
Keadaan kembali memanas saat Bu Ratna,suaminya dan Andi berada di dalam ruang tamu rumah Adi. Bu Ratna sangat marah kepada Andi yang tiba tiba datang ke hari pemakaman Toni. Saat itu Andi berusaha minta maaf kepada Bu Ratna dan ayahnya namun ayahnya tidak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Andi.
"Saya mohon sama Mama dan Papa tolong percaya dengan aku,aku tidak tidak mungkin bisa membunuh Toni orang yang sudah Andi anggap Adik. Andi tau kalau Mama dan Papa tidak akan percaya Andi lagi tapi Ma.. Pa Andi berani bersumpah kalau bukan Andi pelakunya!." Andi menyakinkan ibu dan ayahnya namun mereka tetap tidak mempercayai Andi lalu dengan nada tegas, Ayah Andi berkata, "Atas dasar apa ayah harus percaya dengan kamu, hah? Ayah tidak akan pernah percaya dengan kamu lagi, bagi Ayah anak Ayah yang bernama Andi sudah mati bertahun tahun yang lalu. Dan sekarang... Andi yang duduk di depan ku saat ini, di bukan Andi!. Dia hanyalah seorang pembunuh!!!. Pembunuh yang bejat!!."
"Iya, apa yang dikatakan oleh suami ku benar kamu hanya lah seorang pembunuh!. Dan sekarang, kamu pergi anggap saja kami bukan orang tua kamu lagi,"sahut Bu Ratna dengan nada serius. Matanya berkaca-kaca ketika mengusir Andi.
Mendengar hal itu, Andi tak ingin pergi, dia memilih tetap tinggal dan memohon dengan kedua tangan yang terlipat. Namun semua itu tidak di pedulikan oleh orang tuannya dan melihat Andi tidak ingin pergi ayah Andi menghampiri Andi. Dia menarik Andi dan mengajak Andi keluar dengan paksa dan penuh amarah.
Dia mendorong Andi keluar dari rumah hingga membuat Andi terjatuh ke lantai dengan berurai air mata. Andi yang jatuh ke lantai, dia hanya bisa diam dan terus memohon kepada ayahnya, namun ayahnya tidak mendengarkan dan memilih untuk tetap mengusir Andi.
"Jangan pernah kamu kembali ke sini lagi, kalau kamu kembali ke sini lagi aku sebagai Ayah dari Juli dan Toni orang yang sudah kamu bunuh tidak akan segan segan membakar kamu hidup hidup,walau pun kamu adalah anak kandung ku sendiri!!!."
Ayah Andi menutup pintu rumah tanpa sedikit pun membukanya lagi. Andi bangun dari jatuhnya dan dia berusaha minta maaf kepada orang tuanya. Dia memohon untuk di bukakan pintu, namun orang tuanya tidak memberi respon apa pun kepada Andi. Andi pun hanya bisa menangis di depan pintu dengan sesekali memohon kepada ibu dan ayahnya. Air matanya terus mengalir membasahi matanya.
Beberapa saat kemudian Inspektur Adi datang dan saat ia sampai ia sangat terkejut karena melihat Andi berada di lantai dan di luar rumah dengan memohon untuk dibukakan pintu rumah secara lirih.
"Andi! Kamu ngapain di luar rumah?" ucap Inspektur Adi setelah melihat Andi duduk di depan pintu.
Melihat hal itu, dengan perlahan Inspektur Adi membantu Andi berdiri. Ketika Andi sudah terbangun, Inspektur Adi mengetuk pintu rumah dengan sesekali memanggil nama Ayah Andi.
Tok.. tok.. tok.. tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar, lalu Ayah Andi membuka pintu. Ketika pintu terbuka, betapa terkejutnya ia, karena ia melihat Adi tengah membantu Andi berdiri.
"Ngapain kamu bantu dia, bukannya kamu menganggap dia bukan adik kamu lagi?" ucap Ayah Adi dengan marah.
"Paa stop, aku mohon!. Apa Papa kurang puas? Sejak lama kita tidak pernah adil dengan Andi!.Kita membiarkan dia sendiri. Dan sekarang..., sekarang papa memperlakukan Andi seperti ini, apa Papa kurang puas dengan itu?"ucap Adi untuk menyadarkan ayahnya.
