Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
40. Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

     Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah. Suasana rumah sangat sunyi.Mereka duduk di kursi dengan raut muka yang sedih. Waktu 24 jam yang di berikan kepada Andi akan segera berakhir.


Suasana seketika berubah, ketika seorang misterius berdiri di dekat jendela rumah dan memukul kaca jendela yang berada di dekat pintu rumah.


Hal itu membuat keluarga Andi terkejut dan berdiri dari duduknya, Andi menghapus air matanya dan keluar dari rumah. Saat ia berada di luar rumah tidak ada seorang pun di luar rumah namun, Andi dan keluarganya mendengar orang itu memecahkan kaca jendela yang ada di rumah itu untuk memberi teror.


Mereka semua pun bertanya tanya tentang siapa orang yang berusaha membunuh mereka namun tidak ada satu pun yang bisa menjawabnya.


Mereka kemudian masuk kedalam rumah karena mereka merasa kalau mereka berlama lama di luar maka nyawanya akan dalam bahaya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah,sesampainya di dalam rumah mereka saling melindungi satu dengan yang lain.


Tiba tiba keadaan berubah panik saat sebuah bom atom di lemparkan ke dalam rumah saat itu Andi yang melihat bom itu karena syok melihat bom itu Andi pun langsung teriak meminta untuk semua keluarganya tiarap mendengar teriakan itu keluarganya pun langsung bertiarap di lantai rumah.Namun saat mereka sudah bertiarap selama beberapa detik bom itu ternyata tidak meledak dan secara bersamaan polisi pun datang untuk menjemput Andi.


Mereka sempat heran dengan apa yang di lihatnya karena keluarga Andi melakukan tiarap di lantai.Atasan Inspektur Adi pun mengambil mainan itu dan melihatnya lalu dengan tertawa kecil melihat kelakuan keluarga Andi yang tiarap akibat bom mainan.


"Kalian ini kenapa? Apa yang kalian lakukan?"ucap atasan Inspektur Adi lalu ia melanjutkan, "Ini hanya bom mainan jadi kalian jangan takut!."


Mendengar hal itu Andi dan keluarga nya bangun dari tiarapnya


"Bapak?"ucap Andi setelah melihat atasan dari Inspektur Adi.


"Apa yang terjadi? Kenapa kaca kaca jendela ini pecah?"


Setelah mendengar pertanyaan itu Andi pun langsung menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya namun tiba tiba keadaan berubah saat seseorang berpakaian serba hitam menembak jendela hingga kaca pecah berantakan.


Orang itu  masuk kedalam rumah dengan sombongnya, tak berselang lama, beberapa kali terdengar suara tembakan dan anak buah dari atasan Inspektur Adi pun mati tertembak semua hanya tersisa atasan Inspektur Adi dan orang itu yang saling mengarahkan pisau ke orang misterius itu begitu pula orang misterius itu yang mengarahkan pistolnya ke atasan Inspektur Adi.


"Apa kamu berani menembak seorang polisi? Kalau kamu berani menembak polisi maka hukuman kamu akan lebih berat dari hukuman kematian!." Ucap Adi dengan nada tegas.


Medengar ucapan atasan Inspektur Adi orang itu pun memasukkan pistolnya ke tanah namun atasan Inspektur Adi tidak menyadari kalau tangan kirinya meraba ke pinggangnya,setelah orang itu menaruh Pistol itu di tanah ia langsung melemparkan pisau yang ia tarik ke arah polisi itu dan pisau itu melayang saat polisi itu ingin menghindar ia sudah terlambat karena  pisau itu sudah menusuk jantung polisi itu dan secara perlahan tubuh polisi itu melayang dan jatuh menimpa anak buahnya.


Orang itu perlahan mendekati keluarga Adi dengan pisau di tangan kiri dan pistol di tangan kirinya.Saat itu Bu Ratna terlihat ketakutan dengan orang itu namun tidak dengan Andi dan Inspektur Adi,mereka terlihat berdiri di melindungi Bu Ratna dan suaminya.


"Siapa kamu sebenarnya? Dan apa tujuan kamu melakukan ini?"ucap Andi dengan nada serius namun orang itu tidak menjawab sepatah kata pun ia hanya meletakkan pisaunya dan pistolnya ke wadah.


Melihat hal itu Andi pun memberanikan diri memegang penutup kepala orang itu namun karena hal itu ia terluka karena orang itu menembak tangan Andi namun tidak sampai mengenai tangannya hanya menyerempet, melihat hal itu Andi pun langsung teriak kesakitan dan ia langsung menjauh dari orang itu.


Melihat adiknya di sakiti oleh orang itu Inspektur Adi pun langsung marah dan menarik kerah orang itu.


