Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Lima Preman


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah Topan, Julian berusaha berbicara dengan Mbah Jambrong. Ia sudah menyelesaikan dua misi dalam satu hari, sehingga rasa penasaran terhadap kenaikan poin status mengganggu pikirannya.


Julian masih saja takjub setiap menyelesaikan satu misi, penyebabnya adalah hawa hangat yang mengalir dalam tubuh dan berputar-putar di sekitar dada. Energi positif seolah memenuhi seluruh otot hingga rasa lelahnya berangsur pergi. Ia merasa lebih kuat sedikit demi sedikit.


Bukan hanya lebih kuat, tapi juga lebih kaya!


“Mbah, apa bisa aku melihat statusku?” tanya Julian sambil berjalan santai menyusuri trotoar.


[Status terbaru tuan rumah segera ditampilkan.]


Seketika layar transparan tampil di depan wajah Julian. Menunjukkan apa yang ingin Julian ketahui, yaitu perkembangan kemampuan paranormalnya.


>Sistem Kekayaan Paranormal<


[Status]


[Nama : Julian El Sandi]


[Umur : 18 Tahun]


[Level Paranormal : Bronze]


[Kekuatan : 25]


[Ketahanan : 20]


[Kepandaian : 28]


[Ketampanan : 70]


[Pesona : 46]


[Keberuntungan : 15]


[Kemampuan supranatural : 13]


[Kemampuan khusus : -]


[Dana : 16 juta]


[Misi 2,3 : Berhasil]


[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]


[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem]

__ADS_1


[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban]


[Misi 4 : Belum tersedia]


[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]


Julian tertegun, ia puas melihat kenaikan poin-poin status dan jumlah uang yang sudah ditransfer sistem ke dalam rekeningnya. Satu hal yang mengganjal pikiran Julian adalah hadiah spesial berupa kemampuan melihat sesuatu yang gaib.


“Mbah, aku ini paling takut dengan yang namanya hantu. Untuk apa aku malah diberi hadiah spesial kemampuan melihat makhluk gaib?” tanya Julian sambil bersungut-sungut.


[Paranormal memiliki pekerjaan yang lekat dengan dunia gaib, suatu saat kemampuan ini akan sangat berguna untuk menyelesaikan misi ataupun pekerjaan Tuan sebagai paranormal.]


Julian tidak bisa menolak hadiah dari sistem, tapi ia berjanji dalam hati untuk tidak menggunakan kemampuan itu. Julian tidak ingin tampak konyol mendadak pingsan atau justru lari tunggang-langgang di depan pasiennya karena takut dengan penampakan.


“Apa artinya aku akan selalu mendapatkan penglihatan gaib setiap saat, Mbah?” tanya Julian was-was.


[Tidak, Tuan! Sama seperti ajian semar mesem, Tuan bisa menggunakan penglihatan gaib sesuai kebutuhan. Tuan juga bisa langsung memakai kemampuan ini dengan memikirkan saja. Misal pada saat menangani pasien yang kerasukan, Tuan ingin berbicara dengan makhluk gaib yang ada di tubuh korban, Tuan bisa sekalian memakai kemampuan spesial ini untuk melihat rupa makhluk tersebut!]


Julian bernafas lega, dengan situasi yang bisa dikondisikan sesuai kebutuhan, ia tidak akan begitu tertekan dengan kemampuan spesial tersebut. “Baiklah, kalau begitu aku sudah mengerti!”


Ketika rumah Topan sudah dekat, Julian menghentikan obrolannya dengan sistem. Ia tak perlu mengetuk pintu karena Topan ada di teras, sedang duduk dengan wajah muram.


“Kenapa kamu?” tanya Julian yang langsung mengambil duduk di sebelah sahabatnya yang berwajah muram.


Julian langsung bisa menyimpulkan alasan Topan berekspresi murung setelah mendengar teriakan kakak perempuan sahabatnya itu dari dalam rumah. Percekcokan rumah tangga sedang terjadi, diramaikan dengan bunyi gelas pecah dan panci terbang.


“Kenapa lagi kakakmu?”


“Suaminya main gila dengan perempuan lain, mau pisahan kayaknya mereka. Mas Bara mau nikahin selingkuhannya, jadi Mbak Hesti dicerai. Aku sebenarnya tidak peduli dengan urusan dua orang itu, aku cuma mikirin dua ponakanku yang masih kecil-kecil. Mbah Hesti tidak bekerja karena baru dua bulan lalu melahirkan, otomatis semua biaya hidupnya nanti aku yang tanggung!” ungkap Topan miris.


“Dan kita hanyalah pengamen jalanan yang miskin!” sahut Julian merasa iba.


“Apa kamu ada ide agar kakakku tidak diceraikan suaminya? Entahlah … aku merasa Mas Bara terlalu tiba-tiba berubahnya, dia udah kayak orang kena pelet selingkuhannya, pulang-pulang minta surat nikah untuk gugat cerai besok di pengadilan agama!”


“Ide?” Julian bertanya dengan ekspresi tak mengerti. “Pelet?”


“Gimana kalau kita bawa Mbak Hesti ke dukun, paranormal biasanya mudah tau soal beginian! Anaknya yang kecil masih umur dua bulan, Jul! Setan emang kakak iparku itu! Aku santet mampus dia!” ujar Topan menahan emosi.


