Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
25. Bohong


__ADS_3

     Waktu berlalu begitu cepat,tiga hari berikutnya keadaan Juli sudah mulai membaik walau pun ia masih belum sadar atau menunjukkan tanda tanda pergerakan.


Tak berselang lama di luar ruangan Toni datang dengan Ibunya, Bu Laras terlihat masih sedih dan masih melamun karena ia masih merasa kehilangan.


Mereka berdua pun menuju ke kamar Juli sesampainya di depan kamar Juli Bu Laras terlihat mulai meneteskan air mata setelah melihat Juli terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.Melihat ibunya menangis Toni langsung menghapus air mata ibunya.


"Ada apa Maa? Kenapa Mama menangis?"tanya Toni setelah ia menghapus air mata ibunya. Namun sang ibu tak menjawab sepatah katapun dan ia mengajak Toni pergi dari depan kamar Juli dan Toni pun mau pergi dari depan kamar Juli.


      Beberapa jam kemudian Juli mulai menunjukkan pergerakan beberapa jarinya,melihat pergerakan itu Bu Ratna dan Ayah Adi sangat bahagia.


"Paa,lihat jarinya Juli sudah menunjukkan pergerakan," ucap Bu Ratna dengan bahagia.


"Iya Maa,Juli bangun Juli,ini Ayah!" ucap Ayah Adi dengan membelai kepala Juli.


Tak berselang lama Juli pun membuka matanya perlahan lahan dan ia berkata dengan lirih.


"Ayah dimana?"


Melihat Juli sudah bangun Ayah Adi dan Bu Ratna sangat bahagia lalu ia memanggil manggil dokter untuk memeriksa keadaan Juli,tak berselang lama dokter dan beberapa sister pun memeriksa keadaan Juli.


Setelah dokter itu selesai memeriksa keadaan Juli dokter menghampiri Ayah Adi dan Bu Ratna.


"Ini kabar bagus Bu,Pak karena Juli sudah mulai pulih dan siuman." Mendengar ucapan dokter itu Ayah Adi dan Bu Ratna sangat terlihat bahagia.


"Tapi kalau pun sudah sembuh jangan di ajak banyak bicara terlebih dahulu karena itu akan membuat dia drop lagi nantinya!."


"Baik dokter," jawab Ayah Adi lalu dokter itu pun pergi meninggalkan mereka di dalam kamar Juli.


Mendengar bahwa keadaan Juli sudah membaik Bu Ratna pun menghampiri Juli dengan berlinang air mata dan ia kemudian duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Juli.


Melihat ada Bu Ratna yang menghampiri dirinya dengan berlinang air mata Juli pun menghapus air mata Bu Ratna dengan tangan kanannya.


"Jangan menangis aku tidak apa apa,"lalu ia tersenyum dan Bu Ratna pun juga ikut tersenyum bahagia.


Melihat hal itu Ayahnya Inspektur Adi pun juga ikut meneteskan air mata namun tak berselang lama ia ke luar dari ruangan itu untuk memberi tau Inspektur Adi yang tengah berada di kantor polisi karena ia tengah mengumpulkan bukti bukti.


"Halo Adi," ucap Ayah Adi setelah Inspektur Adi menerima telepon nya.


"Iya Ayah," jawab Inspektur Adi lalu melanjutkan berkata"Ada apa?"


"Juli sudah sadar," jawab Ayah Adi dengan bahagia.


"Papa gak bohongkan,Juli memang sudah sadarkan," ucap Inspektur Adi dengan tidak percaya.


"Iya Papa gak bohong."


"Syukurlah,kalau Juli sudah sadar.Tapi Paa aku mohon sama Papa tolong jangan beri tahu Juli tentang Ayahnya begitu pula Mama,jangan sampai kebahagiaan ini menjadi kesedihan lagi,"ucap Inspektur Adi  dengan baik.


"Iya Adi kamu jangan khawatir Papa tidak akan memberi tau Juli apa pun," jawab Ayah Adi lalu mematikan ponselnya.


      Di dalam ruangan Juli berusaha membuka alat oksigen yang ia gunakan,tak berselang lama Juli akhirnya bisa membuka alat itu.


Setelah alat itu berhasil di buka Juli langsung bertanya kepada Bu Ratna tentang Ayahnya.


"Dimana Ayah?"tanya Juli dengan keadaan masih lemah dan bersuara lirih.


