Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Rahasia Sang Artis 1


__ADS_3

Julian keluar rumah Laila dengan hati perih tak terkira. Wanita yang diharapkan bisa memberi jawaban atas pertanyaannya selama ini tidak menganggapnya ada. Julian memang sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk kalau artis sinetron itu bukan ibunya, tapi ia tidak pernah menyangka kalau akan diusir dari rumah besarnya. Laila adalah temannya. Gadis belia itu mengharapkan kehadirannya ketika ia mengatakan akan ke Jakarta.


Sebelumnya, Julian hampir yakin kalau artis sinetron itu adalah wanita yang ada dalam foto usang miliknya. Apalagi jika dilihat dari ekspresi wajah dan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh wanita bernama Thalia itu. Julian menebak ada yang disembunyikan ibunya Laila.


Hal itu jelas terlihat ketika mereka berbicara mengenai asal usul Julian. Pengulangan pertanyaan dilakukan saat Julian menyebut namanya dan panti asuhan Bina Kasih. Artis sinetron itu seolah ingin memastikan kalau indra pendengarannya tidak salah, memastikan jika memori yang mengendap dalam pikirannya benar adanya dan masih tersimpan baik.


Padahal, Julian tak mengharap lebih jika wanita itu adalah ibunya. Julian juga tidak minta diakui sebagai anak. Julian hanya ingin tahu ibu kandungnya, dan hanya sebatas itu keinginannya.


Julian cukup sadar diri dimana posisinya berada. Kalau ia sampai dibuang di panti asuhan, artinya kelahirannya memang tidak pernah diharapkan. Bahkan, ia sudah berhenti berharap untuk bertemu sang ibu setelah delapan belas tahun tak pernah dikunjungi .


Andai waktu bisa berputar ulang, Julian jelas tak ingin dilahirkan ke dunia dalam kondisi seperti delapan belas tahun lalu. Ia juga tak ingin menjalani takdir sebagai anak buangan yang mengharuskannya mengamen di jalan siang malam untuk memenuhi kebutuhan.


Namun, siapa yang bisa memilih orang tua dan kasta dalam kelahiran?


Julian berbalik menatap rumah besar nan megah milik keluarga Laila. Ia tersenyum miris sebelum akhirnya memutuskan kembali ke hotel. Tidak ada alasan baginya untuk tinggal di Jakarta lebih lama. Julian akan pulang ke Yogyakarta setelah cukup menenangkan hati.


*


*

__ADS_1


Laila menatap kecewa ruang tamu yang baru saja ia tinggalkan untuk mengambil air dan ponsel ibunya. Julian pergi tanpa mengatakan apapun padanya. Padahal, Laila ingin sekali mengobrol dengan Julian. Ia ingin menanyakan kegiatan Julian selama di Jakarta dan mendengar pengalaman audisinya.


"Mama ngusir Kak Julian?" Laila bertanya pada mamanya dengan ekspresi menuduh.


Mama Laila yang sedang sibuk mengirim pesan menjawab tanpa menoleh, "Mama sama sekali tidak mengusir Julian. Dia pamit pulang waktu papa kamu datang. Mungkin sungkan. Anak laki seumur Julian biasanya masih malu dan canggung kalau ketemu orang tua laki-laki."


"Bohong! Kak Julian nggak akan pulang begitu saja tanpa pamitan terlebih dahulu sama aku. Asal mama tau, aku yang undang dia untuk datang ke rumah ini, Ma!"


"Mungkin dia ada kepentingan lain yang sangat mendesak. Mama tidak harus tahu urusannya, kan?" Sang artis sinetron masih tak menatap wajah putrinya, tapi lebih memilih memperhatikan layar ponsel di tangannya.


"Kepentingan lain? Menurutku mama memang sengaja menyuruh Julian pergi karena terganggu. Lagi pula mama sudah biasa tidak menganggap kehadiran teman-temanku. Mama juga selalu jual mahal sebagai artis sinetron!" Laila meluapkan marah dengan berteriak.


Laila bersikukuh kalau pendapatnya benar, "Aku kenal baik sama Kak Julian, Ma! Dia antusias banget waktu aku ajak ketemuan di Jakarta! Kak Julian semangat datang kesini karena ingin sekali bertemu dan minta tanda tangan mama sebagai artis sinetron! Dia berkali-kali menanyakan karir mama sebelum menjadi artis ibukota. Julian mengagumi mama!"


Jantung sang artis mendadak berdetak cepat, wajahnya tegang saat Laila mengatakan hal itu. "Buat apa Julian mau ketemu mama? Mau memastikan kalau mama ini beneran artis trus mendekati kamu biar bisa numpang tenar?"


"Kalau Kak Julian mau jadi pacarku terus kenapa, Ma? Kak Julian ganteng, baik, bisa melindungi aku dari orang jahat, punya penghasilan sendiri sebagai penyanyi kafe. Kak Julian kurang apa, Ma?"


"Laila! Kalau sampai hal itu terjadi, mama tidak setuju dan tidak akan pernah merestui hubungan kalian!"

__ADS_1


Laila mengabaikan suara keras ibunya, "Mama itu aneh! Belum kenal secara pribadi sama Kak Julian sudah bilang tidak setuju! Kak Julian itu orang baik, Ma! Tulus! Dia datang kesini murni untuk berteman sama aku, bukan datang karena mau nebeng popularitas mama!"


"Laila, cukup!"


Mendengar ibunya membentak, Laila menukas sedih, "Aku kecewa sama mama! Mama jahat sama Kak Julian! Aku pulang ke Jogja sekarang aja, malas liat mama yang sok artis dan tidak bisa menghargai temanku!"


"Laila!" Sang artis berusaha keras meraih tangan putrinya, tapi ditepis dengan sangat cepat. Ia ditinggalkan begitu saja oleh putri semata wayangnya. "Laila, tunggu!"


"Mama jahat!"


Thalia mulai panik, was-was dan gelisah. Kedatangan Julian yang mengaku berasal dari panti asuhan Bina Kasih mengganggu pikirannya. Selain itu, Julian memiliki kemiripan wajah dengan pria yang pernah bersamanya di masa lalu. Pria yang sudah dilupakannya.


Thalia duduk di kursi tamu. Merenung! Apakah benar Julian adalah anak yang dilahirkannya delapan belas tahun lalu? Lalu bagaimana jika Laila jatuh hati pada Julian? Putrinya yang keras kepala itu pasti berniat mengejar Julian. Thalia bisa melihat kalau Laila terpesona dengan pahlawan penolongnya.


Membayangkan hal tak senonoh terjadi pada dua anaknya, Thalia meninggalkan ruang duduk. Ia berjalan tergesa menuju dapur, mencari asisten rumah tangga kepercayaannya. Ia harus bicara serius dengan Mbok Inah tanpa sepengetahuan suaminya. Harus! Sesegera mungkin!


"Mbok Inah!"


***

__ADS_1


__ADS_2