Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
9. Kritis


__ADS_3

    Inspektur Adi kembali melanjutkan penyelidikan, walaupun keadaannya masih belum membaik namun dia tetap berusaha menyelidiki kasus pembunuhan Shela.


Dia pergi ke kantor polisi setelah melakukan donor darah. Meski, dia sudah dilarang oleh perawat namun dia memaksa dan tetap pergi meninggalkan rumah sakit. Namun, saat Inspektur Adi baru keluar dari kamar, dia di sambut oleh Toni. Dia di bantu oleh Toni keluar kamar, melihat hal itu wajah heran terlihat di raut muka Inspektur Adi.


"Inspektur Adi terima kasih!." Toni tampak sedih. Dia membantu Inspektur Adi keluar ruangan. Mendengar ucapan terimakasih dari Toni, dia heran. Wajahnya bingung melihat perubahan sikap Toni yang berubah tiba tiba.


"Inspektur, jangan pernah berpikir macam macam. Aku seperti ini karena Inspektur Adi sudah menyelamatkan nyawa Juli kalau aku tidak berhutang nyawa aku tidak akan pernah berterima kasih dengan kamu," ucap Toni dengan serius lalu menghempaskan tangan Inspektur Adi.


Melihat perlakuan Toni kepada Adi yang tak tulus berterima kasih, Bu Laras mendekati Toni. Dia memegangi bahu Inspektur Adi.


"Maafkan kelakuan Toni, inspektur. Dia sangat sedih dengan keadaan Juli. Dia sangat dekat dengan Juli, makanya dia seperti itu. Tapi saya berterimakasih, karena kamu sudah mau menolong Juli. Terimakasih banyak, " jawab Bu Laras dengan penuh penyesalan.


"Saya paham bu, tidak papa!."


"Inspektur mau kemana dalam keadaan sedang sakit seperti ini?" tanya Bu Laras dengan khawatir.


"Saya harus menyelidiki kasus kematian Shela kalau tidak maka Juli akan marah!."Jawab Inspektur Adi.


Beberapa saat kemudian, Toni menghampiri Adi dan menatap Inspektur Adi dengan serius. Namun, ia tidak ingin marah dengan Adi. Dia hanya ingin memperingatkan Adi.


"Jangan memaksakan diri, Inspektur itu sedang sakit.Jika kamu keluar, ini akan sangat membahayakan diri Anda."


"Iya Inspektur, jangan keluar. Nanti jika inspektur keluar dari rumah sakit, hal itu akan membahayakan nyawa inspektur," sahut Bu Laras.


"Saya minta maaf Inspektur Adi. Maafkan saya, atas perbuatan saya kepada Inspektur Adi," ucap Toni.


Dia berbalik dan menghampiri kursi roda yang berada tidak jauh dari dirinya. Dia membawa kursi roda itu ke hadapan Inspektur Adi.


"Untuk apa ini Toni?" tanya Inspektur Adi dengan heran.


"Ini untuk Inspektur Adi, aku tau kalau bantuan ku tidak akan bisa membayar atas semua yang Inspektur Adi lakukan!.Tapi aku mohon sama Inspektur Adi jangan memaksa pergi, lihat lah keadaan Inspektur," terang Toni untuk menghentikan Inspektur Adi. Inspektur Adi pun tetap menolak dan tetap berusaha pergi namun langkahnya terhenti ketika salah satu suster yang dalam ruangan keluar dengan terburu buru dan panik. Begitu pula Ayah Adi, dia berlari keluar kamar dengan tergesa gesa dengan memanggil nama dokter beberapa kali. Melihat kekhawatiran dari suster dan Ayah Adi, Bu Laras dan yang lainnya bergegas masuk ke dalam ruangan Juli. Mereka terkejut karena melihat keadaan Juli kritis. Dia kejang, monitor yang menunjukkan grafik detak jantung mulai menurun. Semua orang panik, melihat keadaan Juli.