Mendengar pertanyaan itu Bu Ratna terlihat kebingungan menjawab apa karena suaminya melarang dirinya memberi tau keadaan Ayahnya.


"Ayah disini!"jawab Ayah Adi lalu ia masuk kedalam kamar Juli dengan membawa sebingkai bunga untuk Juli.


Melihat hal itu Juli sedikit kesal tapi kekesalan itu hilang saat Ayah Adi membuat gerakan gerakan lucu untuk menghibur Juli.Juli pun perlahan lahan mulai tersenyum dan melupakan pertanyaan tentang Ayah nya.


Beberapa menit kemudian Inspektur Adi datang dengan salah satu anak buahnya,ia langsung masuk kedalam kamar Juli dan ia sangat bahagia melihat Juli sudah sembuh.

__ADS_1


Ia langsung berlari ke arah Juli dengan kaki yang masih pincang ,ia langsung memeluk Juli setelah dengan bahagia. Juli yang di peluk oleh Inspektur Adi hanya diam tak berkata apa pun, setelah beberapa saat Inspektur Adi memeluk Juli Inspektur Adi pun melepas pelukannya.


Setelah pelukan Inspektur Adi terlepas Juli pun kembali bertanya tentang keberadaan Toni dan yang lainnya.


"Dimana Ayah dan Toni Inspektur?"


Mendengar ucapan Juli Inspektur Adi terlihat terdiam beberapa saat dengan ekspresi muka memikirkan sesuatu


"Mereka berdua sedang ke kantor polisi untuk menengok Bu Laras!" jawab Inspektur Adi.


"Tanpa Aku, kenapa?Kenapa mereka meninggal kan aku?"jawab Juli dengan sedikit sedih.


"Mengapa kamu bicara seperti itu? Mereka tidak meninggalkan kamu. Mereka pergi saat kamu masih tidak sadarkan diri,"terang Inspektur Adi lalu ia melanjutkan "Kamu sekarang lebih baik tidur nanti kalau Ayah kamu kemari pasti dia akan bangunkan kamu."


"Iya Nak,"sahut Ayah Adi dan tak berselang lama Juli pun tertidur. Setelah itu Bu Ratna mengajak suaminya dan Adi keluar dari kamar Juli.


"Kenapa kalian bohong dengan Juli? Dia harus tau kalau Ayah nya sudah mmeninggal.Dia harus tau kabar duka itu!." Ucap Bu Ratna dengan kesal.


"Enggak Maa,Juli gak boleh tau kalau Ayahnya sudah meninggal kalau dia sampai tau maka keadaannya bisa kembali keritis Maa.Apa Mama tidak memikirkan itu? Apa Mama mau kalau Juli hanya berdiam diri di atas tempat dengan alat alat seperti?"jawab Adi dengan menjelaskan tujuannya membohongi Juli.


Bu Ratna hanya diam tak berkata apa pun,ia kemudian setuju dengan rencana Adi.


"Iya,kamu benar.Mama baru menyadari itu,tapi apakah kita akan terus menerus bohong dengan dia?" ucap Bu Ratna.


"Tidak Maa! Kita akan memberi tau dirinya tapi bukan sekarang waktu yang tepat untuk memberi tau kabar buruk ini ke dia,"jawab Inspektur Adi lalu ia kembali berkata"Sekarang aku akan kasih tau Toni tentang keadaan Juli."


Inspektur Adi kemudian pergi menjauhi orang tuanya yang berada di depan kamar Juli.Ia kemudian berkenti di sebuah tempat,ia kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengetik sebuah nomor dan menghubunginya.


"Halo Toni,"ucap Inspektur Adi setelah panggilan di terima oleh Toni.


"Iya Inspektur Adi,ada apa?" jawab Toni.


"Juli sudah sadar,tapi di terus menerus bertanya tentang kamu dan ayah kamu,"jawab Inspektur Adi.


"Iya Toni,saya tidak akan memberi tau Juli tentang semua ini terjadi,ya sudah kalau begitu aku matikan dulu!."


Inspektur Adi pun mematikan panggilannya lalu pergi kembali ke kantor polisi.


      Waktu berlalu cepat malam pun tiba, Juli terlihat sudah bangun dari tidurnya namun saat itu keadaan kamar sepi dirinya sendiri.