"Berani sekali kamu menyerang Adikku, hah?" Ucap Inspektur Adi.


Namun tiba tiba Door!....


Suara tembakan terdengar dan Inspektur Adi pun langsung teriak kesakitan karena kakinya di tembak oleh orang itu melihat anaknya di tembak oleh orang itu Bu Ratna pun langsung maju dan membela anak anaknya.


"Siapa kamu sebenarnya berani sekali kamu menembak anak anak ku?"ucap Bu Ratna dengan nada marah dan serius.


Orang itu kemudian menjatuhkan pistolnya dan ia memegangi tangan Bu Ratna dengan kedua tangannya lalu secara perlahan lahan orang itu melepas tangan Bu Ratna,setelah tangan terlepas orang itu kemudian secara perlahan lahan membuka penutup kepalanya.


Setelah penutup kepalanya terbuaka Andi,Bu Ratna,Suaminya dan Inspektur Adi terlihat sangat terkejut karena ia melihat Juli berdiri di hadapan Bu Ratna dengan mata yang berkaca kaca.


"Ju... Juli,"ucap Bu Ratna dengan terkejut sontak secara perlahan lahan air mata Bu Ratna menetes setelah ia melihat Juli yang di kabarkan sudah meninggal karena kecelakan itu.


"Iya aku! Aku Juli masih hidup!."


Mendengar jawaban Juli Bu Ratna pun langdung tidak bisa membendung air matanya lagi,ia sedih bercampur bahagia namun tidak dengan Juli.Bu Ratna pun langsung memeluk Juli begitu pun suaminya,mereka selama beberapa detik memeluk Juli.

__ADS_1


"Lepaskan aku!"ucap Juli setelah menerima pelukan Bu Ratna dan suaminya,Juli mengatakannya dengan ekspresi muka kosong.


Melihat Bu Ratna tidak melepaskan dirinya Juli pun langsung memberi bentakan serta dorongan kepada Bu Ratna dan suaminya."Aku bilang lepaskan aku, apa kalian itu tidak memgerti maksud ku?,"ucap Juli dengan membentak Bu Ratna dan suaminya karena ia tidak melepaskan pelukannya.


"Juli!!!"sahut Andi dengan membentak Juli lalu ia maju dan menarik kerah Juli lalu dengan nada serius ia melanjutkan, "Jangan pernah kamu membentak Ibu ku!." Dengan raut muka serius Juli memegangi tangan Andi secara perlahan lahan dan semakin lama semakin erat hingga membuat Andi teriak kesakitan berulang kali.


Melihat Andi di sakiti oleh Juli Bu Ratna pun tak terima dan langsung menampar Juli hingga wajahnya berpaling dari Andi dan tangannya pun terlepas dari Andi lalu dengan nada serius Bu Ratna berkata, "Jangan pernah lagi kamu melakukan hal itu lagi dengan anak ku Juli kalau kamu melakukannya lagi aku tidak akan segan segan menampar kamu lagi untuk yang kedua kalinya ingat itu!!!."


Juli pun hanya mendengarkan ucapan Bu Ratna lalu tangan kirinya mulai meraba pipi yang di tampar Bu Ratna setelah itu ia menurunkan tangannya dan menatap ke arah Bu Ratna dengan tatapan mata yang tajam.


Plaak... Plaak... Plaak...


Juli pun bertepuk tangan.


"Kalian memang hebat. Kalian saling melengkapi,kalian saling menyayangi," ucap Juli lalu berubah menjadi bernada serius"Dan kalian saling menyerang!!."


Ia kemudian mengambil pistol dan mengisi pistol itu dengan beberapa peluru setelah semua itu sudah wadah peluru terisi Juli mulai berjalan menjauhi mereka dan keluarga Adi pun hanya bisa memandang Juli.


"Vas yang bagus.Tapi sayang,tidak akan bertahan lama," ia kemudian mengarahkan pistolnya ke arah Vas itu dan tak berselang lama suara tembakan pun terdengar lalu beberapa menit kemudian vas itu hanya berantakan.Keadaan sangat menegang kan saat Juli perlahan lahan berjalan mendekati keluarga Adi dengan membawa pistol di tangannya.


"Aku minta maaf karena aku kamu jadi seperti ini,"ucap Andi dengan menyesal


"Hanya kamu yang salah!."


Jawaban Juli pun langsung membuat Andi dan orang orang yang berada di dalam rumah itu diam.


Melihat hal itu Juli pun langsung mencekik leher Andi dengan kedua tangannya,melihat ke dua tangan Juli mencekik leher Andi Bu Ratna dan yang lain berusaha memisahkan mereka berdua namun kemarahan Juli tidak terbendung ia melepaskan salah satu tangannya lalu menyerat Andi ke tembok yang tak jauh dari mereka.Ia kemudian membenturkan kepala Andi ke tembok itu hingga kepala Andi mengeluarkan darah.


