Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Marsha oh Marsha


__ADS_3

Julian bangun sedikit terlambat. Ia tidur larut malam karena harus mengurus sisa penyerangan gaib yang melanda rukonya. Dua keris kecil didapatkan Julian, tapi tidak ada batu mustika bagus seperti yang diharapkannya.


Selain mengamankan pusaka bekas buhul santet, malam itu Julian langsung membuat ulang rajah pelindung untuk tempat prakteknya. Kali ini Julian tidak menggunakan gambar Semar lagi. Julian memilih gambar harimau yang diyakini juga ampuh untuk menjadi pagar rumah.


Melihat sahabatnya sudah rapi dan memasak ala kadarnya untuk mereka berdua, Julian merasa terenyuh. “Kita bisa membeli makanan enak, Sobat! Kamu tidak perlu repot memasak.”


“Gaya hidupmu berubah sejak menjadi paranormal, Julian?” tanya Topan sambil tertawa meledek.


Julian menjawab sambil berjalan ke kamar mandi, “Aku sengaja meninggalkan sayur kangkung dan tempe silet untuk sementara waktu. Aku baru sadar kalau aku bosan dengan kedua menu itu, mungkin trauma karena terlalu sering dijejali makanan itu sama ibu hahaha.”


Topan mendengus, “Apa kamu sibuk hari ini? Jam berapa buka praktek?”


“Aku mau ke kampus untuk mengurus registrasi ulang mahasiswa baru. Kamu bisa tetap di sini kalau mau, aku tidak akan lama! Aku bisa buka praktek jam berapa saja karena kondisi juga belum terlalu ramai,” jawab Julian. Ia menyembunyikan kenyataan kalau sistem masih membatasi tamu karena level paranormalnya belum sempurna.


“Aku pulang saja, aku mau minta izin ibuku untuk bekerja menjadi asistenmu perbesok, daripada mengamen di jalan setiap hari,” tukas Topan yakin.


“Oke,” sahut Julian.


“Terima kasih untuk kerjasama menyelamatkan korban perampokan semalam. Lima juta yang kamu berikan terlalu berlebihan untuk pekerjaan yang hanya dilakukan beberapa jam saja. Aku juga tidak memiliki andil besar, hanya mengantar dan menunggu korban sampai keluarganya datang!”


“Sudahlah, jangan membahas nominal lagi. Aku mendapatkan cek dari keluarga korban juga tanpa sengaja. Aku berencana mampir ke panti untuk menjenguk ibu setelah mengantarmu, kita berangkat begitu selesai sarapan!”


Julian memang tidak kekurangan uang sekarang, tapi ia sedang menabung untuk masa depan. Julian tidak ingin menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Cek senilai lima puluh juta dari keluarga korban perampokan akan dicairkan hari ini, sebagian akan digunakan untuk diberikan ibunya di panti. Sisanya akan disimpan untuk modal membuka toko barang antik.


Jiwa bisnis Julian langsung bekerja manakala melihat pusaka yang didapatkan semalam masuk dalam kategori benda mistis dengan kualitas tinggi. Ia bisa menjualnya lagi jika memiliki toko barang antik.


Rencana untuk memiliki toko semakin kuat setelah melihat harga keris yang didapatkan semalam memiliki harga cukup bagus di pasar online. Julian tidak jadi menyimpan benda pusaka itu untuk souvenir pernikahan selama masih bisa ditukar dengan uang!


Setelah sarapan dan mengantarkan Topan pulang, Julian pergi ke bank untuk mencairkan ceknya. Ia hanya mampir sebentar di panti asuhan untuk menyerahkan uang.


Selanjutnya Julian menggeber mogenya ke arah kampus untuk urusan pendidikan. Kali ini, Julian tidak berharap bertemu dengan teman-teman Marsha yang toksiknya tak terukur, ia lelah dibully dan dihina karena miskin.

__ADS_1


Insiden Reina yang terkena mantra semar mesem setidaknya menjadi pukulan bagi mereka yang selalu merendahkannya. Ia lebih suka dijauhi dan tak dianggap ada daripada diperlakukan tak setara sebagai manusia.


Butuh waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikan registrasi ulang dan membayar biaya kuliah yang harus dilunasi Julian pada tahap awal. Ia lalu keluar kampus terpadu itu dengan hati riang. Julian bahkan sempat bernyanyi lagu legendaris dari Bob Marley yang berjudul No Woman No Cry sebelum melihat Marsha yang berjalan tergesa-gesa mendekatinya.


“Julian, tunggu sebentar!”


Melihat Marsha hanya sendirian, Julian langsung mencerca dengan beberapa pertanyaan. “Putri? Kamu registrasi hari ini juga? Sama siapa? Mana teman-temanmu?”


Marsha mengatur nafas yang sedikit memburu karena berjalan terburu-buru. ”Aku sendirian, Lila dan Reina hari ini ada acara keluarga, jadi mereka baru registrasi ulang besok.”


“Apa pacarmu tidak mengantar?” tanya Julian dengan seulas senyum tipis.


Jantung Marsha seolah berhenti berdetak. Kepalanya sakit melihat garis bibir pemuda yang menurutnya tulus dan sangat manis. “Aku sudah putus dengan Yoga!”


“Putus? Apa yang terjadi dengan kalian?”


“Entahlah … aku merasa tidak lagi memiliki kecocokan dengannya. Kami terus saja bertengkar meributkan sesuatu yang sangat sepele,” terang Marsha dengan raut sendu. “Salah satunya meributkan kamu!”


