
"Hahaha … siapa namamu tadi? Berlian abadi?"
Julian menaikkan satu alisnya, ekspresinya seketika keki. Batin dukun aliran hitam yang dipanggilnya ternyata agak budek alias tuli. Masa iya namanya disamakan dengan toko emas? Atau mungkin malah toko bangunan?
Sebagai hukuman, Julian mengunci tubuh adiknya, sehingga batin dukun itu tidak akan bisa keluar dari tubuh Ayli tanpa seizinnya.
“Namaku Julian, Ki! Bukan berlian. Aku mengundangmu datang karena ada satu urusan yang harus kita selesaikan!"
Ayli mendengus berat, "Aku tidak memiliki urusan apapun denganmu, Bocah Julian!"
"Begini … ambil kembali apa yang sudah kau tanam dalam tubuh anak ini, Ki Dukun! Jangan membuat aku kesal dengan membuang-buang waktu dengan banyak bicara!”
“Hahaha, yang ada dalam tubuh ini bukan urusanku lagi, Bocah! Lagi pula aku ini dukun kesohor, mana mau diperintah anak kecil sepertimu seenaknya? Dengar, aku Mbah Priyo … dan aku bukan pesuruhmu! Cabut sendiri apa yang tertanam dalam tubuh ini jika kau memang mampu!” tolak dukun ilmu hitam yang meraga dalam tubuh Ayli.
Mbah Priyo sengaja menyombongkan diri untuk menggertak Julian. Hal seperti itu sudah biasa dilakukan untuk menjatuhkan mental lawan.
Mendengar ocehan menyebalkan ala Mbah Priyo, Julian siap menghantam batin dukun tersebut dengan kekuatan supranaturalnya. “Aku akan menghitung sampai tiga, cabut semua tanamanmu atau batinmu aku hancurkan dengan ajian waringin sungsang! Satu ….”
Mendengar Julian mengancam dengan ajian yang bisa melenyapkan semua ilmu hitamnya, Mbah Priyo reflek bereaksi membuat pertahanan diri. Ia kembali terkekeh, "Ajian itu sudah lama punah, Julian! Jangan terlalu arogan mengancamku dengan omong kosong tak bermutumu!"
Julian meletakkan tangan kanan di leher Ayli seperti gerakan mencekik. Ia memang mencekik secara gaib, bukan pada leher Ayli tapi pada leher Mbah Priyo. Energi supranatural mengalir deras ke dalam tubuh Ayli, menyerang batin Mbah Priyo tanpa ampun.
"Keluarkan sekarang! Kau tidak punya pilihan, Ki!"
Ayli terbatuk-batuk, mengangguk setuju karena kesulitan bicara. Tangan kanannya yang ada dalam kendali batin Mbah Priyo mulai mengusap perutnya sendiri. Lalu tangan itu membuat gerakan memutar, dan dengan cepat bergerak seperti sedang memungut sesuatu.
Apapun yang diambil dari perut Ayli melalui tangannya mewujud sebagai pecahan kaca dan belatung, "Taruh dimana ini?"
Julian menyodorkan baskom kecil, "Masukkan ke sini!"
“Ini banyak sekali … aku tidak bisa membersihkannya dalam waktu cepat! Butuh beberapa menit, aku butuh bernafas dan istirahat,” keluh Mbah Priyo memakai mulut Ayli. Suaranya bergetar seperti orang menahan sakit.
“Waktuku tidak banyak, Ki! Jika dalam tiga tarikan nafas pekerjaanmu tidak selesai, aku akan menghancurkanmu!” sahut Julian tegas.
Detik berikutnya, tangan Ayli bekerja sepuluh kali lipat lebih cepat. Tangannya menggenggam sejumput belatung yang baru dikeluarkan secara gaib dari perutnya sendiri lalu meletakkannya ke dalam baskom. Selang satu detik, Ayli memberikan beberapa pecahan kaca dan jarum pada Julian. “Sudah! Semua sudah aku keluarkan, tolong lepaskan aku sekarang! Dadaku sakit!”
__ADS_1
“Bawa pulang semua penyakit yang kau kirim kemari!” perintah Julian. Menunjukkan baskom berisi buhul tenung yang ada di tangannya.
“Tidak! Aku tidak bisa! Tenung yang sudah dilepas harus makan. Aku tidak bisa membawanya pulang. Kau bisa memusnahkannya seperti yang lain. Hancurkan saja kalau tidak ingin menjadi masalah di kemudian hari!” ujar Mbah Priyo keras kepala.
“Bawa pulang material tajam dan belatung-belatung ini, berikan pada keluargamu! Kau tidak punya pilihan selain menurutiku!”
Ayli menggeleng keras, “Kau salah, dukun muda! Aku tetap punya pilihan! Tenung ini butuh makan, dan tenung yang sudah diberangkatkan bisa memakan orang lain selain yang ditargetkan. Tenung ini bisa makan orang yang berniat menghancurkanmu! Aku akan mengirimnya pada Pak Anam!”
