
Julian bangun tidur sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Ia kurang tidur, beberapa kali terbangun oleh mimpi buruk yang sama. Dalam mimpi, Julian melihat banyak pocong berdiri di depan ruko tempatnya membuka jasa praktek paranormal. Pasukan berkafan putih pudar itu bergerak menghalangi tamu yang akan masuk ke tempat Julian.
Setelah menggeliatkan badan dan bermalas-malasan beberapa saat, Julian memutuskan untuk mandi. Ia ingin pergi ke universitas dan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di tempat yang sama dengan Marsha.
Soal mimpi pocong yang berkeliaran di ruko akan ia pastikan nanti. Toh hari ini Julian tidak buka praktek pagi-pagi sekali.
Selesai mandi, Julian mengenakan pakaian terbaiknya. Ia meninggalkan kesan lusuh dan dekil yang melekat padanya selama sepuluh tahun menjadi pengamen jalanan. Berhubung belum memiliki kendaraan pribadi, Julian pergi ke universitas menggunakan taksi online.
Universitas yang dituju Julian adalah salah satu yang ternama dan terbaik di kotanya. Bukan hanya soal kualitas pendidikan, tapi universitas tempat Marsha dan jajarannya mendaftarkan diri sebagai mahasiswa adalah tempat pendidikan anak-anak orang kaya.
Julian bakal kembali berkumpul dengan kaum hedon nantinya. Bedanya, Julian yang sekarang sudah jauh lebih keren dibandingkan sebelumnya. Meski tak datang ke universitas dengan kendaraan milik pribadi, tapi penampilannya tak kalah necis dengan teman-temannya dulu.
Julian masuk ke area universitas dengan lebih percaya diri. Ia langsung mencari informasi pendaftaran mahasiswa baru. Antrian untuk mengambil formulir ternyata lumayan panjang, sehingga Julian memilih untuk melihat-lihat calon kampusnya terlebih dulu.
“Eh … ada si dekil,” pekik salah satu gadis yang melihat Julian sedang berjalan ke arah yang sama dengannya.
Mendengar suara tak asing dan panggilan sayang dari teman-teman SMA-nya dulu, Julian hanya menoleh sekilas.
Salah satu gadis menyahut lantang, “Ya ampun … mimpi buruk apa aku semalam sampai ketemu sampah sekolah kita dulu di sini.”
Kedua gadis itu adalah Reina dan Lila. Kawan baik Marsha sewaktu SMA, mungkin juga hingga sekarang, karena mereka bertiga ternyata memutuskan kuliah di kampus yang sama.
“Heh … kamu mau kuliah di universitas ini juga?” tanya Lila mendekat dengan wajah sinis, menyudutkan Julian seolah kampus itu adalah milik nenek moyangnya.
“Apa salahnya jika aku kuliah di kampus ini?” Julian balik bertanya dengan gaya santai, sama sekali tak terintimidasi dengan teman lamanya.
Reina menyahut sarkas, “Modal kamu berapa mau kuliah mahal di kampus ini? Jangan bilang kamu dapat beasiswa dari yayasan sekolah ya?!”
“Kalian tidak harus tahu aku dapat uang darimana untuk membiayai pendidikanku. Aku bukan pengangguran, dan aku punya kemampuan finansial untuk membayar kuliah di tempat ini,” jawab Julian tenang.
__ADS_1
Dulu Julian tidak memiliki keberanian menjawab ejekan dan bully yang jadi makanannya setiap hari di sekolah. Tapi sekarang? Julian bahkan berbicara dengan dagu terangkat dan mata menyorot tajam pada dua gadis yang paling rajin menghinanya.
Marsha berjalan ke arah dua sahabatnya sambil merapikan rambut. Ia baru saja dari kamar mandi dan terkejut mendapati Julian sedang berbicara dengan gadis top toxic di sekolahnya dulu.
“Beb … surprise nggak sih ketemu sampah sekolah kita dulu di sini? Gayanya wow banget sekarang, kamu lihat baju sama sepatunya deh, bukan barang murah itu!” Reina langsung memprovokasi Marsha yang baru tiba di antara mereka.
Lila menimpali tak kalah beracunnya, “Okelah penampilannya rapi dikit, tapi bukan berarti bisa langsung naik kasta apalagi sejajar dengan kita-kita. Iya kan, Sha?”
Marsha melambaikan tangan, menyuruh dua sahabatnya diam. Ia bertanya dengan suara lembut pada pemuda yang kemarin baru bertemu dengannya di supermarket, “Julian … kamu mau kuliah di sini juga?”
“Iya, Putri!” jawab Julian jujur, santai dan penuh keberanian.
