Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
8. Pertengkaran


__ADS_3

Beberapa saat berjalan akhirnya Juli sampai di depan pintu ia kemudian membuka pintu,saat itu terlihat Ayah Adi terlihat khawatir dan penuh dengan penyesalan.


Juli melihat ke arah Ayah Adi dengan raut muka sedih, namun ia berusaha menutupi kesedihannya dengan amarah.


"Inspektur Adi!" panggil Juli dengan kesal.


Mendengar ada yang memanggil Adi, Ayah Adi menengok ke arah Juli. Ketika Ayah Adi berbalik dia terkejut, mulut ternganga. Matanya tak berkedip dan tetap fokus melihat Juli yang mirip Andi. Dia berdiri secara perlahan dengan mata yang masih tertuju kepada Juli. Juli kemudian pergi ke arah Inspektur Adi lalu berhenti di samping Inspektur Adi yang tengah terbaring lemah di tempat tidur.


"Apa kurang pertanggung jawaban saya Inspektur Adi? Saya sudah membawa Anda ke rumah sakit, saya juga sudah membayar semua biaya rumah sakit bahkan saya akan membayar perawat untuk merawat Inspektur. Tapi kenapa? Kenapa Inspektur tega memukuli Toni? Padahal dia tidak bersalah," ucap Juli dengan kesal dan marah.


"Maafkan aku Juli, ini adalah sebuah kesalahan pahaman," jawab Adi dengan menyesal.


Beberapa saat kemudian Ayah Adi datang menghampiri Juli dan memanggil Juli dengan sebutan Andi. Dia berdiri di samping kiri Juli, Ayah Adi hanya menatap Juli yang sedang marah. Tak berselang lama, Ayah Adi memeluk Juli dengan erat dan terdengar beberapa kali memanggil Juli dengan nama Andi. Merasa bukan Andi, Juli marah dia mendorong Ayah Adi hingga sedikit menjauh dari dirinya.


"Andi, Andi, Andi!. Tidak hanya Inspektur Adi, Ayah Inspektur pun memanggil aku Andi kenapa? Kenapa kalian memanggil ku Andi? Aku tegaskan kepada kalian aku ... AKU BUKAN ANDI, AKU JULI!!!" ucap Juli dengan berteriak di ruangan operasi dan berlinang air mata.


Dia sangat marah kepada Ayah Inspektur Adi, melihat kemarahan itu Ayah Adi berusaha menenangkan Juli, dia berusaha mendekati Juli secara perlahan lahan.


Ketika dia berada di dekat Juli, dia mencoba membelai Juli dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tenang Nak, saya tidak akan menyakiti kamu!."


"Mundur!" tegas Juli dengan nada serius dan tatapan mata yang tajam. Juli menghentikan langkah Ayah Adi dan meminta menjauh dari dirinya, namun Ayah Adi tak mendengarkan Juli. Dia tetap melangkah maju menghampiri Juli. Melihat hal itu, Juli melangkah mundur menjauh dari ayah Adi. Dia menunjuk Ayah Adi dengan tatapan mata tajam dan penuh emosi.


"Aku bilang mundur, apa Bapak tidak mengerti?"


Ayah Adi tidak berhenti walau mendengar ucapan Juli, dia tetap mendekati Juli untuk menenangkan Juli. Juli pun tak kuasa menahan depresinya tangan yang menunjuk Ayah Adi tiba tiba bergetar. Dia terus meminta Ayah Adi mundur namun Ayah Adi tidak mempedulikan Juli.


Dia tetap melangkah mendekati Juli, namun Juli terus melangkah mundur hingga tubuhnya sudah menabrak sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Kala itu, meja berisikan teko air putih dari kaca, sebuah gelas, serta piring buah dengan satu pisau tajam. Juli terlihat sangat tidak kuat, dia kesakitan namun Ayah Adi tetap mendekati Juli.


Sebenarnya dia mendekati Juli karena dia ingin membantu Juli, namun Juli terus menjauh.


