
Keesokan harinya, orang orang berbondong-bondong mengerubungi mayat Ferry yang baru saja di temukan.
Saat itu banyak orang bertanya-tanya tentang mayat laki-laki yang tergeletak di tengah jalan.
Beberapa saat kemudian, Ayah Tama berniat mencari udara di luar rumah. Merasakan ada yang aneh, Ayah Tama keluar rumah dan bertanya kepada salah satu tetangganya.
"Ada apa ini Mas?" Tanya Ayah Tama dengan keheranan.
"Pak Roy, polisi baru saja menemukan seorang mayat laki laki."
Mendengar apa yang dikatakan oleh tetangganya, Pak Roy bergegas pergi menuju ke tempat TKP. Sesampainya di tempat itu Pak Roy melihat orang garis polisi sudah terpasang di sekitar mayat. Tidak hanya itu, dia juga melihat sepeda motor yang di pakai oleh Ferry.
Melihat hal itu, Pak Ferry sangat terkejut. Dia tidak percaya kalau Ferry yang menjadi korban dari kejahatan si pelaku, melihat Ferry tergeletak di jalan dengan berlumur darah. Pak Roy melangkah mundur menjauh dari tempat kejadian.
Melihat kematian Inspektur Ferry, wajah takut menyelimuti hati Pak Roy. Dia bener bener tidak berbau untuk keluar dari rumah.
Isak tangis terdengar di rumah Inspektur Ferry, orang tua Inspektur Adi tidak terima karena anaknya meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar. Kasus ini pun di ambil alih oleh seorang polisi baru, bernama Oki.
"Ibu tenang saja, aku akan buka dan hukum pelaku yang sebenarnya," ujar Oki.
Oki adalah adik kandung dari Ferry, dia juga seorang polisi, namun baginya dari kasus yang sudah di tanganinya sebelum sebelumnya, kasus kakaknya sangat langka karena pelaku yang membunuh orang orang adalah seseorang yang sangat cerdas.
Dia meninggal bukti pisau namun dia tidak meninggalkan sidik jadi di jenasah ataupun di pisau.
Beberapa saat kemudian, Ayah Tama datang ke rumah Ferry dengan di dampingi oleh beberapa anak buah Inspektur Ferry.
Melihat kedatangan Ayah Tama, tatapan sinis di berikan Oki kepada Ayah Tama. Oki curiga kalau pelaku dari semua masalah ini adalah Ayah Tama. Namun saat itu, Oki masih menutupi rasa curiganya dengan bersikap baik kepada Pak Roy.
__ADS_1
"Aku ikut berduka cita ya, semoga Inspektur Ferry bisa tenang di alam sana," ucap Pak Roy dengan baik. Dia terlihat sedih atas kepergian Ferry.
"Terimakasih Pak Roy," jawab Ibu Ferry dengan sedih dan berurai air mata.
Pemakaman mayat inspektur Ferry pun berjalan dengan lancar, semua orang sudah pergi menyisakan Pak Roy, Bu Endang, Oki dan Ibu Ferry. Saat itu Pak Roy dan Bu Endang berniat untuk meminta izin berpamitan kepada Oki dan Ibu Ferry.
"Bu, yang sabar ya. Jangan menangis terus, saya yakin Inspektur Ferry sudah tenang di alam sana," ucap Pak Roy menangkan ibu Ferry.
Saat itu Ibu Ferry hanya diam dengan memegangi batu nisan anaknya, melihat hal itu Pak Roy hanya diam. Dia berbalik dan pergi, namun saat baru beberapa langkah. Oki menghentikan Pak Roy dan Bu Endang.
"Tunggu, untuk apa kalian bersikap baik dengan keluarga kami?" tanya Oki.
Mendengar apa yang ucapakan oleh Oki, Pak Roy menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan melihat ke arah Oki.
"Maksud kamu apa?" jawab Pak Roy.
"Aku tahu pelaku yang membunuh Ferry itu adalah kalian berdua, aku akan buktikan dan aku akan buka kedok busuk yang kalian miliki," ucap Oki dengan tegas kepada Pak Roy dan Bu Endang.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Oki, Pak Roy kesal. Dia menarik kerah Oki dan membela dirinya.
"Aku tidak melakukan apapun, kamu itu jangan suka menuduh orang tanpa bukti, kamu itu anak bau kencur, anak kemarin. Aku bisa menjatuhkan karir kamu karena kasus ini, maka jangan pernah kamu berani menuduh aku," jawab Pak Roy dengan tegas, serius dan menatap tajam.
Oki terlihat tetap tenang, dia menatap Pak Roy yang memegangi kedua kerah pakaiannya.
"Apa kamu mengancam aku? Apa kamu pikir aku takut dengan kamu Pak Roy? Tidak!. Aku tidak pernah takut dengan kamu," jawab Oki lalu dia mendorong Pak Roy hingga Pak Roy terdorong beberapa langkah dari hadapan Oki.
"Sudah cukup Oki, Kakak kamu baru saja di kubur. Kenapa kamu justru bertengkar di pemakaman? Ini sangat tidak pantas," jawab Ibu Ferry dengan air mata terus berderai membasahi matanya.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Oki pun meredakan emosinya. Dia memilih menjauh dari Pak Roy dan meminta Pak Roy pergi dari pemakaman agar dirinya tidak semakin marah.
Melihat hal itu, Bu Endang mengajak Pak Roy pergi dari pemakaman.
Malam hari pun tiba, pelaku penusukan Tama di dudukkan di ruangan interogasi oleh Oki.
Saat itu keadaan sangat menegangkan. Pelaku merasakan suasana malam itu sangat dingin dan dia merasa akan terjadi sesuatu dengan dirinya.
Beberapa saat kemudian, terlihat sepasang sepatu masuk ke dalam kamar. Saat itu Oki masuk ke dalam ruang interogasi dengan memakai seragam dari Inspektur Ferry.
Saat berada di dalam ruang interogasi, Oki menampar si pelaku hingga membuat pelaku yang duduk di ruang tamu terjatuh bersama dengan kursi yang di duduknya.
Melihat hal itu, beberapa polisi yang melihat hal itu dia hanya diam dan hanya bisa memalingkan wajahnya.
"Bangun!. BANGUN!!!" bentak Oki kepada si pelaku.
Saat itu pelaku yang menusuk Tama terlihat sulit untuk bangun dari jatuhnya. Melihat hal itu, dengan kasar Oki membangunkan pelaku itu dan kembali mendudukkan si pelaku di kursi.
"Jawab aku dengan jujur, kalau tidak apa yang aku lakukan barusan, akan kamu rasakan terus menerus. Kamu paham?!." Si pelaku hanya diam dengan menatap tajam Oki.
"Siapa yang menyuruh kamu membunuh Tama?" Tanya Oki dengan serius kepada pelaku.
Mendengar pertanyaan itu, si pelaku memberikan senyuman meledek Oki. Oki yang merasa di remehkan, dengan sekuat tenang kembali menampar si pelaku hingga dia kembali terjatuh dan hidungnya mengeluarkan darah.
Melihat kesadisan Oki, polisi yang bertugas memantau di luar ruangan hanya bisa diam dan hanya memalingkan wajahnya.
"Aku katakan ke kamu lagi, katakan atau kamu mati karena tamparan ini!" ucap Oki dengan marah. Namun, si pelaku hanya diam dengan menatap tajam Oki.
__ADS_1
Oki yang menyadari hal itu dia sangat marah dan terus memukul mukul si pelaku hingga pelaku benar benar tidak bisa berkata kata.