Siapa Perempuan Misterius Itu?

Siapa Perempuan Misterius Itu?
episode 04


__ADS_3

...selamat membaca...


Rahel meng-speaker telfonnya agar aku bisa mendengar dengan baik.


"Halo? Ada apa?"


"Xen! Lo sibuk?"


"Hari ini? Enggak sih, sampe 1 bulan ke depan"


"Lo masih sering dateng ke daerah mall central?"


"Iya masih kenapa?"


"Lo tau ada club disana?"


"Club? Maksud lo pasti club baru daerah sana kan?"


"Iya"


"Iya, kenapa? Bahkan gue kenal banyak orang sana. Ada apa?"


"Lo bisa ke kantor gue Xen?" potongku


"Lo Ester?"


"Iya, please ini penting. Gue butuh kerjasama sama lo"


"Gue bakal kesana"


"Thanks Xen"


Tut...


"Untunglah dia udah gampang kerjasama gak kayak dulu" ucapku


"Apa yang lo rencanain?" Rahel


"Gue punya rencana bagus" ucapku senyum.


***


(Keesokannya)


Panas matahari masuk ke kamarku dan sudah siap untuk pergi ke sekolah. Aku keluar dari kamar dan turun ke lantai 1 untuk sarapan pagi.


"Asther gimana kamu udah kenal dengan sekertaris kamu?" mama


"Udah kok ma" aku


"Baguslah, papa harap kalian bisa kerjasama dengan baik. Karna papa kenal dia karna teman papa bilang dia sangat profesional" papa


"Oh ya? Baguslah kalau begitu" aku tertawa kecil


Selesai sarapan aku pamitan dan pergi ke sekolah. Sampai sekolah, Ninda sudah menungguku di depan gerbang sekolah.


"Lo ngapain nunggu gue?" tanyaku


"Gue liat mobil lo, jadi gue tunggu" Ninda


"Oh gitu, oh ya Nin! Gue boleh tanya sesuatu sama lo?" tanyaku


"Ya apa?" Ninda


"Lo kenal William Stefanus Arafan?" tanyaku


"Wiliam stefanus? Maksud lo ketua geng BC?" Ninda


"BC? Apaan tu?" tanyaku


"BC itu nama geng mereka itu isinya cowok-cowok gak jelas di sekolah" Ninda


(Bahkan sekolah ini punya gank, seburuk apa sekolah ini pas masih ditangan papa? Huuh... semua harus dirubah) batinku


"Lo tau?" tanyaku

__ADS_1


"Bukan tau lagi, dia udah terkenal di semua sekolah SMA dan lo tau? Dia itu... Cowok yang pernah mancing keributan sama SMA lain" Ninda


"Sejak kapan?" tanyaku


"Sejak..."


"Hai cantik... Lagi ngomongin apa sih?" seorang lelaki datang di depanku dan Ninda saat ingin menaiki tangga menuju lantai 2 sekolah.


Ninda menunduk dan mencoba mengumpat di belakang tubuhku dan hal itu buatku bingung tidak karuan. Kenapa Ninda takut dengan lelaki di depanku?


"Ninda, lo kenapa?" tanyaku


"Ini kak Wiliam yang gue bilang" bisik Ninda pelan di telingaku sambil ngintip lewat bahuku.


"Hai... Lo anak baru kemaren yang gue temui beberapa hari yang lalu kan?" Wiliam


"Emang iya? Gue aja gak tau" jawabku


"Kok lo jawabnya kasar? Lo belom tau gue siapa?" Wiliam


"Gue gak tau dan gak mau tau!" aku berusaha kabur bersama Ninda tapi, temannya Wiliam mencengkram lenganku.


"Lo mau kemana? Ini belom selesai" kata seorang lelaki yang aku lihat namanya Andrea Govani.


"Yaa mau ke kelas lah apa lagi? Lepasin Ninda!" ucapku


"Kamu berani cantik sama aku?" Wiliam berbicara halus dan membuatku bener-bener ingin muntah mendengarnya.


"Gak usah embel-embel deh kak! Sok KE.GAN.TENG.AN!" ucapku melakukan penekanan pada kata terakhir dan menarik Ninda.


"Lo gak akan selamat!" Wiliam berteriak dan aku menghiraukannya.


Sampai kelas, aku lempar tasku di atas meja dan Ninda ketakutan melihatku. Sedangkan, orang yang duduk di belakangku dia malah menatapku dengan sinis padahal dia pake headset.


"Ril, gue rasa lo salah deh ngelawan kak Wiliam" Ninda khawatir


"Salah kenapa? Baguslah kayak gitu, orangnya aja jelek" ucapku ketus


"Ssstt... jaga ucapan lo Vril" Ninda


Dan tidak lama 4 orang lelaki tadi datang ke kelasku dan seisi kelas langsung natap ke arah 4 lelaki itu yang aku yakin dia anak BC.


"Oh, jadi lo kelas 11 Musik 1. Tidak jauh dari penalaran gue" Wiliam


"Mau apa lo kesini?!!" tanyaku


Wiliam melangkah mendekat ke arahku dan aku menatapnya dengan sinis dan dingin.


