
Julian membakar jarum yang baru dikeluarkan dari tubuh pasiennya terlebih dulu sebelum meminta Topan untuk menguburnya. Sesuai instruksi sistem pemandunya, Julian harus menyediakan bak atau pot besar berisi tanah untuk membuang sisa benda-benda gaib yang tidak terpakai lagi.
Tanah yang sudah dialiri energi supranatural itu nantinya akan menghancurkan benda gaib apapun yang merupakan sampah usaha jasa prakteknya dalam waktu singkat.
Julian meletakkan batu mustika berwarna darah yang baru didapat ke dalam lemari. Batu yang sudah kosong dari penghuninya itu rencananya memang akan dijual lagi, di kemudian hari jika toko barang antiknya sudah siap.
[Misi 17 berhasil. Hadiah uang sebesar dua ratus juta sukses ditransfer ke rekening Tuan.]
“Boleh lihat statusku, Mbah!” sahut Julian begitu mendengar suara Mbah Jambrong dalam kepalanya.
[Sistem Kekayaan Paranormal]
[Status]
[Nama : Julian El Sandi]
[Umur : 18 Tahun]
[Level Paranormal : Gold]
[Kekuatan : 58]
[Ketahanan : 52]
[Kepandaian : 56]
[Ketampanan : 82]
[Pesona : 66]
[Keberuntungan : 47]
[Kemampuan supranatural : 53]
[Kemampuan khusus : Seni bela diri kuno, Seni membuat rajah.]
[Dana : 2,331 Miliar]
[Misi 17 : Berhasil]
[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]
[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning, Ajian Jolo Emas, Ajian Waringin Sungsang.]
[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban, Kemampuan melihat masa depan.]
__ADS_1
[Misi 18 : Belum tersedia]
[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]
Julian manggut-manggut membaca statusnya. Ternyata tidak ada hadiah tertentu selain penambahan poin. “Terima kasih hadiah uangnya, Mbah! Aku juga dapat amplop dari pasien tadi, lumayan juga, isinya lima ratus ribu. Batu darah itu juga nanti bisa jadi uang, bayaran dobel dari tamu hari ini hehehe.”
[Batu darah tanpa diisi oleh dukun sakti pun sebenarnya sudah mempunyai kekuatan alami. Batu darah sering digunakan sebagai media untuk mengirim santet karena alasan itu. Batu mustika jenis ini mudah sekali dimantrai dan diberi perintah untuk mengikuti target dan memberikan pengaruh negatif sesuai perintah yang diberikan secara terus menerus.]
“Terus-menerus? Maksudnya mudah dikendalikan dari jarak jauh?” tanya Julian.
[Benar, Tuan! Bukan hanya dikendalikan, batu darah juga mudah diisi ulang dari jarak jauh! Batu darah termasuk media buhul berkelas di dunia perdukunan ilmu hitam.]
“Apa fungsinya memang hanya untuk santet-menyantet, Mbah?”
[Tidak, Tuan! Banyak pemilik mustika ini yang menggunakannya sebagai perisai gaib tingkat tinggi. Pemilik batu mustika darah akan menjadi kebal secara otomatis. Kalau yang memakai perisai mustika batu darah adalah dukun santet, maka serangan yang dikirim pada targetnya jika dikembalikan akan berbelok menghantam orang yang meminta mengirim santet.]
“Artinya harga jualnya bakal mahal nanti,” gumam Julian perhitungan uang. “Tapi tidak terlalu mematikan ya, Mbah? Pasien tadi cukup lama menderita tapi belum juga meregang nyawa!”
[Umumnya, proses kerja yang dilakukan oleh dukun santet itu membunuh target secara perlahan. Batu mustika ini juga memiliki cara kerja seperti itu. Batu darah bisa diibaratkan seperti racun gaib, membinasakan target yang dituju dalam waktu tertentu. Batu ini cukup terkenal dengan sebutan mustika santet.]
“Berarti disebut mustika santet karena kinerjanya yang bagus dan ampuh ketika membunuh?”
[Benar, Tuan! Dengan media mustika batu darah, Tuan bisa mengirimkan guna-guna kepada siapapun dengan tujuan apapun! Membunuh semudah membalikkan telapak tangan bagi dukun dengan tingkat kesaktian setara super paranormal.]
Obrolan Julian terjeda karena Topan masuk ke dalam ruangan. Melaporkan kalau pekerjaannya telah selesai. Mereka berdua kembali membicarakan pasien yang baru saja pulang sampai bosan. Hal itu disebabkan karena tidak ada lagi tamu yang datang.
Keadaan memang masih sama dengan hari kemarin, setelah menerima satu pasien, pekerjaan Julian hanya duduk dan menguap. Ia sudah menduga tidak akan ada lagi pasien yang butuh bantuan karena adanya pembatasan dari sistem. Ia sampai berpikir usil.
Jangan-jangan, sistem takut bangkrut kalau memberiku banyak pekerjaan setiap harinya hahaha….
Setelah beberapa jam berlalu, Julian memutuskan makan siang di teras tempat prakteknya ditemani Topan dan kapster salon yang kebetulan sedang beristirahat.