Dalam penjara, terlihat Kania duduk sendiri. Tak berselang lama, pembantunya datang dengan membawa makanan.


"Non Kania!" panggil si pembantu.


"Bibi, syukurlah Bibi datang kemari. Ini makanan buat aku, kan?" jawab Kania dengan bahagia.


"Iya Non!." Kania sangat bahagia. Dia membuka makanan itu, namun saat Kania mengambil makanan. Salah satu polisi mengambil makanan itu dan membawa pergi.


"Disini dilarang memakan makanaan dari luar. Para napi harus makan makanan di penjara ini."


"Apa?!! Jangan pergi. Jangan bawa makanan itu," jawab Kania dengan terkejut dan ber usaha menghentikan polisi itu. Namun Polisi itu tidak mempedulikannya. Dia tetap pergi membawa makanan itu.


Kania pun kesal dengan perbuatan polisi itu.


"Agh,"jawab Kania mengerang kesal lalu dilanjutkan menendang jeruji besi yang berada di depannya.


"Tenang Non, oh iya aku mau kasih kabar ke Non.Aku tidak tau apakah ini berita baik atau buruk tapi saya harus memberi tau Non," ucap Bibi.


Tak berselang lama, Kania meredakan emosinya dan mendekat ke arah pembantunya dengan perasaan penasaran yang sangat luar biasa.


"Berita apa itu Bi?" jawab Kania dengan penuh penasaran.

__ADS_1


"Ini tentang Juli!."


"Kalau tentang Juli aku gak peduli," jawab Kania lalu memalingkan wajahnya dari hadapan pembantunya.


"Juli kritis Non," ucap pembantu itu.


Mendengar apa yang di katakan oleh pembantu, Kania melihat pembantunya dengan tatapan serius dan terkejut.


"Apa?!! Juli kritis. Bagaimana bisa baru tadi aku bertemu dia? Dia yang membawa aku kesini,apa yang terjadi dengan dia?,"jawab Kania dengan terlihat sedih.


"Saya tidak tau Non, yang saya tau dia ada di rumah sakit dan terbaring lemah tak berdaya," jawab pembantunya.


Mendengar jawaban sang bibi, Kania tertawa. Doa tertawa semakin kencang.


"Ini berita bagus." Kania melanjutkan tertawa dengan jahat, lalu dia berhenti beberapa saat dan melanjutkan "kali ini aku harus buat dia membayar atas semua perbuatannya. Dia harus membayar perbuatannya kepada ku!."


"Apa yang ingin Non lakukan ?" tanya si pembantu. Dia terlihat heran plus khawatir.


     Keadaan Juli masih belum stabil, grafik detak jantung terlihat menurun. Dokter dan suster meminta keluarga Juli keluar. Setelah itu, salah satu suster menutup pintu, namun Toni menghentikan suster itu dengan memegang gagang pintu. Dia melihat kearah suster dengan mata berkaca kaca.


"Suster tolong selamatkan Juli,saya mohon!."


"Kami akan mengusahakannya," jawab suster.


Dia menutup pintu rapat-rapat, pintu tertutup dokter dan suster mulai melakukan penyelamatan. Keadaan di luar ruangan sangat khawatir Toni terlihat mundar mandir kesana kemari begitu pula Ayah Adi.


Tidak hanya mereka, Ayah Toni pun tidak duduk dia berdiri di dekat pintu dengan khawatir dan panik.


Di dalam ruangan, kepanikan dokter dan suster yang mengobati Juli sangat terlihat. Beberapa suster memeriksa alat monitor dan beberapa lainnya membantu dokter.


"Suster siapkan alat pacu jantung!" ucap dokter yang menangani Juli. Saat suster melakukan persiapan alat pacu jantung. Grafik monitor berbunyi dan hanya menampilkan garis panjang. Dokter langsung memompa jantung Juli dengan alat pacu.


