Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Gadis Berbahaya


__ADS_3

Setelah mendengar misi ke-16 yang disampaikan oleh sistem pemandu, Julian melirik jam tangannya. Sistem memberikan waktu lima jam untuk menyelesaikan misi. Julian merasa sedikit khawatir masalah tenggat waktu yang ditargetkan sistem, menurutnya lima jam terlalu singkat.


Namun, Julian segera memupus rasa khawatir. Permintaan pemilik kafe untuk membuat penglaris di dua cabang lain langsung disanggupi Julian setelah resmi mendapat perintah dari sistem. Bayangan tumpukan uang yang bakal diterima untuk memenuhi pundi-pundi kekayaannya membuat Julian bersemangat sekaligus tertantang. Bukankah uang selalu bisa menjadi motivasi untuk seseorang?


Tadi dua ratus juta di butik Jisa, itu cuma satu penglaris … gimana kalo tiga? Wah bakal semakin gendut aja rekeningku kalau sistem membayar enam ratus juta!


Senyum tipis mengembang di bibir Julian, ia sudah berencana menggunakan sebagian uang itu untuk melebarkan sayap usahanya.


Julian ingin memiliki toko yang menjual barang antik dan berhubungan dengan pekerjaannya sebagai paranormal. Seperti toko jimat dan pusaka.


“Kalau boleh tahu, dimana posisi dua cabang kafe lainnya, Mas? Sepertinya aku harus lihat tempatnya dulu. Bisa ya, Mas?”


”Bisa, mau kapan ke sananya? Sekarang atau besok?” Pemilik kafe terlihat sangat antusias, tidak ingin membuang waktu. Julian pun bisa merasakan hal itu, sehingga ia tak kalah antusias.


Mengelola tiga kafe tentu bukan perkara mudah, fluktuasi minat pelanggan yang kerap berubah menuntut untuk selalu mengadakan inovasi baru. Baik dari penciptaan produk makanan dan minuman dalam kafe sampai menyusun konsep penjualan yang menarik minat pengunjung.


Ketika hal-hal dasar sudah dilakukan secara maksimal, hingga membuat pemilik kafe pusing tujuh keliling, tapi belum ada hasil yang signifikan … maka Mas Aji sebagai pemilik kafe, akhirnya ingin mencoba cara baru untuk melariskan dagangannya.


Tren penjualan yang semakin menurun sangat membuat khawatir. Belum lagi persaingan tak sehat yang dilancarkan pengusaha kafe lain untuk menjatuhkan usaha miliknya.


“Kalau kafe ini bisa saya buatkan sekarang, Mas. Tapi saya butuh tempat tenang untuk membuat jimat penglarisnya!”


Mas Aji spontan berdiri, “Ayo ikut aku!”


“Maaf Laila … kita ngobrol lagi lain kali ya? Aku mau bantu Mas Aji dulu.” Julian berpamitan pada Laila, ikut berdiri dan bersiap pergi.


Gadis belia bernama Laila mengangguk mengerti. “Aku juga udah mau pulang kok! Santai aja, Kak!”

__ADS_1


Mendengar Laila yang berbicara penuh pengertian, Julian langsung meninggalkan meja, mengekori pemilik kafe ke bagian dalam bangunan dengan dekorasi bernuansa anak muda tersebut.


“Gimana kalo disini Jul, cukup tenang kan?” Pemilik kafe membawa Julian ke sebuah kamar yang double fungsi sebagai ruang kerja juga.


Julian mengedarkan pandangan sekilas, lalu mengangguk. “Lumayan, yang penting tenang bebas gangguan, Mas!”


“Kamu butuh apa sebagai syarat? Lima macam minuman bar? Bunga setaman atau sesuatu yang lain seperti sajen, dupa dan kemenyan?” cerca pemilik kafe.


“Tidak perlu, Mas! Saya perlunya kertas sama pulpen, syukur kalau ada kopi susu buat teman ngantuk hahaha,” jawab Julian sambil tergelak.


