
Waktu berlalu begitu cepat, beberapa hari kemudian semua orang masih dalam keadaan yang berduka atas kehilangan Juli. Saat itu hari keadaan cuaca terlihat mendung dan terdengar petir dimana mana,saat itu sudah malam terlihat Toni duduk di ruang tamu dengan raut muka sedih.
Tak berselang lama hujan pun turun dengan sangat deras,beberapa saat kemudian Toni melihat seseorang berjalan dengan langkah pincang,berpakaian ****** camping, kepala yang di perban serta sikut kirinya di pun di perban.
Orang itu mendekati rumah Toni,perlahan lahan pada awalnya Toni tak mengetahui orang itu namun lama kelamaan ia tau bahwa orang yang berjalan mendekati rumah adalah orang yang terlihat mirip dengan Juli.
Melihat hal itu Toni langsung terkejut dan ia sangat terheran heran melihat orang itu Toni langsung berdiri dari duduknya.Ia pun berjalan perlahan lahan mendekati pintu saat ia sudah memastikan bahwa orang yang menghampiri dirinya mirip dengan Juli,Toni langsung berlari keluar rumah dengan teriak menyebut nama Juli sekencang kencangnya.
"Juliiiiii!!!"teriak Toni lalu langsung memeluk Juli di halaman rumah.
Juli terlihat hanya terdiam saat di peluk oleh Toni.Ia terlihat masih pucat,tak berselang lama Juli yang hanya diam saat di peluk Toni langsung pingsan di pelukan Toni.
Suasana bahagia pun berubah menjadi suasana kepanikan setelah Toni merasa orang yang mirip dengan Juli pingsan di pelukan.
"Kak,Kakak kenapa? Apa yang terjadi dengan Kakak?"ucap Toni dengan panik dan khawatir.
Ia kemudian mem bawa orang yang mirip Juli kedalam rumah.
Sesampainya di dalam ia membawa Juli masuk kedalam kamar lalu ia memanggil seorang dokter ke rumahnya.Tak berselang lama dokter pun datang ke rumah,saat dokter itu sampai di rumah dokter itu di sambut oleh Bu Laras dengan sinis.
"Dokter? Ngapain dokter kemari?.Di sini tidak ada yang sakit Dokter,pergi Sekarang!." Ucap Bu Laras lalu ia melanjutkan membentak dokter itu.
"Pergii!!!"dokter itu pun terlihat ketakutan dengan teriakan Bu Laras.
Mendengar Bu Laras teriak,Toni langsung keluar kamar dengan tergesa gesa dan betapa terkejutnya ia saat melihat Bu Laras mengusir dokter yang akan memeriksa orang yang mirip dengan Juli dari rumahnya.
"Maa tunggu Maa,jangan usir dokter itu!,"ucap Toni dan berusaha menghentikan Bu Laras mengusir dokter itu.
"Kamu pikir Ibu gila,iya!.Kamu tega memanggil dokter buat periksa Ibu,Ibu gak gila Toni!"ucap Bu Laras dengan nada tinggi dan marah.
"Maa,tolong tenang Maa.Dokter ini datang bukan untuk memeriksa Mama tapi orang lain,"jawab Toni dengan berusaha menenagkan Bu Laras namun tidak bisa Bu Laras semakin marah kepada Toni.
"Kamu itu pembohong Toni,kamu tega sama Ibu.Kalau kamu tega sama Ibu,Ibu juga bisa tega sama kamu ibu gak peduli kalau pun kamu anak ibu sendiri!!!."
Mendengar ucapan Bu Laras Toni langsung kesal dan ia langsung menarik Bu Laras ke dalam kamar yang di tempati orang yang mirip Juli di kamar.
Sesampainya di dalam kamar Bu Laras langsung terkejut karena ia melihat seseorang mirip dengan Juli terbaring di tempat tidur yang berada di rumahnya.
"Si... siapa dia Toni?" ucap Bu Laras dengan terbata bata dan gugup,ia juga terlihat tak percaya kalau Juli yang ia kira sudah meninggal kini kembali walau pun keadaannya sangat mengkhawatirkan.Bu Laras kemudian melanjutkan berbicara dengan heran dan tak percaya.
"Apakah dia Juli? Juli anakku."
