras menjerit kesakitan dan lengan kirinya pun mengeluarkan darah yang bercucuran, ia terlihat ketakutan dan syok setelah melihat tulisan di kaca yang di tulis dengan menggunakan darah.Tulisan itu berbunyi "Kamu harus mati!!! Kamu harus mati!!! Kamu harus mati!!!."
Setelah melihat tulisan itu dan terjatuh ke lantai Bu Laras kembali melihat tulisan itu untuk memastikan kebenaran yang ia lihat namun semua yang ia lihat adalah nyata,ia benar benar melihat sebuah kalimat yang di tulis dengan menggunakan darah.Tak berselang lama muncul di sesosok orang berpakaian serba hitam berdiri di dekat jendela dengan membawa sebuah palu di tangan kanannya dan bensin di tangan kirinya,beberapa detik kemudian ia mulai melayangkan palu itu ke jendela kaca.
Terdengar suara kaca pecah pun di situ Bu Laras hanya bisa ketakutan dan ia sesekali bertanya kepada orang itu tentang di siapa dan apa yang dia inginkan namun semua itu tidak ada gunanya karena orang itu tidak menjawab sepatah kata pun ia hanya terus melanjutkan kegiatannya.
Setelah orang itu memecah kaca melalui pecahan kaca itu orang misterius itu membuka tutup bensin dan menuangkan kedalam kamar bensinnya.
Melihat orang itu mrnuangkan sesuatu di kamarnya Bu Laras langsung ketakutan dan berusaha membuka pintu namun pintu yang tadinya tidak di kunci kini terkunci dari luar kamar.Bu Laras terlihat terus menerus berusaha memanggil Toni dan teriak minta tolong namun tidak ada satu orang pun yang dengar permintaannya.
Tiba-tiba saat itu ia langsung terdiam mematung dengan wajah yang ketakutan,setelah menuangkan bensin ke kamarnya hal lain yang membuat Bu Laras terkejut adalah orang itu mengambil sebuah korek lalu ia menyalakan korek itu dan tak berselang api pun langsung membesar dan membakar isi dalam kamar.
Disitu Bu Laras hanya bisa pasrah ia terus menerus berteriak minta tolong agar ada orang yang membantu dirinya namun semua itu sia sia karena tidak ada stu pun orang yang membantu dirinya.Ia juga meminta tolong kepada orang itu agar ia membantu keluar dari kamar namun orang itu tidak memjawab sepatah kata pun dan ia hanya menjawab tindakan berupa ia hanya melambaikan tangannya kepada Bu Laras untuk memberikan ucapan selamat tinggal.
"Tidaaaaakkk!" teriak Bu Laras setelah mengetahui bahwa orang itu meninggalkan dia terbakar didalam kamarnya.
Melihat hal itu Bu Laras langsung pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya,lama kelamaan tubuhnya mulai kehabisan oksigen ia sesak nafas dan batuk batuk. Ia juga terlihat masih berusaha bangun dan teriak namun sia sia saja tubuhnya mulai lemas dan tak berdaya di dalam kamar.
Tak berselang lama Toni datang namun sesampainya di rumah ia sangat terkejut karena melihat kepulan asap keluar dari rumahnya dan kaca jendela yang berada di dekati pintu pecah.Melihat itu Toni langsung berlari dengan sekuat tenaga.
Di sisi lain Toni terus menerus mencari asal muasal asap itu,ia sangat kesulitan mencari nya karena tebalnya asap yang yang berada di dalam rumah.Toni terus menerus mencari dengan sesekali ia memanggil manggl ibunya namun ibunya tidak merespon panggilannya, hal itu lah yang membuat Toni khawatir dengan keadaan ibunya.
Tak berselang lama Toni menemukan titik awal asap itu keluar yaitu dari dalam kamar Bu Laras,melihat hal itu Toni langsung terkejut dan panik ia berusaha menolong ibunya namun saat memegang gagang pintu tangan nya terbakar.
"Aaaggghh,"desah Toni setelah tangannya terbakar namun ia tidak kalah akal ia mencari sebuah kain di lemari yang berada tidak jauh dari pintu.
