
"Dimana Bu Endang ketika Rey meninggal?" tanya Ferry kepada Bu Endang dengan santai namun tatapan matanya tajam melihat ke arah Bu Endang.
"Saya di luar rumah pak, dan saya sedang melakukan arisan dengan teman teman saya! Saya bersumpah dengan Pak Ferry, saya keluar dari rumah untuk arisan. Saya tidak bohong!" jawab Bu Endang dengan tegas.
"Lalu apa yang terjadi pada tanggal 15 Maret? Apa yang Bu Endang lakukan dengan Rey?" tanya Ferry dengan tegas.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ferry, Bu Endang terkejut. Dia hanya diam, menatap Ferry.
Melihat Bu Endang tidak mengatakan sepatah kata, Ferry yang kesal ia memegang gelas yang berada di dekatnya dan melempar gelas itu ke dinding dengan penuh emosi dan kemarahan.
"JAWAB SAYA!!!" Bentak Ferry dengan nada tinggi dan penuh dengan kemarahan.
Bu Endang terdiam. Dia berpikir sejenak, memikirkan kejadian di tanggal 15 Maret.
Flashback, tanggal 15 Maret....
Rey, Tama dan Bu Endang tengah berada di ruang makan. Mereka tampak sangat menikmati makanan yang saat itu tengah di siapkan oleh Bu Endang.
Ketika Rey tengah menikmati makanan, tiba-tiba ia tersedak dan membutuhkan air minum. Menyadari hal itu, Bu Endang bergegas mengambilkan air minum untuk Rey. Saat ia berada di depan galon dengan memegangi sebuah gelas Bu Endang tersenyum dengan jahat.
Dia terlihat memasukkan sebuah bubuk racun di gelas yang berisi air yang akan di berikan kepada Rey. Ketika Bu Endang ingin memberikan air itu kepada Rey, dengan sengaja Tama menyenggol tubuh Bu Endang hingga membuat minuman itu tumpah mengenai tubuhnya.
"Kamu apa-apaan sih Tama, Ibu itu mengambilkan air itu untuk Rey. Kamu dengan sengaja ya menumpahkan minuman itu?" ucap Bu Endang dengan marah dan nada tinggi.
Dia terlihat sangat marah dengan apa yang di lakukan oleh Tama, melihat hal itu Tama masih tidak mempedulikan ibunya. Dia hanya mempedulikan Rey.
Bu Endang pun bangun dari jatuhnya dengan raut muka sangat kesal. Setalah itu dia pergi dari dekat Tama dan Rey. Dia pergi menuju ke dapur.
Melihat hal itu, Tama mengikuti ibunya dengan raut muka yang terlihat sangat marah. Dia memanggil tangan ibunya yang menaruh gelas dengan sangat kasar.
__ADS_1
Menyadari tangannya di pegang oleh Tama, Bu Endang meredakan amarahnya dengan mata sayup seolah wanita yang paling tidak berdosa.
"Kenapa Mama tega dengan Rey?" tanya Tama dengan tegas. Dia melepaskan tangan Bu Endang dengan kasar.
"A.. Apa maksud kamu, Tama?" jawab Bu Endang dengan terbata bata dan gugup.
"Ibu tidak usah berpura pura tidak tahu. Kalau memang ibu tidak tahu, maka aku akan beri tahu Ibu. Kenapa Ibu tega memasukkan racun ke minuman Rey?" ucap Tama dengan tegas.
"Ibu tidak melakukan itu, kenapa kamu sangat tidak suka dengan ibu Tama, apa salah ibu hingga kamu memfitnah ibu seperti ini?" jawab Bu Endang dengan mata berkaca-kaca. Dia menundukkan pandangannya dari pandangan mata Tama.
Tama yang menyadari hal itu, dia memegangi kedua lengan ibunya dengan tatapan tajam. Dia tidak percaya dengan ucapan ibunya.
"Ibu tidak usah mengelak lagi, aku tahu ibu memasukkan racun ke minuman itu. Bu, apa ibu tidak berpikir sebelum melakukan itu? Dia itu anak ibu dan ibu ingin membunuh dia, apa yang ibu pikirkan?" jawab Tama dengan serius dan berbisik kepada ibunya.
