Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
41. Yang Sebenarnya


__ADS_3

    Saat itu suasana tengah haru,menegangkan dan saat itu Juli masih terlihat sangat sedih dengan pistol yang di arahkan ke Andi.Tak berselang lama Ayah Andi pun bangun meninggalkan Andi lalu ia berkata meminta maaf kembali kepada Juli,ia perlahan lahan mendekati Juli namun saat Juli mendengar permintaan maaf lagi dari ayahnya Juli pun kembali marah.Juli pun langsung histeris mendengar perminta maafan ayahnya.


"Aku tidak ingin permintaan maaf Ayah,aku tidak ingin itu yang aku inginkan aku hanya ingin keadilan. Keadilan yang selama ini aku tidak pernah dapatkan,selama ini apakah Ayah mencari aku? Tidak!.Ayah tidak pernah mencari aku,selama ini apakah ayah memikirkan aku? Tidak!.Lalu bagaimana aku harus memaafkan ayah? ,"ucap Juli dengan bercucuran air mata


"Ayah tau Ayah salah tapi tolong dengar kan penjelasan Ayah terlebih dahulu,Ayah mohon sama kamu dengarkan Ayah!"


Ayah Adi kemudian duduk bersendekul di depan Juli sambil melipat kedua tangannya dengan air mata yang terus nengalir membasahi pipi Ayahnya Juli.Juli pun hanya bisa diam melihat apa yang di lakukan ayahnya namun tidak dengan Andi.


"Apa yang A... Ayah lakukan? Aaagghh,"ucap Andi dengan terbata bata dan sesekali ia mengerang kesakitan namun ucapan Andi tidak di sambut baik oleh Ayahnya,Ayahnya menjawab Andi dengan membentak.


"Diam Andi!"lalu ia melanjutkan berkata dengan sedih kepada Juli"Ayah tau ini salah Ayah,tapi kamu harus tau kalau Ayah melakukan ini karena Ayah dulu tidak punya uang untuk membesarkan kamu,Andi dan Adi.Saat itu Ayah hanya bisa membiayai dua orang anak saja yaitu Andi dan Adi, Ayah sebenarnya tidak tega Juli tapi bagaimana lagi? Ayah sudah tidak bisa apa apa.Ayah tidak punya apapun saat itu,"ucap Ayah Juli untuk menjelaskan kepada Juli tentang alasannya menaruh Jul di panti asuhan.


"Wah,wah,wah selamat Tuan,selamat. Saya ucapkan selamat kepada Anda, Anda pantas mendapatkan award sebagai pembuat alasan terbaik,saya memberi appresiasi kepada Tuan," jawab Juli dengan di sertai tepukan tangan.Ia kemudian menghentikan tepukan tangannya dan mendekati Ayah nya,setelah ia berada di dekat ayahnya dengan nada marah bercampur sedih Juli berkata"Sampai kapan Ayah bohong dengan aku? Apa kah tidak cukup dengan membuang aku ke panti asuhan? Bangun!.Aku bilang bangun!."


Ayahnya pun bangun dari tindaka memohonnya setelah ayahnya bangun Juli secara perlahan lahan memegangi tangan Ayah nya lalu ia menaruh pistolnya ke tangan ayah nya dan Juli membantu ayahnya menodongkan pistol itu ke arah kepalanya.


"Kalau memang Ayah belum puas dengan membuang aku ke panti asuhan,Ayah bisa membunuh aku di depan keluarga Ayah.Ayah bisa membunuh aku saat ini agar kalian bisa hidup bahagia bersama tanpa ada bahaya dari Juli!."


"Juli,kenapa kamu melakukan ini? "


"Harusnya aku yang tanya kepada Ayah,kenapa Ayah melakukan ini? Kalau memang Ayah tidak ingin aku mati lalu kenapa Ayah tidak membiarkan aku mengambil hak ku?"


"Karena apa yang kamu lakukan itu salah! Sangat salah!,"jawab Ayah Juli dengan baik lalu menjauh kan tangan nya dari kepala Juli dan membuang pistol itu.Ia kemudian memegangi lengan Juli sambil berkata"Ayah minta maaf sama kamu sekali lagi,kalau kamu ingin menyakiti seseorang Ayah yang pantas kamu sakiti bukan Ibu kamu,Andi atau pun Kak Adi mu!.Hanya Ayah yang salah disini tidak ada orang lain,Ayah benar benar minta maaf!.


