Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Fitnah Kejam


__ADS_3

Sebelum berangkat ke Jakarta, Julian berniat mampir ke panti untuk pamit pada ibunya. Sekaligus memastikan sekali lagi kalau foto buram yang diberikan padanya itu adalah ibunya.


Julian berkendara menuju panti bersama Topan. Sahabatnya itu yang nantinya bertugas membawa pulang kendaraannya ketika ia sudah naik kereta.


Sampai di depan panti, Julian mendapati ibunya sedang berdebat sengit dengan beberapa preman. Tidak ada kekerasaan fisik, tapi Julian geram karena empat preman yang memukulinya beberapa waktu lalu berbicara kasar dan membentak-bentak ibunya.


“Ada apa ini?” tanya Julian dingin. Ia berdiri di depan pintu dengan wajah menahan marah.


Empat preman langsung keluar ruang tamu panti dan mendorong Julian ke halaman dengan sangat kasar. Salah seorang yang berbadan kekar langsung mencengkram kerah baju Julian. “Bagus sekali kamu datang, Julian! Jadi kami tidak perlu mencarimu.”


Julian menyentak tangan pria berbadan kekar yang memperlakukannya seperti pecundang. Ia menunjuk wajah wajah pria kekar itu penuh emosional. “Aku peringatkan pada kalian, jangan pernah mengganggu keluargaku!”


Topan hampir saja bergabung untuk membantu, tapi Julian memintanya menyingkir dengan isyarat agar menjauh dari halaman rumah yang sepertinya akan menjadi arena perkelahian.


“Dengar, Bocah! Kami datang untuk memperingatkanmu, jangan ikut campur dengan urusan bisnis Juragan Anam! Kau boleh saja menjadi dukun, orang pintar atau paranormal, tapi kau tidak memiliki hak untuk membunuh usaha dagang orang lain. Kau sudah sangat lancang menutup rezeki Juragan Anam, hingga sekarang warung sembakonya sepi tak ada pembeli!” ujar pria badan kekar berapi-api, kedua tangannya mengepal siap memberi bogem.


Julian membela diri, “Aku sama sekali tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan! Lagipula untuk apa aku mengganggu usaha Juragan Anam? Dia bukan saingan, aku tidak memiliki warung sembako di kampung ini. Apa kalian paham maksudku?”


Empat preman reflek mengepung Julian, siap menghajar Julian untuk yang kedua kalinya. Satu pria berkepala botak menimpali dengan nada garang, “Halah … banyak bacot! Kau memang tidak memiliki warung sembako, tapi kau jelas-jelas membantu warung Bu Anna. Masa iya warung kecil begitu ramainya mengalahkan warung Juragan Anam? Tidak ada logika yang bisa menjelaskan kalau toko yang semula ramai mendadak sepi tak ada pembeli kalau tidak ditutup oleh dukun ilmu hitam!”


Julian menghembuskan nafas panjang-panjang sebelum menjelaskan, “Sebaiknya kalian mendengarkan aku sebelum salah paham ini menjadi besar. Aku bukan sok pintar, tapi aku sedikit tahu soal penglarisan. Kenapa warung Pak Anam sepi lagi setelah ramai? Jawabannya mudah, karena Pak Anam tidak mengisi ulang penglaris tokonya alias tidak datang lagi untuk meminta syarat pada dukun yang menangani kepentingannya. Nah, hal itu tidak ada hubungannya denganku sama sekali!”

__ADS_1


Pria botak memangkas penjelasan Julian dengan cepat, “Halah, kau mengatakan itu untuk melepaskan diri dari tanggung jawab! Kami tidak akan terpengaruh dengan pembelaan yang disampaikan tanpa dasar. Kami bukan orang bodoh yang bisa kau kelabui dengan omong kosongmu itu. Kau memang sialan, Julian! Tidak ada kapoknya kau membuat masalah di kampung ini. Kami pastikan keluargamu ikut menanggung dosa yang kau lakukan pada Juragan Anam!”


Pria kurus dengan tak sabar maju satu langkah, “Simpan ocehan kalian! Kita selesaikan masalah ini secara jantan saja!”


