
Keadaan saat itu mulai memanas, Inspektur Adi mulai terlihat kesal ber- campur sedih,matanya berkaca kaca saat melihat pisau yang berada di tangan Andi.Ia kemudian kembali mendekati Andi dan langsung memegangi lengan Andi dengan nada membentak bentak Andi.
"Apa kamu pelakunya Andi? Jawab!,jawab aku!"ucap Insektur Adi dengan membentak dan mengoyang goyangkan tubuh Andi namun Andi tidak menjawab sepatah kata pun dan hanya diam membisu seribu bahasa.
Melihat Andi tidak menjawab dan hanya diam Inspektur Adi pun mendorong Andi hingga membuat Andi mundur beberapa langkah dari tempat ia berdiri,saat Andi sudah terdorong menjauh dari tubuh Bu Laras Inspektur Adi menarik tangan Andi dan mengajak ia keluar dari kamar.
Saat Andi dan Inspektur Adi pergi Toni langsung jatuh lemas tak berdaya di tanah dengan posisi duduk bersendekul.Ia terlihat menangis di samping mayat Bu Laras dan tak berselang lama beberapa suster pun datang dengan membawa sebuah tempat tidur dorong lalu suster itu mengangkat mayat Bu Laras dan membawa mayat itu untuk di bersihkan di kamar mayat.
Di situ Toni pun hanya bisa meratapi kepergian Ibunya yang teragis dan menyedihkan.
Keadaan di luar saat itu masih sangat ramai karena banyak orang menonton mayat itu.Di saat itu Andi dan Adi tengah melanjutkan perdebat- an,saat itu Adi terlihat sangat marah dengan Andi.
"Kenapa kamu melakukannya? Apa kesalahan mereka ke kamu? Kalau kamu ingin balas dendam maka balas dendam lah kepada kelurga kita bukan ke keluarga Toni! Kamu sudah membunuh Shela,Ayah Toni,Juli dan... Dan sekarang Bu Laras.Jawab aku apa kesalahan Bu Laras?"ucap Inspektur Adi dengan nada marah dan serius.Ia kemudian berhenti berbicara dan mendengarkan jawaban Andi namun ia tidak menjawab Adi dan masih saja terdiam.
Melihat hal itu dengan marah dan kesal ia Andi hingga membuat ia berpaling wajah lalu Adi pun melanjutkan berkata"Kamu harus sadar Andi,kamu harus sadar!."
Setelah itu Andi pun mulai berbicara kepada Kakaknya
"Aku tidak melakukan apa pun Kak, aku mohon Kakak percaya dengan ku,"jawab Andi dengan nada sedih dan mata yang berlinag air mata.
"Percaya?! Atas dasar apa aku harus percaya dengan kamu?hah,"lalu ia memegangi bahu Andi dan menghantam kan tubuh Andi ke dinding yang berada tidak jauh dari dirinya,ia kemudian melanjutkan berkata"Atas dasar apa? Kamu masih belum puas mempermalukan keluarga kita,kamu belum puas!!!."
Tak berselang lama mayat Bu Laras pun keluar dari kamar melewati Adi dan Andi,melihat hal itu Andi berusaha meraih menyentuh Bu Laras namun semua itu sia sia karena secara tiba tiba saat Andi ingin mengulurkan tangannya mendekati tubuh Bu Laras.
Melihat hal itu Adi langsung menarik tangan yang berusaha menyentuh Bu Laras.
Plak!!
Adi kembali menampar Andi di depan banyak orang lalu ia melanjutkan berkata dengan nada serius.
"Jangan pernah kamu menyentuh Bu Laras kalau kamu sampai menyentuh Bu Laras aku tidak akan segan segan menghabisi kamu di tempat ini,karena lebih baik aku membusuk di penjara dari pada harus menanggung perbuatan yang memalukan dari dirimu!!!."
Inspektur Adi kemudian menarik tangan Andi dan membawa Andi keluar dari rumah sakit,saat itu Andi meronta ronta menolak pergi meninggalkan Bu Laras namun Inspektur Adi tidak mendengar penolakannya dan berusaha memberi tahu kalau kepergiannya akan meninmbulkan bahaya besar namun masih sama Inspektur Adi tidak mendengar kan apa yang di ucapkan oleh Andi.
Ia tetap menarik tangan Andi dan membawa Andi ke kantor polisi, Andi berusaha menolak namun semua itu sia sia Inspektur Adi tidak pernah mempedulikan omongan Andi.