Di kesendiriannya ia terus menerus  menunggu kedatangan Toni dan Ayahnya namun mereka tak kunjung menjenguk dirinya.


Juli pun akhirnya mulai menaruh kecurigaan di dalam hatinya,tak berselang lama Bu Ratna masuk kedalam kamar Juli dan langsung menghampiri Juli.


"Nak kamu sudah bangun, gimana kabar kamu?" tanya Bu Ratna kepada Juli.


"Baik,dimana Toni dan Ayah?" jawab Juli dengan nada sedikit serius.


"Emmmm mereka lagi pulang ke rumah untuk ganti pakaian ,"jawab Bu Ratna dengan sedikit merasa tidak enak.


Juli pun menjawab senyuman kecil di mulutnya dan ia terlihat kembali percaya dengan ucapan Bu Ratna walau pun tidak sepenuh hatinya.


Waktu berlalu begitu cepat, malam hari pun tiba saat itu waktu menunjukkan pukul 20:45malam namun masih tidak ada kabar atau tanda tanda kedatangan Toni maupun Ayahnya.


Kecurigaan Juli pun semakin mencuat saat itu terlihat Bu Ratna tengah tertidur di samping tempat tidur Juli,saat itu Juli terlihat berusaha turun dari tempat tidur namun tiba tiba Juli di hampiri seorang suster hal itu membuat Juli tidak jadi turun dari tempa tidur.


"Jangan turun dari tempat tidur Tuan keadaan Anda masih belum pulih ," ucap suster itu. Dia meletakkan sebuah kotak hadiah yang isinya suatu benda yang penting.


Suster itu pun membantu Juli lalu setelah Juli kembali duduk  tenang di atas tempat tidur Suster itu mengambil kotak hadiah itu dan memberikan hadiah itu kepada Juli.


"Ini,saya mendapatkan titipan katanya ia mengaku kalau dia adalah teman Anda,"ucap suster itu lalu memberikan hadiah itu dan Juli pun menerima hadiah itu.


"Ini buat saya Sus,Apa Suster tau siapa pengirimnya?" jawab Juli setelah menerima kotak itu.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak tau siapa pengirimnya namun yang saya ketahui Ia mengaku sebagai teman Anda," Jawab Suster itu lalu Juli berterima kasih kepada suster itu.


Tak berselang lama suster itu pergi.


Setelah Suster itu pergi Juli pun membuka kotak itu ,saat ia membuka kotak ia melihat sebuah kertas dan beberapa foto yang di masukkan ke dalam sebuah amplop berwarna cokelat.


"Sebuah surat? Surat apa?"ucap Juli dengan heran lalu ia membuka surat itu dan saat di buka terdapat sebuah tulisan di kertas itu.Tulisan itu berwarna merah darah.


"Aku ikut berduka cita untuk tiga hari yang lalu atas kepergian Ayah Tersayang mu Tuan Hadi!!!."


Membaca tulisan itu Juli langsung terkejut dan bertanya tanya"Apa maksud dari semua ini?"


Juli kemudian membuka anplob yang berwarna cokelat itu dan saat anplob sudah terbuka Juli melihat beberapa foto,foto itu adalah foto saat Ayah Toni di temukan berlumuran darah lalu foto saat Toni dan Bu Laras menangis di samping jenazah Ayahnya dan foto saat pemakaman Ayah Toni.


Melihat foto foto itu Juli sangat terkejut ia tak bisa berkata kata,ia mulai meneteskan air mata.


Ia kemudian turun dari tempat tidur dan ia langsung terjatuh ke lantai karena kaget ada yang jatuh Bu Ratna pun langsung terbangun dari tidurnya,ia sangat terkejut saat melihat Juli beras di lantai dengan kesakitan dan berderai air mata.


"Kamu kenapa Nak? Kamu gak papa kan?"tanya Bu Ratna lalu berusaha membantu Juli bangun namun Juli bisa bangun sendiri dan setelah ia ber hasil bangun ia berbicara dengan nada kesal.


"Aku sakit Bu,sakit!"jawab Juli dengan nada kesal bercampur sedih, bercampur marah juga menangis.


Mendengar hal itu Bu Ratna langsung panik dan memeriksa keadaan Juli namun saat tangan Bu Ratna memegangi tangan Juli namun Juli menghempaskan tangannya hingga tangan Bu Ratna terlepas.


