Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Seni Bela Diri Kuno


__ADS_3

Julian menggerutu dalam hati, banyaknya uang dari sistem yang diterima ketika berhasil menyelesaikan misi memang fantastis jumlahnya. Tapi sekarang semua terasa sebanding dengan apa yang akan dihadapinya.


“Mbah … aku terhitung belum lama menjadi paranormal sistem, masa iya sudah punya musuh? Jumlah orang yang aku tolong juga belum banyak, kok sudah ada dukun ilmu hitam yang sirik padaku?”


Karena sistem tidak menjawab, Julian bertanya sekali lagi. “Gimana ini, Mbah? Apa cucumu harus menghadapi kiriman santet ini sendirian?” tanya Julian pada sistem. “Tidak ada niat dikit aja buat bantu aku, Mbah?”


[Pergunakan ajian bolo sewu untuk menggeruduk jin yang membawa keris pusaka itu. Selama benda pusaka berhawa jahat itu belum masuk ke dalam tubuh Tuan, jauh lebih mudah untuk diatasi.]


“Lalu apalagi, Mbah? Aku tidak perlu merapal ilmu kebal, kan? Lawanku bukan senjata tajam biasa, tapi senjata yang bisa melintas dimensi dengan kecepatan cahaya. Apa aku benar, Mbah?”


[Benar! Rapal saja ajian asmoro kuning, panggil danyang desa ini untuk bersiaga di batas desa. Katakan pada para danyang desa untuk membantu meringkus pendatang gaib yang memasuki wilayah mereka tanpa izin! Jangan biarkan kejahatan gaib yang sudah masuk desa, pulang dengan selamat!]


Menjadi paranormal sistem memang tidak terlalu sulit prosesnya karena Julian tidak harus lelaku berat seperti paranormal pada umumnya. Kesaktian dan ajian yang dimiliki Julian tidak dibeli dengan puasa mutih, pati geni, ngidang atau jenis puasa-puasa yang biasanya digunakan sebagai syarat untuk mendapatkan ilmu. Ia juga tidak perlu melekan dan tirakat seperti murid yang berguru di padepokan.


Dan Julian bukan keturunan orang pintar, tidak memiliki trah kekuatan supranatural dari leluhurnya, sehingga awam baginya mengetahui hal-hal yang lekat dengan dunia dukun dan segala sesuatu yang gaib.


Julian masih belum memahami kalau dunia ilmu hitam sangat sensitif dengan persaingan. Kalau dukun ilmu hitam tidak akan segan melenyapkan dukun lain agar bisa duduk di puncak kejayaan.


Bahkan, mereka kadang tidak butuh alasan untuk membuat masalah dengan dukun lainnya. Menjajal kemampuan teman sesama dukun atau orang lain yang memiliki kesaktian adalah bagian yang tidak bisa ditinggalkan para dukun ilmu hitam.


Seperti apa yang baru saja dijelaskan oleh sistem, Julian segera merapal mantra bolo sewu, sekaligus mantra ajian asmoro kuning untuk memanggil danyang desa. Setelah itu, Julian diam menunggu.


Detik berikutnya, kamar Julian seperti diguncang lindu. Julian melihat rupa-rupa tentara jin-nya muncul dari ruang hampa, berkelebat di sekitarnya seperti debu yang diterbangkan angin. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Julian juga melihat rombongan makhluk gaib danyang desa mendekatinya.


Julian setengah takjub, setengahnya lagi gemetar karena takut. Baik tentara jin ataupun rombongan danyang desa yang datang padanya memiliki rupa yang tak biasa. Bisa dibilang, seburuk-buruknya rupa manusia yang pernah dilihat Julian, masih jauh lebih baik daripada penampakan di depan matanya.


Namun, Julian tidak boleh mundur! Ia harus bersikap ksatria dan berani memberi perintah pada pasukan dan danyang desa yang sudah datang padanya.


“Hancurkan makhluk jahat pembawa benda pusaka yang akan menyerangku! Jangan biarkan mereka kembali pada dukun yang sudah memberangkatkannya. Jangan memberi ampun pada kejahatan seperti ini! Jaga desa agar tidak mudah dimasuki penyusup!”


WUS!!!


Angin deras berputar di sekitar Julian selama dua detik. Disusul lolongan panjang makhluk halus yang mati tersiksa. Suara seperti letusan kembang api terdengar beberapa kali di atas ruko Julian. Setelah itu senyap, dunia seperti ruang hampa. Tidak ada suara atau apapun yang bisa dideteksi Julian sebagai indikator kehidupan.


“Apakah sudah beres, Mbah?” tanya Julian mengusap keringat yang muncul di dahi. Meski tidak andil secara langsung, entah mengapa energi spiritualnya terkuras habis. Mungkin memang begitulah yang namanya perang gaib, tidak terlibat secara fisik tapi ikut menanggung lelah dan luka.


Julian menatap langit-langit kamar tempat cahaya merah tadi muncul. Nihil! Benda pusaka berupa keris yang dilihatnya terbungkus cahaya merah malah sudah tergeletak di lantai kamar entah sejak kapan. Mungkin ia terlalu fokus melihat kepergian danyang desa setelah perang gaib berakhir.


Dengan perasaan lega, Julian memungut keris kecil luk tiga dari lantai, mengamati sejenak lalu menyimpan benda itu dalam lemari. Keris itu sudah kosong, tidak memiliki tuah dan kesaktian lagi.


Hm, aku kumpulkan saja benda-benda mistis seperti ini di lemari. Aku yakin akan mendapatkan benda serupa lebih banyak lagi di kemudian hari. Siapa tau bisa dijual atau dijadikan souvenir pernikahanku nanti?


