Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Menyesal Kemudian


__ADS_3

Reina mengemudikan mobil melalui jalan utama sesuai permintaan Marsha. Ia memang kesal pada Marsha yang mengajak pulang di luar rencana. Tapi tetap saja Reina tidak bisa menolak kehendak sahabatnya yang egois dan keras kepala.


“Sha, kamu kenapa sih? Tadi waktu berangkat tempat Julian semangat banget mau ketemu doi, tapi setelah ketemu malah bete begini?” tanya Reina membuka pembicaraan karena Marsha lebih banyak diam sejak keluar dari halaman parkir tempat praktek Julian.


“Males aja lihat wajah sok ganteng Julian!” jawab Marsha emosional. “Diajak bicara empat mata pakai acara menghindar, sumpah kesel banget aku sama dia!”


“Sok ganteng? Bukannya dia emang ganteng ya? Aku aja baru sadar belum lama ini, kalau ternyata Julian itu mempesona! Lebih dari kata ganteng!” ucap Reina dengan seulas senyum genit.


“Kok kamu jadi puji-puji Julian? Udah lupa kalau kamu pernah benci akut sama dia?”


Reina terkikik, “Itu dulu, Sha! Sekarang entahlah … intinya aku sedang penasaran sama Julian.”


Marsha menoleh, “Sudah gila ya kamu? Rein … kamu tidak lihat kalau Julian dari dulu hingga sekarang cuma suka sama aku?”


“Tapi kamu tidak pernah menanggapi, Sha! Kamu nolak Julian karena Yoga. Aku lihat kamu juga tidak tertarik dengan Julian, kamu merendahkannya! Kamu marah karena merasa dipelet sama Julian! Beda sama aku!”


“Bedanya dimana?” tanya Marsha tegang.


Reina menjawab tenang, “Aku tidak keberatan Julian mempermainkan perasaanku dengan pelet pengasihan! Aku justru ingin dia melakukan hal itu sekali lagi padaku! Julian itu beda, Sha! Dia sulit ditaklukkan dengan kecantikan dan kekayaan. Aku yakin cowok model Julian itulah yang sebenarnya didambakan perempuan.”

__ADS_1


“Fix, kamu memang sudah gila, Rein!” cibir Marsha. “Aku masih ingat betul kalau kamu benci setengah mampus sama Julian, karena dia menyukaiku!”


Reina tertawa, “Ya, aku benci karena dia tidak pernah melihat gadis lain selain kamu. Sebagai pemuda termiskin di sekolah, dia salah karena berani jatuh cinta sama kamu. Hebatnya, Julian tidak berubah meski kamu menolaknya mentah-mentah! Coba aja bandingkan Julian sama mantan-mantan kamu! Kamu pasti menemukan banyak fakta menarik tentang Julian!”


“Dia setia dengan cintanya! Bukan tipe pencemburu atau pengatur, menghargai wanita, tidak pernah berkata kasar. Yeah … Julian bahkan tidak pernah membalas hinaan dan makian kalian,” ujar Marsha sembari memejamkan mata. “Tapi … itu dulu! Sekarang dia sombong! Aku kesel, Reina!”


Reina memukul setir perlahan, “Kamu sudah menyinggung harga dirinya, Marsha! Kalau aku atau Lila atau siapapun yang menghinanya, dia tidak akan sakit hati. Julian tidak memiliki perasaan spesial pada kami. Tapi, Julian pasti terluka ketika kamu yang merendahkannya. Apalagi jika kenyataannya, dia tidak melakukan sesuatu yang sudah kamu tuduhkan itu!”


Marsha melebarkan mata, menanggapi dengan nada sewot. “Kalau dia tidak melakukannya, artinya aku memang menyukainya secara sadar? Impossible! Aku merasa kena pelet, titik! Tidak mungkin aku suka sama Julian, Reina!”


“Apanya yang tidak mungkin? Tanya dirimu sendiri, Sha! Jangan sampai kamu salah menafsirkan perasaanmu sama Julian. Kalau suka ya akui aja suka, jadi jelas kalau kita akan menjadi rival untuk mendapatkan Julian mulai sekarang!” kata Reina tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Bukannya mengurangi kecepatan, Reina justru menginjak gas untuk mengejar lampu hijau yang sudah beralih ke lampu kuning. “Tenang, Sha! Tanggung kalau mau injak rem sekarang, bisa kok ini!”


Marsha memejamkan mata sejenak. Entah kenapa ucapan Julian agar ia tidak lewat jalan utama kembali terngiang. Mobil melaju kencang ketika akan melewati perempatan jalan.


Bertepatan dengan lampu yang sudah berpindah ke warna merah selama dua detik, Marsha histeris ketika mobil masuk ke perempatan jalan. “Rein, hati-hati! Reina!”


BRAK!!!

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan Reina menabrak mobil box yang tiba-tiba muncul di tengah perempatan. Oleng dan akhirnya menabrak batas jalan dengan keras. Suara decit ban dan benturan terdengar nyaring, lalu suara gesekan di atas aspal mendominasi suara kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya. Mobil yang dikendarai Reina terbalik setelah memantul dan menghantam trotoar.


Marsha tidak memperdulikan sakit efek benturan yang menghantam tubuhnya. Ia hanya ingat kalimat Julian yang sudah memperingatkannya untuk segera keluar dari mobil jika terjadi sesuatu.


Dengan sekuat tenaga, Marsha berteriak minta tolong pada orang sekitarnya untuk membantu mengeluarkan Reina dari mobil. Ia lalu merangkak menjauhi mobil dengan susah payah.


Beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung membantu Marsha, dan bergerak cepat mengeluarkan Reina yang terjebak di dalam mobil.


Lima menit kemudian ….


BLAM!!!


Mobil Reina terbakar. Beruntung Reina sudah berhasil dikeluarkan oleh warga sekitar. Marsha menatap nanar pada sahabatnya yang masih kehilangan kesadaran. Reina tergeletak di atas trotoar, menunggu kendaraan yang mau mengantarkan mereka ke rumah sakit.


Marsha mengusap air mata yang mengalir deras, ia shock berat, tapi tak lupa bersyukur karena masih utuh dan selamat. Kondisinya tidak seburuk Reina. Dan ia menyesal karena tidak mendengarkan peringatan Julian.


“Kenapa kamu tidak bilang kalau aku tidak boleh lewat jalan utama karena alasan ini, Julian?” bisik Marsha pada dirinya sendiri. Penuh duka dan rasa kecewa.


***

__ADS_1


__ADS_2