"Kak Tama!" panggil Rey kepada Tama. Tama yang mendengar hal itu langsung memecah marahnya dan bersikap ramah kepada Rey.
Kepada kembali seperti semula, namun Bu Endang masih diam memikirkan apa yang di lakukannya di tanggal 15.
Melihat Bu Endang terus diam, Ferry menetap tajam Bu Endang yang melamun. Dia memukul meja di hadapannya untuk memecah lamunan Bu Endang.
Buughh...
"JAWAB SAYA BU ENDANG!!!" bentak Ferry.
"Iya iya, saya akan jelaskan. Di tanggal 15 ..." Bu Endang pun menceritakan kejadian 15 Maret. Mendengar cerita dari Bu Endang Ferry sangat terkejut.
Malam hari pun tiba, di dalam rumah Rey, Tama duduk di sebuah sofa. Dia memegangi foto Rey, air matanya terus mengalir membahasi matanya. Dia tidak bisa menerima kepergian Rey yang terlalu cepat baginya.
"Rey... Kenapa kamu begitu cepat meninggalkan kakak? Kakak hancur Tampa kamu," ucap Tama dengan sedih dan air mata menetes.
__ADS_1
Ketika Tama sedang menikmati kesedihannya. Foto yang baik baik saja tiba-tiba jatuh ke lantai dan membuat Tama terkejut. Dia bangun dari duduknya dan menaruh foto yang dipegangnya di sofa.
Dia menghampiri foto yang sudah hancur berserakan di lantai.
"Bagaimana foto ini bisa jatuh? Aku rasa aku sudah menaruhnya dengan baik sebelumnya," ucap Tama dengan memandang ke arah foto.
Raut mukanya heran, melihat foto dengan foto yang tiba tiba terjatuh ke lantai. Selama beberapa saat dia melihat ke arah foto itu, lalu dia membersihkan pecahan kaca dari foto.
Ketika sedang membersihkan pecahan kaca, tanpa di sadarinya Tama seseorang berdiri di belakangnya dengan pakaian serba hitam menatap ke arah Tama dengan sebilah pisau yang mengkilap.
Orang misterius itu memegang erat pisau, dia berjalan perlahan mendekati Tama dengan tangan yang semakin erat memegang pisau.
Namun ketika baru beberapa langkah, Tama menyadari bahwa ada orang lain di dalam ruangan itu. Dia menghentikan tindakannya dan melihat ke arah laki laki misterius itu berdiri. Namun saat itu Tama tidak melihat siapapun, dia hanya melihat gorden bergerak tertiup angin.
Menyadari hal itu, Tama pun melanjutkan membersihkan pecahan kaca. Ketika pecahan kaca sudah bersih, Tama kembali ke sofa namun ia kembali terkejut karena dia melihat di bawah foto Rey, terdapat selembar kertas yang berisi tulisan.
"Kamu Akan Segera Mati Tama!."
Tama membaca pesan itu dengan takut, tubuhnya gemetar. Dia bergegas mencari korek api dan membakar surat itu.
Nafasnya terengah, dia menuju ke kamarnya dengar perasaan yang sangat takut.
Ketakutannya semakin bertambah karena suasana malam itu benar benar sangat sunyi. Dia menutup pintu dan jendela kamarnya.
"Siapa yang mengirim surat itu kepada ku? Siapa?" ucap Tama dengan ketakutannya dan bersembunyi di balik selimut.
Di luar rumah, orang misterius kembali muncul. Dia memegangi sebuah palu di tangan kanannya. Orang misterius itu mengawasi rumah Tama selama beberapa saat. Setalah itu dia berjalan perlahan mendekati rumah Tama dengan tangan yang memegang palu semakin erat.
Keringat dingin mengucur membasahi tubuh Tama. Dia merasakan sebuah kecemasan yang tidak biasa, dia merasa akan terjadi sesuatu dengan dirinya namun dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
__ADS_1