Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
15. Kasih Sayang Ibu 2


__ADS_3

   Di halaman rumah sakit Bu Ratna terlihat menangis hingga sesegukan,tak berselang lama Adi keluar dari mobil setelah ia melihat keadaan Bu Ratna keluar rumah sakit dengan menangis.


Ia menghampiri Bu Ratna yang sedang menangis di lobi rumah sakit.


"Ada apa Ma?" tanya Adi dengan khawatir.


"Kenapa kamu tega bohongi Mama?" jawab Bu Ratna dengan sedih lalu melanjutkan berkata "Dengan kamu mengatakan kalau pasien itu adalah Andi padahal kamu tau dia bukan Andi melainkan Juli,kenapa kamu tega bohong sama Mama?"


"Maa,aku hanya ingin menghibur Mama supaya Mama tidak sedih lagi," jawab Inspektur Adi.


"Tapi karena kebohongan kamu Mama lebih sedih Adi," jawab Bu Ratna dengan nada semakin meninggi lalu Adi memegangi tangan Bu Ratna dan meminta maaf.


"Maaf Maa,aku benar benar minta maaf sama Mama karena aku sudah bohong sama Mama," ucap Inspektur Adi dengan penuh penyesalan lalu ia melanjutkan berkata "Mama bisa anggap dia Andi Maa!."


Mendengar ucapan Inspektur Adi Bu Ratna berhenti menangis dan ia menghapus air mata nya.


"Tapi dia bukan Andi Adi,dia tidak mungkin menerima aku sebagai ibunya," jawab Bu Ratna.


"Mama belum mencobanya,Mama harus mencoba nya," jawab Inspektur Adi dengan meyakinkan ibunya dan Bu Ratna pun akhirnya percaya kalau dia bisa memanggil Juli sebagai Andi.


Setelah itu Inspektur Adi membawa Bu Ratna masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Tak berselang lama Inspektur Adi dan ibunya sampai di depan kamar Juli. Melihat istrinya sudah tidak sedih dan menangis lagi Ayah Adi sangat bahagia,  beberapa saat kemudian Ibu Inspektur Adi meminta izin untuk melihat keadaan Juli dan Toni pun mengizinkan Bu Ratna bertemu dengan Juli.


Setelah itu Bu Ratna pun masuk kedalam ruangan itu sendiri.Di luar ruangan pun hanya tersisa Toni, Ayah Adi dan Inspektur Adi.


"Toni aku ingin berbicara sesuatu dengan kamu," ucap Inspektur Adi lalu ia duduk di kursi yang berada ada di luar ruangan itu.


Tak berselang lama Toni pun ikut duduk di samping Inspektur Adi.


"Iya,apa yang ingin Pak Inspektur katakan?" jawab Toni setelah duduk di kursi.


"Aku sebenarnya tidak enak mengatakan nya,tapi aku harus mengatakan nya.Aku minta izin sama kamu," ucap Inspektur Adi.


"Apa itu Inspektur?" jawab Toni dengan heran.


Tak berselang lama Inspektur Adi menceritakan apa yang di ingin kan oleh Inspektur Adi.


Mendengar ucapan Inspektur Adi Toni langsung terkejut dan ia berdiri dengan terlihat marah kepada Inspektur Adi.Ia kemudian langsung pergi meninggalkan Inspektur Adi dan masuk kedalam ruangan Juli namun saat ia berada di dalam ruangan itu langkah Toni langsung berhenti dan ia mencoba menenangkan dirinya dan tak marah.


Langkah nya terhenti karena ia melihat Bu Ratna membelai belai kepala Juli dengan penuh kasih sayang.


"Nak,Ibu tidak tau apakah kamu memang Andi atau Juli? Yang ibu tau, ibu sedih melihat keadaan kamu seperti ini kalau seandainya kamu memang Andi Ibu akan sangat bahagia dan sangat bersyukur karena anak ku masih hidup walaupun keadaan nya sedang sakit dan tak sadarkan diri seperti ini," ucap Ibu Inspektur Adi dengan air mata yang terus menerus mengalir.


