
Di rumah sakit, perasaan khawatir terlihat dari wajah Pak Roy, dia terus berjalan kesana kemari dengan sesekali melihat ke arah lampu yang bertuliskan operasi yang masih menyala.
Beberapa saat kemudian, Bu Endang datang dengan air mata yang terus mengalir dia menghampiri Pak Roy dan mempertanyakan keadaan Tama.
"Tama dimana? Dimana dia, aku ingin lihat?" ucap Bu Endang dengan khawatir dan mata yang penuh air mata.
Dia terus memaksa untuk masuk ke ruang operasi demi melihat keadaan
Tama, namun Pak Roy menolaknya. Dia menghentikan langkah Bu Endang dan mencoba menjelaskan kepada Bu Endang kalau Tama sedang di operasi.
"Kamu yang tenang, Tama akan baik baik saja. Dia sedang di ruangan operasi kamu jangan khawatir, dokter ahli sedang mengoperasi dirinya!" jawab Pak Roy.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Roy, Bu Endang terlihat diam. Air matanya terus mengalir di pelukan Pak Roy. Dia terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Setalah beberapa saat menyalahkan dirinya, Bu Endang menghentikan tangisnya dan dia melihat ke arah Pak Roy dengan tatapan penuh kesedihan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Bu Endang.
Pak Roy terdiam mendengar apa yang di tanyakan oleh Bu Endang. Dia kembali membayangkan ketika Tama di tusuk oleh si pelaku, tidak hanya itu dia juga membayangkan ketika pelaku itu berusaha menyerangnya dengan palu.
Ketika Pak Roy sibuk bercerita, salah satu dokter yang mengoperasi Tama, perlahan menjauhi Tama. Dia mengeluarkan sebuah botol suntikan yang bersisi racun.
Dia menyuntikkan racun itu ke tubuh salah satu dokter. Melihat hal itu beberapa suster yang berada di dalam ruangan itu sangat terkejut, dia berusaha untuk menyelamatkan diri dengan berlari dari kamar. Namun usahanya gagal, dokter palsu yang menyerang dokter. Dia melemparkan sebuah pisau ke kepala si suster hingga membuat suster jatuh ke lantai dan meninggal.
Saat semua perawat sudah meninggal, dokter palsu itu mendekati Tama. Dia memegang sebilah pisau dengan sangat erat. Perlahan dia melangkah kakinya mendekati Tama, saat dia sudah sangat dekat dengan Tama. Tanpa banyak berpikir, dokter palsu itu menusuk jantung Tama dengan pisau yang di pegang.
Darah pun langsung mengalir dari jantung Tama. Melihat itu dokter palsu itu menusukkan pisaunya semakin dalam. Dis tampak sangat benci dengan Tama.
Waktu berlalu begitu cepat, namun operasi yang di lakukan oleh para dokter dan suster itu masih saja tak kunjung selesai. Melihat hal itu, Pak Roy mencoba memeriksa dari kejauhan, namun dia tidak melihat apa apa, yang dia lihat hanyalah Tama yang terbaring lemah, tak berdaya .
__ADS_1
Merasa ada yang aneh, Pak Roy masuk ke dalam kamar.
"Kamu tunggu disini, aku mau periksa Tama dulu," ujar Pak Roy lalu dia masuk kedalam ruangan.
Saat berada di ruangan dia sangat terkejut karena melihat para dokter dan suster di dalam ruangan itu sudah tergeletak dengan keadaan berlumur darah, dengan pisau menancap di kepalanya dan yang lain lain.
Melihat hal itu, Pak Roy benar benar tidak bisa berkata kata. Matanya terbuka lebar, dan matanya di penuhi air mata. Menyadari telah terjadi sesuatu, Pak Roy bergegas menghampiri Tama namun terlambat Tama sudah meninggal karena tusukan di jantungnya, begitu orang yang lainnya.
Mendapati laporan pembunuhan di rumah sakit, Ferry bergegas pergi ke rumah sakit untuk mencari tahu siapa pelaku yang melakukan hal itu. Dia mengerahkan semua pasukan untuk mencari barang bukti pembunuhan yang di lakukannya.
