Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
24. Kabar Duka


__ADS_3

      Saat Juli sudah berada di ruangan UGD,ia kembali di pasang alat rumah sakit.


Kala itu, dengan wajah panik dokter membersihkan darah yang mengalir dari kepala Juli. Keadaan sangat menegangkan, terlihat Toni mundar mandir di depan kamar Juli. Dia sesekali menengok ke arah Juli yang masih di bersihkan lukanya.


Toni melihat ke arah Juli dengan meletakkan salah satu tangannya menempel ke kaca pintu.


"Kenapa Kakak begitu khawatir dengan kaadaan Ayah? Apa yang membuat Kakak begitu khawatir dengan Ayah? Apakah terjadi sesuatu dengan Ayah?" ucap Toni dengan heran dan mata yang berkaca kaca.


Ia kemudian memecah kesedihan nya dengan cara mengambil ponsel di saku celana kanannya dan menjauh dari kamar Juli. Dia terlihat menelepon seseorang dan orang itu adalah Ayahnya.


"Ayah angkat! Ayah angkat!" ucap Toni dengan khawatir karena Ayah Toni tak menjawab panggilannya.


Dia terus menerus mencoba memanggil Ayah Toni namun tetap saja tak ada jawaban dari Ayahnya.


Beberapa detik kemudian, ia memutuskan kembali ke kamar Juli dengan sedih bercampur khawatir.


       Di dalam penjara terlihat Bu Laras tengah duduk sendiri dengan mengingat ancaman yang ia dapatkan dari para preman itu.


Tak berselang lama, seorang polisi wanita datang menghampiri dirinya dengan mengendap endap dan celingukan melihat kesana-kemari untuk memastikan keadaan aman dari polisi lain.


"Hey sssuut," ucap polisi wanita itu dengan lirih.


Lamunan Bu Laras pun langsung sirna setelah ia mendengar desisan dari polisi itu. Ia melihat ke arah polisi itu dengan heran.


"Ada telepon untuk kamu!" ucap polisi itu.


Bu Laras mendekat ke polisi itu dan menerima ponsel yang dimiliki  polisi itu.


"Halo, apa lagi yang kamu inginkan?!" ucap Bu Laras dengan marah.


"Masih banyak yang kami inginkan, tapi untuk saat ini aku ingin memberi tau kamu kabar duka," jawab preman pertama di dalam mobil yang di kendarai oleh preman kedua.


"Kabar duka?! Apa maksudnya?"


"Maksud ku Ayah dari anak mu Toni sudah mati di tangan kami!."


Mendengar ucapan preman pertama, Bu Laras terkejut dan ia menjatuhkan ponsel yang di gunakan untuk menelepon para preman itu. Bu Laras lemas, dia tak percaya kalau Ayah Toni meninggal. Melihat hal itu polisi yang meminjamkan ponsel nya langsung panik dan kebingungan.


"Ada apa Bu Laras?" ucap si polisi itu di luar sel. Namun Bu Laras tak menjawab sepatah katapun ia hanya terdiam dengan mata yang terbuka lebar dan mulut yang ternganga.


"Gak mungkin,ini gak mungkin terjadi. Ini gak mungkin terjadi!." Ia mengambil telepon itu dan terlihat tengah mengetik sebuah nomor dan ternyata ia menelepon Inspektur Adi.


"Halo Inspektur," ucap Bu Laras dengan mata yang berderai air mata.


"Bu Laras," ucap Inspektur Adi lalu berhenti sesaat.


Mendengar Inspektur Adi menyebut nama Bu Laras,Toni dan kedua orang tua Inspektur Adi langsung melihat ke arah Inspektur Adi dengan heran.


"Darimana Bu Laras mendapatkan ponsel?"


"Itu tidak penting Inspektur,yang terpenting sekarang aku mohon periksa Ayahnya Toni di rumah," jawab Bu Laras dengan menangis sesenggukan.


"Ayah Toni?! Kenapa dengan dia?" mendengar Inspektur Adi menyebut nyebut Ayahnya, Toni mendekati Inspektur Adi.