Adi yang menyadari keadaan Juli sangat menghawatirkan. Dia berusaha menghentikan ayahnya, namun ayahnya tidak mempedulikan ucapan Adi dan tetap mendekati Juli. Juli yang sudah tak tahan dan langkahnya sudah terhenti, dia mengambil teko kaca di atas meja dan membantingnya hingga suara pecahan kaca itu sampai terdengar di luar ruangan.


Langkah Ayah Adi pun terhenti. Seketika Juli langsung teriak dan mengacak acak semua barang di atas meja. Bahkan, dia juga mengambil pisau yang ada di piring. Dia mengancam Ayah Adi dengan menempatkan pisau itu di pergelangan tangannya dengan tangan tangan lain yang terus gemetar. Dia tak menyadari kalau getaran tangannya membuat pergelangan tangan kirinya terluka.


Menyadari kalau tangannya sudah terluka dan mengeluarkan darah. Dia tidak mempedulikan tangannya, dia tetap fokus meminta Ayah Adi pergi. namun saat itu, Ayah Adi tidak bisa pergi karena dia melihat tangan Juli terluka.Tak berselang lama, Toni pun datang, dia sangat terkejut karena melihat tangan Juli berdarah.


"Kakak aku mohon, lepaskan pisau itu!. Jangan sakiti diri Kakak, aku mohon!." Pinta Toni dengan mata yang berkaca kaca dan sedih.


Dia berusaha mendekati Juli namun Juli tak mempedulikan Toni merasa nyawa Juli dalam bahaya, Ayah Adi berlari ke arah Juli. Dia memegang tangan Juli dan memisahkan kedua tangannya. Saat kedua tangan Juli sudah saling berjauhaan. Tangan Juli yang memegang pisau langsung dia arahkan ke tubuh Ayah Adi, namun Ayah Adi berhasil menangkis tangan Juli dan menahan tangan Juli yang berusaha menyakiti Ayah Adi dengan pisau itu.


Dia sangat bersikeras untuk melukai Ayah Adi namun semua yang di lakukan Juli sia sia, karena tangannya di pegang Ayah Adi dengan erat, hingga sulit bergerak.


"Sadar Nak, sadar. Jangan sakiti diri kamu dan ayah. Ayah mohon," ucap Ayah Adi dengan tangan memegangi tangan Juli.


"Kamu bukan Ayah ku!" tegas


Juli. Dia berusaha keras menusuk Ayah Adi. Merasa tindakannya tidak akan berhasil tangan Juli pun langsung merayap seperti mencari sesuatu. Dia berhasil meraih sesuatu di atas dan yang diraihnya adalah gelas kaca di atas meja. Setelah ia berhasil mengambil gelas kaca itu, dia teriak dan menghantamkan gelas kaca itu ke kepala Ayah Adi.

__ADS_1


Melihat kejadian itu Toni dan orang yang lain terkejut dan panik. Seketika kepala Ayah Adi mengeluarkan darah, dia tak sadarkan diri. Dia memegangi kepalanya dan melepas perlahan tangan Juli.


Ayah Adi sempoyongan. Merasa semua sudah lengah Juli berusaha kabur namun sayang nasib buruk juga di alami Juli. Dia berlari, namun langkahnya tergelincir hingga kepalanya membentur ke lantai dan tidak sadarkan diri dengan kepala berdarah dan tangan kirinya yang terluka.


Melihat Juli pingsan di lantai Toni terkejut dan panik. Dia berusaha membangunkan Juli namun Juli tak kunjung bangun. Toni membantu Juli dengan beberapa perawat, begitu pula Ayah Adi yang di bantu berdiri dengan beberapa perawat.


Tak berselang lama, Juli dan Ayah Adi di masukkan ke dalam satu ruangan.


Para dokter membersihkan luka Ayah Adi dan luka Juli, luka Juli sangat parah ia hampir kehilangan nyawanya karena kehilangan banyak darah. Dokter membersihkan luka, namun dia memperban tangan Juli ia menyadari kalau Juli sudah banyak kehilangan darah.


"Ada apa Dokter?" tanya salah satu suster.


Dokter yang mengobati Juli berhenti dan kebingungan di ruang bedah.