Mendengar dan melihat kasih sayang dari Bu Ratna sangat tulus untuk Juli mata Toni langsung berkaca kaca dan tak berselang lama air mata menetes.


Beberapa detik kemudian Bu Ratna mencium tangan Juli melihat hal itu Toni langsung tersenyum bahagia.Setelah itu ia langsung mengingat kejadian tadi saat bersama Inspektur Adi.


Suasana pun berubah seperti saat ia berbicara dengan Inspektur Adi.

__ADS_1


"Aku minta izin sama kamu untuk memperbolehkan Mama memanggil Juli dengan panggilan Andi," ucap Inspektur Adi dan langsung membuat Toni dan Ayah nya terkejut.


"Apa?!" jawab Toni dengan terkejut dan ia langsung berdiri dari duduknya lalu ia berhenti sesaat lalu melanjutkan berkata"Itu gak akan bisa terjadi Inspektur."


"Adi,apa maksud kamu berkata seperti itu?" sahut Ayah Adi dengan heran.


"Ayah haya ini cara satu satu nya untuk menyembuhkan Ibu," jawab Inspektur Adi kepada ayahnya.


"Oh jadi ini demi ibu Anda Inspektur, tidak! Aku tidak akan mengizinkan nya Indpektur.Tidak akan pernah!"  jawab Toni


"Tolong dengarkan penjelasan ku  dulu Toni,aku melakukan ini ada alasannya dan aku akan ceritakan alasannya tapi dengarkan dulu cerita ku," jawab Inspektur Adi untuk menenangkan Toni.


Tak berselang lama Toni kembali duduk di samping Inspektur Adi dan mendengarkan cerita dari Inspektur Adi.


"Aku punya Adik laki laki namanya Andi,dia sangat baik tidak hanya kepada aku atau pun kepada orang tuanya tapi juga ke pembantu kita.Bahkan mungkin bagi dia kami bukan keluarganya karena kami tak pernah peduli atau pun adil dengan dirinya.Kami lupa tanggal lahir dia saat ia masih hidup karena kami sibuk dengan urusan kami sendiri.Hingga di suatu hari kami lupa kalau hari itu adalah hari kelulusan dia dari sekolah menengah kejurusan namun kami semua tidak datang dan sibuk dengan urusan kami masing masing." Toni pun langsung berubah menjadi diam.


"Saat ia berada di sekolahan ia mendapat ejekan dari teman temannya karena kami tak datang ke sekolahan,acara pun berakhir denhn meriah namun tidak dengan Andi ia pulang ke rumah dengan raut muka sedih.Sesampainya Andi di rumah tidak ada yang menyambut dirinya hanya pembantu kami yang menyambut dirinya.


Andi pun kesal dengan perlakuan kami ia marah kepada kami kami sempat berdebat dengan Andi namun karena ia tak ada yang mendukung dirinya akhirnya dirinya lebih memilih pergi dari rumah dengan membawa salah satu mobil.Ia pergi dengan kecepatan tinggi di situ aku dan keluarga mulai menyadari kalau kami tidak adil dan tidak pernah sayang dengan dia.


Aku berusaha mengejar dia namun ia tetap meninggikan kecepatannya,karena ia terlalu marah kepada kami hingga tanpa ia sadari jalan yang ia lewati ada sebuah tikungan,ia berusaha menghentikan mobilnya namun semua itu sia sia karena mobilnya terjatuh ke jurang dan langsung meledak di jurang itu.Kami berusaha mencari Andi di tempat kejadian lalu tak jauh dari tempat kejadian kami menemukan seorang mayat yang sudah hangus terbakar.


Sejak kejadian itu Mama langsung menyesal dan ia lebih sering mengurung dirinya di kamar,kami memeriksakan Mama ke rumah sakit dan ternyata ia mengalami depresi,"ucap Inspektur Adi.Mendengar cerita Inspektur Adi Toni langsung berdiri dan kembali marah kepada Inspektur Adi.


"Jadi,maksud Inspektur Adi Juli menjadi penganti orang yang sudah mati karena kecelakan itu!."


