Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Aku Minta Maaf!


__ADS_3

Julian meringis kesakitan ketika perawat memasukkan benang terakhir untuk menutup luka di kepalanya. Lima jahitan terpaksa diberikan karena luka yang disebabkan hantaman pot ternyata lumayan lebar.


Awalnya Julian tidak ingin repot-repot mengobati lukanya, lagi pula ia masih bisa menahan rasa sakitnya. Luka seperti itu bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan Julian. Tapi ibu panti dan Topan memaksa agar Julian pergi ke rumah sakit karena darah yang menetes dari kepala tidak kunjung mereda.


"Sumpah aku males, Pan! Nanti juga kering sendiri," ujar Julian keras kepala.


"Sekalian nengok Reina sama Marsha!" dalih Topan ketika memaksa mengantar Julian ke rumah sakit.


Topan tak sengaja mengintip pesan yang masuk ke ponsel Julian ketika sahabatnya itu mendapat kabar lewat pesan singkat tentang kecelakaan mengerikan yang menimpa Marsha dan Reina. Dua gadis itu ada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Reina baru melewati masa kritis, sementara Marsha kondisinya jauh lebih baik. Hanya saja, Marsha masih shock dengan kejadian yang menimpa mereka.


"Gimana Jul, masih pusing? Bisa jalan nggak nih?" Topan mengulurkan pakaian bersih yang dibawakan ibu panti untuk mengganti pakaian Julian yang kotor dan banyak bercak darah.


"Yang luka kan kepala, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kaki!" jawab Julian datar. Kalimat yang spontan membuat Topan keki.


"Lukamu itu lebar, wajar kalau aku khawatir! Juragan Anam kali ini benar-benar keterlaluan dan pengecut. Masa kirim lima orang preman cuma buat ngadepin kamu Jul, pake ngancam ibu sama anak-anak panti lagi!"


Julian hanya diam, nyeri di kepala mulai terasa karena efek anestesi yang perlahan menghilang. Hatinya masih terluka mengingat teriakan anak haram yang ditujukan padanya. Sejujurnya ia heran kenapa juragan Anam bisa demikian keji, sementara dirinya tidak pernah sekalipun bersinggungan langsung dengan pemilik warung sembako tersebut. Mungkinkah ada hubungannya dengan masa lalu ibunya?


Ah, sudahlah! Julian tak ingin banyak berasumsi. Untuk saat ini, ia harus segera pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan ibunya Laila. Untuk memastikan apakah ibunya Laila adalah wanita yang meninggalkannya di panti delapan belas tahun lalu?


Harapan yang belum tentu benar, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba!


Sebelum itu, Julian ingin bertemu Marsha terlebih dahulu. Memastikan dengan mata kepala sendiri kalau gadis yang dicintainya itu baik-baik saja. Sesaat sebelum Marsha marah dan pulang, kerlipan masa depan itu sudah dilihat Julian. Kecelakaan yang menyebabkan mobil yang ditumpangi Marsha dan Reina terbakar di ruas jalan utama.


Julian mendatangi tempat Marsha dirawat bersama Topan. "Bagaimana kondisimu, Putri?"


Marsha memaksakan diri untuk tersenyum. Ia tidak menggubris lebam di kepala, pergelangan tangan yang terkilir serta luka gores di beberapa bagian tubuhnya. Yang terpenting dirinya selamat.


"Julian … maafkan sikapku yang keras kepala. Seharusnya aku mendengarkan peringatanmu!" Suara Marsha terdengar bergetar, ada tangis yang tertahan di dadanya. "Seharusnya aku menuruti kata-katamu, seharusnya aku tidak pulang lewat jalan utama, dan seharusnya aku tidak bertingkah kekanak kanakan. Aku …," ujar Marsha tersendat.


"Yang terpenting kamu masih sehat dan dalam kondisi baik, Putri." Julian menimpali datar saja, memaksakan sedikit senyum hanya untuk menenangkan Marsha.


"Kondisi Reina gimana, Sha?" tanya Topan tak sabar. Ia tak peduli jika pertanyaannya tidak dijawab Marsha, atau nanti dikatakan sok kenal sok dekat.

__ADS_1


"Reina baru melewati masa kritis, aku belum tau apa dia sudah bisa dijenguk, keluarganya melarang aku bertemu dengan Reina," jawab Marsha lirih.


"Oh, belum boleh dijenguk berarti ya, Sha?" tanya Topan memastikan.


"Entahlah …." Marsha menggeleng lemah. "Semua salahku!"


Mata Marsha menangkap perban putih yang menutupi luka di kepala Julian. "Kamu kenapa, Julian? Darimana kamu mendapatkan luka di kepala itu?"


"Kepentok jendela!" Julian asal menjawab tanpa berpikir lebih dulu.


Topan menahan tawa mendengar jawaban malas Julian. Ia memilih bertanya lagi pada Marsha, "Ceritanya gimana sampai kalian bisa kecelakaan? Kebut-kebutan?"


