Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Ajian Waringin Sungsang


__ADS_3

Julian mengajak sahabatnya masuk ke dalam ruko, memamerkan ruang prakteknya sebentar sebelum masuk ke tempat pribadi di bagian dalam. Hanya ada beberapa ruangan, disekat dengan dinding non permanen di dalam ruko yang tidak terlalu besar itu.


Julian menyalakan televisi dan meninggalkan Topan sendiri. “Anggap saja rumah sendiri, Bro! Aku mau mandi sebentar!”


“Oke, aku butuh es untuk meredakan panas di tubuh! Aku boleh ambil sendiri di kulkas?”


“Ya,” jawab Julian. “Sebenarnya panas tubuhmu bukan karena suhu udara yang memang hangat, tapi ada faktor lain yang sedang memanaskan suasana rumah ini.”


“Aku tidak memahami dunia gaib seperti kamu, Julian! Jadi tolong beritahu apa yang harus aku lakukan untuk meredakan panas dan sakit di kulit yang terasa aneh ini!” pinta Topan dengan ekspresi ngeri.


Julian menyahut dari kamar mandi, “Aku akan mengurusnya sebentar lagi! Tetaplah membuka mata, jangan sedikitpun lengah apalagi tidur!”


“Yeah, aku baru mau bilang kalau situasi ini membuat mataku berat dan sangat mengantuk!” Topan menimpali sambil menguap.


Julian menegaskan peringatannya sekali lagi,“Kalau masih ingin sehat dan panjang umur, sebaiknya kamu mendengarkan saranku!”


Bukan hal aneh atau baru kalau sesuatu yang gaib semacam teluh, datang dengan membawa sirep. Tujuannya agar target yang akan menjadi korban mengantuk dan akhirnya tidur. Di kala target lengah itulah mereka yang disebut makhluk pembawa misi kegaiban mudah masuk ke dalam tubuh.


Sirep bukan hanya menyerang diri pribadi korban yang ditargetkan, dukun dengan ilmu tingkat tinggi bahkan mampu menidurkan orang satu desa dalam misi penyerangan skala besar.


Lebih buruk, ada dukun yang menargetkan secara acak korbannya jika target tidak terpenuhi. Topan adalah salah satu korban yang dikhawatirkan Julian ketika penyerangan terhadap dirinya yang merupakan target utama tidak mencapai tujuan.


Sampai di kamar mandi, Julian tidak segera membasuh tubuhnya. Ia menatap cermin dengan raut cemas dan agak takut. Sebagai pemuda yang baru berusia 18 tahun dan belum pernah mengalami hal mistis sebesar ini, Julian merasa nyawanya berada di ujung tanduk. Ia takut mati.


“Mbah, bagaimana ini? Rajah pelindung tampat ini dalam kondisi kritis!”


Bagaimana Julian tidak khawatir? Rajah yang menjadi jimat pelindung rumahnya nyaris tidak mampu lagi menahan serangan terus menerus dari dukun ilmu hitam dengan kesakitan yang lumayan mumpuni. Julian sudah melihat kalau rajah bergambar Semar buatannya menggulung dirinya sendiri secara gaib, mengkerut, mengecil dan mulai berubah warna menjadi hitam.


Julian bisa merasakan beberapa energi bercampur aduk di sekitar huniannya, menandakan bahwa yang mengirim teluh dan penyerang gaib padanya bukan hanya satu orang.


Pada umumnya, paranormal selalu memiliki jaringan atau bernaung dalam sebuah paguyuban. Sementara Julian tidak memiliki kawan sesama paranormal yang lahir dari sistem dalam periode yang sama. Hal itu terjadi karena sistem hanya memilih satu orang untuk menjadi super paranormal tiap periodenya.


Kesimpulannya, Julian berdiri sendiri, karena ia adalah paranormal sistem. Bukan paranormal yang belajar ilmu pada guru di padepokan bersama murid lainnya yang akhirnya menjadi rekan satu paguyuban.