"Suster gawat Juli akan kehabisan darah segera beri tau keluarganya tentang ini!" jawab dokter dengan sangat khawatir lalu memasang alat bantu pernafasan dan secara bersamaan suster itu keluar dan memberi tau keluarga.


Saat itu keluarga Toni sangat khawatir, dia mundar mandir kesana kemari dengan ekspresi muka panik.


Beberapa saat kemudian, Adi datang menghampiri Toni dengan memakai kursi roda. Emosi Toni langsung mendidih saat melihat Adi, dia sangat marah dengan Inspektur Adi.


"Ngapain kamu kesini, hah? Kamu mau lihat penderitaan Juli, iya?" ucap Toni dengan kesal dan marah.


"Enggak kok Ton, aku hanya mau menengok keadaan Ayahku," jawab Adi.


Beberapa saat kemudian, Suster keluar ruangan untuk memberi tahu keluarga Juli tentang keadaan Juli.


"Keluarga Juli!" panggil Suster itu.


"Ada apa Sus?" tanya Toni lalu menghampiri Suster dengan khawatir. "Apa yang terjadi dengan Juli, Sus?"


"Dia akan kehabisan darah, darah yang di miliki Juli sangat langka. Di rumah sakit kami, stoknya sudah habis, begitu pula di bank darah, mungkin diantara kalian ada yang cocok?" jawab suster itu. Toni terkejut, ia berbalik dan menghampiri Inspektur Adi ia terlihat sangat kesal dan marah.


"Puas, gara gara ayah kamu semua terjadi. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" ucap Toni dengan marah.


"Pak, saya mohon tolong jangan berkelahi di sini. Lebih baik, kita cari darah yang cocok untuk Juli."


Suster itu meminta Toni untuk melakukan test darah begitu pula Adi. Mereka di test secara bergantian. Ketika kedua orang itu selesai di test.


Beberapa jam kemudian, Suster itu keluar ruangan. Dia membawa hasil dari tes darahnya.


"Gimana hasilnya Sus?" tanya Toni dengan sangat khawatir.


"Hasilnya cocok.., " jawab Suster. Mendengar jawaban Suster itu wajah Toni sangat bahagia namun wajah Toni berubah ketika suster mengatakan kalau darah Inspektur Adi yang darahnya cocok dengan Juli.


Seketika Toni lemas, karena orang yang di tembak Juli akan menyelamatkan nyawa Juli.


"Apa yang harus ku katakan kepada Juli?" ucap Toni dengan lemas lalu menghampiri suster. "Suster, apakah tidak ada orang lain selain dia yang mendonorkan darah untuk Juli?"


"Ada.Tapi untuk saat ini kami membutuhkan darah Inspektur Adi," jawab suster.

__ADS_1


Mendengar jawaban suster, Toni pun menerimanya walau pun ia tidak ikhlas. Suster pun membawa Inspektur Adi ke ruangan yang di tempati Juli. Dia Inspektur berbaring di tempat tidur dengan di pasangi alat donor darah yang menghubungkan antara Juli dan dirinya. Toni sangat khawatir, dia panik mundar mandir didepan ruangan donor darah.


Tak berselang lama, Ayah Toni dan Bu Laras datang.


"Apa yang terjadi dengan Juli?" Toni pun menceritakan kejadian awal. Dari dia menelepon Juli, hingga kejadian Juli melukai dirinya sendiri. Bu Laras dan Ayah Toni sangat terkejut. Mereka tidak bisa berkata kata. Mereka hanya terpaku dan tak berkata sepatah kata pun.


"Lalu bagaimana keadaan Juli sekarang?" tanya Bu Laras dengan khawatir.


"Keadaannya tidak baik, dia kehilangan banyak darah karena pergelangan tangannya terluka. Selain itu, ada tusukan pisau di lengan kirinya," terang Toni dengan raut muka sedih.


Mendengar hal itu, Bu Laras memeluk Toni untuk menyemangati Toni. Toni pun membalas pelukan dari Bu Laras dengan erat.