"Iya Bu,dia Juli Kakakku dan anak Ibu yang dulu dianggap sudah meninggal kini dia sudah kembali!" ucap Toni dengan nada sedikit sedih.
Mendengar hal itu Bu Laras langsung perlahan lahan mendekati orang yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan mata berkaca kaca dan terdengar lirih saat Bu Laras mendekat ke arah orang yang mirip dengan Juli, ia sesekali memanggil manggil nama orang itu dengan sebutan Juli karena Bu Laras berpikir bahwa ia memang benar benar Juli anak yang selama ini di anggap sudah meninggal.
Bu Laras duduk di samping kanan orang yang mirip dengan Juli lalu ia memegangi tangan orang itu.
"Kamu kembali Nak,aku bersyukur kalau kamu sudah kembali.Dokter, kenapa Dokter diam saja? Cepat kemari periksa dia sekarang!!!." Bentak Bu Laras kepada Dokter agar ia memeriksa keadaan orang yan mirip dengan Juli itu dan setelah Dokter memeriksa keadaan orang yang mirip dengan Juli ia berkata "Dia baik baik saja,dia hanya pingsan tapi kalian jangan khawatir karena sebentar lagi dia akan segera sadar!."
"Baik Dokter terima kasih,"jawab Toni lalu mengantar Dokter itu keluar. Dokter dan Toni keluar dari kamar.
"Dokter maafkan perbuatan Ibu saya,juga saya berterima kasih kepada Dokter karena Dokter sudah mau datang ke tempat saya saat hujan hujan seperti ini." Ucap Toni merasa buruk.
__ADS_1
"Tidak apa apa Tuan ini sudah menjadi tanggung jawab saya,jangan khawatir," ucap Dokter lalu pergi dari tempat itu dan meninggalkan Toni di tempat itu.
Di dalam kamar Bu Laras terlihat masih duduk di samping Juli dengan menangis sesenggukan dan kedua tangannya memegangi tangan orang yang mirip dengan Juli itu.
"Ibu bahagia melihat kamu kembali lagi kemari Nak,Ibu sangat bersyukur atas keselamatanmu!.Ibu juga bahagia karena Ibu tidak kehilangan anak Ibu," ucap Bu Laras dengar berderai air mata.
"Iya Ibu,Ibu benar tidak akan terjadi sesuatu dengan Kak kita harus menjaganya dengan baik,"jawab Toni dengan baik.
Mendengar ucapan Toni Bu Laras perlahan lahan meletkan salah satu tangannya ke kepala orang yang mirip dengan Juli dan ia pun melanjutkan mengelus elus kepala orang itu dengan penuh kasih sayang.
Tak berselang lama orang itu terbangun dan perlahan lahan membuka matanya.Ia terlihat sangat kebingungan dengan tempat yang ia singgahi sekarang.
"Sekarang aku di mana?"ucap orang yang mirip Juli dengan kebingungan dan sesekali melihat sisi kenannya dan ke sisi kirinya.
"Kamu jangan khawatir,kamu sekarang berada di rumah kamu sendiri!,"jawab Bu Laras dengan bahagia dan menunjukan rasa bersyukur.
"Iya Kak ini rumah Kakak,"sahut Toni lalu orang yang mirip dengan Juli itu berusaha duduk,melihat hal itu Bu Laras membantu Juli duduk lalu setelah orang yang mirip dengan Juli itu berhasil duduk ia terlihat menengok kesana kemari dengan perasaan terlihat kebingungan.
"Ibu bahagia karena kamu selamat dari maut Nak,"ucap Bu Laras dengan bahagia .
"Tapi kalian siapa?"tanya Juli dengan kebingungan.
"Apa maksud kamu bilang seperti itu? Apa kamu tidak mengenali kami?"jawab Bu Laras dengan serius.
"Saya tidak mengenali kalian,"jawab orang yang mirip dengan Juli.
Mendengar hal itu Bu Laras langsung berkaca kaca dan menjauhi orang itu,ia langsung menghampiri Toni dan menangis di pelukan Toni. Lalu orang yang mirip dengan Juli.
