
...selamat membaca...
Aku sampai di gedung bertingkat dan menuju sebuah ruangan khusus yang diberi tahu Rahel.
"Kakak?"
Aku terkejut melihat kakak Arvan sedang duduk di sofa dan menunduk sedih.
"Asther..." ucap kak Arvan menggantung
"Kakak beneran kebobolan uang perusahaan? Tapi kak, perusahaan kakak di London sana. Kenapa bisa kena?" tanyaku
"Kakak juga gak tau, karna kakak lagi gak di perusahaan dan kakak dapet kabar dari bagian keuangan sama temen kakak yang ngurus bagian IT" Arvan
"Haduh.." desahku dengan nafas berat
"Pelakunya Wiliam" timpal Axen
"Lo udah cek semuanya?" tanyaku
"Udah, nama IP itu jelas kalo itu Wiliam" Axen
"Gue gak bisa biarin! Malah Wiliam orangnya ganjen. Kita bertiga harus kumpul di sini jam 8 malam" ucapku
"Sebelumnya gue mau pergi ke gedung BA. Rahel lo ikut gue dan Axen lo disini sama kakak gue" jelasku
"Oke" Axen dan Rahel bersamaan.
***
>> At, Gedung BA <<
Sampai di Gedung BA, aku masuk dan menempelkan jariku pada alat pendeteksi dan di dalam dilakukan pemeriksaan selama 2 menit. Setelah aman, seluruh orang di dalam gedung menatap kedatanganku dan mereka menunduk.
"Selamat siang nona... ada yang bisa saya bantu?" pegawai berusaha bertanya padaku
"Saya mencari Farel" ucapku
"Bisa saya antar" Seorang pegawai menaiki lift bersamaku dan Rahel.
"Maaf sebelumnya karna nona memakai seragam sekolah, jaket nona ada di loker nanti" pegawai perempuan ini tersenyum.
"Baiklah, apa ada kabar menarik?" tanyaku
"Tidak banyak, hanya saja saya rasa nona tau beberapa perusahaan mengalami ke bobolan kami senang dengan kedatangan nona kemari... sudah sampai nona dan semoga hari anda menyenangkan" pegawai itu tersenyum dan membungkuk lalu aku dan Rahel keluar lift.
Sebelumnya aku mengambil jaket bersama Rahel tepatnya bisa dibilang jaket itu sampai ke lutut panjangnya seperti cardigan. Saat masuk ruangan semua pegawai yang berada di ruangan berdiri dan membungkuk padaku dan Rahel untuk memberi hormat.
"Dimana Farel?" tanyaku to the point
"Di mejanya nona" jawab seorang karyawan
Aku dan Rahel menuju ke meja Farel dan disana dia sedang memainkan ponselnya bukan berarti dia sedang santai.
"Oh lo udah sampai, Axen baru kasih tau gue" Farel
"Gimana? Beneran pelaku semuanya Wiliam Stefanus?" tanyaku
"Iya ini info soal dia dan keluarganya ternyata bukan keluarga biasa. Ayahnya seorang mafia" Farel
"Mafia?" Rahel terkejut
"Huh, pantes aja dia kayak gitu kelakuannya" ucapku
"Apa yang mau lo lakuin Trixy?" Rahel
"Gue akan turun tangan sama Rahel dan Axen. Dan lo sebagai pemantau nanti" aku
__ADS_1
"Gak terlalu cepat?" Farel
"Enggak, info yang lo tunjukin udah lebih dari cukup dan gue merasa kalau gue kenal sama ayahnya Wiliam. Axen udah gue suruh selidiki sebelumnya kebetulan Axen juga hafal daerah Mall Central tempat biasa Wiliam nongkrong" jelasku
"Tapi lo bertiga aja? Mungkin teman clubnya juga bukan orang biasa dan lo adek kelasnya. Kalo lo ketahuan 1 sekolah bisa heboh" Rahel
"Gue gak akan seceroboh itu selama kalian masih bantu gue" aku
"Oke, apa yang harus gue lakukan?" tanya Farel
Aku menjelaskan semua rencana sekalian Farel menelfon Axen agar dia tahu bagaimana rencananya.
Dan namaku dikenal sebagai Trixy. Aku pemegang jabatan tertinggi di gedung ini. Mereka tentu sudah mengenalku sangat lama dan semua orang disini sangat menghargaiku sebagai atasan mereka.
"Oke jelas?" Tanyaku setelah selesai menjelaskan rencana
"Oke" Rahel, Farel dan Axen.
"Oke, gue pulang dulu. Karna habis ini gue dicari bokap pasti, apalagi gue disini sama Rahel" aku
"Lo asisten Trixy, Hel?" Tanya Farel
"Iya" Rahel
"Keren... okelah good luck gue persiapin semuanya tenang aja" Farel
Farel mulai bekerja dan aku mengangguk lalu pergi dari ruangan yang berada di lantai 10 ini.