Beberapa detik kemudian akhirnya ia menemukan sebuah kain ia mengambil kain itu dan menutupi tangan nya dengan kain itu agar tidak terbakar oleh gagang pintu lagi namun semua itu sia sia karena pintu itu di kunci dan kuncinya menghilang entah kemana,akhirnya Toni pun memutuskan untuk membuka pintu dengan cara mendobrak pintu.
Pada saat pertama kali mendobrak pintu ia gagal,kemudian percobaan pertama ia gagal lagi dan saat ia melakukan pendobrakan pintu untuk yang ketiga kalinya ia berhasil dan bisa membuka pintu.
Saat ia sudah terbuka ia langsung berlari ke dalam kamar dan saat ia sudah berada di dalam kamar ia melihat Bu Laras tengah terbaring pingsan di tengah api melihat itu Toni langsung mencoba membangunkan Bu Laras namun Bu Laras tidak bangun.Ia akhirnya memutuskan membawa Bu Laras pergi dari tempat itu dengan cara merangkul Bu Laras dan membawanya keluar.
Tak membutuhkan waktu lama Toni dan Bu Laras pun berhasil membawa Bu Laras keluar dari rumah.Beberapa saat kemudian pemadam kebakaran pun datang dan tak berselang lama ambulan pun juga datang mereka kemudian membawa Bu Laras ke rumah sakit.
Beberapa menit perjalanan akhirnya ambulan itu sampai di rumah sakit,saat mereka sudah sampai di rumah sakit mereka langsung di sambut oleh para suster dan dokter mereka langsung menempatkan Bu Laras ke tempat tidur rumah sakit dan membawa Bu Laras ke ICU.
Kekhawatiran dan kepanikan sangat tergambar jelas di raut muka Adi,beberapa detik kemudian Bu Laras du bawa ke ruang ICU namun Toni hanya bisa menunggu di luar ruangan saja tidak bisa masuk. Ia juga terlihat kesakitan karena tangan kirinya menderita luka bakar yang cukup parah akibat memegang gagang pintu.
__ADS_1
Di tempat lain,keadaan Andi sangat menyedihkan ia hanya berjalan menyusuri jalan yang ia lewati namun tiba tiba saat ia tengah melewati sebuah warung makan ia tanpa sengaja melihat ke arah warung itu dan saat itu warung itu tengah melihat breaking news tentang rumah Toni yang terbakar.
Ia semakin mendekati warung itu namun saat ia sudah mengetahui kalau rumah yang di beritakan oleh chennel itu adalah rumah Toni,Andi langsung terkejut dan secara lirih ia berkata"Bu Laras dan Toni!!."
Ia langsung berbalik dan berlari untuk melihat rumah Toni dan keadaan mereka namun sesampainya di rumah keadaan rumah sudah terbakar hangus dan beberapa saat kemudian salah satu warga datang menghampiri dirinya dan mengira Andi adalah Juli.
"Juli Anda kemana saja? Rumah Ibu Anda terbakar tapi Anda baru datang," ucap warga itu.
"Maaf Pak saya juga baru tau,tapi kalau saya boleh tanya kemana semua keluarga saya?"tanya Andi dengan sedih dan mata yang berkaca kaca.
"Mereka ke rumah sakit terdekat Juli," jawab warga itu lalu Andi langsung pergi meninggalkan orang itu.
Ia berlari dengan sekuat tenaga untuk pergi kerumah sakit yang di maksudkan,tak berselang lama Andi pun sampai di rumah sakit yang di maksudkan.
Ia terlihat sangat sedih,khawatir dan panik Ia terus mencari kesana kemari dan beberapa saat kemudian ia berlari ke arah tempat duduk Toni.
Pada awalnya keduanya tidak saling menyadari kalau satu sama lain namun saat Andi melewati Toni beberapa centi Andi menyadari kalau itu Toni,ia kemudian berbalik ke arah Toni yang duduk di kursi tunggu.Ia terlihat sangat bahagia karena melihat Toni selamat dari kebakaran itu,ia kemudian berlari dan memeluk Toni.