"Yang saya ingat saat itu saya...,"lalu keadaan pun berubah.Saat itu terlihat orang yang mirip dengan Juli berada di rumah sakit ia terlihat kebingungan dan ketakutan.Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Tak berselang lama, seorang suster datang dan berusaha menenangkan dirinya namun ia tidak mau dan malah ketakutan dengan suster.Ia terlihat ketakutan seperti baru melihat hantu,ia langsung lari terbirit birit dan keluar dari rumah sakit setelah melihat orang orang itu.
Tak berselang lama ia berada di jalan raya dan ia melewati jembatan yang sama. Jembatan yang menjadi saksi penabrakan itu,saat Ia berada di tengah tengah jembatan itu ia sekilas mulai terbayang bayangi dengan kejadian saat penabrakan itu.Namun ia masih bisa mengendalikan itu dan ia pun melanjutkan perjalanan nya meninggalkan jembatan itu,ia hanya berpedoman kepada kakinya kemana kakinya melangkah ia tetap mengikuti nya dengan di temani suara petir yang bergemuruh disertai petir dimana mana.
Ia terus melangkahkan kakinya, tak berselang lama hujan pun turun dengan gemuruh petir mendampingi setiap langkahnya.Ia terus menerus melangkah dan langkahnya pun mengarahkan dirinya sampai di sebuah rumah yaitu rumah yang di tinggali oleh Toni.Ia terlihat basah kuyup dan beberapa saat kemudian keadaan kembali seperti semula.
"Setelah aku berhenti tiba tiba seseorang yang tidak aku kenal teriak memanggil nama Juli dan ia langsung memeluk aku,tak berselang lama aku tak sadar dan aku tidak ingat apapun.Setelah aku terbangun aku melihat kalian berdua,"ucap orang yang mirip dengan Juli itu.
Mendengar ucapan itu Bu Laras langsung memeluk orang itu.
"Tidak papa Nak yang terpenting kamu kembali kemari!."
Orang itu hanya terlihat tersenyum saat di peluk oleh Bu Laras.
Toni sangat terlihat bahagia dengan kembalinya Juli lalu ia menelepon Inspektur Adi.Saat ia berada di luar kamar,ia terlihat mengambil sebuah ponsel yang berada di sakunya.Setelah itu ia mengetik sebuah nomor dan mulai menelepon nomor itu.
"Halo Inspektur,"sapa Toni dengan nada bahagia.
"Iya Toni ada apa?"jawab Inspektur Adi dengan serius dan ia tengah duduk di samping meja yang di atasnya ter dapat sebuah foto dan barang bukti yang lain.
"Juli sudah kembali."
"Apa?!!"jawab Inspektur Adi dengan heran.
__ADS_1
"Kamu serius!,"ucap Inspektur Adi lalu berdiri dari duduknya dengan mata terbuka lebar dan terkejut.
"Iya saya serius Pak Inspektur,"jawab Toni dengan baik.
"Oke kalau gitu aku akan ke sana sekarang,"jawab Inspektur Adi lalu ia melanjutkan berdiri dan meninggalkan ruangan yang ia tempati dan pergi ke rumah Toni.
Di dalam kamar terlihat suasana sangat haru,Bu Laras menangis di samping orang yang mirip dengan Juli dan ia juga memegangi tangan orang itu.
"Nak maafkan Ibu karena ibu tidak bisa menjaga diri mu,seharusnya Ibu memberi tau kamu sejak awal kalau Ayah Toni sudah meninggal dunia mungkin inintida akan terjadi sama kamu dan kamu baik baik saja dan tidak ada yang terjadi sama kamu!" ucap Bu Laras dengan berderai air mata dan sesekali ia mencium tangan orang itu.
Tak berselang lama Bu Laras meninggalkan orang itu dengan raut muka sedih dan berlinang air mata.
Beberapa menit kemudian Inspektur Adi datang ke rumah Toni dengan ter buru buru.Sesampainya dia rumah Toni ia langsung di sambut dengan oleh Toni yang tengah duduk di ruang tamu dengan memegangi sebuah foto dan ternyata foto itu adalah foto Ayah nya Toni.
"Ayah kalau seandainya Ayah masih hidup,Ayah pasti sangat bahagia karena melihat Juli masih hidup dan ia baik baik saja walaupun ia lupa dengan kita semua tapi aku sangat bersyukur karena aku masih bisa melihat Juli bisa bergerak dan bernafas serta bisa berbicara,"ucap Toni dengan perasaan bahagia dan bersyukur.