Marsha lalu bercerita tentang kecelakaan yang terjadi. "Reina … entah mengapa berbuat nekat dan dengan cerobohnya menerobos lampu lalu lintas, tepat ketika lampu berganti merah."


Marsha ingat betul kalau mereka berdua bertengkar untuk memperebutkan Julian … tapi Marsha tidak bercerita bagian ini pada Topan. Ego di hatinya memaksa untuk bersikap tidak menyukai Julian. Ia masih kesal dengan sikap Julian yang menurutnya lebih perhatian pada Reina. Padahal sudah jelas Julian pernah menyatakan suka padanya. Semudah itukah Julian berpaling darinya?


Dasar mata keranjang!


Julian menyimak serius penuturan Marsha tanpa menyela. Ia tidak membenarkan atau menyalahkan sikap Marsha yang tidak mendengarkan peringatan darinya. Bukan haknya untuk mengatur sikap gadis itu, apalagi dia bukan siapa-siapa bagi Sang Putri.


Mendengar itu, Marsha mendengus dingin. "Julian, kamu jadi berangkat ke Jakarta?"


Pertanyaan Marsha menghentikan langkah Julian. "Jadi. Apa ada masalah?"


Jawaban Julian yang selalu singkat dan dingin membuat hati Marsha semakin nyeri. Mungkin benar apa yang dikatakan Reina, Julian sakit hati padanya karena tuduhannya yang tak berdasar. Huh, mungkin ia memang sudah keterlaluan pada pemuda baik hati yang semasa SMA selalu membantunya meningkatkan nilai ujian kenaikan kelas.


"Julian, aku minta maaf! Aku udah jahat banget sama kamu. Bisa nggak kamu maafin aku? Soal tuduhan itu … aku menarik semua kata-kata burukku. Kamu tidak pernah mengirimkan pelet pengasihan, kamu tidak mungkin melakukan hal seperti itu karena aku kenal kamu." Tangan Marsha mengulur, berusaha meraih Julian. Berharap pemuda itu berbelas kasih dan mau bicara lebih lama dengannya.


Julian tersenyum dan menepuk lembut tangan Marsha yang dibiarkan menggenggamnya.


"Aku maafin kamu, Putri. Tapi aku memang harus pamit sekarang! Kita akan bicara lagi setelah semua urusanku di Jakarta selesai."


"Baiklah, salam buat Reina kalau kamu berhasil menemuinya," tukas Marsha mengalah. Senyum Julian yang terlihat tulus cukup membuat hatinya tenang dan lega.

__ADS_1


Rupanya Julian lebih beruntung dari pada Marsha ketika hendak menjenguk Reina. Ia yang sudah dikenal Mama Reina sebagai paranormal yang mengurus tiga kafe milik salah satu anggota keluarganya justru disambut hangat dan diberikan tempat.


Reina mengatakan kalau ia sudah memastikan tidak ada kendaraan lain yang akan melintas di perempatan jalan tempat kecelakaan terjadi. Hanya saja, pandangannya mendadak gelap dan kontrol terhadap kemudi hilang begitu saja.


Julian memahami maksud cerita Reina yang mengaitkan kecelakaan itu dengan hal mistis. Ia pun pamit karena Reina harus beristirahat.


"Bro, kita ke lokasi Marsha kecelakaan!" Julian berkata antusias begitu keluar dari tempat Reina dirawat.


"Ada apa sebenarnya? Kamu merasakan ada hal-hal gaib yang berhubungan dengan kecelakaan Marsha?" Topan mengekori langkah Julian yang sangat terburu-buru.


Julian berdecak, "Aku hanya ingin memastikan kalau kecelakaan itu bukanlah kecelakaan biasa. Perempatan jalan itu bisa jadi berbahaya karena dipakai untuk mencari tumbal secara acak."


"Aku juga baru saja berpikir begitu, sepertinya ada yang aneh dengan situasi Reina ketika berada di perempatan jalan itu!"


Julian tersenyum tipis, "Sakti sekarang kamu, Bro!"


"Sakti apanya? Aku cuma menduga karena sikap kamu sewaktu memperingatkan Marsha sangat berbeda. Ekspresimu berubah."


"Berubah gimana? Makin ganteng?"


Topan menyeringai, "Yang jelas tidak berubah jadi Paul Indonesian Idol!"


Julian tergelak, "Sialan!"


Sepuluh menit kemudian, Julian dan Topan tiba di perempatan tempat Marsha dan Reina kecelakaan. Bekas mobil terbakar teronggok di pinggir jalan.


Julian menarik nafas panjang-panjang ketika pandangan gaibnya aktif. Ia langsung menangkap beberapa kelebatan bayangan hitam berkeliaran di sekitar jalan dari atas motornya.


"Jul, kamu lihat sesuatu? Kamu bisa buka mata batinku?" Topan yang penasaran ikut celingukan memperhatikan sekitar.


"Kita parkir di tempat aman dulu, ada sesuatu yang harus aku lihat!" jawab Julian tegas.


DING!!!

__ADS_1


***


__ADS_2