Julian mengerutkan dahi, “Apa salahku, Putri? Bukankah aku tidak pernah mengganggumu?”


Marsha memperhatikan Julian yang menurutnya berubah menjadi lebih menarik setiap kali mereka bertemu. Rasanya memang terlalu aneh karena hal itu terjadi setelah mereka lulus sekolah. Marsha ingat betul selama tiga tahun satu kelas dengan Julian, ia tidak pernah berpikir kalau Julian memiliki pesona.


“Untuk apa kamu membicarakan aku? Apa kalian kekurangan bahan pembicaraan?” tanya Julian tak percaya.


Marsha berusaha menjelaskan, “Aku juga tidak mengerti kenapa sering membicarakan kamu saat bersama Yoga. Aku sempat berpikir kalau aku memang suka sama kamu akhir-akhir ini. Tapi di sisi lain aku tidak percaya dengan perasaanku, bisa jadi aku suka sama kamu karena mantra. Aku juga berpikir begini, Reina yang benci setengah mati sama kamu saja bisa kamu buat langsung jatuh cinta, apalagi aku?”


Julian semakin skeptis menatap Marsha, “Maksudmu … aku memakai ilmu pelet agar kamu menyukaiku, Putri?”


Marsha menjawab tegas, “Ya, aku rasa begitu! Dan aku marah karenanya. Aku menemuimu sekarang dalam rangka minta tolong, Julian! Lepaskan aku dari pengaruh mantramu! Kamu tidak berhak menggunakan pelet untuk membolak balik perasaan perempuan seenaknya. Cinta tidak boleh dipaksakan!”


Julian memejamkan mata sesaat, menahan diri untuk tidak tersinggung. “Aku memang suka sama kamu dari sejak dulu, Putri! Tapi aku sama sekali tidak berniat mendapatkanmu dengan cara kotor apalagi menggunakan guna-guna pengasihan. Aku masih cukup waras untuk tidak bertindak konyol walaupun aku punya kemampuan. Membuatmu tergila-gila padaku sama sekali tidak sulit, itu semudah membalik telapak tangan. Tapi aku enggan melakukannya karena aku menghormatimu!”

__ADS_1


Julian mengatupkan bibirnya karena ada teman Marsha yang ternyata mencuri dengar pembicaraan mereka. Gadis cantik itu tersenyum elegan pada Marsha lebih dulu sebelum menyapa Julian.


“Tunggu! Kamu paranormal yang diceritakan Marsha? Kenalkan namaku Jisa, aku semester tujuh di sini dan aku sedang merintis usaha butik karena memiliki hobi mendesain baju sendiri. Kamu bisa bantu buatkan penglaris untuk butikku? Jangan khawatir, aku akan membayar mahal jasamu kalau terbukti kamu mampu meramaikan penjualan!”


Marsha spontan menegur dengan suara tak enak, “Jisa? Norak banget sih kamu! Kenal aja belum udah main todong minta tolong!”


Jisa menegaskan, “Dengar Marsha sayang, aku sedikit banyak punya pengetahuan soal paranormal dan kepandaiannya membuat penglaris dagangan. Kalau benar Reina dalam sekejap bisa cinta sama dia, aku yakin temanmu ini akan berguna untuk usahaku. Soal kamu suka sama dia karena pengaruh mantra atau bukan, mudah saja dibuktikan!”


Marsha bersedekap, “Bagaimana cara membuktikannya?”


“Mantra hanya menguasai pikiran manusia, tapi cinta sejati menyentuh sampai hati terdalam. Kamu bisa putuskan sendiri kamu suka dengan … siapa tadi nama temanmu ini? Julian? Ya, kamu tinggal mikir di rumah kamu beneran suka dengan hati atau sebatas kagum di pikiran! Keduanya memiliki rasa yang berbeda. Kamu pernah pacaran jadi pasti tau cara membedakannya!” ucap Jisa sok bijaksana.


Marsha berdecak, “Jisa?”


“Bisakah kamu datang ke butikku sekarang, Julian?” Jisa mengulurkan kartu nama pada Julian dengan wajah penuh harap.


Julian berdehem, “Putri … aku masih ada keperluan lain. Aku akan pergi ke butik temanmu ini. Kamu tau pasti, aku harus bekerja untuk membayar kuliahku!”


“Tapi aku masih ingin membicarakan masalah kita, Julian! Ini sama sekali belum selesai,” ujar Marsha keberatan.


“Menurutku tidak ada yang perlu dibahas lagi, ini hanya salah paham kecil. Aku minta maaf kalau sudah membuat perasaanmu tidak nyaman! Tapi aku jamin aku tidak melakukan hal buruk seperti yang kamu tuduhkan!” ucap Julian serius.


DING!!!


[Misi 15 : Menerima order pekerjaan paranormal dari wanita pemilik usaha butik. Waktu untuk menyelesaikan misi : 3 jam.]


“Tidak bisa! Kita harus menyelesaikannya sekarang juga, ayo kita ngobrol di kafetaria saja! Lupakan Jisa!” ajak Marsha sedikit memaksa.


Julian langsung menolak tegas, “Aku tidak bisa, Putri! Maaf, aku harus mendahulukan pekerjaanku!”


“Kamu mau bareng sama aku atau nyusul, Julian?” tanya Jisa ramah, tak peduli dengan situasi Marsha yang memelototinya.

__ADS_1


“Nyusul,” jawab Julian yakin. Ia melangkahkan kaki meninggalkan Marsha yang terbengong menahan emosi padanya.


***


__ADS_2