“Hussss! Kalau didengar kakak iparmu bisa perang dunia, Pan! Gimana kalau kakak iparmu aja kita pelet balik? Aku punya ilmu pengasihan buat bikin orang klepek-klepek sama pasangannya,” tukas Julian percaya diri.


Topan terbahak-bahak sambil menunjuk teko dan gelas yang ada di atas meja, “Kamu aja ditolak sama Putri Marsha … gimana aku bisa percaya dengan keahlian yang kamu tawarkan itu, Julian? Minum dulu gih biar aman otak kamu!”


DING!!!


Misi 4 : Membantu membebaskan seorang pria dari jerat pelet pelakor. Waktu untuk menyelesaikan misi : 10 menit.]

__ADS_1


Julian dengan tenang menuang air minum ke dalam gelas, tapi bukan untuk meminumnya. Ia memanggil mantra semar mesem, lalu mengalirkannya ke dalam air bersama dengan energi supranaturalnya.


“Mbak Hesti lagi ngamuk kan itu, kasih air ini buat nyiram muka suaminya. Kalau suaminya tambah murka berarti ajianku tidak berguna, tapi kalau langsung luluh dan kembali cinta dengan kakakmu, berarti aku memang cocok jadi paranormal muda hahaha…!” ucap Julian sambil mengulurkan gelas penuh air mantra.


Topan menolak, “Bisa-bisa aku digampar Mas Bara, Jul!”


“Bukannya itu bisa jadi alasan buat kamu bisa pukulin dia balik?”


“Iya juga, kalau dia mulai duluan aku bisa ambil untung banyak nanti balasnya!” Topan spontan mengambil gelas penuh air dari tangan Julian dan pergi ke dalam untuk menyaksikan cekcok yang semakin panas.


Julian menghitung dalam hati, khawatir kalau dalam waktu sepuluh menit Topan belum kembali dan ia gagal dalam misi. Namun, apa yang dikhawatirkan Julian ternyata tidak terjadi. Topan kembali empat menit kemudian dengan senyum sumringah.


“Mereka udah baikan, entah ini kebetulan atau gimana … tapi Mas Bara sekarang sedang minta maaf dan merayu Mbak Hesti. Kita tinggal keluar aja yuk, malu sendiri dengar mereka romantis-romantisan!”


[Misi 4 berhasil. Hadiah uang lima belas juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]


Julian berdiri dari duduknya, suara Mbah Jambrong dalam kepalanya membuatnya yakin kalau misinya telah berhasil. Ia tidak perlu memastikannya dengan mata kepala atau bertanya lebih banyak pada Topan. “Ayo temenin aku beli ponsel, nanti kamu aku belikan harmonika! Soalnya aku mau ajak kamu ngamen di kafe tiap weekend!”


“Kamu ada duit dari mana, Jul?” tanya Topan curiga.


“Aku baru saja nolongin orang dan dapat uang ucapan terima kasih cukup banyak,” jawab Julian santai. “Aku tidak mencuri, berjudi, apalagi berbuat jahat untuk mendapatkan uang!”


Topan mengangguk setuju, mereka berteman di jalanan dari sejak kecil, jadi sifat dan sikap Julian sudah dihafalnya di luar kepala.


Satu jam berikutnya mereka sudah sibuk dengan barang baru yang dibeli Julian. Topan memainkan harmonika, sementara Julian mengutak-atik ponsel idamannya.


Sisa uang dalam rekening sebagian akan diberikan Julian pada Bu Rosidah untuk memperbaiki pintu kamar mandi panti yang rusak dan memperbaiki atap yang bocor. Jadi Julian merasa cukup adil bisa menyenangkan dirinya sendiri dan juga orang lain.


Julian dan Topan akhirnya berpisah di jalan setelah berjanji akan bertemu lagi secepatnya untuk melamar pekerjaan sebagai penyanyi kafe. Julian langsung pulang ke rumah dengan hati sangat gembira. Belum pernah seumur hidupnya ia memiliki ponsel mahal seperti yang dipakai teman-teman borjuisnya di SMA dulu.


Namun, kebahagiaan Julian tidak berlangsung lama. Di depan panti ada lima orang pria yang sedang menurunkan dan merusak plakat paranormalnya yang tergantung di pagar.


“Tunggu! Apa yang kalian lakukan?” tanya Julian setengah histeris.


“Halah, hajar saja bocah kecil itu! Banyak bacot!” perintah salah satu preman.


Julian tak sempat menghindar. Ia dibuat tak berkutik, dipukuli oleh empat pria berbadan besar. Sementara satu preman lain membakar plakat bertuliskan membuka jasa paranormal miliknya.


Setelah puas menghujat dan menghujani Julian dengan bogem dan tendangan, lima preman merangsek masuk panti untuk mengobrak-abrik ruang praktek tempat Julian menerima tamu.


Beruntung tubuh Julian memiliki ketahanan meski masih rendah, sehingga efek pukulan para preman tidak menimbulkan luka dalam. Hanya saja, Julian tidak bisa melawan atau membalas, karena para preman mengancam akan menyakiti ibu panti dan adik-adiknya.


“Tutup tempat praktek ilmu hitam ini, jangan sampai ada paranormal berbasis setan mengais rezeki di kampung ini!” teriak salah satu preman memanasi yang lainnya.


***

__ADS_1


__ADS_2