"Tidak seperti itu aku hanya ingin Mama ku sembuh dari depresinya dan bisa kembali seperti dulu," jawab Inspektur Adi.


Juli pun kemudian pergi meninggalkan Inspektur Adi dan ayahnya lalu pergi kedalam ruangan yang di tempati Juli.


Beberapa detik kemudian suasana kembali seperti semula lalu Toni terlihat menghapus air mata nya dan datang menghampiri Bu Ratna.Bu Ratna langsung melihat kearah Toni dengan tidak enak karena ia membelai kepala Juli dan mencium tangan Juli.


"Maaf Nak saya terlalu lama di sini," ucap ibunya Inspektur Adi lalu berdiri dan berbalik akan pergi namun langkahnya terhenti ketika Toni berkata "Apa Tante nyaman di dekat Juli?"


Bu Ratna pun berbalik menoleh ke arah Toni lalu menjawab anggukan.


"Iya saya bahagia di dekat Andi," jawab ibu Inspektur Adi hal itu langsung membuat Toni terkejut.


"Apa? Andi?" ucap Toni.


"Maaf maksud saya Juli," jawab ibu Inspektur Adi dengan raut muka tidak enak kepada Toni.


"Apakah Tante suka kalau memanggil Juli dengan nama Andi?" tanya Toni dengan santai.Ibu Inspektur Adi pun langsung mengangguk setelah Mendengar ucapan Toni lalu Toni melanjutkan berkata "Kalau Tante memang suka memanggil Juli dengan nama Andi!,panggil saja Tante."


"Benarkah Nak?"jawab Bu Ratna dengan heran dan tak percaya lalu benerapa detik kemudian Toni pun menjawab anggukan kepada Bu Ratna dan seketika Bu Ratna langsung tersenyum bahagia dan memeluk Toni dengan penuh bahagia,ia juga mengucapkan terima kasih kepada Toni.


Toni yang menerima pelukan dari ibu Inspektur Adi dengan sangat bahagia perlahan lahan membalas pelukan ibu Inspektur Adi dengan pelukan kasih sayang seorang anak.Ia memeluk ibu dari Inspektur Adi dengan erat secara beberapa saat lalu ia berkata dalam hati.


"Kenapa aku memiliki perasaan yang tak pernah aku dapat kan seperti ini dari Mama?"ucap toni dalam hati.

__ADS_1


Tak berselang lama Bu Ratna melepaskan pelukannya dan pergi keluar mengajak Toni,setelah mereka berdua keluar Bu Ratna meminta Adi dan Ayah Adi berterima kasih.


"Adi,kamu harus berterima kasih kepada Nak Toni,"ucap Bu Ratna dengan sangat bahagia.


"Kenapa Maa?"jawab Inspektur Adi dengan heran lalu ibunya menjawab "Karena Nak Toni sudah mengizinkan  Mama memanggil Juli dengan nama Andi,"jawab Ibu Ratna.


Mendengar ucapan ibunya Inspektur Adi langsung melihat kearah Toni dan ia melanjutkan tersenyum kecil lalu berkata"Terima kasih."


     Saat kebahagiaan di rasakan oleh Ibu Ratna karena mendapatkan izin untuk memanggil Juli dengan nama Andi.Ia terlihat sangat marah dengan keputusan sepihak Toni.


"Enggak bisa!"ucap Bu Laras yang berdiri di samping kanan Inspektur Adi ia terlihat sangat marah dan kesal.Ia kemudian menghampiri Toni dan Inspektur Adi,setelah ia berada di depan Toni dengan sangat keras Bu Laras langsung menampar Toni hingga membuat Toni memegangi pipinya dan mempalingkan wajahnya dari Bu Laras.


"Sakit? Sakit tamparan Mama Toni?.Itu lah yang Mama rasakan kamu menampar hati Mama Toni,kamu melukai hati Mama dengan mengizinkan keluarga yang baru kamu kenal memanggil Juli dengan sebutan orang lain.Apakah kamu tidak memikirkan perasaannya Juli kalau ia tau dia di panggil Andi?"ucap Bu Laras dengan nada semakin meninggi.