"Aku baru menerima telepon dari para preman yang membunuh Shela,Kania dan Si Pembantu itu. Katanya, Ayah Toni sudah dibunuh dan tidak ada yang tau," jawab Bu Laras. Inspektur Adi terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Bu Laras.


"Iya aku akan segera kesana," jawab Inspektur Adi lalu ia pergi namun saat ia baru melangkahkan kakinya beberapa langkah,Inspektur Adi di hentikan oleh Toni.


"Inspektur,apa yang terjadi?" tanya Toni.


"Saya baru mendapatkan berita dari ibu Anda,ia di telepon oleh para preman yang membunuh Shela, Kania dan si pembantu itu. Mereka mengatakan kalau Ayah kamu sudah meninggal di tangan mereka."


Mendengar hal itu Toni langsung terkejut dan ia menjadi lemas ia terjatuh dan duduk di kursi tunggu yang berada di depan kamar Juli lalu Inspektur Adi mendekati Toni.

__ADS_1


"Kamu harus tenang,ini belum pasti bisa saja ini hanya kebohongan yang di ucapkan para preman itu untuk menakuti Ibu Kamu.Maka dari itu sekarang saya akan pergi ke rumah kamu untuk memastikan keadaan Ayah kamu baik baik saja," terang Inspektur Adi kepada Toni lalu ia memegang bahu Toni dan mengelus elus kecil bahu Toni.


Inspektur Adi kemudian menjauhi Toni dan beberapa detik kemudian Toni bangun dari kursi tunggu.


"Pak Inspektur aku ikut!."


"Tapi,bagaimana dengan Juli?" jawab Inspektur Adi dengan sedikit sedih.


"Ada Ayah dan Mama Adi," sahut Ayah Adi lalu Toni dan Inspektur Adi pun pergi namun sebelum pergi Inspektur Adi.


"Paa,Maa kalau seandainya Juli sudah sadar tapi dia menanyakan Toni atau Ayah nya. Aku mohon jangan kasih tau apa pun kepada Juli," ucap Inspektur Adi.


"Iya Adi," jawab Ayah Adi dan tak berselang lama Inspektur Adi dan Toni pun pergi dari ruma sakit.


      Beberapa menit kemudian Toni dan Inspektur Adi sampai di rumah namun keadaan rumah sangat sepi seperti kuburan.


Toni langsung terlihat sangat panik ia mengetuk pintu dengan terburu buru dan khawatir, ia terus menerus memanggil manggil Ayahnya namun tidak ada yang  menyahut panggilannya.


Ia kemudian berusaha membuka pintu namun terkunci dari dalam kekhawatirannya semakin menjadi ketika melihat pintu rumah terkunci dari dalam.


"Paah buka pintunya Paah,ini Toni!" ucap Toni dengan mengetuk pintu namun tidak ada yang membuka pintu.


"Toni kalau tidak ada yang nerespon lebih baik di dobrak saja!" ucap Inspektur Adi dengan gugup.


"Iya Inspektur," jawab Toni.


Dia berusaha mendobrak pintu sendiri namun ia gagal lalu ia mencoba lagi mendobrak pintu dengan di bantu oleh Inspektur Adi namun mereka masih tetap tidak bisa mendobrak pintu.


Tak berselang lama datanglah segerombolan orang berjalan melewati rumah Ayah Toni. Saat tepat didepan rumah Ayah Toni salah satu dari warga itu melihat ke arah rumah Ayah Toni.


"Bapak Bapak lihat itukan Mas Toni sama Inspektur Adi,ngapain mereka mendobrak pintu? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kalau ada sesuatu yang terjadi mari kita bantu,"ucap salah satu warga lalu segerombol orang orang itu menghampiri Toni dan Inspektur Adi.


"Mas Toni ada apa ? Kenapa pintu nya di dobrak?" ucap warga itu lalu Toni menoleh ke arah warga itu.


"Kalau begitu Bapak Bapak semuanya mari kita bantu Mas Toni dan Inspektur Adi," ucap warga itu lalu langsung pergi mendekat ke pintu rumah.


Setelah mereka berada di depan pintu secara bersamaan mendobrak pintu,saat percobaan pertama mereka langsung berhasil. Pintu rumah berhasil di buka Toni langsung masuk kedalam rumah namun saat ia sudah berada di dalam rumah, betapa terkejutnya ia karena ia melihat keadaan Ayahnya sangat mengenaskan.