Tiba tiba Inspektur Adi datang dengan ter buru buru dan nafas terengah engah,ia langsung melontarkan pertanyaan ke arah Toni yang tengah duduk di kursi dengan memegang foto ayahnya. Melihat Inspektur Adi datang dengan terburu buru dn gugup Toni pun langsung menaruh foto itu diatas meja dan menghampiri Inspektur Adi.
"Dimana Juli sekarang?"ucap Inspektur dengan nafas terengah engah dan gugup.
"Inspektur Adi,tenang.Kenapa Anda terlihat ke lelahan? Nafas Inspektur juga ngos ngosan."Ucap Toni lalu ia mengajak Inspektur Adi ke kamar yang di tempati Juli,sesampainya di dalam kamar ia melihat Juli tengah terbaring di atas tempat tidur dengan balutan perban dimana mana.
"Apa dia baik baik saja Toni?"tanya Inspektur Adi dengan sesekali melihat ke arah Toni dan juga melihat ke arah Juli yang tengah terbaring di atas tempat tidur.
"Dia baik baik saja,hanya saja ada satu hal yang membuat aku sedih,"jawab Toni lalu raut mukanya pun berubah menjadi sedih.
"Apa maksud dari ucapan kamu Toni?" tanya Inspektur Adi dengan heran.
"Inspektur bisa cari tau sendiri maksud saya ke Juli,"jawab Toni lalu ia melanjutkan mempersilakan Inspektur Adi mendekati orang itu.
Inspektur Adi mulai melangkahkan kaki perlahan lahan lalu ia duduk di samping orang itu dengan memegang tangan orang itu.
"Juli,bangun Juli."
Tak berselang lama Juli pun terbangun dan saat ia membuka mata ia langsung menarik tangannya dari tangan Inspektur Adi.Ia langsung ketakutan melihat Inspektur Adi,Toni langsung berusaha menenangkan Juli yang ketakutan melihat Inspektur Adi dan berusaha menjelaskan siapa Inspektur itu yang sebenarnya.
Toni pun menceritakan tentang Inspektur Adi yang sebenarnya,orang itu hanya mendengarkan cerita yang di ucapkan oleh Toni.Sedangkan orang itu hanya mendengar cerita dari Toni dan setelah Toni selesai menceritakan tentang Inspektur Adi,Inspektur Adi kemudian mendekati orang itu dan ia memeluk orang yang mirip dengan Juli itu.
Dia twrlihat hanya diam tanpa berkata kata saat di peluk oleh Inspektur Adi.
"Tidak papa kamu lupa dengan aku tapi yang terpenting kamu sudah kembali dengan selamat,"ucap Inspektur Adi sambil sesekali mengelus elus rambut orang itu.
Juli pun hanya menjawab anggukan dan senyuman setelah di peluk oleh Inspektur Adi.
" Sekarang kamu istirahat agar cepat sembuh dan pulih,"orang itu pun hanya menjawab anggukan lalu ia pun kembali beristirahat.
Setelah orang itu beristirahat Inspektur Adi dan Toni keluar dari kamar meninggalkan yang di tempati oleh orang itu.Setelah mereka berada di luar kamar Inspektur Adi dan Toni membicarakan tentang orang itu.
"Apa yang terjadi dengan dia?"tanya Inspektur Adi.
"Dia amnesia,dia lupa dengan semua orang tak terkecuali aku atau pun Ibu. Ini terjadi karena ia terjatuh dari jembatan waktu itu mungkin,"terang Toni kepada Inspektur Adi lalu Inspektur Adi pun langsung terkejut mendengarkan cerita yang di ucapkan Toni Inspektur Adi hanya bisa terdiam, mematung dan tak bisa berkata kata.
Ia hanya terlihat raut muka sedih dengan mata yang berkaca kaca seakan ingin menangis.
__ADS_1
"Inspektur jangan sedih,kita lebih baik bersyukur karena Juli masih selamat dari maut."
"Iya kamu benar,kalau begitu aku akan pergi dulu,"ucap Inspektur Adi lalu ia pergi meninggalkan Toni.