Siapa Pelakunya?

Siapa Pelakunya?
22. Ancaman 2


__ADS_3

        Di dalam ruangan terlihat sebuah papan yang terdiri dari foto semua orang tak terkecuali Shela dan yang lainnya yang sudah meninggal.


Tak berselang lama preman pertama memberanikan diri untuk bertanya tindakan selanjutnya yang akan di lakukan.


"Bos sekarang apa yang kita lakukan? Apa kita akan melakukan hal yang sama seperti kita waktu itu?" ucap preman pertama dan langsung membuat Bos sekilas mengingat kejadian saat ia mengeluarkan Kania namun bosnya menolak melakukan itu dengan memberi tanda menggelengkan kepalanya.


Si Bos kemudian berdiri dari duduknya dan selama beberapa detik ia terdiam lalu ia mengambil pisau yang diikat di area pinggang kanannya,setelah ia berhasil menggenggam salah satu pisau dengan tangan kanannya.


Ia kemudian memberi sayatan di pergelangan tangan kirinya,tak berselang lama darah pun keluar dari tangannya lalu ia menaruh tetes demi tetes darah yang mengalir dari tangannya ke dalam sebuah wadah kecil.


Preman pertama terlihat terkejut dan khawatir karena tidakan bosnya membahayakan nyawa bosnya,namun kekhawatirannya dihentikan oleh si bos dengan aba aba saja.


"Bos," ucap si preman pertama dengan khawatir melihat darah terus menetes dari tangan kirinya Bos nya.


Namun, bos dari preman itu menghentikan si preman dengan menjatuhkan pisau yang di gunakan untuk menyayat pergelangan tangannya,ia melanjutkan melebarkan tangannya seolah menghentikan si preman itu.


Melihat aba aba dari si bos akhirnya preman itu terdiam dengan menundukkan kepalanya dengan takut dan sedih,bos mereka masih terlihat menetes darah ke dalam wadah kecil.


Beberapa saat kemudian Bos preman itu menghentikan tindakannya lalu ia mengambil pisau yang ia jatuhkan di tanah lalu ia menaruh pisau itu di letakkan di samping wadah yang berisi darah.


Setelah ia meletakkan pisau itu ia pergi meninggalkan meja yang di atas nya pisau dan wadah darah itu menuju ke meja lain untuk mengambil fountain pen yang berada di atas meja lain lalu ia juga mengambil selembar kertas lain di atas meja yang sama yang tak jau dari dirinya.


Terlihat di setiap langkah tetes darah mendampingi si bos preman,lalu ia membawa sebuah pena dan kertas itu ia bawa kembali ke meja yang di atas nya pisau dan wadah yang ada darahnya.


Ia kembali duduk di kursi yang ada di dekat meja lalu ia mulai menulis sebuah kalimat dengan darah yang ia taruh di wadah dan ia menulis kalimat "Habisi dia!!!" dengan darahnya lalu ia menunjukkan tulisan itu kepada kedua preman itu lalu menjatuhkan kertas itu dan mengambil pisau yang ada di atas meja. Dia menggoreskan pisau itu ke pergelangan tangan kirinya hingga di pisau itu meninggalkan noda darah, setelah terlihat ada darah yang melekat di pisau Bos dari preman itu langsung melemparkan pisau ke arah papan tulis yang terdapat foto keluarga Juli dan keluarga Adi.


Pisau itu pun melayang di udara dan tak berselang lama pisau itu menancap ke foto Ayah Toni.


Para preman itu hanya melihat kejadian itu setelah melihat tulisan dan melihat pisau yang menusuk foto Ayah Toni para preman itu langsung mengerti apa yang di inginkan oleh Bos mereka.


Akhirnya para preman itu pun langsung pergi meninggalkan Bos preman itu, setelah itu bos dari para preman itu terlihat seperti mencium tangannya yang terluka.


     Di rumah sakit terlihat Juli masih di rawat di ruangan gawat darurat lantaran sakit yang di rasakan di kepala nya kembali kambuh dan mengeluarkan darah.


Saat itu Juli masih belum sadar ia terlihat masih terbaring di tempat tidur,lalu beberapa saat kemudian Ayah Toni menghampiri Toni yang menemani Juli dengan raut muka sedih karena keadaan Juli kembali seperti dulu.


Ayah Toni terlihat memegangi salah satu bahu Toni agar Toni bisa tenang ,saat Toni di pegang bahunya oleh Ayah Toni ia terasa sedikit terkejut.