     Keadaan Juli kritis, lengan kirinya di perban begitu pula pergelangannya.Tak hanya kedua bagian tubuh itu, kepalanya pun harus di perban. Dia terbaring di atas tempat tidur dan tak bergerak. Ia bernafas dengan di bantu oleh oksigen. Disisi lain, Ayah Adi mulai sadar namun dia masih lemah untuk berdiri. Saat Ayah Adi sadar, dia melihat ke sini kirinya.


Dia terkejut melihat Juli terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Dia berusaha bangun untuk menghampiri Juli, namun karena ia masih lemah ia tak bisa bangun karena suster melarang Ayah Adi bangun.


Dia hanya melihat keadaan Juli, yang matanya terus menutup. Tanpa di sadari mata Juli yang tertutup, mulai meneteskan air mata. Begitu pula Adi, melihat Juli menangis ketika tidak sadar. Dia sedih ketika melakukan donor darah untuk Juli.


"Aku yakin kamu Andi. Kamu harus selamat Dek, harus!."


Inspektur Adi pun memalingkan wajahnya. Dia melihat ke arah atap rumah sakit dan menutup matanya perlahan.


     Di luar, Toni berpelukan dengan Bu Laras selama beberapa detik. Setelah itu, Toni melepas pelukannya.


"Lalu siapa yang mendonorkan darah untuk Juli, kalau di pihak rumah sakit dan bank darah tidak punya stoknya?" tanya Bu Laras.


"Yang mendonorkan darahnya adalah Inspektur Adi!" jawab Toni dengan berat.


Mendengar ucapan Toni Ayah Toni dan Bu Laras terkejut.


"Kenapa harus dia? Bagaimana respon Juli kalau dia tau ada darah Inspektur Adi di dalam tubuhnya?" ujar Ayah Toni dengan sedikit kesal.


"Aku tidak bisa berbuat apa apa Ayah, kalau aku menghentikan Inspektur Adi maka taruhannya nyawa Juli," jawab Toni dengan sedikit bernada tinggi namun tegas.


"Iya Toni benar, kalau begitu jangan beri tau Juli tentang ini.Kita harus merahasiakan tentang semua ini dari Juli," sahut Bu Laras dengan ketakutan dan Khawatir.


      Beberapa saat kemudian, salah satu suster keluar dari ruangan itu. Suster itu langsung disambut dengan ke khawatiran di raut wajah Ibu Laras dan Ayah Adi berserta Toni.


"Suster bagaimana keadaan Juli?" tanya Ayah Adi dengan panik.


"Kalian harus bersyukur karena kita tepat waktu mendapatkan darah yang sesuai dengan darah Juli,kalau seandainya tidak mendapatkan darah dengan tepat maka nyawa Juli bisa melayang," terang Suster kepada Toni, Ayah Adi dan Bu Laras.


Mendengar jawaban suster Toni dan yang lain sangat bersyukur kepada Tuhan.


    Di dalam ruangan, Juli masih lemah tak berdaya dan di atas tempat tidur dengan alat bantu pernafasan. Melihat hal itu, Ayah Adi mendekati Juli dengan keadaan nya yang kurang stabil.Ia duduk di kursi yang berada di samping Juli ,dia terlihat memegangi tangan Juli dan sesekali mencium tangan Juli yang tengah tak sadar. Ayah Adi menangis karena penyesalan. Dia merasa keadaan Juli seperti ini karena dirinya.


"Maafkan aku Nak,seharusnya aku tidak memaksa mendekati kamu," ucap Ayah Adi dengan sangat sedih. Adi melihat ayahnya yang menangis sesenggukan.


"Ayah bagaimana keadaan Juli?" tanya Adi dengan sedikit lemas karena donor darah untuk Juli.

__ADS_1


"Dia baik baik saja, namun ia masih belum sadar," jawab Ayah Adi. Ayah Adi pergi meninggalkan Juli dan menghampiri Adi yang juga terbaring di tempat tidur. Mereka berdua terlihat sangat sedih karena keadaan Juli yang sangat menghawatirkan dan menyedihkan.


__ADS_2