Pada percobaan pertama, dokter masih belum berhasil, percobaan ke dua juga masih belum berhasil merasa sudah tak dapat menyelamatkan nyawa Juli dengan alat pacu, dengan sigap salah satu suster mengambil sebuah alat suntik. Dia menancapkan suntik itu ke jantung Juli.


Beberapa detik kemudian, grafik monitor kembali bergerak. melihat hal itu suster dan dokter yang menangani Juli sangat bahagia, karena Juli masih bisa selamat.


Beberapa menit kemudian, dokter keluar dengan raut muk as sedih lalu dia memberi tahu keluarga Juli. Dia memberi tahu kalau Juli koma dan berhenti menghembuskan nafas. Namun dia juga memberi tahu kalau Juli sudah kembali dan bernafas.


Mendengar ucapan dokter, Toni terkejut. Dia tetap berusaha kuat namun tanpa ia sadari air matanya menetes.


Tak berselang lama, Toni masuk kedalam ruangan itu dengan sedih. Dia merasa berat melangkahkan kakinya, melihat keadaan Juli yang tak berdaya di tempat tidur. Dia tetap berusaha tegar walaupun ia sudah tak sanggup melihat keadaan Juli. Melihat Toni, orang tua Toni menghampiri Toni. Mereka mencoba menegarkan Toni.


Toni melangkahkan kaki ke kursi yang berada di samping Juli, matanya terus menerus mengalirkan air matanya hingga ia sesenggukan.         


      Waktu berlalu begitu cepat, malam tiba namun keadaan Juli masih belum pulih dari kritisnya. Terlihat Bu Laras membawa beberapa bungkus makanan untuk Toni, namun Toni masih tertidur pulas di samping Juli.


Beberapa saat kemudian, dia menyadari kalau Toni tidak makan dari pagi. Dia membangunkan Toni dan menawarinya makanan.


Sebenarnya Bu Laras tak tega dengan Toni karena ia baru bisa tertidur semenjak Juli terluka. Dia hanya menangisi di sepanjang malam, akhirnya ia memutuskan untuk tidak membangunkan Topi. Tapi, saat Bu Laras pergi, Toni terbangun dari tidurnya.


"Mama! Ada apa Ma?" tanya Toni.


"Tidak papa Ton, Mama hanya ingin menawari kamu makanan, tapi mama tidak enak bangunkan kamu. Dan berhubung kamu sudah bangun, kamu harus makan, karena kamu belum makan sejak pagi," jawab Bu Laras dengan khawatir.

__ADS_1


"Mah, terima kasih ya atas tawarannya tapi bagaimana aku bisa makan? Kalau Kak Juli tidak makan dan hanya terbaring di tempat tidur,"jawab Toni lalu ia kembali duduk kursi.


" Tapi kamu belum makan dari tadi Toni, lagian Mama yakin kok Juli juga tidak mungkin mau kalau kamu sakit," bujuk Bu Laras agar Toni mau makan.


"Enggak Ma, aku masih kenyang nanti kalau aku sudah lapar aku akan makan. Aku janji sama Mama," jawab Toni.


Bu Laras pergi dengan sedikit sedih karena Toni menolak makan.Toni pun kembali menunggu Juli di kursi yang berada di samping Juli, lama kelamaan Bu Laras dan Ayah Toni mengantuk dan mereka tertidur di sofa yang berada dalam ruangan.


      Setelah beberapa menit tertidur, Toni pun terbangun ia melihat orang tuanya terlelap dalam tidur. Dia ingin membangunkan mereka namun tidak enak karena mereka terlihat sangat letih.


Akhirnya Toni memutuskan untuk pergi tanpa memberi tau saat ia membuka pintu. Dia sangat terkejut, melihat Inspektur Adi dan Ayah nya tidur di luar ruangan Juli. Toni berusaha tidak membuat kebisingan agar Inspektur Adi tidak bangun namun sia sia karena Inspektur Adi terbangun begitu pula ayahnya.