Merasa ada orang yang memeluk dia,ia terlihat diam saja namun saat ia mengetahui kalau orang yang memeluk dia adalah Andi ia langsung mendorong Andi dengan tangannya yang terluka akibat luka bakar itu.
"Jangan pernah kamu melakukan itu lagi aku tidak mau di sentuh oleh tangan pembunuh seperti kamu,"ucap Toni dengan nada marah dan kesal setelah mendorong Andi lalu ia merintih dan mengerang kesakitan.
Andi pun hanya bisa diam saat dia di dorong oleh Toni namun saat ia melihat tangan Toni terluka parah ia berusaha menenangkan Toni.
"Kamu boleh mendorong aku sekuat tenaga kamu Toni tapi tolong biarkan aku mengobati tangan kamu yang terluka,"jawab Juli dengan sedih dan berurai air mata.
"Stop, dengan melodrama mu Andi lebih baik tangan ku di amputasi dari pada di sentuh oleh kamu,"jawab Toni dengan membentak Andi.
Mendengar jawaban Toni yang seperti itu Andi pun akhirnya berbalik marah kepada Toni dan ia berkata dengan nada tinggi dan emosi.
"Kamu boleh membenci aku semau kamu! Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu inginkan tapi aku mohon tolong jangan pernah membiarkan tangan kamu di amputasi.Aku berdiri di hadapan kamu saat ini menjadi Juli!!." Ia kemudian mulai mengubah perbincangan nya menjadi bernada tegas "Kalau kamu membiarkan tangan kamu di amputasi,lalu siapa? Siapa yang akan melindungi Bu Laras dari aku.Bukankah aku yang selama ini kamu anggap berbahaya?"
Toni pun hanya terdiam mendengar ucapan Andi sambil memikirkan apa yang di ucapkan oleh Andi,melihat hal itu Andi langsung bebalik dan pergi namun saat ia langkahnya dua langkah Toni menghentikan Andi pergi.
"Tunggu,"ucap Toni untuk menghentikan Andi dan setelah mendengar itu Sndi pun langsung menghentikan langkahnya namun ia tidak berbalik menoleh ke arah Toni.Ia hanya diam dengan raut muka sedih dan mata yang berkaca kaca lalu tak berselang lama Toni melanjutkan, "Aku mau kamu obati tapi bukan berarti aku sudah memaafkan kamu atas semua yang kamu lakukan kepada ku dan keluarga ku!."
Mendengar itu Andi tak menjawab sepatah kata pun dan ia langsung pergi meninggalkan Toni.Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kotak P3K ke tempat Toni di situ Andi meminta Toni duduk di tempat ia semula duduk,setelah itu Andi duduk di depan nya dengan memegang sebuah kapas dan menaruh tangannya di bawah tangan Toni lalu secara perlahan lahan mulai membersihkan luka bakar yang berada di tangan kirinya.Di situ Toni hanya memandangi Andi tanpa berkedip.
"Kenapa aku merasa Juli datang lagi di dalam diri Andi jika seperti ini?" ucap Toni dalam hatinya.
"Janga pernah kamu berkata seperti itu lagi bukan nya kamu yang bilang kepada aku kalau aku tidak akan pantas menjadi Juli,"jawab Andi setelah Toni berbicara dalam hatinya.
__ADS_1
Mendengar hal itu Toni pun hanya diam dan terus melihat ke arah Andi yang tengah memperban tangannya, setelah Andi selesai memperban tangan Toni ia langsung pergi dari tempat itu dengan membawa kotak obat itu.
Tak berselang lama ia kembali dan melihat Bu Laras yang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan mata yang berkaca kaca.Ia kemudian pergi meninggalkan Toni yang duduk diam saat Andi akan pergi Toni hanya menatap kepergian Andi dan saat Andi ia berpapasan dengan sang kakak namun Adi atau pun Andi tidak mengatakan sepatah kata pun dan memilih pergi serta mereka saling melewatinya.