Mendengar hal itu Ayah Andi teringat dengan tindakannya kepada Andi di masa lalu. Dia mengingat ketidakadilan nya kepada Andi bersikap lebih sayang dengan Adi. Setelah beberapa saat teringat dengan bayangan masa lalu, akhirnya Ayah Andi mengizinkan Andi masuk ke dalam rumah.
Saat Andi berada dalam rumah, Inspektur Adi mendudukkan Andi di sofa dan kemudian dia pergi mengambil makanan untuk Andi namun saat Inspektur Adi pergi, Andi berkata dengan lirih namun masih dapat di dengar oleh ayahnya.
"Terima kasih Paa!."
Ayah Andi pun hanya diam, ia masih belum bisa memaafkan Andi.
"Papa mengizinkan kamu masuk bukan berarti sudah memaafkan dan menerima perbuatan kamu!" ujar Ayah Andi dengan nada rendah dan serius.
"Iya Pa, aku tau kalau semua yang ku lalukan itu sulit di terima oleh kalian," jawab Andi dengan sedih dan sedikit meneteskan air mata.
Suasana kembali memanas saat Bu Ratna keluar dari kamar dan melihat Andi duduk di ruang tamu. Dia sangat shock dengan yang di lihatnya.
Dia menghampiri Andi lalu membangunkan Andi.
__ADS_1
"Ngapain kamu kesini, hah? Bukannya kamu sudah di usir tadi, dasar ya kamu tidak tau malu, udah di usir tapi malah tetap di sini.Kamu itu sebenarnya mengerti apa tidak sih ucapan manusia?" ucap Bu Ratna dengan sangat marah kepada Andi.
"Aku mengerti Maa,"ucap Andi dengan menunduk dan sedih.
"Kalau kamu mengerti,harusnya pergi dari sini. Jangan pernah kamu, kembali lagi ke sini." Tegas Bu Ratna lalu memberi dorongan kepada Andi.
Pranggk...
Terdengar suara piring pecah, hal itu membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arah suara pecahan itu.
Saat Bu Ratna sudah menoleh, mereka sangat terkejut karena Adi membanting piring yang dibawanya.
"Stop Maa!" Bentak Adi.
"Kamu kenapa Adi? Kenapa kamu membanting piring itu? Apa alasannya?"ucap dengan nada semakin meninggi.
"Stop Maa!. Apa Mama sudah puas mengusir Andi? Apa Mama bisa puas? Asal Mama tau, Andi melakukan ini karena kesalahan kita,kesalahan kita semua.Kita sudah tidak adil dengan Andi,"ucap Inspektur Adi dengan nada tegas dan marah ia melanjutkan, "Andi melakukan pembunuhan itu karena kita Ma. Dia balas dendam karena kita tidak adil dengan dia!.Apa Mama ingat saat ulang tahun Andi? Apakah kita merayakan nya? Apakah kita memberi sepotong kue atau pun mengucapkan selamat? Tidak!.Kita tidak melakukan apapun ke Andi. Dan sekarang... sekarang kalian tetap jahat dengan dia, apa kah itu kurang cukup Mam?"ucap Inspektur Adi agar Bu Ratna sadar.
Saat itu Andi,Bu Ratna dan Ayahnya hanya diam. Mereka mendengarkan setiap kata yang di ucapkan Adi. Tak hanya itu, Andi terlihat hanya menunduk mendengar apa yang dikatakan Adi. Tiba tiba Bu Ratna meneteskan air mata, dia terlihat kebingungan dengan apa yang telah terjadi.
Dia menyalahkan dirinya atas perbuatan yang di lakukan oleh Andi.
Ia melihat ke arah orang orang dengan mengatakan kalau dia adalah penyebab anaknya menjadi seorang pembunuh. Lama kelamaan Bu Ratna tak terkendali ia seperti orang yang terkena gangguan jiwa dan sangat tertekan.
"Aku penyebabnya,aku yang membuat anakku menjadi seorang pembunuh," ucap Bu Ratna dengan menangis secara histeris.
"Mama jangan bicara seperti itu Maa, ini bukan salah Mama.Ini salah Andi sendiri seharusnya Andi tidak balas dendam dengan keluarga ini dan seharusnya Andi tidak melakukan pembunuhan itu,maafkan Andi maa," jawab Andi dengan sedih dan berurai air mata.
Dia duduk di depan ibunya yang terus menangis merasa bersalah atas semua yang terjadi.Andi menghapus air mata Bu Ratna yang duduk di lantai.