Pemilik kafe ikut terkekeh, lalu mengangguk seperti burung pelatuk, “Oke, kertas dan pulpen ada di meja saya, kalo kopsus menyusul, mau yang spesial cream?”


“Boleh, Mas. Nanti jangan ganggu aku dulu selama dua jam. Aku harus berkonsentrasi penuh untuk membuat jimatnya. Soalnya semua harus dipasang malam ini, sebelum matahari terbit biar kuat daya magisnya!” jawab Julian.


Pemilik kafe meninggalkan Julian setelah salah satu pegawainya meletakkan kopi susu spesial di meja untuk Julian. Pemuda dengan level ketampanan 80 itu mulai berkonsentrasi membuat rajah penglaris sesuai dengan pengetahuan yang didapatnya. Simbol dan huruf tertentu mulai tergores di atas kertas.


Jika siang tadi menulis rajah terasa begitu mudah, kali ini Julian bekerja lebih berat. Ia seolah menghadapi medan energi lain di tempat itu. Energi yang tidak ingin diselaraskan olehnya.


Namun, Julian pantang menyerah. Ia memompa energi supranatural lebih banyak dan menyalurkan energi tersebut ke dalam kertas dengan lebih hati-hati.


“Selesai!” Julian berbicara sendiri sambil mengamati rajah bergambar singa buatannya dengan hati puas. “Ini akan menyerap energi yang tak selaras terlebih dulu sebelum memancarkan aura pengasihan. Ajian jolo emas pasti akan segera bekerja setelah seluruh energi negatif di tempat ini menjadi netral.”


[Selamat, Tuan berhasil membuat jimat penglaris lebih cepat dari yang di butik!]


“Bagaimana rajah buatanku, Mbah? Apa ini bakal lebih efektif dibandingkan dengan yang ada di butik Jisa?”


[Tentu saja, Tuan! Hal itu disebabkan oleh kenaikan poin status setelah menyelesaikan misi di butik. Tuan juga semakin pandai memilih simbol dan huruf untuk memperkuat fungsi rajah.]

__ADS_1


Julian sekali lagi menatap bangga pada hasil karyanya. Tapi senyum Julian tiba-tiba lenyap. Ia melihat kerlipan masa depan berputar di kepalanya.


“Apa itu, Mbah? Kenapa aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya? Apa itu masa depan atau sesuatu yang lain? Aku sedang tidak memanggil kemampuan melihat masa depan!” seru Julian dengan suara tegang.


[Tuan memiliki kemampuan untuk mendeteksi dan melihat hal-hal yang sifatnya gaib. Kemampuan itu mendadak muncul karena Tuan sedang memikirkan kafe lain yang harus ditangani secara bersamaan.]


“Oh begitu?” Julian mengangguk tanda mengerti, ia pun mencoba menganalisa kerlipan yang baru saja melintas. “Salah satu cabang kafe milik Mas Aji tidak bisa dirajah sembarangan. Sesuatu yang jahat dan gelap menutup tempat itu. Betul begitu, Mbah?”


[Benar, Tuan!]


“Sepertinya pekerjaanku lumayan berat nanti, semoga bayarannya sebanding! Mbah Jambrong tau kan kalau aku perlu banyak modal untuk melebarkan sayap bidang usaha paranormal?”


[Tuan tidak perlu khawatir soal itu. Lebih baik kalau Tuan menyiapkan mental sekarang!]


“Bersiap untuk apa, Mbah?”


[Tuan akan segera mengetahuinya. Dia datang!]


“Apa yang datang? Bukan santet atau ilmu hitam kan, Mbah?”


Bukannya mendengar suara sistem, Julian justru mendengar suara wanita memanggilnya. “Julian, Julian! Aku tahu kamu ada didalam, bisakah kamu keluar sebentar?”


“Reina?” tanya Julian dalam gumaman. “Bagaimana bisa gadis itu tau kalau aku ada di sini?”


[Bukankah gadis yang sedang penasaran pada paranormal muda lebih berbahaya daripada santet dan ilmu hitam?]


***

__ADS_1


__ADS_2