“Mas Julian, kamu ini kan paranormal, bisa bikin tempat usaha orang ramai, tapi kenapa tempat usaha sendiri dibiarkan sepi?”
“Biar aku yang jawab, Jul!” ujar Topan seraya menyeringai sok pintar. “Jadi begini … aku juga sebenarnya sudah kasih masukan pada Julian. Persis sama dengan yang Mbak Dina katakan barusan, tapi Julian ini memang agak keras kepala! Idealis, istilahnya begitu!”
Julian menoleh ke arah Topan, “Jangan sok tau! Aku sengaja membatasi jumlah tamu biar kamu tidak terlalu capek. Pekerjaanku hanya satu, mengurus pasien. Sementara kamu harus jadi tukang parkir, keamanan, resepsionis, marketing, office boy, tukang masak ….”
“Oke cukup, Jul! Dengan banyaknya jenis pekerjaan yang bisa aku kerjakan, itu menunjukkan kalau aku multi talenta,” sahut Topan tak mau kalah. “Jangan lupakan pekerjaan malamku setiap weekend, bernyanyi di kafe.”
Kapster salon bernama Dina spontan tertawa, “Aku yakin sebentar lagi Mas Topan juga bisa jadi paranormal!”
Topan menggeleng keras, “Kalau jadi paranormal itu harus ada bakat tertentu, atau orang bilang harus ada darah paranormal di leluhurnya. Memiliki trah orang pintar!”
Julian memberi kode pada dua temannya untuk diam karena ada mobil mewah masuk ke halaman parkir tempat prakteknya. “Ada tamu lagi kayaknya!”
__ADS_1
Dina langsung pamit untuk kembali ke salon karena tidak ingin mengganggu. Topan berdiri siap menyambut tamu, sementara Julian membereskan bekas makan.
Siapa sangka yang datang ke tempat prakteknya adalah Marsha? Gadis cantik itu mengunjungi Julian bersama Reina.
Reflek, Julian memasang wajah datar. Ia sungguh tidak menginginkan pertemuan itu terjadi.
Julian memang suka dengan Marsha, tapi gadis itu sudah menyakiti hatinya dengan menuduh memakai pelet pengasihan untuk mendapatkan perhatian.
“Julian … akhirnya aku bisa ketemu kamu di sini, sumpah aku penasaran banget sama tempat ini. Ternyata benar kalau kamu punya pekerjaan tetap sekarang!” seru Reina sumringah.
Marsha tercengang melihat sahabat anti miskinnya menghambur ke arah Julian dengan sikap bersahabat, hangat dan manja. Ia tak habis pikir, ternyata bukan hanya perasaannya saja yang dipermainkan Julian, tapi perasaan Reina juga.
“Julian?” sapa Marsha dengan ekspresi sedingin es.
Julian menoleh ke arah Marsha, “Ya? Ada apa, Putri?”
Marsha memejamkan mata dan meneguhkan hati sebelum berkata, “Aku ingin bicara empat mata denganmu!”
“Apaan sih pakai acara ngomong berdua? Nanti yang ketiga setan, Sha!” sahut Reina cepat. Ia langsung melanjutkan dengan mencibir penuh sindiran, “Tadi kamu ngajak aku kesini buat nemenin kan? Bukan buat nyupirin?”
Julian menengahi keributan dua sahabat dengan beralasan, “Aku lagi tidak punya waktu untuk kalian berdua, aku harus packing karena mau berangkat ke Jakarta!”
“Jakarta? Mau ngapain kamu kesana?” tanya Marsha dan Reina hampir bersamaan.
“Audisi nyanyi!” jawab Julian cuek. Ia bersiap masuk ketika mengusir dua tamu yang tak diharapkannya datang. “Sebaiknya kalian pulang saja, tempat ini tutup untuk sementara waktu!”
Marsha mendekat, menarik tangan Julian yang hendak masuk ke dalam rumah. “Julian, sebentar!”
Julian menatap Marsha, menatap sesuatu yang tak sengaja melintas di depan matanya karena ia memikirkannya. Julian tercekat, “Pulanglah lewat jalan lain, Putri! Jangan lewat jalan utama!”
“Kamu ngomong apa sih? Beneran aku diusir ini? Oke aku pulang, tapi terserah aku mau lewat mana! Tidak perlu mengatur jalan mana yang akan aku lewati!” Marsha menyentak tangannya kesal, kembali ke mobil setelah melambaikan tangan pada Reina.
“Jangan lewat jalan utama, Putri! Berbahaya untukmu! Lewatlah jalan lain,” saran Julian dengan suara agak dikeraskan.
Marsha menatap sinis, “Bukan urusanmu! Ayo pulang sekarang, Reina!”
“Segera keluar dari mobil kalau sesuatu terjadi di perempatan jalan….” seru Julian serius.
Marsha mengibaskan tangan tak peduli. Ia masuk ke kursi penumpang lebih dulu, disusul Reina yang masih menggerutu karena tidak bisa berlama-lama bertemu Julian.
Sampai di belakang kemudi, Reina bertanya, “Lewat mana, Sha?”
“Jalan utama!”
***
__ADS_1