
DING!!!
[Misi 7 : Menyelamatkan kehormatan seorang gadis dari gangguan berandalan. Waktu untuk menyelesaikan misi : 5 menit.]
Julian tidak menyangka kalau aksi heroiknya dimasukkan ke dalam misi oleh sistem. Ia cenderung berpikir kalau seluruh misi yang diberikan sistem padanya hanya akan berhubungan dengan kinerja paranormal.
Setelah selesai merapal ajian bolo sewu, Julian maju mendekati para berandalan yang mulai kehilangan kewarasan karena efek minuman keras.
“Lepaskan gadis itu atau aku akan membuat kalian babak belur!”
Mendengar ada suara seorang pemuda menghalangi maksud me-sum mereka, para berandalan melepaskan gadis yang akan menjadi mangsanya. Gadis belia itu langsung lari masuk ke dalam mobil dan pergi dari parkiran.
“Berani sekali kau berurusan dengan kami?” Salah satu berandalan bersuara lantang sambil mengacungkan botol minuman ke arah Julian.
Dengan satu gerak cepat, Julian reflek menghindari botol minuman keras yang dipukulkan ke arah kepalanya. Ia dengan mudah menangkap tangan si berandalan pemegang botol dan membantingnya.
“Ehm, apa itu sakit?”Julian merasa sangat takjub dengan dirinya sendiri yang bisa bergerak ringan dan sanggup menjatuhkan si berandalan dalam satu serangan balasan.
Dua berandalan lain yang coba mengeroyok Julian juga bernasib sama, menggelepar dan kehilangan kesadaran setelah mendapatkan pukulan balasan dari Julian. Dua security kafe yang mendengar suara ribut-ribut langsung mendatangi parkiran dan melerai perkelahian.
Julian yang sudah tidak memiliki lawan memilih pergi dari parkiran setelah meminta maaf pada keamanan kafe. Ia berjanji akan menemui pemilik kafe untuk minta maaf lagi keesokan harinya. Tiga berandalan yang ditinggalkan Julian akhirnya diurus oleh beberapa pengunjung kafe yang hendak mengambil kendaraan di parkiran.
Dalam perjalanan pulang, Julian mendengar sistem kembali berbicara dalam kepalanya.
[Misi 7 berhasil. Hadiah uang lima puluh juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]
“Tampilkan statusku, Mbah!”
>Sistem Kekayaan Paranormal<
[Status]
[Nama : Julian El Sandi]
[Umur : 18 Tahun]
[Level Paranormal : Silver]
[Kekuatan : 35]
[Ketahanan : 30]
[Kepandaian : 38]
[Ketampanan : 73]
__ADS_1
[Pesona : 51]
[Keberuntungan : 27]
[Kemampuan supranatural : 22]
[Kemampuan khusus : -]
[Dana : 131 juta]
[Misi 7 : Berhasil]
[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]
[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning]
[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban]
[Misi 8 : Belum tersedia]
[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]
Julian kegirangan karena level paranormalnya naik ke Silver. Mungkinkah jumlah uang yang dibayar oleh sistem setiap kali ia berhasil menyelesaikan misi akan bertambah banyak seiring dengan kenaikan level paranormal?
[Ajian asmoro kuning adalah ilmu yang digunakan paranormal untuk memanggil arwah dan bangsa lelembut lainnya. Tidak ada hubungannya dengan asmara antara pria dan wanita. Tapi ajian asmoro kuning bisa dipakai untuk mengurusi cinta dua sejoli beda alam seperti Candra-Kirana.]
(Asmara dua sejoli beda alam bisa dibaca terpisah di karya Al yang lain dengan judul Candra Kirana)
Julian terbahak-bahak mendengar penjelasan Mbah Jambrong yang menyentil kisah cinta beda alam. “Ternyata ilmu paranormal itu aneh-aneh ya, Mbah? Tapi jujur saja aku mulai menyukai dan menikmati pekerjaanku sebagai dukun muda. Ini jauh lebih baik daripada menjadi pengamen jalanan!”
Dalam perjalanan pulang, Julian menyempatkan diri mampir ke panti asuhan untuk memberikan uang pada Bu Rosidah. Ia berpesan pada ibunya untuk mengganti alas tidur adik-adiknya yang sudah tidak layak, dan memberikan mereka makanan yang lebih bergizi.
Keesokan harinya, Julian lebih bersemangat ketika membuka tempat praktek. Ia bersih-bersih bagian depan ruko dibantu oleh kapster salon sebelah. Julian yang tidak pandai basa basi pun segera menyelinap masuk ke ruang kerjanya setelah membuang sampah dan berpamitan ala kadarnya.
Lima belas menit berikutnya, Julian menerima tamu pertamanya di hari kedua buka praktek. Seorang pria matang usia tak lebih dari 40 tahun.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Julian setelah mempersilahkan tamunya duduk.
“Tolong panggilkan kakeknya, Dik!” pinta tamu Julian setelah mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk. Julian merasa puas ketika melihat tamunya bisa bersantai menikmati tempat duduknya.
“Kakek? Saya tidak punya kakek, Pak!” tanya Julian bernada heran.
Tamu Julian memberi perintah tegas, “Panggil bapakmu kalau begitu, maksudnya panggilkan mbah dukun yang buka praktek di sini! Aku ada keperluan penting sama simbah! Sekarang ya, jangan lama-lama!”
“Simbah?” Julian semakin heran dan tak mengerti keinginan tamunya.
__ADS_1
“Dukun itu umumnya dipanggil simbah, masa kamu malah tidak tahu hal dasar begini? Baru mulai kerja di tempat dukun praktek ya? Ayo cepat dipanggil simbahnya! Saya sedang buru-buru.”
