
Selain merapal ajian asmoro kuning untuk memanggil Danyang Desa, Julian melepas ajian bolo sewu. Tak lupa, ia juga membentengi diri dengan ajian kluntung wesi dan waringin sungsang untuk menyelesaikan misi.
Air mineral yang dibawakan Topan sudah dialiri dengan energi supranatural dan mantra penetralisir energi negatif oleh Julian. Dibantu Topan, Julian mengusapkan air-air itu ke wajah, telapak tangan dan telapak kaki tujuh adiknya yang menggelepar kesakitan seperti ayam baru disembelih.
Julian memejamkan mata, “Aku butuh air dari tiga sumber berbeda yang berasal dari luar rumah ini untuk meredam buhul yang keluar dari tubuh mereka!”
Topan sigap menjawab, “Aku akan minta pada tiga tetangga rumah. Berapa banyak yang kamu butuhkan, Jul?”
“Satu gayung cukup, tempatkan dalam satu ember, letakkan di dekat Ayli!” tunjuk Julian pada adik pantinya yang baru berusia sembilan tahun.
Selang sepuluh menit, ember yang disediakan Topan, yang berisi air dari tiga sumber sumur milik tetangga rumah panti telah siap di sebelah Ayli. Julian langsung memantrai air tersebut agar menjadi media peredam dan penetralisir benda mistis yang akan dikeluarkan dari tubuh adik-adiknya.
Menit berikutnya, ember mulai terisi oleh benda-benda tajam yang keluar secara gaib dari tubuh tujuh korban. Warna bening air mulai berubah menjadi merah kehitaman, menandakan kalau benda mistis yang menjadi buhul santet melebur dengan kekuatan air yang dimantrai Julian.
“Aku butuh telur ayam kampung!” ujar Julian. Tangannya gemetar ketika menarik sesuatu tapi benda itu tersangkut organ tubuh.
Bu Rosidah langsung menukas, “Ada sepuluh biji di dapur, ibu ambilkan sekarang!”
Julian terpaksa menggunakan media telur ayam untuk memancing keluar buhul tajam yang membandel dan tersangkut di organ dalam tubuh salah satu adiknya yang bernama Mia.
__ADS_1
“Semoga aku tidak perlu mengoperasi Mia!” kata Julian seraya menyeka keringat di dahi adiknya itu. Ia memantrai telur yang disediakan ibunya.
Santet pati pitu tergolong ganas karena material yang sudah masuk tubuh korban tidak bekerja secara lambat. Benda-benda tajam tersebut akan dikendalikan dari jarak jauh setelah 24 jam berdiam dalam tubuh korban. Setelah itu, korban akan meregang nyawa dengan cara paling menyakitkan dalam waktu beberapa jam saja.
Telur yang ditempelkan di atas perut Mia bereaksi, ada energi keluar masuk yang bisa dirasakan Julian. Tiba saat telur diam, Julian mengambil ember berisi air tiga sumber sebagai wadah. Telur dipecahkan … tapi kosong melompong. Telur ayam kampung hanya berisi hawa panas berbau busuk yang lepas membaur dengan udara ruangan. Isi telur ayam kampung tersebut justru dihisap oleh kekuatan jahat yang masih bersarang dalam perut Mia.
Julian dengan sabar menggunakan telur kedua untuk menarik benda yang dilihatnya sebagai jarum dan benang, disertai banyak makhluk hidup paling menjijikkan. Rupanya santet pati pitu sudah dikombinasi dengan teluh berisi hewan sejenis belatung.
“Sial!” umpat Julian. Telur kedua yang dipakai untuk menarik buhul justru retak sebelum waktunya. Julian memecahkan telur untuk melihat isinya. "Benar-benar sial! Isinya hilang lagi, pasti dihisap oleh belatung-belatung mistis yang terikat mantra pengirimnya."
“Sakit, sakit, Kak!” Suara Mia terdengar lirih, memelas dan kehabisan daya.
“Aku butuh telur angsa!” ucap Julian, ditujukan pada ibunya dan Topan yang setia mendampingi untuk menyiapkan kebutuhan pengobatan. “Bisa carikan sekarang?!”
“Aku telepon Bu Anna sebentar, warung sembakonya biasanya lengkap stok telurnya! Semoga saja ada, biasanya pertolongan kalau sedang dimudahkan semua perangkatnya tersedia di sekitar,” kata Topan bijaksana. Ia keluar kamar untuk mencari media yang dibutuhkan Julian.
Beruntung rumah Bu Anna tidak jauh, Topan bahkan sudah kembali membawa empat telur angsa dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Julian mengambil satu telur dari tangan Topan, memantrai telur tersebut dan kembali menempelkan di atas perut Mia. Julian menggelindingkan telur itu sesekali, memutar posisinya sembari mengerahkan energi supranatural lebih besar.
__ADS_1
Semakin lama, telur angsa terasa semakin panas dan berat. Energi negatif masuk ke dalam telur tersebut hanya dalam empat tarikan nafas. Julian mengangkat telur dari perut adiknya yang tidak lagi berhawa panas.
Mia terengah-engah kehabisan tenaga, tapi ia berhenti mengerang sakit. Tubuhnya lemas seketika, sehingga Julian menyuruhnya istirahat.
Julian memecahkan telur di dalam ember penampung buhul, mengeluarkan seluruh isinya. Persis dengan yang baru saja dijelaskan oleh sistem, bukan hanya benda mati yang memiliki ketajaman yang ada di dalam perut Mia, tapi juga ada makhluk hidupnya. Keduanya memenuhi telur angsa tersebut. Ketika dipecahkan, tidak ada putih dan kuning telur tersisa di dalamnya.
Julian mengulangi pekerjaan yang sama pada adiknya yang lain. Dari tujuh anak, hanya tiga yang terkena tenung. Julian memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan masalah kedua dan ketiga. Apalagi ia sudah memiliki telur angsa sebagai medianya, sehingga korban kedua terselesaikan lebih cepat.
Adiknya yang ketiga sengaja tidak langsung ditangani oleh Julian, ia berpikir untuk menyelesaikan misi 19 sekaligus misi 20 dalam waktu bersamaan. Menyelamatkan Mia dan menyelesaikan masalah sampai akarnya.
Julian duduk di sebelah adiknya yang menjadi korban terakhir, “Ayli, kamu yang paling kuat! Kakak minta kamu tahan apapun yang menyakiti tubuh kamu nanti, jangan melawan! Kakak akan pinjam tubuhmu untuk menghadirkan batin dukun pengirim santet ke sini!”
Ayli tidak bisa menjawab karena kerongkongannya perih sehabis muntah material tajam. Gadis kecil itu hanya mengangguk, percaya sepenuhnya pada Julian.
"Anak pintar!" Julian mengusap wajah Ayli, lalu membacakan mantra. Memanggil batin dukun yang menyerang keluarganya lewat jalur energi yang ada dalam tubuh adiknya.
Setelah Julian meniup ubun-ubun Ayli, angin panas masuk ke dalam tubuh Ayli melalui pori-pori telapak kaki. Mata Ayli yang baru saja dirasuki batin dukun ilmu hitam membuka lebih lebar, menatap nyalang pada Julian yang mengundangnya datang. Suara gadis kecil itu keluar dengan nada berat dan serak, “Siapa ini? Ada apa kau memanggilku? Siapa kau berani menantangku?”
"Aku, Julian El Sandi!"
__ADS_1
***