Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Tamu Jauh


__ADS_3

Julian mulai menyiapkan diri memasuki masa kuliah, orientasi mahasiswa baru sudah didepan mata. Sebelum dirinya sibuk, Julian menyempatkan diri bermain di panti bersama adik-adiknya. Julian sengaja membeli home theater terbaru dan televisi besar sebagai hiburan penghuni panti. Nonton film bersama dan tentu saja karaoke.


Tidak ada lagi masa suram untuk rumah panti Bina Kasih. Julian menjamin dan memastikan semua kebutuhan ibu dan adik-adiknya terpenuhi. Ia juga sedang merintis toko penjualan benda antik yang bisa mendukung pekerjaannya sebagai paranormal.


"Jadi pulang jam berapa, Jul?" Bu Rosidah bertanya pada Julian dan Topan yang asik bermain uno block, menemani Ayli dan Mia.


"Sore, Bu! Masih kangen sama adik-adik." Julian menjawab setelah mengambil satu block berwarna merah dengan hati-hati. "Mumpung libur praktek juga!"


Ayli bersorak riang karena Julian tak bisa menjaga kestabilan tumpukan block dan merobohkan separuhnya. Hukuman diberikan untuk Julian dengan coretan bedak. Bu Rosidah ikut tertawa melihat wajah Julian yang kacau balau karena banyak mendapat hukuman.


"Apa ada kabar dari Laila?"


Pertanyaan Bu Rosidah sontak membuat Julian menoleh. "Belum ada, terakhir ketemu Laila waktu acara pesta ulang tahunnya itu. Mungkin masih berduka, Bu!"


Bu Rosidah menghela nafas berat, ia teringat satu wajah yang sering datang mengunjungi panti sejak delapan belas tahun lalu. Wajah donatur pantinya itu muncul di televisi, di acara gosip artis. Tepatnya pada acara pemakaman ayahnya Laila. Wanita itu berdiri di samping sang artis yang menutupi sembab mata dengan kaca mata hitam, yang tersorot kamera dari berbagai sudut.


Bu Rosidah melihat jika donatur misterius itu memiliki kedekatan dengan sang artis di pemakaman. Wanita itu tak pernah jauh dari Thalia.


Namun, Bu Rosidah hanya bisa menduga tanpa bukti. Juga tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Julian. Putranya itu selalu menghindar jika ditanya soal wanita yang dikunjunginya sewaktu di Jakarta.


Bu Rosidah memendam gelisah, jika memang benar donatur wanita yang sering menanyakan perkembangan Julian itu ada hubungannya dengan artis sinetron yang wajahnya mirip dengan foto hitam putih yang disimpan Julian. Bisa jadi artis sinetron itu adalah ibu Julian!

__ADS_1


Bu Rosidah menghela nafas berat, apapun yang telah terjadi di masa lalu, biarlah menjadi kenangan. Sekarang Julian adalah putranya, bagian dari kehidupannya yang tak terpisahkan.


"Bu, ada tamu di depan!" Mbak Mirah, asisten rumah tangga panti mengagetkan Bu Rosidah dari lamunan.


"Siapa mbak?"


"Ehem, artis sinetron, Bu! Yang belum lama ini suaminya meninggal dunia!" Jawab mbak Mirah setengah berbisik.


Bu Rosidah tak bisa menyimpan terkejut, "Thalia?"


"Benar, Bu!"


"Aku akan segera menemuinya!" Bu Rosidah bergegas menemui tamu yang dimaksud.


Thalia tersenyum canggung saat bertatapan dengan Bu Rosidah. Ia akhirnya berbasa basi ala kadarnya agar suasana mencair. Obrolan berlanjut santai di dalam ruang tamu panti.


"Itu foto anak-anak panti ya, Bu?" tunjuk Thalia ke ruang tengah terbuka yang terletak di sebelah ruang tamu. "Boleh saya lihat-lihat?"


"Silahkan!" jawab Bu Rosidah.


Thalia berkeliling ruangan tengah panti, menatap satu persatu foto yang ditata rapi dan digantung di dinding. Mencari foto Julian dari tahun ke tahun.

__ADS_1


Ada kerinduan yang menelusup di hati, tapi yang terbesar dari semua itu adalah penyesalan dan rasa bersalah Thalia karena telah menelantarkan putranya. Thalia berhenti lama pada deretan foto Julian yang memakai seragam sekolah.


"Apa anak ini bersekolah dengan baik selama disini, Bu?" Thalia bertanya sambil menatap lekat foto putranya.


"Siapa, Julian?" Bu Rosidah mendekati Thalia dan ikut menatap ke foto yang sama.


"Iya, Julian. Penyanyi kafe bersuara bagus! Julian El Sandi."


Bu Rosidah tidak terkejut mendengarnya, ia melirik ke arah Thalia yang tak bergerak pada posisinya. "Julian mendapat beasiswa dari yayasan. Dia sekolah di international school semasa SMA. Julian termasuk murid yang pandai di sekolah itu. Tapi harus melewati masa sulit selama bersekolah bersama anak-anak orang kaya karena dia miskin. Dia menjadi pengamen jalanan untuk uang saku pribadinya setiap hari."


"Benarkah? Tapi dia anak yang baik dan sopan, tidak seperti pemuda yang pernah hidup di jalanan. Dia pasti bermental kuat. Persis seperti …." Thalia menggantung kalimatnya, matanya mendadak berembun dan bibirnya bergetar.


"Seperti ayahnya?" Bu Rosidah menyambung kata hingga membuat Thalia menoleh padanya.


Thalia terdiam sejenak dengan mata berkaca-kaca, "Ya, ayahnya."


Mbok Inah mendekati Thalia, mengusap lembut punggung majikannya. "Duduk dulu, Bu! Biar tenang."


Mereka kembali duduk di rumah tamu. Setelah menenangkan diri, Thalia membuka suara, "Saya kesini untuk … bertemu dengan Julian dan juga ibu!"


Bagi Thalia, menghafal dialog dalam skrip sinetron sepanjang apa pun, ia bisa, dan dengan mudah ingat di luar kepala. Tapi, untuk mengungkapkan fakta delapan belas tahun lalu, lidahnya kaku. Dadanya sesak bagai tertimpa beban yang sangat berat.

__ADS_1


***


__ADS_2