Mulut Ayli komat-kamit, matanya terpejam beberapa waktu. Lalu, di depan semua orang yang hadir di kamar itu, baskom berisi belatung dan material tajam di tangan Julian sudah kehilangan isinya.
“Aku sudah selesai dengan tugasku, Pak Anam yang akan membayar semua ini. Aku tidak bersalah, lepaskan aku! Buka pintu tubuh anak ini, Julian! Jika aku tidak pulang sekarang, aku bisa mati, aku sudah kehabisan tenaga ….”
“Kau memang tidak akan pulang lagi, Mbah! Batinmu akan tertinggal di sini selamanya, hanya menunggu hari jasadmu akan mati karena ketidakseimbangan jiwa dan raga. Maaf kalau aku harus menghancurkanmu! Kau terlalu jahat dengan santet Pati Pitu-mu!”
Julian merapal ajian waringin sungsang untuk menghisap seluruh energi batin Mbah Priyo, sekaligus menghantam batin dukun tersebut hingga hancur. Asap hitam tipis keluar dari mulut Ayli, menandakan kematian batin Mbah Priyo.
Dalam kondisi seperti itu, jasad Mbah Priyo yang berada di tempat lain mengalami luka dalam yang sangat parah. Julian memprediksi, ahli tenung itu pasti mati dalam rentang waktu dua hari.
"Kalian boleh pergi! Terima kasih untuk semua bantuan yang sudah kalian berikan!" kata Julian pada beberapa Danyang Desa yang turut menyaksikan perang gaib Julian dan Mbah Priyo.
Tidak menunggu sampai mata Julian berkedip, para danyang sudah menghilang dari ruangan. Kembali ke pos penjagaan masing-masing.
"Ibu dan adik-adikmu yang lain yang berjaga di sini!" tukas Bu Rosidah.
Julian keluar ruangan setelah situasi benar-benar terkendali. Tubuhnya lelah setelah menyelesaikan misi 19 dan berperang gaib dengan dukun santet berilmu tinggi.
Namun, pekerjaan Julian belum selesai. Hawa mistis dan berbahaya belum sepenuhnya hilang dari panti. Energi negatif masih berputar-putar memayungi tempat tersebut.
Setelah memperhatikan keseluruhan rumah dengan lebih teliti, Julian mengambil cangkul dari gudang belakang.
"Biar aku yang menggali, Jul!" kata Topan, meminta cangkul pada Julian. "Tunjukkan saja tempatnya!"
Julian menuju pojok halaman samping rumah dimana energi negatif berpusat. "Gali di sini!"
Butuh waktu tiga menit bagi Topan untuk menemukan buhul yang dimaksud Julian. Bungkusan kain warna putih kusam diberikan Topan pada Julian. "Ini?"
__ADS_1
"Yeah! Aku harus membakarnya!"
"Apa isinya, Jul?"
"Sebenarnya aku tidak ingin tau, tapi kalau kamu penasaran … kita buka saja!"
Julian membuka kain putih yang diikat lima seperti pocong kecil tersebut. Memperhatikan isinya. "Jenglot … tapi ususnya terburai keluar, tanah kuburan, belatung mati, remukan kaca dan terakhir jarum plus benangnya!"
"Anam gila! Semoga segera dapat balaknya itu orang!" ujar Topan menahan murka.
[Misi 19 selesai. Hadiah uang sebesar sepuluh miliar sukses ditransfer ke rekening Tuan!]
[Misi 20 selesai. Hadiah uang sebesar sepuluh miliar sukses ditransfer ke rekening Tuan!]
[Hadiah bonus untuk dobel misi sebesar sepuluh miliar, sukses ditransfer ke rekening Tuan!]
[Selamat, Tuan sudah menjadi super paranormal. Hadiah kenaikan level sebesar sepuluh miliar, sukses ditransfer ke rekening Tuan!]
Hah? Aku ada di level super paranormal?
[Benar, Tuan! Poin status akan di naikkan ke tingkat maximal saat ini juga. Harap Tuan bisa menahan laju energi yang akan dimasukkan ke dalam tubuh.]
"Arrrgggg …."
Julian memegangi kepalanya yang mendadak sakit luar biasa. Tubuhnya sampai bergetar karena menahan nyeri yang muncul di seluruh tubuh. Kejadian itu persis seperti ketika sistem menyatu dengan tubuhnya dulu.
[Loading 10%]
[Loading 50%]
[Loading 100%]
[Sistem Kekayaan Paranormal mencapai level maksimal dan sempurna di tubuh tuan rumah.]
[Menyiapkan status terbaru super paranormal dalam tiga hitungan.]
__ADS_1
[Tiga, dua, satu]
***