
Situasi memang sedang gawat, Bu Rosidah kewalahan mengurusi anak-anak panti yang mendadak muntah darah tanpa sebab pasti. Seorang perawat dan dokter umum sudah didatangkan untuk mengurus tujuh orang yang tiba-tiba sakit. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan setelah melihat muntahan berisi material tajam.
Bu Rosidah awalnya sengaja tidak mengabari Julian karena putranya itu sedang ada di Jakarta untuk mengurus sesuatu yang lebih penting. Wanita itu hanya meminta tolong pada Topan untuk mencarikan orang pintar yang bisa dipanggil untuk melihat kejanggalan yang terjadi di panti asuhan.
Siapa sangka kalau Topan justru menghubungi Julian dan menyuruh sahabatnya itu pulang dengan pesawat pertama yang bisa ditemukan?!
Kehebohan terjadi ketika Julian datang. Bu Rosidah langsung menangis memeluk putranya. Ingin sekali ia mengeluh, tapi tidak tega karena wajah Julian membiaskan duka yang dalam.
“Apa kamu baik-baik saja, Nak?”
Julian tersenyum tipis, membuang muram dari wajahnya secepat mungkin. “Aku baik, Bu! Gimana kabar ibu dan adik-adik?”
“Ibu baik, tapi adik-adikmu kurang sehat!” Bu Rosidah menarik tangan Julian untuk mengambil waktu bicara berdua. "Dokter baru saja pulang!"
“Rumah ini panas sekali, Bu!” kata Julian. Ia langsung membuka jaket hoodie karena pengap oleh udara yang dimampatkan secara gaib.
__ADS_1
“Apa Topan sudah cerita apa yang terjadi di rumah ini?”
“Ya, soal bunga dan darah di halaman!” jawab Julian. Matanya menyisir tiap sudut rumah sejangkauan pandangan.
Bu Rosidah menjelaskan dengan suara pelan, “Darah itu sebenarnya bukan cuma ada di halaman, Julian! Ibu tidak mengatakan ini ke Topan agar tidak terjadi ketegangan. Ibu menemukan darah bercecer di lantai rumah, mulai dari ruang tamu mengarah ke tujuh kamar adikmu. Ibu membersihkannya sebelum ada yang bangun. Paginya, ada tujuh anak sakit dan mulai … muntah darah.”
[Ini santet pati pitu, Tuan!]
“Santet pati pitu?!” tanya Julian seperti pada dirinya sendiri.
[Pati pitu berasal dari ujung timur Pulau Jawa. Sangat mematikan, sulit diatasi jika sudah lebih dari 24 jam berada di dalam tubuh! Dikirim melalui udara. Bekerja untuk mengambil langsung tujuh nyawa manusia dalam rentang waktu bersamaan.]
"Dimana adik-adik dirawat, Bu?"
Julian lalu diajak ke ruangan tempat tujuh adiknya terkapar tak berdaya. Masing-masing ditidurkan di atas karpet, tepat di atas lantai. Topan sudah ada di sana untuk membantu salah satu anak panti yang sedang menjerit menahan sakit di perutnya. Darah keluar berbarengan dengan material tajam berupa paku-paku kecil.
__ADS_1
[Misi 19 : Menyelamatkan tujuh korban santet pati pitu! Waktu untuk menyelesaikan misi : 1 jam.]
[Misi 20 : Mencabut akar masalah penyebab santet pati pitu. Waktu untuk menyelesaikan misi : 10 menit.]
Hah? Dobel misi? Yang benar saja, Mbah!
[Waktu untuk menyelesaikan misi terus berjalan, Tuan! Berdebat hanya akan membuang waktu Anda!]
Julian berjongkok di sudut kamar, mengetuk lantai sebanyak tiga kali, dan diulang hingga tujuh kali sambil merapal ajian asmoro kuning. Ia perlu memanggil danyang desa untuk dimintai keterangan. Danyang yang juga dihadirkan untuk menyaksikan tindakan yang akan diambil Julian untuk melawan keganasan santet pati pitu.
Pemanggilan danyang desa erat kaitannya dengan misi 20, yang meminta Julian menuntaskan masalah hingga ke akarnya. Dengan demikian, Julian butuh nama yang menjadi penyebab masalah misterius di panti asuhan tempatnya dibesarkan.
Danyang adalah lelembut penunggu dan penjaga wilayah, mereka pasti mengetahui segala sesuatu yang terjadi di desa setiap harinya. Tidak ada kegaiban yang luput dari perhatian mereka selama 24 jam, karena mereka memantau segala sesuatu yang keluar masuk desa lebih dari yang lainnya.
“Pak Anam mengundang dukun ilmu hitam ke rumahnya, seorang pria tua bernama Mbah Priyo. Beliau ini lah yang mengirim santet ilmu hitam pati pitu ke panti asuhan Bu Rosidah,” ujar danyang desa tertua yang hadir memenuhi panggilan Julian.
__ADS_1
“Pak Anam? Baiklah … siapapun dia, akan aku minta untuk bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di rumah ini. Begitu juga dengan dukun yang menerima pembayaran mahal atas tujuh nyawa yang diminta santet pati pitu!” gumam Julian seraya menggertakkan gigi geraham.
***