"Apa kamu sudah gila Juli? Kenapa kamu melakukan ini ke anak saya?" ucap Bu Ratna dengan nada marah lalu ia membantu Andi yang terlihat lemas akibat benturan itu.


"Ya aku memang sudah gila,semua ini gara gara anak Ibu!,"jawab Juli dengan nada marah


Mendengar jawaban Bu Ratna Juli pun tertawa terbahak bahak


"Apa ingat saat aku pertama kali koma? Beberapa hari kemudian aku sadar lalu ada sebuah kejadian di mana aku di siksa oleh seseorang apa Ibu ingat?" ucap Juli lalu Inspektur Adi dan yang lainnya ingat kejadian saat penemuan ku yang saat itu tengah berada di kamar dengan berlumur darah.


Juli melanjutkan berkata, "Apa yang aku lakukan saat ini tidak sebanding dengan apa yang anak Ibu lakukan kepada saya.Dua kali.... Oh maaf bukan dua kali tapi tiga kali!. Tiga kali dia ingin menghabisi saya!.  Pertama,saat aku bangun dari koma,kedua saat aku sadar dari koma ku yang kedua kalinya dan yang terakhir dia berusaha melenyapkan aku dengan menabrak aku saat di jembatan.Dan kalian melihat itu semua!."


Mendengar penjelasan Juli Bu Ratna pun langsung menangis dan orang orang mendekat ke Andi lalu dengan sedikit tidak percaya Ayahnya bertanya kepada Andi.


"Andi itu tidak benarkan? Kamu bukan orang yang mencelakai Juli kan?"tanya ayahnya Andi.


"Iya Andi bukan kamu kan?" sahut inspektur Adi


"Ma... Maaf Paa,"jawab Andi dengan terbata bata dan ia langsung terkejut dan ia menjauhi Andi begitu pula Adi. Namun tidak dengan Bu Ratna ia tetap memegangi Andi walaupun ia terlihat sangat sedih.


"Dia harus menerima hukuman atas semua yang sudah ia lakukan kepada ku,dia harus mati!!!,"jawab Juli dengan nada serius lalu ia melanjutkan, "Kalau dia tidak mati maka kalian semua akan mati!."


"Jangan pernah sakiti keluarga ku Juli, aku mo...mohon sama kamu,"jawab Andi dengan terbaring di pangkuan Bu Ratna"Ka.... Kalau kamu ma... Mau aku mati aku akan lakukan!"


"Baiklah."


Juli pun pergi meninggalkan mereka untuk mengambil sesuatu namun yang di ambil adalah jerigen yang berisi bensin.Setelah ia mengambil jerigen itu ia meletakkan jerigen itu di sampingnya.Melihag hal itu itu Ayah nya Adi pun bertanya dengan ketakutan.


"Apa yang akan kamu lakukan?"ucap ayah adi dengan ketakutan lalu mendekati Juli .


"Aku akan membuat api unggun Om."

__ADS_1


Mendengar ucapan itu Ayahnya Adi pun terlihat sangat ketakutan namun ia tidak mengatakannya,beberapa saat kemudian Juli membuka penutup jerigen itu dan menyiramkan bensin ke tubuh Andi.Melihat hal itu Ayah Adi pun langsung menampar Juli hingga membuat tangannya membekas di pipi Juli,lalu dengan nada marah.


"Apa kamu akan membakar saudara kamu sendiri, hah? Apa kamu akan melakukannya?"ucap Ayahnya Andi dengan nada marah.


Mendengar hal itu Inspektur Bu Ratna,Andi dan Inspektur Adi pun langsung terkejut dan heran.


"Apa maksud Ayah bilang seperti itu?" ucap Inspektur Adi dan berhenti beberapa saat setelah itu ia melanjutkan berkata"Kenapa Ayah mengatakan kalau Andi adalah saudara Andi?"


Ayahnya pun hanya membungkam tak berkata sepatah kata pun kepada Adi, melihat hal itu Adi pun perlahan lahan mendekati ayahnya.


Setelah ia berada di dekat ayahnya ia kembali menanyakan tentang maksud dari ucapan ayahnya namun ayahnya masih tetap membungkam.


Melihat itu Juli pun berjalan mendekati Adi dan ayahnya,setelah ia berada di dekat ke dua orang itu Juli mendorong Inspektur Adi hingga jatuh ke lantai lalu dengan nada serius Juli berkata dengan tatapan penuh dendam dan amarah.