"Maaf! Maaf Ayah bilang!"lalu ia mendorong ayahnya hingga ia terjatuh ke lantai di dekat Andi dan keluarga nya lalu ia melanjutkan berkata"Apa tindakan Ayah itu pantas di maafkan? Tujuanku kemari itu karena aku ingin mencari keadilan bukan permintaan  maaf dari Ayah.Aku tidak butuh itu!,yang aku butuhkan hanya keadilan dan keadilan tidak dengan yang lain!."


Juli kemudian pergi untuk mengambil palu yang tidak jauh dari dirinya setelah itu ia kembali dengan menyeret palu itu.Saat Juli sudah sudah berada di dekat keluarganya ia berkata denga nada marah dan emosi.


"Sekarang pilihannya adalah kalian semua yang mati atau aku yang mati! Yaaaaaaakkk,"ucap Juli lalu ia berteriak sembalih mengangkat palu yang ia pegang untuk memukul Ayahnya namun tiba tiba"Door!"suara tembakan pun terdengar semua orang pun langsung terdiam begitu pula Juli.Secara perlahan lahan kedua tangan Juli yang memegangi palu itu meregang dan tak berselang lama palu itu pun terjatuh dari tangannya dan jatuh ke lantai.Setelah itu tubuh Juli pun mulai melayang dan jatuh ke belakang secara perlahan lahan dan tak berselang lama"Bruuuggkk"tubuh Juli pun jatuh ke tanah.Melihat hal itu Ayahnya pun langsung melihat ke arah orang yang mebembak Juli dan ternyata yang menembak Juli adalah Bu Ratna,saat setelah ia mengetahui kalau Bu Ratna yang menembak ia pun terlihat marah lalu ia langsung menghampiri Juli.Ia terlihat khawatir lalu ia menempatkan kepala Juli ke atas pangkuannya dan ia berkata dengan marah kepada Bu Ratna.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Kamu menembak anak kamu sendiri!. Kenapa?,"ucap Ayahnya Juli dengan nada marah


Bu Ratna kemudian meminta maaf kepada Juli dengan sedih


"Maaf Juli,Ibu melakukan ini karena Ibu terpaksa kamu memberi pilihan yang sulit!."


Juli pun perlahan lahan melihat ke arah jantungnya yang tertembak sambil mengerang kesakitan.


"Apa yang akan kamu lakukan Nak?," tanya ayahnya setelah melihat dan mendengar Juli kesakitan dan terlihat ingin berbicara namun ia tidak bisa mengatakannya.Kemudian Juli pun mulai mengerakkan tangan kanannya ke arah jantung setelah tangannya berada di area jantungnya.


"Aaagghh,"erang Juli saat tangan nya berada di area dada yang di tembak oleh Bu Ratna setelah itu Juli melanjutkan berkata"A... Aku hanya i... Ingin keadil... Aaaggghh,ke... Keadilan!."Jawab Juli dengan terbata bat dan tiba tiba setelah berkata itu tangannya pun langsung lemas dan begitu pun kepalanya yang langsung jatuh dengan lemas.Di situ ayahnya pun langsung panik setelah melihat hal itu ia memeriksa keadaan Juli dan dengan sesekali mengoyang goyangkan tubuh Juli namun Juli tidak merespon apapun kepada ayahnya.Melihat hal itu ayahnya pun langsung menangis histeris,setelah itu Bu Ratna dan yang lain mendekati Juli namun saat Bu Ratna ingin menyentuh Juli ayahnya marah.


"Apa yang akan kalian lakukan?,"ucap ayahnya dengan nada serius


"Biarkan aku menyentuh anakku Mas," jawab Bu Ratna dengan sedih


"Anak? Bukannya anak kamu hanya Andi dan Adi?,lalu kenapa? Kenapa setelah Juli mati kamu baru menganggap Juli sebagai anak kamu?," ucap ayah Juli dengan nada marah. Melihat kemarahan suaminya Bu Ratna pun berusaha meminta maaf kepada suaminya dan sesekali ia berusah menyentuh Juli namun suaminya tidak memaafkan dirinya dan tak mengisinkan Bu Ratna menyentuh Juli.Tak berselang lama Ayahnya Juli menghentikan tangisan nya dan melihat ke arah Bu Ratna yang sedih dan berurai air mata di samping jasad Juli.Setelah itu ia meletakkan Juli di lantai dan ia pergi untuk mengambil sesuatu pada awalnya Bu Ratna tidak menyadari apa yang di lakukan suaminya.Ia hanya melihat kearah jasad itu dengan mata terdiam dan menyesali atas apa yang ia perbuat dengan Juli.


namun tiba tiba suaminya berdiri di depan Bu Ratna,Andi dan Adi dengan membawa sebuah palu di tangannya.