Dengan perasaan penuh penyesalan suami Bu Ratna bejalan perlahan dan meminta maaf kepada Andi. Dia memeluk Andi dan Bu Ratna.Setelah itu, Adi berjalan menghampiri Andi.
Mereka saling berpelukan, namun keadaan berubah menegangkan saat tiba tiba sebuah obor di lempar ke arah jendela dan hingga membuat kaca jendela pecah dan membakar gorden yang di gunakan untuk menutupi jendela.
Mereka semua panik saat mengetahui gorden rumahnya terbakar. Mereka berusaha memadamkan api yang membakar gorden dengan menginjak-injak gorden tersebut.
Tak berselang lama, Api yang membakar gorden itu pun berhasil di padamkan. Mereka keluar untuk mencari tau siapa pelakunya, namun sesampainya mereka di luar rumah mereka tidak melihat siapapun.
Melihat hal itu, akhirnya semua orang kembali masuk ke dalam rumah. Saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah seseorang misterius keluar dari persembunyiannya dan mengawasi keluarga Adi.
Kebahagianpun kembali hadir di kehidupan keluarga Adi namun kesedihan masih di rasakan oleh Andi dan keluarga nya karena ia harus kehilangan anggota keluarga yang lainnya. Saat itu Ayah Adi duduk di ruang tamu bersama dengan Adi dan yang lainnya. Ayah Andi terlihat sedang memiliki beban pikiran yang ia tidak bisa diungkapkan kepada keluarganya.
"Ada apa Paa? Kenapa Papa terlihat sedang memikirkan sesuatu? Apa yang Papa pikirkan?" tanya Adi setelah ia melihat Ayahnya terus melamun.
__ADS_1
"Tidak Adi,Papa tidak memikirkan apapun, "jawab Ayahnya lalu memberi senyuman kecil agar Adi tidak curiga dengan dirinya lagi.
Beberapa menit kemudian, atasan dari Inspektur Adi datang dan ingin menangkap Andi atas tuduhan pembunuhan berencana. Melihat hal itu, semua orang panik tak terkecuali Bu Ratna yang mengetahui kalau Andi akan di tahan lagi oleh polisi.
Tidak ingin adiknya di tangkap oleh atasannya, Inspektur Adi langsung menjadi garda terdepan dari Andi.
Dia melarang atasannya membawa adiknya. Dia hanya ingin adik nya tetap bersama mereka, namun semua itu sia sia polisi sudah terlanjur mengetahui kalau pelaku pembunuhan Shela dan yang lainnya adalah tindakan Andi.
Tak berselang lama, Andi pun harus menerima kalau tangan nya harus di borgol dan ia harus kembali berpisah dengan keluarganya.
Melihat tangan anaknya di borgol Bu Ratna pun langsung menangis histeris dan ia memohon kepada para polisi itu untuk melepaskan anaknya namun polisi itu tidak mendengarkan perkataan dari Bu Ratna.Melihat hal itu Bu Ratna bersendekul di depan polisi dengan menadahkan tangannya.
Dia memohon agar polisi itu tidak membawa anaknya. Hal itu langsung memancing perasaan simpati dari atasan Inspektur Adi. Pada akhirnya ia memutuskan untuk memberikan bantuan yaitu membangunkan Bu Ratna dan ia memberi sebuah pilihan kepada Bu Ratna.
"Bangun Bu! Baiklah saya akan melepaskan Andi tapi tidak selamanya saya melepaskan Andi. Saya memberi kalian waktu 24 jam untuk bersama Andi setelah itu saya akan membawa Andi lagi ke kantor polisi atas kasus pembunuhan!"ucap atas Inspektur Adi.
Atasan Adi membangunkan Bu Ratna lalu setelah itu ia meminta salah satu anak buahnya untuk melepaskan Andi dari borgolan itu.Melihat hal itu Andi dan Bu Ratna serta keluarganya terlihat sangat bahagia karena Andi tidak jadi di bawa ke kantor polisi, namun kebahagian itu sirna saat atasan dari Inspektur Adi mengingatkan keluarga Adi hanya memberi waktu 24 jam untuk Andi bebas dari tahanan.
Beberapa saat kemudian atasan dari Inspektur Adi dan anak buahnya pergi dari rumh itu meninggalkan keluarga Adi.
