
Di sela-sela obrolan dengan teman-teman pengamen di warung kopi pinggir jalan, Julian meminta sistem menampilkan statusnya. Ia percaya diri karena tidak ada yang bisa melihat layar biru transparan yang tampil di depan wajahnya.
Julian juga tidak peduli dianggap gila jika terlihat bicara sendiri. Ia cukup mengatakan sedang berbicara dengan jin peliharaannya jika ada yang bertanya.
[Sistem Kekayaan Paranormal]
[Status]
[Nama : Julian El Sandi]
[Umur : 18 Tahun]
[Level Paranormal : Silver]
[Kekuatan : 41]
[Ketahanan : 35]
[Kepandaian : 42]
[Ketampanan : 76]
[Pesona : 54]
[Keberuntungan : 32]
[Kemampuan supranatural : 31]
[Kemampuan khusus : Seni bela diri kuno]
[Dana : 431 juta]
__ADS_1
[Misi 10 : Berhasil]
[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]
[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning, Ajian Jolo Emas]
[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban]
[Misi 11 : Belum tersedia]
[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]
“Mbah, bagaimana menaikkan kemampuan supranatural agar segera mencapai angka maksimal? Dari beberapa kasus yang sudah aku tangani, kemampuan itu yang paling sering digunakan!” kata Julian setelah membaca kenaikan statusnya.
[Kemampuan supranatural naik seiring dengan kekuatan dan ketahanan fisik paranormal. Tidak mungkin tubuh yang lembek, tidak memiliki kekuatan dan ketahanan bisa mengolah energi supranatural yang besar.]
Julian manggut-manggut sambil menggaruk pipinya, “Oh jadi begitu? Masuk akal juga sih, masa iya aku sakti tapi tidak memiliki tubuh yang kuat dan tahan banting di setiap situasi?”
[Benar, Tuan! Lagi pula segala sesuatu yang terburu-buru kadang memiliki efek yang tidak baik.]
[Membentuk tubuh di pusat kebugaran tidak bisa dalam waktu satu hari atau instan dengan minum hormon. Menurunkan berat badan tidak bisa dilakukan dalam waktu lima menit walaupun sudah dibantu dengan obat diet yang paling bagus kualitasnya.]
“Begitu juga jika ingin menjadi dukun muda dengan level super paranormal, harus melewati proses yang panjang!” Julian mengambil kesimpulan setelah mendengar sistem pemandu memberikan pencerahan. “Intinya aku harus sabar melewati level dengan lebih banyak menyelesaikan misi!”
“Jul … tolong si Alex, mendadak kejang-kejang setelah berantem sama Pujo! Kayak orang kesurupan!” panggil Topan, tergopoh-gopoh mendatangi Julian yang sedang santai menyeruput kopi susu.
“Berantem kenapa?” tanya Julian.
Topan menunjuk satu orang yang kelojotan terkapar di atas trotoar. “Rebutan tempat ngamen, ayo lihat dulu Alex kenapa? Epilepsi apa kesambet setan perempatan jalan?”
“Baru juga musyawarah agar kita semua lebih tertib dan saling menghargai ketika mencari uang di jalan,” gerutu Julian tak suka. Kadang teman-temannya memang tidak memiliki aturan dan sering sekali ribut perkara tempat dan jam giliran ngamen di satu lokasi.
__ADS_1
DING!!!
[Misi 11 : Menyadarkan pemuda yang kerasukan di pinggir jalan. Waktu untuk menyelesaikan misi : 10 menit]
Mendengar suara Mbah Jambrong berbicara dalam kepala, Julian berdiri dari duduknya. Ia membayar kopi dan gorengan semua teman-temannya lebih dulu sebelum keluar warung. Tak lupa ia membeli satu botol air mineral untuk keperluan pengobatan pasien kerasukan.
Julian memompa energi supranatural dari tulang ekor ke tangan, lalu mengalirkan ke dalam air mineral yang dipegangnya. Semua itu dilakukan Julian sambil berjalan mendekati Alex.
“Gggrrrrr haum … haum!” Suara Alex terdengar menggeram seperti binatang.
Tepat berada di samping Alex yang masih menggelepar dan mencakar tanah, Julian mengaktifkan mata batinnya. Seekor harimau besar yang sedang marah tampak mengambil alih tubuh Alex.
“Apa yang terjadi, Jo?” tanya Julian pada Pujo yang berdiri tak jauh dari Alek dengan wajah pucat. “Kamu memakai khodam penjaga untuk menyerang temanmu?”
Pujo menahan gemetar, “A-aku ti-tidak tahu menahu soal khodam yang kamu maksud, Julian! Aku memang memiliki jimat kulit macan pemberian kakek untuk menjaga diri, tapi aku tidak tau kalau bakal ada efeknya jika aku marah dan berkelahi.”
“Kamu menyiksa Alex kalau begini, khodam macanmu ikut marah dan akhirnya menyerang Alex dengan mendiami tubuhnya. Panggil dia kembali sebelum melukai alex dari dalam!” perintah Julian tegas.
“Itu dia masalahnya … aku tidak tau harus berbuat apa, ambil saja jimatku ini!” ujar Pujo. Ia tergesa mengeluarkan bungkusan kecil warna hitam dari dompet, lalu memberikannya pada Julian. “Kamu aja yang urus kalau memang bisa, aku sama sekali buta hal beginian!”
Julian menerima bungkusan yang disebut jimat itu, memegangnya di tangan kiri. Ia lalu membuka air mineral yang sudah mengandung energi supranatural dan menyiramkannya ke tubuh Alex dari kaki hingga kepala.
“Keluar dari tubuh Alex sekarang dan kembali ke rumahmu ini! Jangan mengajakku berkelahi karena kau pasti akan babak belur,” ujar Julian berani. Ia menekan ibu jari tangan Alex dan memberikan kejutan energinya untuk sang macan.
Tubuh Julian seperti tersengat listrik sesaat karena adanya benturan energi. Alex meraung-raung, mencoba mencakar dan menyerang Julian. Namun, dengan sigap Julian membekuk Alex agar tidak terlalu liar bergerak.
Alex menggelepar kesana kemari seperti macan yang sedang kesakitan, kira-kira selama satu menit sebelum akhirnya diam, lemas tak berdaya. Julian melepaskan Alex dan meminta Topan membantunya memapah ke warung kopi. Ia segera mengembalikan jimat Pujo dan meminta untuk tidak gampang marah jika tak ingin khodamnya berulah lagi.
[Misi 11 berhasil. Hadiah uang seratus juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]
Julian akhirnya berpamitan pulang setelah Alex sadar. Ia mampir ke panti untuk bertemu ibunya. Melepas rindu dengan keluarga sekaligus memberi bantuan uang untuk membenahi atap panti bagian dapur yang bocor.
__ADS_1
Julian tidak bisa berlama-lama berada di panti karena ia masih harus mengurus barisan pocong yang berkeliaran di depan tempat prakteknya. Julian menduga ada dukun santet yang menanam buhul di area prakteknya agar tidak didatangi tamu seperti dalam mimpinya.
***