"Kamu harus bersabar ya Nak  Papa yakin kita bisa melewati semua ini.Dan sekarang Papa akan pulang terlebih dahulu,Papa akan untuk mengambil pakaian buat kamu dan Juli.Kamu jaga Juli ya," ucp Ayah Toni dengan nada rendah dan tenang ia terlihat sambil menenangkan Toni.


"Pah,jangan pergi Pah!.Jangan pergi!." Toni dengan berlinang air mata dan menangis sesenggukan.


"Papa tidak akan pergi lama kok tenang saja Papa pasti akan kembali lagi,Papa hanya akan mengambil pakaian kamu dan Juli saja," jawab Ayah Toni dengan tenang.


Akhirnya Ayah Toni pun mendapatkan izin untuk pulang oleh Toni  dan ia pun pulang.


Ayah Toni lalu masuk kedalam mobil, ia kemudian mengendarai mobillnya untuk pulang dan tak berselang lama ia menghidupkan mobil itu dan membawa pergi meninggalkan rumah sakit.


Tak berselang lama Ayahnya Toni pergi mobil berwarna hitam mengikuti laju mobil Ayah Toni.Saat tiba di pertengahan jalan ia ponsel yang ia taruh di sampingnya berbunyi, mendengar ponsel nya berbunyi ia mengambil sebuah heandset untuk menerima telepon lalu setelah memakai heandset ia berkata "Halo siapa ini?"


Beberapa saat penelepon itu terdiam lalu beberapa saat kemudian ia mulai mengeluarkan suara nya.

__ADS_1


"Aku adalah maut mu!" ucap dengan nada serius dan ternyata preman pertama yang mengucapkan hal itu,ia mengucapkan hal itu di dalam mobil yang mengikuti mobil Ayah Toni.


Mendengar ucapan si preman pertama ia langsung terkejut dan secara mendadak menghentikan mobil nya lalu ia melanjutkan berkata"Apa maksudnya? "jawab Ayah Toni dengan terheran heran.


"Yang kami inginkan musuh kami kehilangan satu persatu orang tersayangnya," jawab preman pertama dengan mengancam.


"Siapa sebenarnya kalian? Dan apa mau kalian yang sebenarnya?" jawab Inspektur Adi dengan nada kesal dan serius. "Jangan pernah kamu macam macam dengan keluargaku kalau kamu berani menyakiti keluarga ku aku tidak akan melepaskan kamu,ingat itu!!!."


Ayah Toni terlihat sangat kesal dengan penelepon itu lalu ia,di dalam mobil ia mengomel sendiri.


"Berani beraninya mereka mengancam aku,kurang ajar sekali mereka."


Tiba tiba ponsel nya kembali berbunyi dan ternyata nomor yang sama yang menelepon dirinya,ia kemudian menerima telepon itu dan berkata "Kenapa kamu gangguin aku? Apa yang kamu inginkan dari aku? hah. Apakah uang,properti atau apa? Kalau aku sudah memberikan itu semua jangan ganggu keluarga ku!."


Jawab Ayah Toni dengan nada serius dan secara bersamaan mobil yang tadinya mengikuti dari belakang dan cukup jauh dari mobil Ayahnya Toni menambah gasnya dan tak berselang lama mobil yang mengikuti mobil Ayah Toni mengikuti mobil Ayah Toni pas di belakang mobil Ayah Toni.


"Kami tidak menginginkan itu semua yang kami inginkan nyawamu," jawab preman pertama itu lalu di lanjutkan preman kedua menambah kecepatan mobilnya dan menabrakkan mobilnya ke mobil Ayah Toni.


Merasa mobilnya di tabrak seseorang akhirnya ia menengok ke arah mobil yang menabraknya yang berada di belakang mobil nya.Ia kemudian berkata dengan nada serius "Jangan bilang kalau kalian berada di mobil belakang."


"Iya kami berada di belakang mu,siap siap kamu menjemput ajal mu di sini," jawab preman pertama itu lalu ia menabrakkan kembali mobilnya ke mobil Ayah Toni.


Ayah Toni berusaha menghindar dari orang orang itu dengan menambah kecepatan mobilnya namun para preman itu juga menambah kecepatan mobilnya dan merasa para preman itu menambah kecepatan nya juga akhirnya Ayah Toni menambah lagi kecepatan mobilnya.