"Maafkan kami karena kami tidak pergi walau pun Anda sudah menyuruh saya pergi," ucap Inspektur Adi setelah ia terbangun dari tidurnya.


"Seharusnya saya yang minta maaf, karena saya sudah membangunkan Pak Inspektur dan Ayah nya," jawab Toni dan menyesal.


"Nak, Om minta maaf sama kamu karena Om dan anak Om tidak pergi walaupun kamu sudah mengusir Om," sahut Ayah Adi lalu Toni pun menjawab dengan baik.


"Om seharusnya saya yang minta maaf sama om atas kelakuan saya kepada Om yang tidak layak di maafkan!."


"Tidak Nak, kamu tidak salah ini memang salah saya kalau seandainya saya tidak memaksa mendekati Juli mungkin ini tidak akan terjadi," ucap Ayah Adi dengan sedih.


"Tidak papa,apakah kalian ingin melihat Juli?" tanya Toni kepada Inspektur Adi dan Ayah nya.


"Kalau di perbolehkan saya mau melihatnya," jawab Ayah Adi.


Toni pun memperbolehkan Ayah Adi dan Inspektur Adi. Melihat keadaan Juli


saat berada di dalam ruangan itu Ayah Adi langsung duduk di kursi yang berada di samping Juli, ia terlihat menangis dan sedih ia menyesal atas semua yang terjadi kepada Juli.


"Nak, Om minta maaf sama kamu karena gara gara Om kamu jadi seperti ini. Nak kamu boleh marah sama Om, kamu boleh memukuli saya tapi saya mohon jangan seperti ini,"ucap Ayah Adi dengan air mata mengalir dari matanya.


Beberapa saat kemudian, orang tua Toni terbangun dari tidurnya Bu Laras langsung menghampiri Toni dan memegang bahunya sambil tersenyum. Toni meletakkan kepala nya ke bahu Bu Laras dan ia hanya melihat keadaan Juli.


Tak berselang lama, Toni melihat ada pergerakan dari jarinya. Melihat ada pergerakan dari beberapa jari Juli, Toni menghampiri Juli dengan sangat gugup ia memberi tau ke semua orang kalau jari Juli bergerak. Dia pergi memanggil dokter.


Tak berselang lama, Toni datang dengan seorang dokter. Dokter memeriksa keadaan Juli ia memeriksa kedua mata nya. Tidak hanya itu, dia juga memeriksa detak jantung nya, denyut nadi nya. Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Juli, ia datang menemui keluarga Juli.


"Dokter bagaimana keadaan Juli?" tanya Toni dengan sangat penasaran.


"Ini semua berkat dari doa doa kalian semua, kini Juli sudah melewati masa kritisnya dan dia sudah mulai stabil!."


"Terima kasih Dokter,apakah kami bisa menengok Juli?," jawab Toni.


"Boleh,tapi saya mohon tolong jangan ada keramaian karena pasien belum sembuh total kalian hanya bisa menengok Juli secara bergilir!"


"Baik Dokter ,"jawab Toni lalu dokter pun pergi dari hadapan keluarga Juli.


Mendengar kalau keadaan Juli sudah membaik Ayah Adi dan Inspektur Adi meminta izin kepada keluarga Juli. Mereka berdua meminta izin untuk menemui Juli dan setelah itu pamit.


" Terima kasih karena sudah mengizinkan saya melihat Juli, "ucap Ayah Adi dengan baik.


"Tidak Om saya yang seharusnya berterima kasih kepada Om, berkat Om Juli semakin membaik," jawab Toni dengan tangannya memegangi tangan Ayah Adi dan terlihat Toni mencium tangan Ayah Adi.

__ADS_1


"Iya Nak," jawab Ayah Adi dengan baik. "Nak kamu Jaga Kakak kamu ya, jangan sampai kamu kehilangan dirinya dia baik hati," ucap Ayah Adi lalu melepas tangannya.


"Terima kasih Om," jawab Toni lalu Ayah Adi pergi dari rumah sakit.


__ADS_2