Tak berselang lama Andi dan Adi sampai di kantor polisi ia langsung membawa ke ruangan atasannya,di situ ia menarik tangan Andi lalu ia melepaskan tangan Andi hingga ia terjatuh ke lantai dan tak berselang lama dengan tegas Inspektur Adi.
"Lapor Pak! Saya sudah menemukan pelaku pembunuhan Shella lainnya dia adalah Andi adik saya sendiri!."
Mendengar hal itu Andi sangat terkejut,tak hanya Andi atasan dari Inspektur Adi pun ikut terkejut karena mendengar ucapan Adi.Ia kemudian bangun dari duduknya.
"Apa Anda yakin Inspektur Adi?"ucap atasan Adi.
"Saya yakin!!"jawab Inspektur Adi dengan mengeluarkan beberapa tetes air mata dari matanya.
"Kak Adi aku mohon tolong jangan lakukan ini kalau Kakak melakukan ini maka keluarga kita akan dalam bahaya akan ada orang yang menyerang keluarga kita,tolong percaya dengan ku sekali ini saja!,"ucap Andi dengan sedih dan menangis.
Inspektur Adi tidak menjawab apapun,ia hanya memberi tau kalau Bu Laras sudah meninggal dan pelakunya adalah adiknya sendiri.
__ADS_1
Setelah itu ia pergi dan meninggalkan Andi di lantai dengan air mata yang tiba tiba tak bisa ia bendung di situ Andi pun juga hanya menunduk pasrah atas semuanya,ia hanya duduk di lantai dengan air mata yang bercucuran.
Tak berselang lama setelah Adi pergi atasan Inspektur Adi membantu membangunkan Adi berdiri lalu orang itu meminta Andi duduk di kursi dan menceritakan semua yang ia ketahui dan ia lakukan kepada orang orang itu.
Suasana duka menyelimuti rumah Toni,semua orang menggunakan pakaian serba hitam duduk mengitari jenasah Bu Laras,suara doa yasin di baca secara serentak oleh orang orang itu.
Tak hanya itu,terlihat sebuah bendera berwarna kuning tertempel di pintu masuk dengan disertai sebuah kotak.Saat itu Toni baru turun dari sebuah mobil dengan di dampingi oleh Bu Ratna dan suaminya serta Inspektur Adi mengikuti mereka dari belakang.
Saat itu Toni hanya memiliki perasaan putus asa,lemas dan tak berdaya ia berjalan di bantu oleh Bu Ratna di sampingnya untuk menegarkan Toni.Beberapa menit kemudian setelah Toni dan Keluarga Inspektur Adi sampai di rumah,Inspektur Adi menerima sebuah paket dari seseorang yang ia tidak kenal.
Ia kemudian membuka kotak itu namun setelah iaa membuka kotak itu ia sangat terkejut karen ia melihat selembar kertas berada di dalam kotak itu,ia kemudin mengambil kertas itu dan membacanya dan di surat itu tertulis huruf K.
Waktu berlalu begitu cepat jenasah Bu Laras pun di bawa keluar dari rumah namun tiba tiba seorang laki laki dengan membawa obor menghadang keberangkatan jenasah Bu Laras.
"Heeeeyyy,"ucap laki laki yang membawa obor itu.
Semua orang pun langsung melihat ke arah orang itu,namun saat mereka semua sudah melihat orang itu secara tiba tiba orang itu melembarkan obor yang ia bawa ke mayat itu sontak suasana pun langsung berubah panik dan ribut mereka ada yang mengejar orang itu ada juga yang mencoba memadamkan api yang membakar tubuh Bu Laras.
Inspektur Adi pun langsung mengejar orang itu namun saat ia sudah berhasil menangkap orang itu orang itu di tembak oleh seseorang dari jarak jauh hingga mati di tempat.
Setelah penembakan orang itu sekilas ia dari semak semak ia melihat seseorang berlari dengan terburu buru dan terbirit birit,setelah melihat hal itu Inspektur Adi pun mengejar orang itu namun orang itu tiba tiba tidak kelihatan lagi.
"Kurang ajar cepat sekali orang itu berlari!"ucap Inspektur Adi dengan nafas terengah engah.
Dia kembali ke tempat orang yang tertembak itu namun saat itu mayat orang yang tertembak itu menghilang tanpa jejak. Inspektur Adi sempat terlihat curiga dan heran namun ia tak mempedulikan hal itu lagi.
Ia hanya melihat Toni pun hanya duduk diam melihat mayat ibunya sudah hangus terbakar. Beberapa saat kemudian mobil polisi datang dengan Andi dan beberapa polisi keluar dari mobil dan masuk ke dalam halaman rumah,saat itu Bu Ratna dan suaminya terlihat terkejut melihat apa yang ia lihat.