"Gue kesini dengan tujuan damai. Cuma mau nyelesaiin permasalahan kita tadi. Asalkan lo nurut sama perkataan gue gimana?" Wiliam


"Ha? Lo kira gue apa? Yang bisa ikutin perintah lo?! Dan gue juga bukan kacung lo" ketusku


Seisi kelas ribut dengan perkataan gue tadi dan Wiliam dia malah marah.


"BERISIK! DIEM LO SEMUA!!! Kamu beneran gak mau nurut sama aku cantik?" Wiliam


"Enggak akan kakak yang baik" ucapku dengan halus berusaha tenang


"Tadi kamu jelekin aku dan sekarang kamu malah baikin aku. Mau kamu apasih cantik? Hmm..? Mending kamu ikut aku sekarang" Wiliam


"Enggak!" jawabku


"Ikut!" Wiliam


Willian sudah memegang tanganku dan ingin membawaku pergi, tanpa aku sadari seseorang megang tanganku berusaha membantuku.


"Jangan berani sama cewek! Lo mau masuk BP lagi karna hal ini?" cowok itu bilang sama Wiliam


"Lo anak kecil! Gak usah ikutan! Lo masih mau masuk rumah sakit?" Wiliam


"Gue bakal ngelakuin hal sebaliknya" cowok itu ngelawan


"Huh... Bocah gak usah gaya lo! Lo bisa apa?" Wiliam


"Gue emang gak bisa apa-apa tapi, gue punya banyak cara buat masukin lo ke penjara!" cowok itu

__ADS_1


Wiliam ngelepas cengkramannya di tanganku dan pergi tanpa sepatah kata pun. Suasana kelas dan diluar kelas menjadi riuh atas kejadian ini.


"Apa lo semua? Masih mau tontonin?!" ketus lelaki di sampingku ini


Semua murid langsung kembali duduk dan berbicara bersama teman mereka.


"Hmm... lepasin tangan gue" ucapku agak keras


Lelaki ini melepas tanganku dan namanya adalah, Derren Frendyka.


"Hati-hati sama dia" Derren memperingati ku dan dia kembali duduk lalu memasang headset dan tertidur.


"Uh? Dingin banget" gumamku


Aku duduk dan Ninda menatapku serius seolah dia hanyalah mimpi melihat kejadian tadi.


"Wow... keren lo sama Derren... gilaa" Ninda heboh


"Apa sih?" kesalku


"Lo tau Derren sama Wiliam gak pernah ada akurnya. Cuma ya Derren nanggapinnya biasa kayak tadi. Dan lo cewek yang berani lawan Wiliam selama ini" Ninda


"Halah, cowok kayak dia harusnya gak ditakutin" ucapku


"Pagi anak-anak..." Bu Aila masuk memberikan pembimbingan pagi ini.


skip


( Waktu Istirahat)


Kring... kring... kring...


Istirahat berlangsung, aku bersama Ninda pergi ke kantin dan disini benar-benar membuat aku tidak nafsu makan karena perempuan kemarin yang bernama Clarisa, dia datang kembali untuk melabrakku sekarang.


"Lo! Gak bisa ngelak dari gue sekarang" Clarisa


"Lo mau apa?" tanyaku


"Simpel, gue cuma mau lo jadi pembantu pribadi gue" Clarisa.


Brak...


Aku memukul meja keras sampai kuah bakso yang di pesan Ninda tumpah karna sangat keras dan sekarang suasana kantin jadi hening.


"Heh! Lo kira gue siapa lo?! Main jadi babu lo?!" jawabku


"Buat pembalasan kemaren! Lo udah berani ngelawan gue dan nyelamatin si cupu! Lo anak baru gak usah gaya!" Clarisa


"Gue gak gaya! Kalo gue gaya gue harusnya jadi model bukan sekolah disini! Harusnya lo ngaca! Lipstik tebel kayak badut dufan!" ucapku


"Lo berani sama gue?" Clarisa


"Lo kira gue takut?!" tanyaku


"Lo... ARGHH...!!! Gue bingung ya mau gimana sama lo! Lo bikin gue gak bisa mikir! Liat lo besok! Gue yakin lo gak akan selamat!" Clarisa pergi gitu aja dan aku keluar kantin.


"Vril..! Tunggu!" Ninda


Saat aku ingin masuk kelas malah berpapasan dengan Derren. Dia hanya menatapku lalu pergi keluar kelas dengan dinginnya.


"Vril..! Haduh..huh..huh..huh gue..ca..pe.." Ninda ngos-ngosan dan aku tinggal ke dalam kelas.


Sampai di kelas aku mendapat telfon dari Rahel.


"Halo?"


"Ther...ada kabar baru perusahaan kakak lo juga ke bobolan uang. Pelakunya sama! Lo harus kesini sekarang ada Axen! Gue tunggu!"


Tut...


"Wiliam.." geramku pelan


Aku mengucapkannya pelan agar Ninda tidak dengar, aku langsung beres-beres dan pergi keluar kelas dan Ninda dia hanya bisa kebingungan melihat aku keluar dari kelas.


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2