**

__ADS_1


Pagi harinya, Julian dikejutkan oleh telepon dari Bu Rosidah. Salah satu adik pantinya mengalami kecelakaan, dan Julian diharapkan segera datang untuk memberi pertolongan.


Julian hanya mandi bebek sebelum pergi ke panti dengan ojek online. Sampai lokasi, Julian menemukan adiknya tidak sadarkan diri.


“Mbah, adikku kenapa? Pandangan gaibku tidak mendeteksi jiwa yang menjadi pusat kehidupannya. Ini bukan jenis pingsan yang terjadi karena kepanasan atau kelaparan kan, Mbah?” tanya Julian panik.


[Gadis kecil itu tak sadarkan diri bukan karena pingsan, tapi karena ada roh tubuh yang terpisah dari jasad, dan tersesat di suatu tempat.]


Julian memeriksa keseluruhan area panti sebelum mengambil langkah selanjutnya, yaitu pertolongan pertama pada arwah salah jalan. “Apa yang harus aku lakukan, Mbah? Memanggil roh adikku yang kobeng dengan ajian asmoro kuning?”


[Benar! Selain dengan suara, gunakan dupa atau bunga yang berbau harum untuk menuntun jalan pulangnya! Metode klasik itu mempercepat proses kepulangan.]


“Ya, lebih cepat lebih baik. Kita tidak tahu apakah jasadnya akan bertahan jika terpisah dengan roh tersebut terlalu lama.”


Julian memetik beberapa bunga melati yang tumbuh di depan panti, meletakkannya dalam cawan dan menyepi dalam kamarnya.


DING!!!


[Misi 9 : Menyelamatkan roh gadis kecil yang tersesat ke dunia lain. Waktu untuk menyelesaikan misi : 15 menit]


Julian duduk di lantai, meletakkan secawan bunga melati di depannya dan mulai merapal ajian asmoro kuning. Setelah itu ia berkonsentrasi memanggil nama adiknya agar menemukan jalan pulang. Jari telunjuk Julian mengetuk lantai sebanyak tiga ketukan, lalu diulang-ulang lagi sampai tujuh kali.


Butuh waktu setidaknya sepuluh menit untuk membuat roh sang adik mendengar suara Julian dan menemukan jalan pulang. Julian sudah bermandi keringat dan nyaris kehabisan energi supranatural ketika akhirnya adiknya sadar.


Selain lelah karena kehabisan tenaga, Julian tidak mengeluhkan kondisi tubuhnya pada Mbah Jambrong. Karena biasanya setelah misi selesai, tenaganya akan dikembalikan lebih banyak, dalam bentuk penambahan poin status.


[Misi 9 berhasil. Hadiah uang seratus juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]


“Sekalian tampilkan statusku, Mbah! Aku ingin tau dapat apa saja kali ini!”


[Sistem Kekayaan Paranormal]


[Status]


[Nama : Julian El Sandi]


[Umur : 18 Tahun]


[Level Paranormal : Silver]


[Kekuatan : 39]


[Ketahanan : 34]

__ADS_1


[Kepandaian : 40]


[Ketampanan : 75]


[Pesona : 53]


[Keberuntungan : 30]


[Kemampuan supranatural : 28]


[Kemampuan khusus : Seni bela diri kuno]


[Dana : 331 juta]


[Misi 8 dan 9 : Berhasil]


[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]


[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning, Ajian Jolo Emas]


[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban]


[Misi 10 : Belum tersedia]


[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]


Julian tersenyum lebar mendapatkan kemampuan khusus berupa seni bela diri kuno. Sebagai paranormal, ilmu bela diri menjadi sangat penting. Kejadian menghadapi preman di perumahan ketika ia mengamen, dan di panti ketika difitnah sebagai dukun ilmu hitam, adalah contoh penyerangan tak terduga yang bisa diselesaikan dengan ilmu bela diri.


Dengan ilmu bela diri, setidaknya Julian bisa melawan secara fisik tanpa perlu menggunakan ajian.


Bagaimanapun, merapal ajian sakti menguras energi supranatural. Jadi mulai sekarang, Julian bisa menggunakan energi supranatural hanya untuk kepentingan yang berhubungan dengan dunia perdukunan yang penuh kegaiban.


“Apa itu ajian jolo emas, Mbah? Pasti untuk mendapatkan kekayaan ya, Mbah?”


[Benar, Tuan! Ajian ini bisa digunakan untuk membantu orang yang kesulitan mencari rezeki. Lebih tepat jika disebut sebagai ajian pembuka rezeki.]


“Baiklah, ajian ini pasti sangat berguna untuk mendukung praktek paranormal. Hari gini siapa sih yang tidak ingin kaya? Dari pada pelihara tuyul atau menumbalkan anggota keluarga untuk pesugihan, mending datang ke Julian untuk dibuka jalan rezekinya. Benar tidak, Mbah?” tanya Julian sambil tertawa-tawa.


Begitu gembiranya Julian sampai tidak menyadari kalau sudah menghabiskan waktu seharian di panti bersama keluarganya. Mulai dari berbelanja kebutuhan panti sampai makan malam istimewa sebagai bentuk rasa syukur atas usahanya yang mulai berjalan.


Malam telah larut ketika Julian kembali ke ruko tempat tinggalnya. Ia ingin segera beristirahat karena besok pagi berencana pergi ke universitas tempat Marsha kuliah.


Tapi, entah mengapa tidur Julian tidak terasa nyenyak. Ia bermimpi ada sesuatu yang sangat usil mengganggu tempat prakteknya.

__ADS_1


***


__ADS_2