Tak berselang lama, Ferry sampai di rumah sakit. Dia masuk ke ruangan operasi dan melihat mayat mayat mengenaskan tergeletak berlumuran darah.
"Pak Roy, apa sebelumnya bapak tidak mendengar atau melihat sesuatu dari dalam sini?" tanya Ferry dengan tegas.
"Pak saya tidak apapun, dan saya juga tidak melihat ada orang lain yang datang ke ruangan ini selain dokter dan suster," jawab Pak Roy dengan sedih. Dia tidak percaya kalau kedua anaknya kini meninggal dirinya.
Setalah kejadian itu dia tidak melihat ada hal hal yang aneh.
Melihat hal itu, Ferry berpikir sejenak. Dia juga memutar rekaman CCTV yang lain, namun tidak ada tanda tanda orang lain muncul di rekaman itu. Dia tidak melihat hal aneh yang tertangkap oleh kamera.
"Sungguh cerdiknya dia, dia memerintah orang lain untuk menusuk Tama lalu dia datang dan menyerang Tama ketika Tama sedang lemah, siapa orang yang melakukan ini?" tanya Ferry dengan wajah bingung dan terus kepikiran dengan si pelaku.
Hari pemakaman pun tiba, terlihat isak tangis terus mengiringi setiap langkah yang di ambil oleh keluarga Tama ke pemakaman. Mereka tidak percaya anak-anaknya sudah meninggal dirinya terlebih dahulu.
Ketika mayat Tama sudah di kubur dan para pelayat sudah pergi. Ayah Tama duduk bertekuk lutut di samping kuburan Tama. Dia terus menangis tanpa henti, dia tidak menerima anaknya sudah meninggal.
"Tama, kenapa kamu meninggal ayah begitu cepat? Kenapa? Maafkan ayah karena ayah tidak menjadi ayah yang baik untuk kamu dan Rey, maafkan ayah!." Tangis terus berderai membasahi mata Ayah Tama.
__ADS_1
Dia seakan hancur kehilangan kedua anaknya. Dia bertekad kepada dirinya sendiri, akan membalaskan dendam kepada pelaku yang membunuh Rey dan Tama. Dia akan mencari siapa pelaku yang melakukan ini kepada anak anaknya.
Di ruangan interogasi, pelaku yang menusuk Tama sudah di dudukkan di kursi kayu dengan kedua tangan terikat.
Plak!
Tamparan keras di berikan Ferry kepada si pelaku. Ferry terlihat sangat marah dan kesal dengan si pelaku yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Siapa yang menyuruh kamu?" bentak Ferry kepada si pelaku. Namun si pelaku hanya tersenyum menyepelekan Ferry.
Ferry yang bener benar emosi kembali menampar wajah dari pelaku agar si pelaku mau mengatakan kepada dirinya orang yang menyuruh dirinya.
"Katakan kepada ku, siapa yang menyuruh kamu?" bentak Ferry dengan nada tegas kepada si pelaku.
"Sampai aku mati pun, aku tidak akan memberi tahu kamu siapa bos ku, lalu apa yang akan kamu lakukan?" tantang si pelaku.
Mendengar tantangan itu, emosi Ferry semakin tidak terbendung, dengan tangan kanannya dia menampar si pelaku hingga si pelaku memalingkan wajahnya lalu dia mengulang hal yang sama dengan tangan kirinya. Melihat si pelaku tidak mengatakannya, dia mencekik pelaku dengan mendekatkan wajahnya ke wajah si pelaku.
Ferry menatap wajah si pelaku dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
"Katakan yang sebenarnya atau kamu mati di tangan ku," ancam Ferry agar si pelaku mengatakan siapa bosnya, namun hal itu tidak membuahkan hasil.
"Habisi aku, tapi kamu harus ingat. Jika aku mati, kamu tidak akan mendapatkan apapun dari ku," jawab di pelaku dengan tegas dan serius. Dia menatap wajah Ferry dengan menahan sakit dari cekikan tangan Ferry.
Mendengar hal itu, Ferry pun mengalah. Dia melepaskan cekikannya dan keluar dari ruangan interogasi.
Ketika Ferry keluar dari ruang interogasi, pelaku yang menusuk Tama hanya tersenyum dengan jahat.
__ADS_1