"Sekali lagi!"


Bu Ratna dan yang lainnya pun langsung melihat ke arah suaminya dan Bu Ratna terlihat heran dengan melihat perbuatan suaminya.


"Apa yang Mas lakukan?,"tanya Bu Ratna lalu ia melanjutkan berkata"Dan apa maksud ucapan Mas?"


"Sekali lagi!,walaupun kamu sudah tau kalau Juli adalah anak kandung kamu tapi kamu tetap tidak adil dengan Juli. Kalian memang tidak adil dengan Juli, Juli kembali kemari karena dia ingin mencari keadilan dari kita semua maka dari itu,aku yang akan melanjutkan inginan nya aku yang akan mencari keadilan untuk Juli!,"ucap Ayah Juli dengn nada serius dan marah lalu ia mengangkat palu itu dan melayangkan ke kepala Bu Ratna hingga membuat Bu Ratna langsung tergeletak di lantai dengan mematung dan tak berkata sepatah katapun. Melihat tindakan ayahnya Andi dan Adi pun langsung terkejut dan teriak memanggil Ibunya.Suasana pun berubah menegangkan saat Adi yang terluka kakinya berdiri di depan ayahnya dan saling berdebat.


"Apa yang Ayah lakukan? Apa ayah akan membunuh Ibu?,"ucap Adi dengan nada tinggi namun disisi lain Andi yang terluka parah berusaha mendekati ibunya dengan berjalan merangka di lantai sambil sesekali memanggil Ibunya dengan lirih dan ia juga mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Yang Ayah lakukan,Ayah ingin memberi keadilan buat Juli!,tidak hanya Ibu kamu saja kamu pun harus merasakan apa yang di rasakan Ibu kamu?,"jawab Ayahnya dengan nada serius dan mata yang berkaca kaca lalu dengan sekuat tenaga ia berusaha menyerang Adi dengan palu itu namun sia sia karena serangan itu dapat di tangkis oleh Adi dengan cara ia memegangi palu yang di gunakan oleh Ayahnya untuk menyerang Bu Ratna.


"Kalau memang ingin mencari keadilan buat Juli,seharusnya Ayah tidak melakukan ini!,seharusnya Ayah memakamkan Juli dengan layak!."


"Jangan pernah kamu mengatakan kalau Juli sudah mati!,dia itu masih hidup sekarang dia hanya sedang tidur,ingat itu kalau sampai mengatakan Juli mati aku tidak akan segan segan menghabisi kamu walau pun aku kamu adalah anak kandung ku tapi aku tidak peduli!!!."


Ayah Adi pun memberi ancaman kepada Adi agar tidak mengataknya lagi namun ia tidak mempedulikan ancaman Ayahnya dan tetap menjelaskan kondisi Juli,saat itu ia tak menyadari kalau tangan kiri ayahnya memegang sebuah pisau yang sangat mengkilat dan tajam.


Ia terus menjelaskan kepada Ayahnya kalau Juli sudah meninggal,mendengar penjelasan Adi ayahnya pun terlihat sangat marah dan murka.Beberapa saat kemudian Ayah Adi pun menusuk perut Adi dengan pisau yang ia bawa, Adi pun hanya diam tak berkata sepatah katapun setelah ditusuk oleh ayahnya.Beberapa detik kemudian ayahnya menarik pisau itu dan tak berselang lama Adi mengeluarkan kata "Ayah"dengan nada lirih lalu beberapa saat kemudian ayahnya kembali menusuk perut Adi,Adi pun hanya bisa terdiam dengan hembusan nafas yang pelan.


"Ke... Napa Ayah melakukannya?," ucap Adi dengan terbata bata.Melihat Kakak nya juga di tusuk oleh ayahnya Andi pun juga terkejut lalu dengan lirih ia memanggil ayahnya.Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Adi lalu ia menjawab penjelasan Adi dengan nada serius ia berkata"Aku sudah katakan jangan pernah kamu mengatakan kalau Juli itu sudah mati!!!."Ia kemudian menarik pisau yang menusuk perut Adi lalu ia melanjutkan berkata"Jangan pernah lagi kamu mengatakan kalau Juli sudah mati!"