***
>> At, Diluar Gedung BA <<
Saat di mobil, aku tidak langsung kembali ke kantor perusahaan. Tapi, memutuskan untuk ke sekolah memantau Wiliam dari jarak yang cukup jauh. Karna dia juga gak akan tau mobilku.
Dan saat seluruh murid bubar, Wiliam keluar dan bertemu seseorang yang menggunakan jaket hitam. Sebelumnya aku mengganti almamater sekolahku menjadi jaket hitam dan kacamata sebagai penyamaran agar tidak ketahuan begitu juga Rahel.
"Mana? Yang mana?" Rahel
"Sepatu oren deket gerbang keluar sekolah" ucapku
"Oke tau" Rahel
"Dia ketemu sama seseorang di deket pohon sekolah" tambah Rahel
"Lo turun Hel, dengerin apa yang mereka bicarain kebetulan jarak halte sama pohonnya gak jauh. Gue rasa lo bisa denger dengan jelas" ucapku
"Oke" Rahel keluar mobil membawa tas layaknya anak kuliah yang sedang menunggu bus.
Aku memantau Rahel dari mobil dan melihat gerak gerik Wiliam beserta seseorang yang dia temui.
"Ngapain sih mereka? Pake ketutupan segala lagi" kesalku
Setelah selesai Wiliam dan orang itu langsung pergi berlawanan arah dan orang berpakaian hitam itu berjalan di depan Rahel berdiri. Karna, sudah jauh dari jangkauan... Rahel menelfonku.
Halo? Jemput gue
"Oke"
Tut...
Aku menghampiri tempat Rahel berdiri dan dia masuk mobil lalu Rahel membicarakan semuanya bahkan dia merekam dan juga memfoto lelaki bepakaian hitam itu.
"Apa yang lo dapet?" tanyaku
"Orang pakaian hitam tadi ngasih 3 amplop coklat yang gue yakin itu isinya uang hasil bobolan. Karna habis itu si hitam tadi di kasih uang sebagai upah atas kerjaannya" Rahel
"Lagi?" tanyaku lagi
__ADS_1
"Gue denger, Wiliam bakal ngebobol lagi perusahaan yang dia incer tapi mereka gak sebut" Rahel
"Bagus! Dan gue harus bergerak cepat sebelum dia makan banyak korban" ucapku
"Iya" Rahel.
***
>> At, Di Rumah Asther <<
Sampai rumah papa terlihat stress dan mama bersedih.
"Asther pulang~ mama sama papa kenapa?" tanyaku
"Perusahaan kakak kamu di bobol" Papa panik
"Ha? Beneran ma... pa? Terus gimana sama kakak?" aku berbohong sok tak tahu.
"Dia lagi di kamar dan papa harus tangkap siapa yang coba melakukan itu" Papa
"Papa nyuruh siapa?" tanyaku
"Agen perusahaan papa bagian IT semoga dia bisa" Papa
"Jangan pa!" cegahku
"Kenapa?" Papaku bingung
"Hmm... itu... Asther... Asther lagi coba cari pa, dia itu orang hebat" jawabku
"Sendiri?" Papa
"Enggak dibantu teman, papa tenang aja yaa" ucapku
"Yaudah terima kasih papa percaya kamu dalam hal ini" Papa
Aku mengangguk dan pergi ke kamar saat ingin mengunci pintu kamar mama datang dan dia masuk.
"Asther, apa bener kamu cari pelakunya?" Mama
"Bukan cari lagi ma, Asther udah nemu" Aku
"Siapa nak?" Mama
"Anak mafia yang keluar masuk penjara dulu" jelasku
"Maksud kamu Yosa Stefanus?" Mama
"Iya ma, ini anaknya namanya Wiliam Stefanus" aku
"Kamu yakin dia?" Mama
"Mama ngeraguin Asther?" tanyaku
"Bukan gitu nak! Mama takut kejadian dulu terulang walaupun kamu udah berhasil berkali-kali jadi agen sekaligus polisi dalam kasus yang bersamaan" Mama
"Ma... Asther udah pengalaman dalam hal ini aku rasa kalo menangani om Yosa dulu aja aku bisa apalagi Wiliam dia kakak kelas aku ma" ucapku
"Dia masuk generasi nusantara?" Mama
"Iya ma" jawabku
"Haduh... Mama bingung. Yaudah mama berusaha yang berdoa baik buat kamu" Mama
"Thank you mam" ucapku
Aku memeluk mama, lalu mama pergi dari kamarku dan aku bersiap untuk misi hari ini.
__ADS_1
...bersambung...