
Di Jakarta, setelah mendapatkan alamat Laila, Julian mencari hotel yang letaknya tak jauh dari kawasan perumahan tempat Laila tinggal. Berbekal pengetahuan dari film, Julian memilih penginapan bintang lima agar bisa beristirahat lebih tenang dan menyenangkan.
Yeah, apa salahnya Julian menikmati apa yang dimiliki sekarang? Dimana uang sama sekali bukan masalah, dimana waktu luang tidak harus digunakan untuk mengamen di perempatan jalan!
Julian mandi dan mengganti baju, rencananya untuk menyelidiki tempat tinggal Laila sudah matang. Ia pun pergi ke lokasi perumahan elit itu menggunakan taksi online.
Satu jam pertama Julian hanya mondar-mandir di jalan depan rumah Laila. Mencatat nomor plat tiga kendaraan yang tampak dari sela-sela pagar. Ia akhirnya menyingkir dari area rumah itu karena security curiga dengan gelagatnya.
Julian menelpon Laila ketika ada mobil jenis MPV masuk ke halaman rumah yang diselidikinya. Sebelumnya, Laila sudah mengatakan kalau ia sedang keluar bersama ibunya. Jadi, Julian menunggu waktu yang tepat untuk bertamu sambil melakukan penyelidikan yang sebenarnya tidak perlu. Karena selain mendapatkan tiga nomor plat mobil, Julian tidak mendapatkan informasi apapun.
Ketika Julian mendekati pagar, security yang menjaga rumah kembali memelototinya. Padahal Julian baru saja ingin mengaku sebagai teman Laila, tapi unsur tidak percaya lebih lekat di raut pria usia tiga puluh yang tidak beranjak dari pos jaga dekat gerbang rumah. Mengusir Julian dengan wajah angkernya.
Julian maklum. Ibu Laila adalah artis ibukota, yang privasinya dilindungi agar namanya tidak buruk di media. Kedatangan Julian tanpa janji jelas saja mendapatkan penolakan keras. Meski ia mengaku anak dari si artis pun tidak akan ada yang percaya pada ucapannya. Wanita bernama Thalia itu tidak pernah memiliki anak laki-laki.
Beberapa menit kemudian, Laila terlihat di depan pagar rumahnya yang terbuka lebar. Berbicara sejenak dengan security yang menjaga rumahnya, lalu celingukan mencari tamunya.
Julian melambaikan tangan dari kejauhan, lalu berlari mendekat setelah Laila membalas dengan melambaikan tangan.
"Kak Julian! Sebelah sini!" panggil Laila ceria. Ia mengira Julian salah alamat karena diam di dekat rumah tetangganya.
"Baru pulang?" tanya Julian, menjabat hangat tangan Laila.
"Iya, baru aja dateng! Kak Julian udah selesai audisinya? Gimana hasilnya?"
Julian meringis, "Aku kurang beruntung, belum lolos. Jadi ya … nyanyi di kafe lagi seperti biasanya."
"Semangat ya, Kak! Mungkin next year. Kak Julian pulang kapan? Ayo masuk aja dulu! Katanya mau kenalan sama artis sinetron hahaha," ajak Laila dengan ekspresi membanggakan ibunya. Tanpa sungkan, Laila menarik tangan Julian agar mengikutinya.
"Mama kamu ada di rumah?" tanya Julian basa-basi.
"Ada, baru pulang juga. Mumpung belum pergi lagi, mau minta foto bareng plus tanda tangan, kan?"
Julian tersenyum tipis, "Iya, kalau boleh!"
"Pasti boleh kalau aku yang minta! Mau sekalian aku tanyain lowongan kerja jadi figuran di sinetron mama atau apa gitu? Kak Julian ini cakep banget, sayang kalau tidak dimanfaatkan!"
__ADS_1
"Aku tidak berbakat, Laila!"
Laila menjelaskan dengan gaya khas anak muda, bersemangat dan menggebu. "Potensi itu kadang muncul secara dadakan, Kak! Dulu aku juga tidak tau kalau bisa akting sedikit-sedikit. Mungkin karena sering lihat mama berlatih di rumah, jadi kebawa-bawa bisa. Followersku di sosial media banyak loh, Kak!"
"Selain berbakat, kamu juga cantik! Anak artis pula, jadi mudah dapat followers."
"Eh … jangan salah, aku sama sekali tidak menjual nama mama di sosial media." Laila membela diri, lalu mempersilahkan Julian duduk di ruang tamu. Ia memanggil asisten rumah tangga untuk meminta jus jeruk.
"Sedikit banyak pasti followers kamu tau kalau kamu anak artis terkenal, iya kan?"
Laila tergelak, "Tapi intinya aku punya kemampuan akting. Makanya aku ikut klub drama di sekolah. Tunggu sebentar, aku panggil mama dulu! Biasanya kalau habis dari luar, mama ngeluh capek, trus tidur!"
"Oke!"
Jantung Julian berdegup kencang. Ia bahkan tidak tahu harus memulai cerita dari mana nanti jika bertemu mamanya Laila.