Ayah Adi pun kembali menusukkan pisau itu ke perut Adi,melihat Adi di tusuk lagi oleh ayahnya Andi pun berusaha bangun dari lantai dan berusaha menyelamatkan Adi namun ia gagal dan jatuh lagi.Beberapa saat kemudian ayahnya pun kembali menarik pisau itu lalu tak berselang lama Adi mulai mengerakkan tangan nya seolah ingin meraih tangan ayah nya namun tak bisa karena tubuhnya semakin lama semakin melayang menjauhi ayahnya dan tak berselang lama tubuhnya jatuh ke lantai namun sebelum itu dengan lirih Adi memanggil ayahnya.Adi pun langsung jatuh ke lantai dengan keadaan perut yang berlumuran darah,melihat kedua orang yang di sayangi tak berdaya di lantai Andi pun terlihat sedih lalu secara perlahan lahan ia menghampiri Adi yang hanya diam tak berkata sepatah katapun.Setelah ia dekat dengan Kakaknya Andi pun memeriksa keadaan Adi dan beberapa saat kemudian ia terlihat sedikit senang karena Adi masih hidup saat itu. Merasa kakaknya masih bisa di selamatkan Andi pun akhirnya memohon dengan ayahnya agar membawa Inspektur Adi ke rumah sakit namun permohonan itu di tolak oleh ayahnya dan dengan


marah ia menghampiri Adi dan Andi dengan tangan membawa sebuah palu lalu setelah ia sampai di dekat Adi ayahnya langsung mendorong Andi agar menjauh dari tubuh Adi.Andi pun langsung terdorong lumayan jauh dari tubuh kakaknya,setelah itu ayahnya berdiri di atas Adi dengan nafas terengah engah,raut muka yang marah dan ia pun perlahan lahan mengangkat palu itu.Melihat Ayahnya ingin menyakiti Adi dengan palu itu Andi pun berusaha menghentikan Ayahnya namun ia tak bisa bangun dari jatuhnya.Ia terus mencoba bangun namun ia gagal,gagal dan kembali gagal lagi.


"Aaaaaaaaa,"teriak ayah nya lalu tampa ampun ia memukul kepala Adi dengan palu itu secara berulang kali Adi pun langsung meninggal setelah hal itu Ayah nya pun berkata sambil melihat ke arah Juli dan dengan memberi senyuman kecil di bibirnya"Kamu akan meraih apa yang kamu inginkan Juli,Ayah akan menebus kesalahan Ayah dulu dengan menghabisi mereka semua!!!.Ayah berjanji dengan kamu!."


Juli pun hanya berbaring di lantai dengan berlumur darah lalu ayahnya menghampiri Bu Ratna dan ia memeriksa keadaan Bu Ratna saat itu Bu Ratna masih bernafas melihat hal itu ayahnya pun mulai mengangkat palu itu namun saat ia ingin memukul Bu Ratna Andi berusaha menghentikan Ayahnya.


"Apa yang akan Ayah lakukan?," ucap Andi dengan sesekali terbata bata dan lirih


Mendengar ucapan Andi ayahnya mendekati Andi lalu ia menarik kerah Andi dan berkata dengan nada serius


"Ayah akan melakukan hal yang sama kepada Ibu mu!.Ayah akan menusuk dia berulang kali lalu memukul dia dengan palu dan yang terakhir aku akan mengkremasi dia,kamu dan yang lainnya dengan secara bersamaan!. Kamu mmengerti!,"ucap ayah nya lalu tangannya meraba ke kepala Andi dan berkata dengan nada sedih"Ayah sayang sama kamu Andi,"namun tiba tiba nada bicaranya berubah menjadi serius"Tapi maaf Ayah harus melakukannya!."


Ayahnya pun langsung membenturkan  kepala Andi ke lantai dengan sekuat tenaga hingga membuat kepala Andi yang membentur terlihat memantul lalu dengan terbatas bata dan Andipun berkata"Ayah pa... Pantas melakukan i... Ini ke aku tapi aku mo... Mohon ja... Jangan sakiti i... i... Ibu!."


"Ayah sudah katakan Andi,Ayah ingin memberi keadilan buat Juli jadi kamu jangan pernah menghentikan Ayah karena Ayah akan tetap melakukannya kepada kamu dan Ibu kamu!"

__ADS_1


Ayah Andi pun kembali meraih kepala Andi lalu ia membentur kan lagi kepala Andi dengan sekuat tenaga dan disitu Andi pun langsung tak berdaya di lantai ia hanya berusaha meraih tangan ayahnya namun ia tidak bisa melakukan nya.


__ADS_2