“Mampus kau!” Tanpa dikomando, preman bertubuh paling pendek memukul kepala Julian dengan pot bunga yang cukup besar dari arah belakang.


“Sialan!” Julian mengaduh karena terkejut, kepalanya bocor dan berdenyut sakit. “Kalian memang minta diberi pelajaran agar bisa bersikap sopan pada orang lain!”


Julian menggunakan seni bela diri kuno yang diberikan sistem untuk menghadapi empat preman yang mengeroyoknya. Kalau sebelumnya ia tidak melawan karena takut keluarganya menjadi sasaran, sekarang Julian tidak tinggal diam. Satu tendangan dari pria kekar dipatahkan Julian dengan mudah.


“Wow … kau berkembang pesat, Bocah! Ternyata diam-diam kau menyimpan kemampuan bela diri,” ujar pria botak seraya mengeluarkan belati.


Tidak ada rasa takut lagi. Selain karena sudah memiliki kemampuan untuk melawan, Julian juga sudah menyiapkan tempat yang lebih memadai untuk keluarga pantinya.


Pria kepala botak memaki kasar ketika belatinya jatuh. Bukan hanya itu, ia kehilangan keseimbangan ketika Julian menyapu kakinya. Tubuh besarnya jatuh berdebam dengan posisi kepala membentur pagar. “Arrrgggg! Bab1 kau Julian!”


Melihat satu temannya tumbang, ketiga preman merasa lebih tertantang. Mereka menyerang secara bersamaan dengan senjata tajam. Wajah garang dan makian tak berhenti keluar dari mulut para preman. Hal itu disebabkan karena pukulan atau tendangan mereka tidak mengenai sasaran.


Julian berkelit dengan sangat lincah, membalas apa yang pernah diterimanya beberapa waktu lalu, dua kali lipat lebih menyakitkan.


Tidak sampai tiga puluh menit, empat preman yang menyerangnya sudah babak belur. Bahkan pria yang berbadan paling kekar sampai tak sadarkan diri. Hanya pria botak yang masih memaksa berdiri dengan menghunus belati.

__ADS_1


“Apa perlu aku rontokkan semua gigimu, botak?” cibir Julian. Ia bukannya tak punya hati, tapi preman berkepala botak yang sudah kehilangan dua gigi depannya masih bersikeras menikamnya dengan senjata tajam.


Preman berkepala botak meludahkan seteguk darah ke samping, mendengus dingin, lalu mengancam Julian. “Jangan harap keluargamu bisa nyaman tinggal di bumi ini, Bocah! Sebelum dagingmu tercacah dengan tanganku, aku akan menuntut balas di kemudian hari. Kau akan menemukan ibumu yang miskin ini mengemis untuk selembar nyawamu. Dasar anak har…”


BRUK!!!


Tendangan putar Julian membanting preman kepala botak dengan posisi terbalik. Bukan hanya gigi yang rompal, tapi hidung pria itu mengucurkan darah karena sukses mencium halaman panti. Suara megap-megap terdengar beberapa saat sebelum preman terkuat itu pingsan menyusul temannya.


“Jangan pernah sebut aku anak haram!” gumam Julian dengan ekspresi jengkel dan muram. Ia lalu menatap dua preman yang masih sadar. “Siapa yang menyuruh kalian menyebar fitnah ini?”


“Ju-ju-juragan A-anam!” jawab preman bertubuh kurus.


“Katakan pada Juragan Anam, jangan pernah berani mengusikku atau keluargaku lagi! Karena … kalau aku sudah marah, aku bisa memindahkan batu bata itu ke dalam perutnya!” ujar Julian seraya menunjuk tumpukan bata sisa renovasi panti.


“Si-siap, a-akan saya sampaikan!”


“Bawa teman kalian pergi dari sini, kalau sampai aku dengar kalian membuat onar di kampung ini, aku akan mengirim kuntilanak untuk mencekik kalian sampai mati …!” ancam Julia serius.


Setelah bersujud meminta ampunan, dua preman yang babak belur berusaha keras menyadarkan dua temannya yang terkapar tak berdaya. Beberapa warga yang berkumpul karena ada keributan, hanya melihat tanpa mau memberi bantuan pada empat preman kampung tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2