Mereka pun saling kejar mengejar antara mobil dengan mobil suasana menegang Ayah Toni menginjak gas mobilnya dengan raut muka serius begitu pula preman kedua yang mengendarai mobil itu.


Ia di dalam mobilnya terlihat juga ikut menginjak gas hingga tak berselang lama ia berhasil berdampingan dengan Ayahnya Toni.


Mobil Ayah Toni langsung menabrak pembatas jalan yang berada di kirinya setelah menabrak pembatas jalan itu ia kembali memasukkan mobil nya ke dalam jalur namun saat baru beberapa menit ia mendapatkan lagi tabrakan itu.


Penabrakan yang kedua itu kalinya ini membuat gaya gesekan antara mobil dan pembatas jalan hingga mengeluarkan percikan api lalu preman itu menjauhkan mobil nya dari mobil Ayah Toni.


Tak berselang lama para preman itu kembali menabrakkan mobilnya ke mobil Ayah Toni namun Ayah Toni ber hasil menghindar dari hantaman ke tiga dari mobil para preman itu.


Ia mengurang kecepatan mobilnya lalu ia memundurkan mobilnya hingga posisi mobil si preman berada di depan mobil Ayah Toni.


Preman kedua terlihat kesal dengan kegagalan nya,lalu Ayah Toni terlihat menambah kecepatan nya dan berusaha membalas perbuatan para preman itu.


"Sekarang waktunya untuk membalas!!!" ucap Ayah Toni dengan serius lalu ia melanjutkan menginjak gas untuk menambah kecepatan mobilnya namun saat ia akan masuk ke jalur kanan namun para preman itu menghadang mobil Ayah Toni.


Ia kemudian melanjutkan berusaha masuk kedalam jalur kiri namun masih sama para preman itu menutup jalur kiri yang ingin Ayah Toni lewati.


"Mau lewat mana kamu,sudah tidak ada jalan untuk kamu bebas sekarang," ucap si preman kedua lalu ia melanjutkan tersenyum jahat.


Preman kedua terlihat sangat fokus menutup setiap jalur yang akan di gunakan untuk mobilnya Ayah Toni hingga ia tak menyadari bahwa ada pertigaan di depan nya.


Sedangkan Ayah Toni menyadari kalau ada di depan mobil para preman ada pertigaan untuk putar balik,preman kedua terus melajukan mobilnya hingga beberapa meter dari pertigaan itu.Ia kemudian menyadari kalau mobil Ayah Toni berbelok dan putar balik,sontak ia langsung menghentikan mobilnya.


"Kurang Ajar!!!," ucap preman kedua lalu berusaha putar namun tiba tiba dari sebrang jalan para preman itu mobil seorang polisi tengah menghampiri mobilnya.


Para preman itu terlihat sangat ketakutan melihat kedatangan mobil polisi itu dan  Tak berselang lama mobil itu sampai di samping kiri mobil para preman itu.

__ADS_1


Beberapa polisi keluar dari mobilnya lalu polisi polisi itu mengetuk pintu mobil dan orang yang mengendarai ternyata orang yang berbeda,hal itu terlihat pakaian yang digunakan oleh para preman itu.


Beberapa detik kemudian, polisi itu meminta sesuatu dari orang yang mengendarai mobil itu dan barang yang di minta oleh polisi itu adalah SIM,KTP dan surat surat yang lainnya.


Ia pun memberikan apa yang di minta oleh polisi itu namun para polisi itu tak memanggil nama yang tertera dalam surat surat itu dan ia hanya melihat wajah di kartu SIM milik si pengendara sama atau tidak dan hasilnya sama lalu para polisi itu mengembalikan surat surat itu.


"Pak maaf kami pikir,anak di bawa umur yang mengendarai mobil ini,maafkan kami dan juga jangan putar balik karena ini area di larang putar balik," ucap salah satu polisi setelah itu para polisi itu pergi  meninggalkan mobil itu dengan baik.


Setelah polisi itu pergi kedua preman itu keluar dari persembunyiaannya dan preman kedua mendekati orang yang berpura pura menjadi pengendara itu.


"Bos penyamaran bos luar biasa,aku saja tidak bisa mengenali bos bagaimana dengan mereka? Pasti tidak akan bisa membeda kan antara orang yang asli dengan foto kartu SIM palsu," ucap preman kedua dengan sangat bahagia.


"Iya Bos apa yang dikatakan oleh preman kedua benar!." Sahut preman pertama.