Julian menggaruk-garuk pipinya, agak kesulitan mencari kata yang bisa menjelaskan dirinya. Ia diam beberapa saat sebelum menjawab dengan ekspresi meyakinkan dan percaya diri. “Saya paranormalnya, Pak!”
“Hah, yang benar saja kamu?” Pria yang menjadi tamu Julian melebarkan mata, mengamati Julian dari atas ke bawah. “Tidak masuk akal, tolong jangan mengada-ada! Aku kesini ada perlu dengan mbah dukun, bukan dengan asisten dukun atau resepsionis yang sedang magang!”
Suara perempuan memanggil nama Julian memecah pembicaraan mereka, lalu kapster salon sebelah ruko masuk ke ruangan praktek Julian sambil membawa dua gelas kopi panas.
“Mas Dukun … aku pesenin kopi di warkop depan, kasihan tamunya kalau tidak disediakan minuman!” ujar si wanita sambil meletakkan dua cangkir kopi di meja Julian tanpa sungkan. “Saya permisi, Mas Julian! Nanti cangkirnya diambil sama pegawai warkop, tapi jangan lupa bayar! Itu bukan gratisan!”
Julian hanya mengangguk setuju, sedangkan tamunya masih menatap heran padanya. “Mas Dukun? Jadi ini serius? Bukannya kamu terlalu muda untuk jadi paranormal? Kamu masih sekolah? Anak saya seumuran kamu masih SMA.”
“Saya sudah lulus SMA, Pak!” jawab Julian singkat.
“Jadi apa motifmu pura-pura jadi paranormal? Kamu mau menipu pasienmu?” tanya tamu Julian skeptis dan menyelidik.
Julian terpaksa menjelaskan dengan sedikit kebohongan. “Saya memiliki keahlian yang diturunkan dari kakek, dan saya butuh biaya untuk masuk universitas ternama secara mandiri. Apa salahnya berprofesi sebagai paranormal? Jadi apa yang bisa saya bantu? Bukankah bapak datang dari jauh karena ada kepentingan yang berhubungan dengan kerjaan paranormal!”
Butuh waktu untuk memutuskan langkah selanjutnya bagi tamu Julian. “Aku memang sedang butuh paranormal yang bisa membuat pagar gaib untuk rumah calon kepala desa. Begini saja … aku akan membawamu ke desa, tunjukkan kemampuanmu di sana. Kalau memang mumpuni, calon kepala desa pasti akan membayar mahal jasamu, sekalian aku ingin memastikan kalau ini bukan penipuan!”
Julian tidak menolak. Ia memang harus membuktikan diri kalau memang mampu dan berkompeten sebagai dukun muda di mata masyarakat. Julian berdiri, lalu melangkah mengikuti tamunya menuju mobil.
Perjalan ke desa hanya memakan waktu setengah jam. Begitu sampai rumah calon kepala desa, Julian dipersilahkan duduk di ruang tamu, menunggu sampai orang yang berkepentingan keluar dari dalam rumah.
“Aku mau rumah ini memiliki pagar gaib yang bisa menghalau santet dan kejahatan tak kasat mata yang mungkin akan datang menyerang. Aku calon kepala desa, jadi sedia payung sebelum hujan adalah hal biasa. Mas Dukun pasti sudah memahami kalau pencalonan kepala desa lekat dengan persaingan tak sehat!”
[Misi 8 : Membuat pagar gaib berbentuk piramida dengan media air dan garam. Waktu untuk menyelesaikan misi : 1 jam.]
Julian mengangguk serius pada calon kepala desa, “Saya butuh garam dapur dan air bersih kalau begitu!”
Hampir satu jam berikutnya Julian sibuk mengurusi pembuatan pagar gaib di rumah calon kepala desa. Ia sampai tak menyadari ada sosok pria beraura gelap mengamatinya dari jauh.
Tak lama, pagar gaib buatan Julian sudah kokoh memayungi rumah calon kepala desa. Meski tidak bisa melihat pagar tersebut, calon kepala desa langsung bisa merasakan aura hangat di dalam rumahnya. Ada energi positif berputar dalam rumah yang disebabkan oleh keberadaan pagar gaib tersebut.
Julian meninggalkan rumah calon kepala desa di bawah tatapan dengki pria misterius yang mengamati semua kegiatannya di rumah calon kepala desa. Julian tidak ambil pusing karena sosok tersebut tidak membuat ulah atau mengganggu kinerjanya.
Setelah berjalan cukup jauh, Julian membuka amplop dari kepala desa. Ia mendapatkan bayaran satu juta rupiah dan tersenyum ceria. Julian kembali melangkahkan kaki ke ujung jalan, mencari angkutan umum yang akan membawanya ke rumah Topan. Ia bermaksud mengajak sahabatnya makan di kafe tempat ia membuat keributan.
Selain untuk minta maaf pada pemilik kafe, Julian juga ingin menyelidiki gadis belia yang sering mengunjungi kafe tersebut. Gadis yang sangat membuat penasaran karena memiliki kemiripan dengan ibunya.
[Misi 8 berhasil. Hadiah uang seratus juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]
Julian terbatuk-batuk mendengar jumlah uang yang didapatkan dari sistem. “Mbah, bisakah hadiah spesial atau hadiah misteri kali ini berupa mobil? Masa iya dukun muda ganteng dengan penampilan keren begini naik angkot bareng mamak-mamak pulang dari pasar? Bisa-bisa bau terasi aku, Mbah!”
***
__ADS_1