Artis sinetron yang terkenal dengan nama Thalia itu masih belum bisa dipastikan sebagai ibunya. Informasi yang didapatkan Julian terlalu sedikit dari ibu panti. Bahkan, Julian tidak tahu nama asli wanita yang meninggalkannya di depan pintu panti asuhan 18 tahun lalu itu.
Bu Rosidah hanya memberikan kotak yang ditinggalkan ibunya di dalam keranjang bayi. Kotak kecil yang berisi satu cincin, pas foto hitam putih seorang wanita dan kertas bertuliskan nama dan tanggal lahir Julian. Cincin emas sudah dijual oleh Bu Rosidah untuk biaya Julian ketika dirawat di rumah sakit sewaktu kecil.
"Ma, ini Kak Julian. Dia yang nolongin aku sewaktu diganggu pemuda mabuk di kafe. Kak Julian ini nyanyi di kafe, Ma! Ke Jakarta mau ikut audisi Indonesian Idol. Sayangnya gagal! Dia mampir mau foto sama minta tanda tangan mama," tutur Laila polos.
Julian menerima jabat tangan dari mamanya Laila. "Julian El Sandi, Tante!"
Raut mamanya Laila sedikit mengalami perubahan. Wanita itu memperhatikan Julian dari ujung rambut hingga kaki, lalu tersenyum canggung. "Julian ..
rumahnya dimana?"
"Saya dari bayi tinggal di panti asuhan Bina Kasih, Tante!"
Julian menyebutkan alamat lengkap panti asuhan dan menyadari ekspresi wanita yang duduk berseberangan meja dengannya agak menegang. Ia menebak kalau mamanya Laila menyimpan sesuatu, mungkin informasi penting.
Huh, seorang pemain sinetron pun ternyata tidak mampu menutupi rasa terkejutnya secara sempurna.
"Panti asuhan Bina Kasih?"
__ADS_1
"Benar, Tante! Panti yang dikelola oleh ibu saya, Bu Rosidah."
Lidah mamanya Laila seolah kelu, sehingga hanya mengangguk samar. Sebelum bertanya lebih banyak pada Julian, wanita itu meminta putrinya mengambilkan air putih dan ponsel di kamar atas.
Setelah Laila beranjak, mamanya mulai bertanya lagi, "Julian kenal Laila dimana?"
"Di kafe tempat saya kerja nyanyi, Tante!" jawab Julian dengan seulas senyum tipis.
"Julian bukan pacar Laila, kan?"
Julian menegaskan dengan yakin, "Oh … bukan, Tante! Kami hanya berteman. Saya cukup tau diri untuk tidak mendekati Laila."
"Lalu … tujuan Julian datang kesini apa kalau bukan untuk menjalin hubungan dengan Laila?"
Julian mengeluarkan dompetnya, mengambil pas foto lusuh ibunya, lalu menyerahkan kepada mamanya Laila. "Saya datang untuk bertanya, Tante! Untuk mencari informasi mengenai foto itu. Saya mendapatkannya dari Bu Rosidah selaku ibu panti. Saya sudah meyakinkan diri kalau itu bukan foto Tante waktu muda, tapi saya melihat kemiripannya sampai 70% dengan foto keluarga di rumah kakek Laila. Ada yang mengatakan kalau yang ada dalam foto keluarga itu adalah mama Laila, yaitu Tante Thalia."
Julian mungkin hanya memiliki satu kali kesempatan bicara berdua dengan mamanya Laila, maka dari itu ia langsung pada pokok permasalahan. Ia tidak mau membuang waktu dengan mengobrol bertele-tele. Bagi Julian, apapun jawaban mamanya Laila, akan diterima dengan lapang dada.
Sang artis sinetron menggeleng ringan, "Aku tidak kenal siapa wanita dalam foto ini! Mungkin hanya mirip dengan wajahku. Julian tau kan kalau di dunia ini kita memiliki beberapa kembaran? Pernah lihat acara televisi yang mengangkat tema mirip artis? Aku rasa wanita dalam foto ini hanya mirip denganku!"
Julian tersenyum pedih, keyakinannya untuk menemukan sang ibu pudar. "Oh iya, Tante! Mungkin memang cuma mirip, artinya wanita dalam foto itu tidak ada hubungannya dengan Tante Thalia sama sekali."
"Memangnya siapa wanita dalam foto ini, Julian?"
"Bukan orang penting, Tante! Cuma wanita iseng yang membuang bayi di depan panti Bina Kasih, delapan belas tahun lalu!" jawab Julian datar, cenderung tanpa ekspresi.
Bersamaan itu, seorang pria masuk ke ruang tamu dan menghampiri mamanya Laila, menciumnya mesra. "Siapa ini, Sayang?"
Wajah mamanya Laila seketika tegang dan memucat, tapi segera tertutup oleh senyum manis dan mesra pada suaminya. "Ini temannya Laila, lagi pamitan mau pulang."
Julian berdiri dari duduknya, mengangguk pada mama dan papanya Laila. Ia sudah diusir secara halus, jadi tidak perlu berlama-lama di dalam rumah itu.
Tanpa menunggu Laila datang, Julian undur diri dengan sangat sopan. "Saya pamit, Tante! Om!"
***
__ADS_1