"Juli?!!"ucap Bu Ratna dengan lirih namun saat itu Toni mendengar ucapan Bu Ratna Toni langsung meninggikan kepalanya untuk melihat Andi yang keluar dari penjara.
Ia kemudian berdiri setelah mengetahui kalau orang yang datang itu adalah Andi melihat hal itu Bu Ratna dan suaminya sangat bahagia karena mereka berpikir kalau orang itu adalah Juli bukan Andi.Mereka langsung memeluk Andi dengan mengatakkan "Kamu sudah kembali Nak!,Ibu bahagia kalau kamu sudah kembali.Ibu tidak menyangka kalau kamu selamat dari kecelakaan itu maut itu,Ibu sangat bersyukur atas keselamatan mu!."
Melihat hal itu Toni mulai mengepalkan tangannya dengan penuh amarah dan emosi.Tangan nya yang mengepal mulai gemetar lalu dengan nada tinggi ia langsung memanggil Andi dan membentak nya.
"Andi!!!,"ucap Toni dengan nada membentak,melihat hal itu semua orang langsung menatap ke arah Toni tak terkecuali Bu Ratna yang dan beberapa orang yang lainnya langsung terkejut setelah mendengar Toni teriak memanggil nama Andi.
"Apa maksud kamu Toni? Dia itu Juli bukan Andi,Andi sudah meninggal beberapa tahun lalu dia tidak mungkin Andi!,"ucap Bu Ratna dengan sedih dan bercucuran air mata.
Toni tak menjawab Bu Laras tetapi ia langsung pergi menghampiri Andi dengan sangat marah setelah ia sampai di depan Andi kedua tangan nya langsung mencekik leher Andi, "Kamu yang melakukan ini semua kan! Kamu! Kamu!."
Orang orang pun langsung berusaha memisahkan Toni dengan Andi,selama beberapa detik Andi di cekik oleh Toni namun akhirnya Andi pun dapat di selamatkan dari cekikkan tangan Toni dan ia langsung berusaha mengambil nafas,Andi juga terdengar batuk batuk setelah tangan Toni terlepas dari leher Andi.
Saat itu Toni di pegangi oleh beberapa orang dengan terus menerus teriak teriak memanggil Andi sebagai pembunuh ibunya,suasana saat itu tengah tegang suasana itu semakin menegang ketika terjadi perdebatan antara Bu Ratna dengan Adi.
"Apa semua ini Adi? Jelaskan ke Ibu apa yang sebenarnya terjadi?,"ucap Bu Laras dengan nada heran serta kebingungan lalu ia melanjutkan berkata"Kenapa Toni menyebut Juli dengan nama Andi padahal kamu tau kalau Andi sudah meninggal dalam kecelakaan itu!.Jelaskan ke Ibu dan Ayah!."
"Ibu aku minta maaf,sebenarnya dia bukan Juli dia Andi kita yang sudah kita anggap meninggal beberapa tahun lalu masih hidup!"jawab Inspektur Adi dengan nada rendah.
Mendengar jawaban itu Bu Ratna dan suaminya pun terkejut.Mereka terlihat tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Inspektur Adi namun Inspektur Adi terus membuat kedua orang tuanya bahkan ia menceritakan pertama kalinya ia mengetahui kalau orang yang mirip dengan Juli adalah Andi.
__ADS_1
Akhirnya lama kelamaan Bu Ratna dan suaminya pun percaya kalau dia itu Andi namun waktu itu Bu Ratna masih belum mengetahui kalau Andi adalah pelaku pembunuhan dari Juli dan yang lainnya.
Setelah mendengar kalau orang yang di tangkap adalah Andi Bu Ratna dan suaminya terlihat sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan,ia selalu mengucapkan syukur bersama dengan memeluk erat Andi.
Suasana pun berubah haru Toni yang awalnya marah tak terkendali kini ia mulai tenang setelah melihat kejadian itu.
"Maafkan aku Bu,aku sudah buat Ibu membohongi Ibu atas kematian ku!. Aku juga minta maaf karena sudah membohongi Ibu,"ucap Andi dengan mata berkaca kaca dan seolah ingin menangis.
Tiba tiba tanpa disadari oleh Andi air matanya pun langsung tumpah saat ia mengatakan permintaan maaf kedua kalinya kepada Ibunya.