Waktu berlalu begitu cepat keluarga Adi terlihat sangat bahagia dengan ke hadiran dari Andi,namun tiba tiba kebahagiaan itu berubah menjadi perasaan panik saat secara tiba tiba pintu di ketuk oleh seseorang.
Merasa ada seorang tamu yang datang Inspektur Adi pun membuka pintu rumah namun saat ia membuka pintu rumah ia tidak melihat siapapun.Ia pun akhirnya berpikir kalau orang itu adalah orang yang sedang jahil dan menganggu dengan berpura pura menjadi tamu,ia kemudian mamutuskan berbalik namun saat ia berbalik ia melihat sebuah kotak hadiah tergeletak di tanah.
Ia sempat heran melihat kotak itu dan berusaha mencari di mana kotak itu berasal namun ia tidak menemukan tanda tanda hadirnya seseorang. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengambil kotak itu dan melihat lihat kotak itu.Ia berpikir kalau dengan melihat lihat kotak itu ia dapat melihat siapa pengirimnya dan untuk siapa kotak itu namun di kotak itu tidak tertulis pengirimnya ia hanya menulis sebuah kalimat, " Untuk Keluarga Adi, berbahagialah kalian kali ini. Tapi kalian harus ingat, kebagian kalian tidak akan bertahan lama."
Inspektur Adi pun membaca kalimat itu lalu tak berselang lama ia berpikir keluarganya tidak memesan apapun.Akhirnya Inspektur Adi pun memutuskan untuk membawa kotak itu ke dalam rumah,tapi saat Adi baru selesai menutup pintu sesosok orang misterius itu kembali muncul lagi dari semak semak.Sesampainya Adi di area ruang keluarga Bu Ratna pun menyambut ia dengan beberapa pertanyaan.
"Adi siapa tamunya? Dan dimana dia sekarang?"ucap Bu Ratna setelah melihat Adi datang namun tiba tiba ia terlihat heran setelah mengetahui sebuah kotak berada di tangan Adi.
"Lalu apa itu Adi?"
"Aku tidak tau Maa,tadi saat aku membuka pintu aku tidak melihat siapa pun dan yang aku lihat adalah kotak ini tergeletak di lantai depan pintu,"jawab Inspektur Adi.
Bu Ratna meminta Adi membuka kotak itu dan tak menunggu lama Adi pun langsung membuka kotak itu namun sesaat setelah membuka kotak itu ia sangat terkejut karena ia melihat bangkai tikus dengan di sertai sebuah surat.
Melihat hal itu Adi langsung terlihat mual dan terlihat jijik ia pun langsung menjatuhkan kotak itu dan setela kotak itu jatuh Andi melihat sebuah surat ia kemudian mengambil surat itu.
Setelah mengambil surat itu dengan membaca nya dan ia sangat terlihat terkejut setelah membacanya, ia pun hanya diam setelah melihat surat itu.
Merasa ada yang aneh dengan Andi setelah melihat surat itu akhirnya Bu Ratna memutuskan untuk mengambil surat itu dari Andi,ia kemudian membaca surat itu namun betapa terkejutnya ia karena di dalam kertas itu terlihat sebuah kalimat yang bertuliskan dengan darah.Kalimat itu berbunyi, "Kalian Harus Mati!!!."Bu Ratna pun ketakutan dan ia sangat khawatir dengan keluarganya.
"Apa yang dia inginkan? Kenapa dia ingin membunuh kita semua?.Apa kita melakukan kesalahan? Apakah kita punya musuh?"ucap Bu Ratna dengan ketakutan,panik dan gelisah menjadi satu.
__ADS_1
"Tenang Ma,kita pasti akan mengetahui apa yang menjadi penyebab dia melakukan ini? Ini adalah kesalahan Andi mungkin dia adalah musuh Andi!.Andi yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi,dan juga Mama jangan khawatir keluarga kita akan baik baik saja!,selagi masih ada aku di sini tidak akan ada orang jahat yang akan menyakiti kali,aku berjanji. Aku akan tetap melindungi kelian walaupun itu harus mengorban kan nyawa ku sendiri!"ucap Andi dengan nada tegas dan serius kepada keluarga nya.
Setelah itu Bu Ratna memeluk Andi namun berbeda dengan Ayahnya, ayahnya terlihat memiliki beban pikiran di benaknya.Ia terlihat tersenyum namun senyumnya terlihat terpaksa,ia kemudian pun melanjutkan memeluk Andi juga.