[Rajah Semar milik Tuan sudah membuat pertahanan sesuai kemampuan.]


“Rajah itu tidak mampu lagi bertahan, Mbah! Bukankah artinya aku harus turun tangan langsung?”


[Benar, Tuan! Dalam dunia paranormal, perang gaib adalah hal yang lumrah.]


“Bagaimana jika aku kalah? Aku belum pernah bertemu dengan kedua orang tuaku, Mbah! Aku belum mau mati!”


[Tuan memiliki ajian terbaru hadiah dari sistem, ajian itu bisa dipadukan dengan ajian bolo sewu untuk melawan rombongan pembawa energi jahat yang datang menyerang.]


“Ajian terbaru? Aku lupa belum melihat status terbaruku, makanya aku tidak tahu kalau mendapatkan penambahan ajian. Aku tadi hanya merasa tubuh lebih hangat dan kuat setelah menyelesaikan misi. Maaf ya, Mbah! Aku tidak ingat untuk bertanya mantra apa yang terinstall dalam kepala karena terbawa sibuk mengurusi korban perampokan!” Julian menunggu sistem menampilkan status terbarunya sambil berpikir langkah apa yang akan diambilnya sebentar lagi.

__ADS_1


Udara dalam rumahnya semakin panas dan menyakiti kulit. Julian mungkin bisa tahan dengan situasi tersebut. Tapi kehadiran Topan di rumahnya menjadi masalah lain. Sesuatu akan terjadi pada sahabatnya lebih dulu jika sampai energi jahat yang sedang berusaha masuk ke dalam rumah sudah menghancurkan rajah pelindung buatannya.


[Sistem Kekayaan Paranormal]


[Status]


[Nama : Julian El Sandi]


[Umur : 18 Tahun]


[Level Paranormal : Gold]


[Kekuatan : 52]


[Ketahanan : 45]


[Kepandaian : 50]


[Ketampanan : 79]


[Pesona : 61]


[Keberuntungan : 41]


[Kemampuan khusus : Seni bela diri kuno, Seni membuat rajah.]


[Dana : 931 juta]


[Misi 14 : Berhasil]


[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]


[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning, Ajian Jolo Emas, Ajian Waringin Sungsang.]


[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban, Kemampuan melihat masa depan.]


[Misi 15 : Belum tersedia]


[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]


“Ajian waringin sungsang ya, Mbah? Hm … aku sepertinya pernah mendengar ajian kuno ini.” Julian memasang raut serius, mengingat apa yang pernah dibacanya mengenai sandiwara radio yang pernah melegenda, yaitu kisah Ksatria Madangkara yang berlatar Kerajaan Majapahit pada masa kekuasaan Hayam Wuruk. “Ini ajian yang dimiliki Brama Kumbara?”


[Ajian waringin sungsang tidak mudah dimiliki karena beratnya lelaku yang harus dijalankan. Ajian ini berfungsi untuk menetralisir ilmu hitam. Dukun berenergi negatif takut sekali dengan ajian ini, karena ilmu mereka bisa hilang selamanya jika dipukul dengan ajian waringin sungsang. Intinya, dukun ilmu hitam yang terkena hantaman ajian ini bakal kehabisan tenaga dan akhirnya lumpuh, ilmunya hilang terhisap oleh pemilik ajian.]


“Keren, Mbah! Kena mental pasti dukun itu setelah kehilangan semua ilmu hitamnya. Ibarat orang yang ditelan-jangi dan dipermalukan di keramaian?”

__ADS_1


[Benar, Tuan! Ajian ini memberikan pukulan mental yang sangat dalam bagi dukun ilmu hitam. Tuan bisa menggunakan ajian ini sebagai pilihan pertama ketika bertarung dengan mereka. Baik secara langsung maupun tidak langsung!]