Lila menimpali sinis, “Udah ada kerjaan katanya sekarang dia, Sha! Makanya songong banget gaya bicaranya!”
“Kamu kerja apa, Julian?” tanya Marsha antusias. Ia tidak bisa menutupi ketertarikan pada penampilan Julian yang sekarang.
Menurut Marsha, Julian tidak bisa dibilang buruk rupa waktu SMA, tingginya juga di atas 175 cm, hanya saja Julian kurus, tidak didukung oleh penampilan yang wow, kendaraan pribadi, parfum mahal dan gaya bicara ala-ala idola sekolah.
Dua teman Marsha spontan terpingkal-pingkal mendengar jawaban Julian. Menganggap kalau pemuda di depannya itu mulai tidak waras.
“Paranormal? Maksudnya dukun bukan sih? Ternyata agak lain otakmu setelah lulus sekolah ya?” ledek Reina terkikik-kikik.
“Kalau kamu bisa bikin Reina suka sama kamu saat ini juga, aku baru percaya kalau kamu memang seorang paranormal!” tantang Lila tak kalah konyol. Wajahnya merah karena menahan tawa.
Julian menatap lurus pada gadis cantik favoritnya. “Putri? Apa kamu juga menganggapku gila karena bekerja sebagai paranormal muda?”
Marsha tidak menjawab.
DING!!!
__ADS_1
[Misi 10 : Sistem kekayaan paranormal menerima tantangan dari teman-teman Tuan. Membuat gadis sombong jatuh cinta pada Tuan dengan mantra pengasihan.]
Julian memejamkan mata, meski misinya menjengkelkan tapi ia tidak bisa menolak. Bukankah keahliannya sebagai paranormal muda memang harus ditunjukkan agar tidak diremehkan lagi oleh Marsha dan teman-temannya?
Dalam pikiran, Julian memanggil ajian semar mesem. Bergumam ringan dan membuka mata, menatap fokus pada gadis yang diinginkannya. “Pengasihanku ajian semar mesem … Reina Lauren Wibisono aran asih menyang sliraku!”
Julian mengangguk samar pada Marsha lalu berbalik, berjalan cuek meninggalkan tiga gadis yang masih menunggu aksinya. Pada langkah kedelapan, Julian mendengar suara heels seorang perempuan berlari mendekatinya. Detik berikutnya ia dipeluk erat dari belakang oleh … Reina?
“Apa yang kamu lakukan, Reina? Lepaskan aku!” kata Julian dengan nada kesal. Ia berbalik badan sehingga Reina memanfaatkan kesempatan untuk memeluk dari depan. “Lepaskan aku!”
Dengan wajah bergairah, Reina berjinjit berusaha mencium bibir Julian, “Aku menyukaimu, Julian!”
Julian terlalu tinggi, sehingga Reina harus kecewa dan merengek-rengek seperti gadis sedang kegatalan.
“Katakan pada temanmu untuk berhenti melakukan hal memalukan ini, Putri! Banyak orang di kampus, mereka melihat kita sekarang!”
Marsha yang sedang takjub langsung tergagap, “Le-pas-kan Ju-lian, Rein!”
Lila menambahi dengan wajah menahan jengkel, “Rein … please deh jangan bikin malu begitu, udahan dong bercandanya! Gede kepala itu nanti sampah sekolah!”
Reina seketika melepas pelukan dan langsung membalik badan, dengan sorot mata marah pada Lila. Ia mendatangi Lila dan menunjuk tepat di jidat sahabat toxicnya. “Tutup mulut sampahmu, jangan pernah menghina orang yang aku cintai!”
[Misi 10 berhasil. Hadiah uang seratus juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]
Mendengar suara Mbah Jambrong dalam kepalanya, Julian tersenyum lebar. Ia meninggalkan tiga gadis yang sedang berdebat dan kebingungan itu setelah menetralisir mantra semar mesemnya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan Reina, jadi untuk apa memikatnya dengan ajian pengasihan?
Julian lalu menyelesaikan urusan pendaftaran kuliah tanpa gangguan sedikitpun.
Sebelum pulang ke ruko, Julian pergi menemui Topan dan teman-teman pengamen jalanan. Ia memberikan sebagian uang hadiah misi untuk membantu perekonomian mereka yang sangat membutuhkan.
__ADS_1
Julian mengatakan niatnya pada Topan, ia ingin teman-teman pengamen membentuk serikat pekerja untuk melindungi hak dan kepentingan mereka di jalanan. Mungkin ia akan membantu memberikan wadah dan tempat untuk teman-temannya jika sudah memiliki uang lebih banyak.
***