"Dengarkan aku baik baik!.Aku tidak peduli mau kamu Ayahku atau bukan tapi yang jelas,menghabisi Toni saja aku mampu! Lalu? Mengapa tidak dengan Andi? Orang yang selama ini ingin aku mati!." Juli menarik kerah ayahnya dan melanjutkan berkata dengan nada serius. "Jangan pernah kamu meremehkan aku lagi, ketika aku mengatakan kamu semua akan mati maka kalian semua harus mati!!!."


Juli kemudian mendorong ayahnya dan melepaskan kerah ayahnya,ia pun pergi menjauhi ayahnya namun saat Juli akan melangkahkan kaki ayahnya memohon maaf kepada Juli dengan duduk bersendekul memegangi tangan Juli dengan berurai air mata.


"Maafkan Ayah,"ucap Ayahnya Adi.


"Pa,Papa kenapa minta maaf sama dia,dia itu ingin membunuh anak kita," sahut Bu Ratna.


"Diam Ma! Diam! Biarkan aku minta maaf dengan Juli! Aku minta maaf Juli," bentak Ayah Adi dan langsung membuat Bu Ratna diam.


Mendengar permohonan maaf dari ayahnya kemarahan Juli semakin membeludak,ia tak bisa mengontrol dirinya.


"Maaf! Maaf! Dan maaf!.Apa tidak kamu itu pantas di maafkan?"


Ucap Juli lalu dengan penuh emosi ia menarik tangannya yang di pegang Ayahnya.


"Apa yang di lakukan suami ku hingga kamu begitu marah dan tidak bisa memaafkan dia?"jawab Bu Ratna.


"Oh jadi,kamu tidak memberi tahu apa pun ke Bu Ratna!.Baiklah,aku akan memberi taukan nya!."


"Apa kamu tau tentang semuanya?," tanya Ayah Adi saat ia mendengar Juli akan memberi tahu semuanya.


Juli kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah ayahnya lalu berkata dengan nada serius dan tegas


"Kalau seandainya aku tidak tau mana mungkin aku merencanakan ini semua nya.Aku tau rahasia besar yang kamu sembunyikan bertahun tahun dari semua anggota keluarga,maka dari itu aku merencana kan pembunuhan beserta balas dendam hingga aku harus mengorbankan Toni sebagai penyempurnaan rencanaku!."


Ia kemudian menjauhkan dirinya dan mengambil pistol lagi lalu ia mengarahkan pistol itu ke arah Andi, melihat hal itu ayahnya pun berusaha bangun untuk menghalangi Juli namun saat ayahnya ingin bangun Juli mengarahkan pistolnya ke arah ayah Adi dan langsung menembak kaki ayah Adi.Setelah itu Juli kembali mendekati ayahnya.


"Jangan pernah kamu berusaha menghalangi aku kalau kamu tidak ingin nyawa kamu hilang sebelum aku maafkan!." Ucap Juli ketika di dekat ayahnya.


Andi kemudian berusaha bangun untuk memisahkan Juli dari ayahnya dan ia pun berhasil bangun lalu ia mengambil jerigen yang masih ada bensinnya.Ia kemudian berusaha menyiramkan bensin itu ke Juli namun saat itu Juli berhasil menghindar dan bensin itu malah menyiram ke arah ayahnya.


Melihat hal itu Juli sangat bahagia namun tidak dengan Bu Ratna dengan Adi,mereka terlihat terkejut dengan tindakan Andi yang menyiram ayahnya.Bu Ratna pun langsung berdiri menghampiri Andi.


"Kamu gila Andi,kenapa kamu melakukan itu?"ucap Bu Ratna dengan marah.


"Aku tidak sengaja Bu!."


"Dia pantas mendapatkan hukuman!," sahut Juli yang berdiri di belakang Andi.


Dia memukul Andi  dengan Kursi dan secara bersamaan Inspektur Adi terik untuk memberi tahu Andi namun terlambat Andi pun langsung mendapatkan hantaman dari Juli di kepala bagian belakang Andi.


Tak berselang lama Andi pun langsung Jatuh tersungkur di depan Ayahnya, suasana pun langsung berubah kepanikan Inspektur Adi terlihat sangat khawatir melihat keadaan Andi. Ia pun bangun dari duduknya dengan sesekali mengerang kesakitan dan juga berjalan pincang,tak hanya itu ke panikan juga di lihat di Bu Ratna dan ayahnya.Melihat hal itu Juli pun terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Andi Andi dan Andi!.Apakah kalian tidak pernah peduli dengan Juli?,"ucap Juli dengan nada tinggi dan matanya berkaca kaca"Kalau memang kalian menganggap Juli sudah mati,maka Andi juga harus mati!."


Juli pun kemudian meneteskan air mata dan ia mengarahkan pistol itu ke arah Andi.


__ADS_2