"Jangan menangis Nak,Ibu berjanji akan melepaskan tangan kamu dari borgol ini,"ia pun menghentikan ucapnya lalu dengan membentak ia berkata"Lepaskan borgolnya!!!."
Mendengar bentakan dari Bu Ratna yang meminta polisi melepaskan borgol yang mengikat tangan Andi,Adi pun langsung terkejut dimana saat itu ia tengah menunduk sedih kini langsung berubah marah,matanya terbuka lebar seperti akan keluar.
"Aku katakan sekali lagi lepaskan borgolnya!!!,"ucap Bu Ratna dengan membentak para polisi yang berdiri di belakang Andi namun polisi polisi itu tidak menjawab Bu Ratna dan yang menjawab adalah Inspektur Adi.
"Borgol itu tidak akan lepas Maa!!," jawab Inspektur Adi dengan membentak Bu Ratna,mendengar jawaban Adi suami Bu Ratna pun menghampiri Adi
"Apa maksud kamu bilang seperti itu? Dia itu Adik kamu,Adik yang selama ini kita tunggu kedatangannya! Tapi kenapa? Kenapa kamu malah membiarkan dia berada di sel penjara?"ucap suami Bu Ratna dengan kesal dan marah kepada Adi.
"Karen dia itu tidak pantas keluar dari dalam penjara!!!."
Jawaban Inspektur Adi pun semakin membuat amarh di dalam diri ayahnya keluar,setelah mendengar hal itu ayahnya pun langsung menampar Adi.Adi pun hanya bisa diam sembalih memegangi pipi yang di tampar oleh ayahnya.
"Kalau kamu memang benci dengan Andi silakan,tapi kamu harus ingat kala dia itu Andi Adik kamu,"ucap Ayah Inspektur Adi dengan marah namun di situ Inspektur Adi berkata dengan lantang kalau Andi bukan Adik.
Mendengar jawaban itu Bu Ratna pun terkejut ia kemudian menghampiri Adi dan menampar Adi di pipi sisi lain,semua orang pun terkejut saat Inspektur Adi di tampar oleh orang tuanya.
"Kenapa kamu tidak bisa menerima kalau dia Andi adik mu? Kenapa?" ucap Bu Ratna dengan nada marah.
"Kalau pun aku harus menerima seribu tamparan dari Ibu dan Ayah atau pun kalau aku harus mati di tangan Ibu dan Ayah,sampai kapan pun aku tidak akan menerima dia sebagai Adik ku!,"jawab Adi dengan nada tinggi di depan Ibunya.
Mendengar semua itu Bu Ratna kembali berusaha menampar Adi namun saat itu Insektur Adi berhasil menangkis tamparan itu dan memegangi tangan ibunya lalu dengan nada serius.
"Jangan pernah Ibu menampar aku sebelum Ibu tau jati diri orang yang Ibu anggap Andi!!." Ia kemudian melepaskan tangan Ibunya perlahan, "Ibu dan Ayah boleh menganggap dia Andi tapi aku tidak, karena apa? Karena dia itu adalah seorang pembunuh!!."
Mendengar hal itu Bu Ratna tak percaya dan secara bersamaan Andi pun menundukkan kepalanya.
"Pelaku pembunuh Juli itu dia! Yang membuat Juli koma berulang kali itu dia.Kita kehilangan Juli juga karena dia Paah Maa,"ucap Inspektur Adi dengan sedih dan bercucuran air mata. "Mama boleh tidak percaya sama aku,tapi Mama harus ingat kita kehilangan Juli orang yang kita sayangi selama ini karena dia.Apa Mama lupa itu?"
Bu Ratna kemudian mendekati Andi lalu ia mempertanyakan apa yang di ucapkan Adi dan tak menunggu lama Andi pun menjawab anggukan.
Disitu air mata Bu Ratna pun tak bisa di bendung lagi ia menangis sejadi jadinya,tak berselang lama Inspektur Adi pun membantu Bu Ratna bangun dari duduknya di lantai.
Tak hanya itu suami Bu Ratna pun terlihat tak bisa berkata kata di depan umum ia terlihat hanya bersedih matanya terlihat memerah seakan menahan tangis serta duka yang teramat dalam.
Saat itu Andi pun hanya bisa menangis ia memanggil lirih ibunya yang di bawa pergi oleh Inspektur Adi dan begitu pula saat ayahnya juga meninggalkan dirinya dengan perasaan malu bercampur sedih bercampur marah.
Setalah kejadian itu Andi pun tidak jadi menemani ke pemakaman dan meminta polisi membawa dirinya ke kantor polisi saja.
__ADS_1