
"Ayah, gimana keadaan Ayah? Tidak ada yang terluka parah kan Yah," ucap Tama dengan khawatir sambil memeriksa luka ayahnya.
"Luka Ayah parah, aku akan obati," jawab Tama dengan pergi mengambil kotak obat, namun saat itu langkahnya di hentikan oleh ayahnya.
Tangan Tama di pegang oleh Ayah Tama dengan erat, Tama yang menyadari hal itu dia hanya diam dengan melihat ke arahnya.
"Maafkan Ayah, Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu dan Rey, gara gara Ayah kamu terpisah dengan Rey," ucap Ayah Tama.
Tama tersentuh mendengar apa yang di katakan oleh ayahnya. Matanya berkaca-kaca, lalu dengan perlahan dia melepaskan tangan ayahnya.
"Ayah tidak perlu minta maaf, apa yang terjadi di masa lalu, biarlah menjadi masa lalu. Sekarang Rey sudah pergi, lebih baik kita doakan dia saja,"jawab Tama.
Setelah mengatakan hal itu dia pergi dari hadapan ayahnya. Dia mengambil kotak obat yang ada di dekat kamarnya. Saat itu dia menyadari kalau pisau yang di pakai oleh orang misterius itu berada di atas meja di dekat kamarnya. Melihat hal itu, Tama bergegas memanggil ayahnya dan memberi tahu ayahnya tentang pisau itu.
"Ayah! Ayah! Aku mohon ayah kemari," pinta Tama setelah melihat pisau yang tergeletak di atas meja.
Beberapa saat kemudian, Ayah Tama datang. Dia menghampiri Tama dengan santai.
"Ada apa Tama?" tanya Ayah Tama.
"Apa ini pisau dari orang misterius itu?" jawab Tama dengan memegangi pisau itu.
Melihat pisau itu, Ayah Tama menyahut pisau itu dari tangan Tama. Dia meminta Tama untuk menghubungi Ferry untuk menyelidiki dan memeriksa pisau itu.
Tama yang mendengar perintah itu bergegas menghampiri ponselnya yang berada di kamarnya.
Saat berada di dalam kamar, Tama mencari ponselnya, namun dia tidak menemukan ponselnya. Saat dia mencari di lemari yang berada di dalam kamarnya, orang misterius itu kembali muncul di belakang Tama. Dia berdiri mengawasi Tama sambil memegang pisau dengan sangat erat.
__ADS_1
Dia berjalan perlahan mendekati Tama yang saat itu sibuk mencari ponsel. Saat berada di dekat Tama, orang misterius itu bergegas menempatkan ujung pisaunya dan menusukkan pisau itu ke punggung Tama.
Jleb....
Suara tusukan terdengar, saat itu Tama terdiam. Dia berbalik dengan perlahan, ketika dia sudah berbalik dengan sekuat tenaga dia mencoba menarik pisau yang menancap di punggungnya.
Menyadari hal itu, orang misterius itu terus menatap Tama. Dia semakin mendekati Tama. Tama yang sudah lemas, dia terjatuh namun saat itu Tama di tolong oleh orang misterius itu.
Orang misterius itu memegangi Tama dan memeluk Tama dengan sangat erat. Erangan sakit terdengar terus diucapkannya oleh Tama, teriakan lirih terus di lakukan Tama untuk memberi tahu ayahnya yang berada di luar kamar.
Bruaakkk....
Ayah Tama memukulkan sebuah vas bunga ke kepala orang misterius itu. Menerima pukulan keras dari Ayah Tama, orang misterius itu langsung tak berdaya dan jatuh pingsan dengan kepala mengeluarkan darah.
"Kamu tidak papakan Tama?" tanya Ayah Tama kepada Tama yang saat itu jatuh ke pelukan ayahnya.
Di rumah sakit, Juli di pasangkan alat infus. Dengan raut muka khawatir, dan panik para dokter membawa Tama ke ruangan operasi.
"Saya mohon untuk bapak menunggu di sini saja," ucap suster ketika dia berada di depan ruang operasi.
"Tapi Sus..." jawab Ayah Tama, namun saat itu Suster itu meyakinkan Ayah Tama.
Akhirnya Ayah Tama menunggu Tama di luar ruangan operasi.
Di ruangan interogasi, Ferry memberi tahu Bu Endang tentang keadaan Tama yang masuk ke rumah sakit karena sebuah tusukan.
Mendengar kabar itu, Bu Endang sangat sedih.
__ADS_1
"Apa?! Tama masuk rumah sakit, bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bu Endang dengan khawatir dan mata ya g berkaca kaca.
Ferry pun menjelaskan kepada Bu Endang tentang orang misterius yang menyerang Juli dan sudah di tangkap oleh Ferry.
"Pak Ferry, saya mohon dengan bapak. Tolong izinkan untuk ke rumah sakit, saya ingin melihat Tama!" ucap Bu Endang dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.
Dia sangat sedih setelah mendengar penjelasan dari Pak Ferry. Di sepanjang perjalanan dia terus menangis, menangis dan menangis.
Di ruang interogasi, pelaku yang menusuk Tama terbaring di atas meja di ruangan interogasi. Dia belum sadar dari pingsannya, melihat hal itu Ferry mengambil segelas air dan menyiramkan air ke wajah pelakunya.
Pelaku penusukan Tama langsung terbangun dari pingsan. Saat dia tersadar dia menyadari kalau tangannya terikat.
"Tolong! Agh, tolong. Lepas!" ucap pelaku yang menusuk Tama. Dengan sesekali menutup matanya karena silau dari lampu yang tepat dia atasnya.
Melihat laki laki itu sudah sadar, Ferry menghampiri laki laki itu dan berdiri di dekat laki laki itu. Dia menutup cahaya lampu yang menyinari mata si pelaku. Ketika cahaya sudah tertutup, pelaku penusukan Tama sangat terkejut karena dia melihat Inspektur Ferry berdiri di depannya.
"Siapa kamu? Lepaskan aku!" ucap si pelaku dengan tegas.
"Kenapa aku harus melepaskan kamu? Siapa kamu berani menyuruh aku?" jawab Inspektur Ferry dengan santai namun serius.
"Iya, aku tidak takut dengan kamu. Lepaskan aku!" bentak pelaku penusukan kepada Ferry.
Ferry yang mendengar bentakan itu, dia menatap tajam si pelaku. Tanpa banyak berpikir dan penuh dengan emosi, Inspektur Ferry mencekik leher si pelaku dengan memperkenalkan dirinya yang seorang polisi.
"Berani sekali kamu bersikap songong dengan aku, aku Inspektur Ferry!" ucap Inspektur Ferry dengan penuh amarah dan emosi.
Setalah itu dia melepaskan cekikan yang di lakukannya kepada pelaku penusukan. Dia mencoba menenangkan dirinya yang sudah tidak kuasa menahan emosinya.
__ADS_1