Tak berselang lama tangan kiri orang yang masih belum terlihat wajahnya itu mengarah ke area muka lalu ia mengambil kumis palsu yang ia gunakan untuk mengelabui para polisi itu.Ia kemudian melajukan mobilnya dan pergi dari tempat itu.


     Tak berselang lama Ayah Toni sampai di rumah,namun ia masih berada di dalam mobil dengan kesal.Ia juga terlihat sesekali memukul alat kemudi.


"Kenapa mereka ingin menghabisi nyawaku? Apa kesalahan ku sama mereka? Apa jangan jangan mereka adalah orang yang membunuh Shela, Kania dan yang lainnya?" ucap Ayah Toni dengan kebingungan dan ia terlihat banyak menyimpan pertanyaan yang ada di pikirannya.


Tak berselang lama ia keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah beberapa menit kemudian bel rumah berbunyi.


Teng Tong! Teng Tong! Teng Tong!


Merasa ada tamu, Ayah Toni membuka pintu namun tiba-tiba saat ia sudah membuka pintu ia tak melihat seorangpun di luar rumah. Ia terlihat sedikit heran namun ia tak mempedulikannya lagi lalu ia berbalik namun saat berbalik ia menyadari ada sebuah kotak berada di lantai.


Ia kemudian mengambil kotak hadiah itu dan sesaat ia melihat lihat kotak hadiah itu.


"Kotak hadiah?!! Dari siapa ini?" ucap Ayah Toni dengan melihat nama pengirimnya namun ia tidak menemukannya dan yang ia temukan adalah tulisan yang dihias dan tertulis tebal di sebuah kertas.


"Untuk Tuan Hadi Terhormat."


"Ini untuk aku tapi dari siapa?" ucap Ayah Toni dengan heran lalu ia membuka hadiah itu,setelah membuka hadiah itu Ayah Toni terlihat sedikit heran karena ia di dalam kotak itu adalah sebuah kertas putih yang di lipat kecil dan rapi.Ia kemudian mengambil kertas itu dan membaca nya Ayah Toni terlihat sangat terkejut setelah membaca surat itu karena surat itu bertuliskan sebuah kalimat"Saatnya kamu mati!!!," dengan warna pena seperti darah.Ia terlihat kesal dan marah bukannya takut atau pun khawatir.


"Siapa yang berani mengirim ini ke aku?" ucap Ayah Toni atau Pak Hadi dengan kesal. "Hey,siapa pun kalian yang  mengirim surat ini ke saya? Saya tidak takut dengan Anda kalau Anda berani keluar sekarang jangan hanya diam dan bersembunyi di balik semak semak dasar pengecut."


Ayah Toni terlihat tidak takut kepada ancaman dari para preman itu,ia terlihat menantang para preman itu namun karena ucapannya tidak ada yang merespon akhirnya ia membuang surat itu berserta kotak kotaknya di tempat ia mengambilnya.


Setelah itu ia langsung masuk ke rumah dan menutup pintu rumah,merasa sudah aman akhirnya terlihat seseorang keluar dari persembunyiannya dengan mengendap endap dan perlahan lahan.


Orang itu adalah orang suruhannya si preman,ia tak memperlihat  wajahnya ia menutup wajahnya dengan masker.


Setelah berada di dekat rumah ia mengambil kotak berserta kertas itu lalu meninggalkan rumah Ayah tanpa berkata apa pun.Ia pun kembali ke tempat persembunyiannya dan ia terlihat mengeluarkan ponsel miliknya untuk memberi tau bosnya tentang kejadian yang ia lihat tadi.


"Bos masih gagal," ucap suruhan dari preman itu di merasa sedikit menyesal.


Di tempat preman pertama berada, ia memberi tau bos tentang ancaman Si Bos yang tidak mempan kepada Ayah Toni.


Mendengar ucapan preman pertama orang misterius itu memberi aba aba agar preman pertama mendekat ke dirinya dan lalu orang misterius itu membisikkan sesuatu dan tak berselang lama preman pertama memberitau orang yang menjadi suruhannya tentang tindakan selanjutnya setelah ini.


       Di dalam rumah Ayah Toni masih terlihat mengomel sendiri dengan kesal dan marah.

__ADS_1


"Emang kurang ajar mereka bisa bisanya mereka mengancam saya! Emang dia pikir aku takut dengan ancamannya.Tidak!!! Aku tidak akan pernah takut!." Ucap Ayah Toni lalu ia pergi maksud ke dalam kamar.


__ADS_2