“Maksudnya bagaimana, Mbah?”


[Gunakan ajian ini untuk menyerap hawa jahat yang melingkupi rumah. Lepaskan bolo sewu! Biarkan mereka menghajar pasukan gaib yang dikirim oleh dukun ilmu hitam untuk menyerangmu.]


Mendengar penjelasan dari sistem pemandu, Julian segera menyelesaikan mandinya. Ia keluar tergesa-gesa dan masuk kamar pribadinya. Topan yang melihat tingkah Julian hanya diam, ia memilih menahan kantuk dengan menempelkan es batu di jidat dan pipinya.


Di dalam kamar, Julian duduk dengan posisi lotus di atas lantai. Berkonsentrasi untuk memusatkan seluruh energi di kedua telapak tangan. Ia lalu merapal dua mantra sekaligus, yaitu ajian waringin sungsang dan bolo sewu.


“Bantu aku menghadapi makhluk halus yang membawa kiriman berisi teluh jahat! Hancurkan mereka dan semua benda mistis yang tidak berharga! Bawakan padaku buhul yang bisa berguna seperti keris pusaka atau batu mustika!”


WUSS!!!


Angin deras berhembus dari tubuh Julian dan keluar ruangan dengan cara menabrak dinding kamar. Tak lama, Julian mulai mendengar lolongan mistis bersahut-sahutan. Perang gaib sudah pecah, pasukan jinnya kini sedang baku hantam dengan para penyerang gaib.


Julian mengangkat kedua tangan, fokus untuk menyerap energi negatif yang tersebar di seluruh area rumah. Butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya semua energi jahat yang berseliweran menipis dan akhirnya menghilang.


Suara-suara rintihan kesakitan dan lolongan menyakitkan dari alam gaib juga mereda. Udara kembali normal, dan senyap yang sebelumnya menyayat menyakitkan kulit sirna entah kemana.


Di akhir pembersihan, Julian mendengar suara pria tua mengaduh kesakitan, muntah-muntah dan akhirnya berteriak menyuarakan kekalahannya.


[Satu dukun tumbang dan kehilangan semua ilmu hitamnya. Tuan baru saja mengurangi kejahatan yang disebabkan oleh pria tua penyerang Tuan.]


Julian menghembuskan nafas lega, pertanyaan tak terucapnya sudah dijawab oleh sistem pemandunya. “Sebenarnya apa mau mereka, Mbah?”


[Persaingan bisnis klenik. Paguyuban dukun ilmu hitam ini tidak mau ada paranormal lain yang mengambil alih pekerjaan mereka. Menurut mereka, dunia paranormal tidak seharusnya dihuni oleh anak muda milenial seperti Tuan.]


Julian menggerutu penuh emosi, “Memang salah kalau anak muda berprofesi sebagai dukun? Masa hanya karena alasan usia mereka bertindak semena-mena?”


[Semua berawal dari Tuan memasang pagar gaib di rumah salah satu calon kepala desa. Mereka berpikir Tuan sudah mengambil lahan uang dan pasien yang seharusnya menggunakan jasa paguyuban. Apalagi Tuan berasal dari luar desa itu.]


Julian mendengus dan bergumam sendiri, “Jadi mereka berniat menyingkirkanku? Tidak semudah itu, Ferguso!”


Setelah perbincangan singkat selesai, Julian keluar kamar untuk bergabung dengan Topan di ruang televisi.


“Jul, apa sudah aman? Aku boleh tidur? Mataku sepet bener, badan juga rasanya minta diistirahatkan,” tanya Topan yang masih memainkan es batu di pelipisnya.


“Tidurlah di kamar, aku mau mengecek ruang praktek sebentar!”


Topan menolak, “Nop! Aku tidur di sini saja sambil nonton film!”


“Tidur sambil menonton televisi?” tanya Julian sambil memikirkan kata-kata Topan.


***

__ADS_1


__ADS_2