"Aku tidak sakit fisik Bu Ratna tapi hati saya yang sakit,semua itu karena keluarga Bu Ratna.Kalian semua itu pembohong! Pembohong!"jawab Juli dengan nada yang semakin meninggi di luar ruangan Inspektur Adi dan Ayahnya yang baru sampai setelah ganti baju langsung panik saat mereka mendengar teriakan dari Juli.


Setelah berada di dalam kamar Juli mereka langsung terkejut karena melihat Juli sudah berdiri dan saling berhadap hadapan dengan Bu Ratna.


"Ada apa ini?"tanya Inspektur Adi dengan heran.


"Inspektur tanya ada apa? Sesuatu sudah terjadi tapi tidak ada yang memberi tau aku! Tidak ada! Hanya ke bohongan yang kalian ucapkan,tidak ada yang lain,"jawab Juli dengan keadaan yang masih seperti orang mabuk karena ia masih belum bisa menyeimbangkan keadaannya.


"Kebohongan apa yang kami ucapkan? Hingga membuat kamu begitu sangat marah dengan kami,"ucap Inspektur Adi dengan heran.


"Kebohongan?! Baiklah aku akan katakan.Tadi siang aku tanya dimana Toni dan Ayah? Dan jawaban kalian Ayah dan Toni sedang berkunjung ke penjara lalu siapa? Siapa yang tergeletak di tanah dengan bersimpah di foto ini?"jawab Juli dengan nada yang semakin meninggi lalu ia melempar salah satu foto ke arah Inspektur Adi.


"Lalu siapa? Siapa yang tergeletak di lantai?Dan Bu Ratna bukankah Bu Ratna yang menyuruh aku untuk memanggil Bu Ratna dengan sebutan ibu lalu? Apa seperti ini cara menjadi ibu dengan  membohongi anak anaknya.Iya,"ucap Juli dengan marah hingga ia tak mempedulikan dirinya lagi.


Bu Ratna menggelengkan kepalanya saat Juli mengatakan hal itu di depan dirinya.Ia terlihat menangis dari awal.


"Tadi ibu mengatakan kalau Ayah dan Toni pergi menganti pakaian lalu,lalu siapa yang di makamkan tiga hari yang lalu? Siapa Bu Ratna?" ujar Juli melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.


"Maaf Nak kami melakukan ini demi kebaikan kamu,tidak demi kebaikan ke orang lain,"jawab Bu Ratna dengan sedih dan berlinang air mata.


"Kalau pun itu demi kebaikan ku,apa kah tidak ada cara lain selain bohong? Apakah tidak bisa menjelaskan dengan perlahan?"jawab Juli dengan air mata yang berderai.


"Nak!." Ucap Bu Ratna namun Juli memotong ucapan Bu Ratna dengan memberi tanda seperti menghentikan.


"Juli dengarkan penjelasan kami," ucap Inspektur Adi.


"Iya Nak dengarkan penjelasan kami terlebih dahulu!." Sahut Ayahnya.


"Stop! Jangan bohongi aku lagi aku tidak akan percaya lagi dengan kalian!"jawab Juli lalu ia menarik infus yang menempel di tangan kirinya lalu ia langsung mengerang kesakitan setelah melepaskan infusnya.


"Nak Bapak mohon jangan lakukan lagi semua ini,Bapak mohon jangan buat kamu jatuh sakit lagi,"ucap Ayah Adi dengan sedih.


"Aku... Tidak butuh kepedulian mu!," jawab Juli kemudian melangkahkan kaki meninggal kan kamarnya dengan sempoyongan.


Keluarga Adi pun mengikuti Juli dari kejauhan,saat Juli berada di luar kamar ia tak sengaja menabrak suster yang membawa pisau serta gunting yang tajam.


Salah satu pisau itu di injak oleh Juli hingga membuat kakinya mengeluarkan darah dan meninggalkan noda darah di sepanjang lorong yang ia lewati.


Juli terlihat tak mempedulikan lukanya dan tetap melanjutkan perjalanan nya, berbeda dengan Juli Bu Ratna terlihat khawatir dengan luka yang berada di kakinya.Namun ia tak bisa apa apa karena Juli tak bisa di hentikan oleh siapapun bahkan dokter yang merawat dirinya.Ia tetap pergi meninggalkan rumah sakit dengan keadaan masih belum kuat seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2