Sekujur tubuhnya berlumur darah,ia tergeletak di lantai dengan sebuah sapu tangan yang menutupi kepala Ayah nya.


Selain itu terlihat barang barang banyak yang pecah dan pecahan itu terlihat berserakan dimana mana.


Melihat Ayahnya yang tergeletak bersimpah darah Toni langsung lemas tak berdaya di samping mayat Ayahnya.


Ia hanya bisa terdiam dengan mata yang berlinang air mata,tak berselang lama Inspektur Adi mendekati Toni yang tak bisa berkata kata lalu ia memegang ke dua bahu Toni untuk berusaha menegarkan dirinya.


"Toni kamu yang sabar,ini cobaan bagi keluarga kamu dan Juli," ucap Inspektur Adi dengan memegangi bahu Toni.


Mendengar Inspektur Adi menyebut nama Juli ia langsung melihat ke arah Inspektur Adi dengan panik.


"Inspektur saya mohon,tolong jangan kasih tau Juli tentang semua ini aku takut kalau dia tau tentang semua ini maka dia akan...akan kembali kritis," ucap Toni dengan nada khawatir dan panik.


"Iya Toni,saya tidak akan memberi tau Juli tentang kabar duka ini," ucap Inspektur Adi dengan berusaha menenangkan Toni.


"Aku mohon Inspektur tolong berjanji dengan saya jangan pernah kasih tau Juli tentang semua ini," ucap Toni dengan menangis hingga sesenggukan.


"Iya,saya berjanji.Saya berjanji tidak akan memberi tau Juli tentang kabar duka ini.Aku juga akan kasih tau keluarga ku agar mereka tidak memberi tau kepada Juli," jawab Inspektur Adi dengan nada rendah.


"Kalau begitu aku keluar dulu,aku mau kasih tau kabar duka ini kepada orang tua ku yang lagi menjaga Juli," jawab Inspektur Adi lalu ia menjauhi Toni dan keluar rumah.


Ia kemudian mengambil ponsel yang ia letakkan di saku celana setelah itu ia mengetik sebuah nomor dan ia kemudian menempel ponsel nya ke dekat telinga.


"Halo Ayah," ucap Inspektur Adi setelah Ayah Adi mengangkat telepon nya.

__ADS_1


"Halo Adi,gimana? Apa yang terjadi di sana?" jawab Ayah Adi yang berada di luar kamar Juli dan sesekali ia menengok ke arah Juli yang berada di dalam ruangan itu bersama dengan Bu Ratna.


"Ayah Toni sudah meninggal Ayah," jawab Inspektur Adi dengan nada sedih dan di saat bersamaan keadaan Juli berubah parah,ia terlihat sesak nafas dan dengan lirih Ia selalu memanggil manggil Ayahnya Toni.


Suasana pun berubah panik,Bu Ratna terdengar teriak teriak memanggil suaminya dan ia juga memanggil manggil dokter.


Mendengar teriakan Bu Ratna Ayah Adi langsung panik akan keadaan Juli.


"Adi kamu tolong sampikan kepada Toni Papa turut berduka cita sekarang Papa harus menutup telepon nya seperti nya keadaan Juli kembali kritis," ucap Ayah Adi dengan nada panik.


"Apa Juli kritis lagi?" ucap Inspektur Adi dengan mulut ternganga.


"Itu mungkin saja Adi,maka dari itu aku akan periksa keadaan Juli terlebih dahulu," jawab Ayah Adi.


"Iya Paa."


Ayah Adi pun langsung mematikan telepon nya lalu ia pergi ke dalam ruangan Juli,sesampainya di ruangan Juli ia terkejut karena ia melihat Juli sesak nafas dan merintih kesakitan.


"Juli ada apa? Kenapa dengan dia?Apa yang membuat Juli kembali seperti ini? Dokter! Dokter!" ucap Ayah Adi lalu di lanjutkan dengan teriakan memanggil manggil dokter.


Tak berselang lama dokter pun datang dengan terburu buru,setelah dokter masuk kedalam ruangan Juli Ayah Adi dan Bu Ratna keluar dari ruangan dengan raut muka sedih.