Toni yang mendapatkan tamparan dari ibunya berusaha menjelaskan alasannya namun semua itu sia sia karen Bu Laras sudah terlanjur marah.


Ayah Toni pun berusaha membujuk Bu Laras agar tidak marah lagi seperti yang Bu Laras lakukan saat ini namun ia tak mempedulikan bujukan Ayah toni dan tetap marah kepada Toni.


"Dengarkan penjelasan ku dulu Maa,"lalu Toni mendekati Mamanya dan memegangi.


"Apa? Apa alasan kamu membiarkan mereka memanggil Juli dengan nama Andi padahal kamu tau kalau Juli itu bukan Andi?"jawab Bu Laras dengan nada tinggi.


Toni mengajak ibunya pergi sedikit menjauh dari keluarga Adi untuk menceritakan alasan mengapa ia mengizinkan orang tua Andi memanggil Juli dengan nama Andi.


Setelah ia dan ibunya sedikit jauh dari tempat itu Toni menceritakan segala sesuatu yang ia dengar dari Inspektur Adi dan ia juga menceritakan segala sesuatu yang ia lihat saat ia berada di dalam ruangan itu.


Bu Laras hanya mendengarkan cerita dari Toni dan lama kelamaan Bu Laras pun menerima keputusan sepihak Toni walaupun hatinya berat untuk menerima keputusan itu.Ia dan Toni pun kembali menghampiri keluarga Adi dan ayah Toni,saat Bu Laras sudah di dekat keluarga Adi.Ia meminta maaf kepada keluarga Adi.


"Maafkan saya,karena mungkin saya sudah menyakiti hati kalian dengan ucapan saya,"ucap Bu Laras dengan menyesal lalu keluarga Adi pun menjawab senyuman kecil di mulut Inspektur Adi dan keluarganya.


Bu Laras kemudian mendekati Bu Ratna lalu memegang tangannya yang gemetar setelah mendengar ucapan ibunya Toni.


"Maafkan saya,saya membuat Anda takut,"ucap Bu Laras namun tak di jawab oleh Bu Ratna dan Bu Ratna melepaskan tangan Bu Laras lalu sembunyi di balik Ayah Adi.


"Ada apa Maa? Jangan takut Bu Laras baik kok,"ucap Ayah Adi untuk menyakinkan Bu Ratna untuk menemui Bu Laras.Akhirnya Bu Ratna pun mau menemui Bu Laras walaupun dengan keadaan masih ketakutan.


"Apakah Anda ingin memanggil Juli dengan nama Andi?"tanya Bu Laras kepada Bu Ratna dan Bu Ratna pun menjawab anggukan.


Melihat jawaban Bu Ratna Bu Laras tersenyum lalu menjawab"Tidak papa,Anda bisa memanggil Juli dengan nama Andi saya tidak akan marah lagi.Saya berjanji."


"Serius,"jawab Bu Ratna dengan sedikit takut lalu Bu Laras menjawab anggukan dan tersenyum kecil di mulutnya.Lalu Bu Ratna memeluk Bu Laras dengan sangat bahagia dan Bu Laras pun membalas pelukannya.


    Di sebrang ruangan terlihat seseorang tengah mengintip keadaan di depan ruangan itu.Orang itu terlihat sangat marah kepada mereka semua,tangan terlihat mengepal seperti memeras santan,lalu ia melanjutkan menghentakkan kaki kanannya dengan penuh kemarahan daan kekesalan.


Tak berselang lama orang itu pergi dengan kesal dan seperti penuh dendam.


     Keadaan di depan ruangan Juli sedikit haru di rasakan oleh Inspektur Adi dan yang lain lainnya karena mereka melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Bu Ratna.


Beberapa detik kemudian Bu Ratna masuk ke salam ruangan Juli dengan sangat bahagia,sesampainya di dalam ruangan itu Bu Ratna langsung mencium kening Juli dan tangan Juli dengan mata yang berderai.

__ADS_1


"Andi ku sudah datang dia masih hidup dia tidak meninggal,"ucap Bu Ratna dengan sedih dan berlinang air mata lalu terlihat ia mencium tangan Juli yang lemas.


__ADS_2