Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
48. Pencarian


__ADS_3

7 hari setelah kematian Rey dan Tama sudah berlalu, namun kesedihan masih di rasakan oleh Pak Roy.


Disisi lain, penyelidikan pembunuh Tama dan Rey masih terus berlanjut. Namun masih belum ada bukti yang bisa membongkar siapa pelaku yang sebenernya, satu satunya bukti yang bisa menolong Ferry adalah sebuah pisau yang saat itu menancap di tubuh Tama dan beberapa suster yang lainnya.


"Pak, satu satunya bukti yang bisa menolong kita adalah pisau ini," ujar anak buah Ferry.


Ferry terdiam, dia berpikir sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh anak buahnya. Dia melihat ke arah pisau yang berada di atas meja. Beberapa saat kemudian, dia mengambil salah satu pisau dan menatap pisau dengan tajam.


"Ya, kamu benar. Hanya dengan pisau ini kita bisa menemukan pelakunya," ucap Ferry dengan memegangi pisau yang berada di dalam kantung plastik bening.


Ferry memerintahkan anak buahnya untuk mencari toko pisau di dekat kantor polisi. Setalah beberapa hari mencari tahu tentang pisau dan toko pembuat pisau. Anak buah Ferry mendapatkan informasi dari salah satu temannya, bahwasanya ada sebuah toko pisau yang menjual pisau  antik. Mendengar kabar itu, anak buah Ferry sangat bahagia. Dia memberi tahu Ferry tentang kabar itu.


Tak berselang lama, Ferry dan beberapa anak buahnya sampai di sebuah toko pisau, sesampainya di depan toko, Ferry dan anak buahnya berdiri sesaat dengan melihat ke arah toko.


Setalah itu mereka masuk bersama dengan gagah, sesampainya di dalam toko. Ferry melihat ke sekitar tokonya. Dia melihat ribuan bentuk pisau dan jenis pisau terpajang jelas di toko tersebut.


"Permisi! Permisi!" ucap Ferry dengan mencari penjaga toko tersebut, namun tidak ada tanda kemunculan dari si penjaga toko.


Tiba-tiba terdengar suara seorang pembuat pisau di belakang toko. Mendengar hal itu, Ferry bergegas menghampiri orang yang sedang membuat pisau.

__ADS_1


Saat dia sudah berada di belakang toko, seorang laki laki tua dengan pakaian ada Jawa dan kumis tebal, wajah yang garang sedang membentuk sebuah pedang di dekat sebuah api yang membara sangat besar.


Dia adalah Sumantri, seorang pengrajin besi yang sudah melakukan pekerjaan dari berapa puluh tahun yang lalu.


"Pak polisi, ada apa ini? Kenapa bapak datang kemari?" tanya Sumantri dengan terus melanjutkan pekerjaannya.


Melihat hal itu, Ferry mendekati Sumantri.


"Bapak harus ikut kekantor polisi sekarang juga, bapak menjadi tersangka atas pembunuhan Rey dan Tama!" ujar Ferry.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ferry, Sumantri terdiam. Dia menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Ferry. Dia berjalan perlahan menghampiri Ferry tanpa rasa takut sedikit pun.


"Ada apa Pak Ferry? Kenapa Bapak menjadikan saya tersangka?" jawab Sumantri.


"Ini buatan bapak kan?" Tanya Ferry dengan tegas.


Pak Sumantri hanya diam, dia mengambil kantung itu dan memperhatikan pisau itu dengan serius.


"Enggak! Ini bukan buatan saya, saya tidak pernah membuat pisau seperti ini. Namun, aku rasa aku pernah melihat pisau seperti ini," jawab Sumantri.

__ADS_1


"Di mana?"


Pak Sumantri terus berusaha untuk mengingat dimana dirinya melihat pisau itu, namun nihil apa yang di usahakan tidak membuahkan hasil.


Melihat hal itu, Ferry sangat kesal dia menghampiri Sumantri dan mencekik Sumantri. Dia mengancam Sumantri untuk tidak bohong kepada dirinya dan mengatakan yang sebenarnya namun hal itu masih sama. Sumantri masih tetap bungkam dengan hal itu.


Dia mengatakan kepada Ferry kalau dia memang benar benar lupa dimana dirinya melihat pisau itu.


Akhirnya mau tidak mau Ferry pun mengalah, dia memilih untuk pergi dengan raut muka penuh amarah dari hadapan Sumantri. Dia tidak ingin kalau kemarahan nya justru merusak barang bukti.


"Kurang ajar! Kenapa orang itu masih tidak bisa mengingat dimana dia melihat pisau ini?" ucap Ferry dengan sangat marah di luar toko.


Beberapa saat kemudian, anak buahnya menghampiri Ferry. Anak buahnya mencoba menangkan Ferry yang sudah terbakar oleh api kemarahan.


"Pak, bapak lihatkan keadaan Pak Sumantri. Dia itu sudah tua, wajar kalau dia lupa dengan hal hal seperti ini, berikan dia waktu. Saya yakin sebentar lagi Pak Sumantri akan mengatakan kepada kita dimana dia melihat pisau ini."


Mendengar apa yang di katakan oleh anak buahnya, Ferry pun memutuskan untuk pergi dari toko. Dia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan toko itu. Ketika Ferry dan anak buahnya pergi, Pak Sumantri keluar dari dalam tokonya. Dia terus memandang ke arah Ferry yang pergi meninggalkan tokonya dengan penuh kemarahan.


Saat itu Pak Sumantri terus memikirkan keberadaan pisau itu, namun dia terus gagal dan gagal.

__ADS_1


"Dimana aku menemukan pisau itu?" ucap Pak Sumantri berbicara dengan diri sendiri.


Dia terlihat terus kepikiran dengan pisau itu.


__ADS_2