"Paa,Andi akan baik baik sajakan Paa," ucap Bu Ratna dengan mata yang berlinang air mata.


"Mama harus terus berdoa,semoga Ju...," ucap Ayah Adi lalu sesaat ia hampir salah memanggil Juli di depan Bu Ratna.


Setelah ia menyadari kalau ia akan salah menyebut nama.


"Andi akan baik baik saja!."


Mendengar ucapan suaminya Bu Ratna langsung memeluk Ayahnya Toni.


       Dirumah Toni terlihat Inspektur Adi terlihat bingung dengan keputusannya.


"Apakah aku harus kasih tau Toni tentang keadaan Juli?"ucap Inspektur Adi lalu ia berhenti berkata beberapa saat lalu ia melanjutkan "Enggak! Aku gak boleh kasih tau Toni kalau keadaan Juli kembali kritis!."


Inspektur Adi pun pergi dan masuk kedalam rumah.


Beberapa menit kemudian Bu Laras sampai di rumah,suasana duka sangat di rasakan Toni di dalam rumah ia terlihat duduk di samping jenazah Ayahnya dengan tatapan mata yang kosong dan ia hanya melamun melihat Ayahnya terbujur kaku di lantai dengan tertutuh sebuah kain selendang batik dan selendang berwarna putih di tutupkan di kepala Ayah Toni.


Saat Bu Laras sampai di dalam rumah ia langsung histeris melihat suaminya terbujur kaku di lantai.


"Enggaaaaak! Ini gak mungkin nyata. Apa yang di ucapkan para preman itu gak nyata? Dia bukan Mas Hadi,dia bukan Mas Hadi! Dia pasti orang lain ini,gak mungkin nyata,ini gak mungkin nyata!" ucap Bu Laras dengan histeris dan air matanya mengalir terus menerus tanpa henti.


Bu Laras pun langsung mendekati Toni dan langsung duduk di samping dengan lemas dan berderai air mata,saat itu Toni masih terlihat melamun tak berkata sepatah katapun melihat Ayahnya yang terbaring tak bernafas.


Bu Laras kemudian membuka secara perlahan kain warna putih yang menjadi penutup kepala Ayah Toni dan setelah ia melihat wajah dari jenazah yang terbaring Bu Laras langsung tak bisa membendung air matanya di situ Toni mulai sadar ia langsung memeluk Ibu nya yang menangis hingga sesenggukan.


"Maa,ini nyata Maa.Papa sudah gak ada dia sudah meninggalkan kita,kini kita hanya berdua," ucap Toni dengan memeluk Ibu nya dan air mata terus menerus tanpa henti mengalir dari matanya.


Beberapa menit kemudian, Bu Laras pingsan di pelukan Toni, suasana sedih berubah menjadi panik saat Toni menyadari kalau ibunya jatuh pingsan di pelukannya.


Toni pun langsung pergi membawa ibunya ke dalam kamar saat ibunya masih tak sadarkan diri Toni dan para warga melanjutkan pemakaman Ayahnya, ia terlihat sangat sedih di sepanjang perjalanan menuju ke tempat peristirahatan terakhir Ayahnya.


Pemakaman pun berjalan dengan lancar,beberapa menit kemudian pemakaman Ayahnya Toni pun berakhir.


Terlihat Toni masih di pemakaman,ia memegangi batu nisan Ayahnya.


"Paa,maafkan Toni karena Toni masih belum bisa jadi anak yang membanggakan bagi Papa. Toni tidak seperti Kakak yang bisa sukses tanpa bantuan Papa,maafkan Toni,"ucap Toni dengan tenang namun ia masih terlihat sedih lalu Inspektur Adi memegang bahu Toni.


"Kita harus pergi Toni,kamu harus ikhlaskan Ayah kamu!."


Toni pun berdiri dan bangun meninggalkan makam Ayahnya walau pun ia terlihat sangat tidak tega meninggalkan Ayahnya sendiri namun ia harus pergi karena Bu Laras saat ini membutuhkan dirinya untuk menjadi penguat lahir dan batinnya.

__ADS_1


__ADS_2